KH. Ali Musthofa Ya’qub, wafat pada hari Kamis 20 Rajab 1437H (28/4 2016) / Foto ihnauploud


Beliau (Bpk KH. Ali Musthofa Ya’qub) adalah Ulama NU tulen. Beliau alumni salah satu pesantren besar di Jawa Timur yang  merupakan salah  satu dari sekian pesantren basis berdiri nya NU.

Salah satu tulisan Beliau adalah “Amalan Bid’ah di bulan Rajab” tulisan yang  cukup kontroversial bagi umat nahdliyin (NU).
Beliau juga pernah berfatwa haramnya membangun bangunan di kuburan ketika ditanya tentang  makam ust. Jefri yang  diberi keramik di atasnya. Beliau pun setuju agar makam ustadz diratakan dengan  tanah dan tidak   dibangun di atasnya keramik / semen.
Dan beberapa fatwa beliau juga di nilai tidak   pro dengan  NU.

Tapi lepas dari itu, sebagaimana tulisan Beliau tentang  amalan bidah di bulan Rajab.. Dan hari ini Beliau pun meninggal di bulan Rajab. Masya Allah..

Saya jadi ingat juga dengan  wafatnya Imam Ghazali.. Di akhir hayatnya Beliau merasa ingin sekali belajar Hadis. Maklum selama hidup nya Imam Ghozali disibukkan dengan serangan para ahli filsafat. Imam Ghozali pun selalu membahas Islam ditinjau dari filsafat supaya Islam tidak   digeser oleh para filosof.

Dan pada akhir hayatnya, Imam Ghozali meninggal dalam kondisi memeluk kitab Imam Bukhari.. Beberapa riwayat mengetekan, di akhir hidup Beliau, Beliau sibuk dengan  belajar Ilmu Hadis. Beliau juga pernah berkata bahwa Beliau lemah dalam bidang Hadis. Inilah yang  membuat Beliau akhirnya mendalami Hadis di akhir hayat Beliau. Sampai meninggal dengan  kondisi memeluk kitab sahih Bukhori..

Dan sekarang, di berbagai universitas Islam di mancanegara mulai membedah kitab ihya Ulumuddin karya Al Ghazali yang  ditemukan banyak hadis dhoif di dalamnya. Meskipun begitu, Al Ghazali tetaplah Ulama yang  sangat luar biasa dan patut dihormati. Jika ada kekurangan ya itu wajar, yang  penting jasa beliau dalam dakwah Islam sangat besar, dan memang wajar juga, karena Beliau hidup di zaman yang  mana filsafat sesat mencemari agama Islam. Mau tidak   mau, Al Ghazali harus melawan para filosuf tersebut untuk menjaga kemurnian Islam..masya Allah, semoga Allah berikan tempat yang  mulia untuk imam Ghazali..

Kembali ke Bpk. KH. Ali Mustofa Yaqub
Pak Kyai dari NU ini pernah ditanya oleh seseorang, apakah tidak ada kyai NU yang  menegur Bapak? Terkait tulisan tulisan Bapak yang  dinilai tidak   pro dengan  NU. Apalagi sebagai ulama MUI, beliau memberi lampu hijau kepada dakwah salafi di Indonesia. Beliau berkata “banyaaaaak… Banyak kyai NU menegur saya karena tulisan dan sikap saya..” meskipun begitu, Beliau tetap menghormati para Kyai. Karena mereka (para kyai) juga punya peran besar dalam dakwah Islam di Indonesia. Dan salah satu impian Beliau yang  patut kita teruskan adalah Beliau ingin mempersatukan ahlus sunnah di Indonesia.. Sebagaimana buku yang  Beliau tulis, benang merah wahabi-NU..

Karena tidak   bisa kita pungkiri, rukun iman wahabi dan NU sama. Rukun Islam ny juga sama..

Rujukannya juga sama.. Yaitu madzhab 4..

Dan mereka sama sama memahami Quran Hadis berdasarkan pemahaman generasi salaf..

Bedanya adalah yang  satu disiplin dan ketat dengan  budaya, sedangkan yang  satunya longgar dan kurang begitu ketat dengan  budaya..

Semoga Allah persatukan kita.. Dijadikan umat yang  bersatu. Tidak   saling membenci dan saling menghujat..

Semoga Allah masukkan beliau dan kita semua ke dalam surga Allah..

Aamiin..

Via Fb Cholidi Fathoni – Semarang

***

Prof Dari KH Ali Mustafa Yaqub, MA: Pemakaman Mewah Haram

Hukum pemakaman mewah seperti San Diego Hill adalah haram. Karena termasuk perbuatan mubadhir atau berlebih-lebihan. Demikian pendapat Guru Besar Ilmu Hadis Institut Ilmu Alquran (IIQ), Prof Dari KH Ali Mustafa Yaqub, MA, saat ditemui Mingguan Syariah, di kediamannya,Jalan SDI Inpres N0 11 Pisangan Barat, Ciputat, Selasa, (8/5/2012) beberapa waktu lalu.

Membeli makam mewah baik secara langsung maupun tidak langsung, tergolong perbuatan mubadhir atau menghamburkan harta. Dan orang yang menghamburkan harta, dalam Islam termasuk kawan syeitan.

Lihat diperingatan Allah SWT dalam firmannya:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya”. (QS. Al Isra’ : 27)

Kenapa perbuatan itu mubadhir? karena sebenarnya biaya yang dikeluarkan semestinya tidak semahal pemakaman San Diego Hill yang capai puluhan, ratusan juta, bahkan miliaran. Padahal, biaya di pemakaman biasa tidak semahal itu.

