Suatu kala, Rasulullah berkata kepada Tsauban, yang didengar oleh Abu Hurairah, “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka para sahabat pun bertanya, “Ya Rasulullah, apa karena kita sedikit pada saat itu?”

Jawaban beliau:

بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ

“Justru saat itu kalian banyak (jumlahnya). Tetapi kalian (hanyalah) buih seperti buih di aliran (air).”

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad dengan dua jalur sanad, juga Abu Daud dalam Sunannya, dan lainnya. Dishahihkan oleh al-Albany dan dihasankan oleh lainnya.

Begitu pula tidak luput kita dari kekhawatiran bahwa jika kelak dakwah sunnah ini merebak, jumlah kian banyak. Tetapi dengan jumlah banyak itu, tidak diimbangi dengan kualitas sama sekali. Disebabkan tidak terdidik untuk terisi padat. Banyak namun ibarat buih yang mudah dibawa arus, dan ilmu dari majelis mudah menguap. Karena tidak serius dan sungguh dalam meraup ilmu.

Banyak yang merasa sudah hijrah padahal tidak. Atau, hanya zahir saja. Dan mungkin kita pelakunya.

Kondisi umat Islam seperti ini sekarang. Mereka dininabobokan dengan hiburan. Yang jelas kata Rasul:

وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ

“Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian.”

Kenapa musuh tidak takut? Karena tidak punya ‘isi’.

Dan ketika itu, rupanya sudah terjangkiti penyakit berbahaya, sebagaimana kata Rasul:

وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ

“Dan ditanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahn.”

Apa itu al-wahn? Cinta dunia dan benci mati.

Ada beberapa pihak yang sengaja memberikan setting agar kaum muslimin dimanjakan dengan cover indah, sementara pihak-pihak ini mengeruk keuntungan dunia. Fenomena yang ada di kota kami kini cukup mengkhawatirkan. Semoga tahun-tahun ke depannya Allah sembuhkan.

Selalu ada kantong yang tebal di balik riuh pikuk dan glamoritas. Semoga pesan ini terfahami tanpa perlu jelasan dan sampai ke pihak yang berhak untuk sadar. Kami tidak menyeru berhenti. Tapi perbaiki. Kalian banyak namun tidak ditakuti.

Via FB Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.505 kali, 1 untuk hari ini)