KIBLAT.NET – Jenazah Gayatri Dwi Wailissa, gadis jenius penguasa 14 bahasa asing, tiba di kampung halamannya, Kota Ambon, Maluku pagi tadi. Ada fakta mengejutkan tentang Gayatri yang diungkap oleh sang ayah, Dedi Darwis.

Dedi mengungkapkan bahwa anaknya merupakan anggota Badan Intelijen Negara (BIN) sejak tiga bulan terakhir. Selama itu putrinya ditempa secara fisik di Markas TNI Cijantung di bawah komando Panglima TNI Jenderal Muldoko.

“Sejak tiga bulan yang lalu Gayatri telah direkrut sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN),” ujar Dedi, Sabtu (25/10/2014).

Fakta itu diungkap Darwis saat memberi sambutan di hadapan pelayat di Markas Kodim 1504 Pulau Ambon, tempat jenazah disemayamkan. Namun dia tidak merinci apakah kematian Gayatri berkaitan dengan aktivitas fisik yang melelahkan itu.

“Kematian Gayatri disebabkan karena pecah pembuluh darah di otak yang menyebabkan dia mengalami koma selama beberapa hari sebelum akhirnya meninggal,” ungkap Dedi.

Sebelum itu, kedatangan jenazah Gayatri di Ambon disambut oleh Gubernur Maluku Said Assagaf beserta istri dan Sekertaris Kota Ambon, Antony Gustav Latuheru. Said Assagaf juga ikut men-salatkan jenazah Gayatri di Masjid Raya Al Fatah Ambon.

Sementara itu Said Assagaf menyatakan masyarakat Maluku dan bangsa Indonesia berduka atas berpulangnya Gayatri, yang merupakan salah satu putri terbaik bangsa. Gayatri memiliki sejumlah prestasi baik di Indonesia maupun internasional.

Jenazah Gayatri lalu dimakamkan Taman Makam Bahagia, Kapahaha Kota Ambon. Tempat itu merupakan makam bagi anggota dan purnawirawan TNI dan Polri yang meninggal dunia.

Kabar mengenai Gayatri Wailissa remaja yang menguasai 13 bahasa asing sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN) menyebar di media sosial dan media online Sabtu (25/10/2014) di hari pemakamannya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada konfirmasi pihak BIN mengenai kebenaran status Gayatri. Kepala BIN Marciano Norman belum mengangkat ponselnya saat dihubungi, Sabtu malam. Sementara itu Pengamat Intelijen Mayjen TNI (Purn) TB Hasanuddin menilai tak etis bila benar BIN merekrut remaja dan dilatih tindakan-tindakan yang tergolong rahasia dan berbahaya. Termasuk di antaranya latihan menggunakan senjata api.

“Mengapa tak etis, karena usia seperti itu kan masih labil dan sangat tidak layak dan membahayakan, itu kan seorang pelajar,” kata Hasanuddin kepada Tribunnews.com, Sabtu (25/10/2014).

TB Hasanuddin yang juga mantan ajudan BJ Habibie saat menjadi Wapres dan Presiden mengungkapkan merekrut remaja sebagai anggota BIN rawan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu. Menurutnya seorang remaja belum siap untuk direkrut dan diterjunkan untuk tugas-tugas intelijen. “Bagaimana kalau kemudian sesudah dilatih itu justru dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan tertentu,” tanya mantan Anggota DPR RI itu.

TB Hasanuddin mengakui bahwa tak ada hal baku dalam merekrut seseorang untuk tugas intelijen. Begitu pula dalam hal pertimbangan penguasaan belasan bahasa asing. “Tapi kembali lagi, yang direkrut itu untuk jangka panjang, orang yang sudah stablil kejiwaannya dan orang yang bisa membawahi diri melalui penelusuran psikotes,” jelas Politisi PDIP itu.

Sumber: Okezone, Tribun

Fenulis: Fajar Shadiq

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.847 kali, 1 untuk hari ini)