KH Ali Mustafa juga menilai orang yang membeli atau memesan makam itu terkesan sombong. Mereka hanya ingin memamerkan kekayaanya kepada orang lain.

“Ketika mereka hidup, mereka pamer kekayaannya. Dan ketika matipun, mereka pingin pamer kekayaannya juga” sindir Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Ilmu Hadist Darus Sunnah, Ciputat ini.

Pak Kyai tentu menyayangkan hal itu. Karena Rasulullah sendiri sempat mengingatkan bahwa orang yang sombong diancam masuk neraka. Ingat hadist nabi, “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan meski sebutir atom.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’udi RA)

Alasan lain, karena mereka buta sosial. Kok gitu? Kenapa dibilang buta sosial? karena mereka lebih memilih beli makam mewah dibanding membantu orang lain yang butuh uluran tangan mereka.

“Namun, jika yang membeli adalah keluarganya, bukan dari yang meninggal, maka keluarganya yang buta sosial,” ujar Imam Besar Masjidi Istiqlal Jakarta ini dengan tegas dan lantang.

Di Indonesia, menurut ekonom, jika mengacu pada data bank dunia, bahwa ukuran orang yang tergolong miskin adalah jika pendapatannya dalam sehari kurang dari 2 dolar. Nah, itu berarti orang Indonesia yang tergolong miskin jumlahnya mencapi 117 juta orang.

Padahal, dalam ajaran islam, iman kita belum sempurna jika kita kenyang, sedang tetangga kita lapar. Sesuai hadist nabi SAW, dari Abdullah ibnul Mishwar, ia berkata, “Saya pernah mendengar lbnu Abbas meriwayatkan dari lbnu Zubair di mana dia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ’Seorang yang beriman tidak akan kekenyangan, sedangkan tetangganya dalam keadaan lapar.”

Jika mereka berdalih beli makam itu karena agar tidak bayar uang sewa makam. Sebab kalau tidak bayar, makam bakal dibongkar.  Menurut Ali, itu alasan yang mengada-ada. Sebab, selama masih ada keluarga yang ngurus, tidak mungkin dibongkar atau ditimpa dengan jasadi yang lain.

Menurut Penasihat Syariah Transaksi Halal Omaha USA ini, itu terjadi lantaran yang meninggal bukan warga Jakarta. Makanya, ia menyarankan agar warga pendatang kalau meninggal jasadnya dibawa pulang dan dimakamkan di kampung halaman saja.

Sekali lagi Pak Kyai mengingatkan, harta seseorang sejatinya bukan miliknya. Melainkan, kepunyaan Allah SWT yang dititipkan sebagai amanah. Karenanya Allah menegaskan agar digunakan semata-mata untuk mencari ridhaNya. Dan sesungguhnya Allah benci orang yang menghamburkan harta. Sesuai peringatanNya: “Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al An`aam : 141).

Apakah ada fatwa MUI yang mengatur itu? Memang belum ada. Dan menurut Ali, tidak perlu karena sudah jelas haram. Jika sekarang banyak umat muslim membeli makam mahal itu, menurutnya karena mereka tergolong umat abu-abu.

(Mifta/Jauhari)

Sumber: rahmatbiz.wordpress.com/pesantreniiq.or.idSaturday, 19 October 2013

***

KH Ali Mustafa Yaqub Wafat, Dikebumikan di Pesantren Darussunnah Ciputat

KH Ali Mustafa Yaqub wafat pada hari Kamis (28/4) pagi di Rumah Sakit Hermina, Ciputat, Jakarta. Beliau dikenal sebagai ulama yang pernah menjabat sebagai Imam Besar Masjidi Istiqlal, Jakarta, juga sebagai mantan Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Meninggalnya ulama besar tersebut menurut keluarganya tidak disangka sebelumnya karena cukup mendadak. Beliau disebut tidak mengidap sakit gawat, hanya diabetes namun itu juga terkontrol dengan baik.

Namun di hari sebelum meninggal, KH Ali Mustafa Yaqub sempat mengeluhkan sakit seperti masuk angin dan tidka enak badan. Kesibukan beliau yang padat diduga memicu kelelahan, sebab malam harinya ia masih menjadi pengisi acara pengajian di Masjidi Sunda Kelapa.

“Setelah pulang malam ke rumah mengeluh sakit dan malamnya dibawa ke Rumah Sakit Hermina Ciputat,” ungkap Ali Nurdin, seorang kerabat di Pondok Pesantren Darus-Sunnah, Cirendeu, Ciputat.

Usai melaksanakan sholat subuh, kondisi beliau pun menurun hingga akhirnya meninggal dunia.

Hal ini tentu membuat umat Islam di tanah air berduka karena kehilangan seorang ulama yang ilmunya masih banyak dibutuhkan oleh umat saat ini.

Almarhum dikebumikan di kompleks Pondok Pesantren Darussunnah, yang dibangun salah satunya atas prakarsa beliau.

Putra satu-satunya yakni Ziaul Haromain, saat ini sedang berada di Amerika guna menjadi pengajar di negeri tersebut.

“Dua tahun lalu sudah wasiat minta dimakamkan di belakang pesantren,” ungkap Ali lagi.

Almarhum bahkan telah menyiapkan makam untuk istri dan anaknya di kompleks pesantren tersebut. Semoga amal ibadahnya diterima oleh Alloh SWT.*/iberita.com – Apr 28 2016

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.061 kali, 1 untuk hari ini)