SBY_83465327423

Basmalah alias bismillahirrahmanirrahim adalah lafal Islam dalam Al-Qur’an. Lafal itu diucapkan untuk hal-hal yang bersih dari kemusyrikan, bahkan kadang menjadi tanda penegasan untuk menolak kemusyrikan. Misalnya ketika menyembelih binatang dengan bismillah. Maksudnya adalah penyembelihan secara Islam dan menolak penyembelihan yang untuk selain Allah, misalnya untuk berhala, sesajen dan sebagainya.

Anehnya, ada teks sambutan resmi untuk perayaan kemusyrikan, namun dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim. Itu jelas mencampur aduk Tauhid dengan kemusyrikan, dan bahkan pertanda meridhai kekafiran. Padahal, Allah yang memiliki lafal bismillah itu tidak ridha kepada kekafiran, dan melarang untuk mencampurkan yang haq dengan yang bail (QS 2: 42).

وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya (QS Az-Zumar/ 39: 7).

Sehingga, menghadiri upacara kekafiran ataupun kemusyrikan itu sendiri jelas telah tidak diridhai Allah. Apalagi dengan menyambut yaitu berpidato pula. Itupun masih dalam teksnya ditulis, diawali dengan bismillahirrahmanirrahim, lagi.

Betapa mencampur adukkannya. Apakah agama Islam ini sebagai bahan mainan?

Tidak ada ulama kah di negeri yang jumlah Muslimnya terbesar di dnia ini? Atau ada hal-hal lain?

Inilah teks yang dimaksud, dicopas dari situs setneg.go.id. dan di bagian bawah, berita tentang kehadiran di perayaan kemusyrikan yang dimaksud, dan juga hukum haramnya.

***

Sambutan Presiden RI pada Perayaan Cap Go Meh Bersama Ke-5, Jakarta, 8 Februari 2012

Rabu, 08 Pebruari 2012

SAMBUTAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PADA

PERAYAAN CAP GO MEH BERSAMA KE-5

DI JIEXPO KEMAYORAN, JAKARTA

TANGGAL 8 FEBRUARI 2012

Bismillahirrahmanirrahiim,

Saudara-saudara masyarakat Tionghoa di seluruh tanah air yang berbahagia dan yang saya cintai,

Para tamu undangan dan hadirin sekalian yang saya hormati,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Malam ini, dengan penuh rasa syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, kita dapat kembali menghadiri perayaan Cap Go Meh Bersama Tahun 2012. Tanpa terasa, perayaan Cap Go Meh tahun ini adalah perayaan Cap Go Meh Bersama untuk kelima kalinya. Saya bersyukur, setiap perayaan Cap Go Meh Bersama, saya dapat hadir dan ikut merayakannya bersama-sama Saudara-Saudara masyarakat Tionghoa. Saya berharap, semoga perayaan ini dapat memberi kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan, kepada Saudara semua.

Hadirin yang berbahagia,

‘Sejahteralah Indonesiaku’ yang menjadi tema besar perayaan Cap Go Meh tahun ini, memiliki makna yang dalam. Tema ini selain memiliki harapan, doa, dan kebaikan demi bangsa dan negara, juga mendorong segenap anak bangsa untuk bekerja lebih keras guna meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Kita ingin, di tahun-tahun mendatang, kesejahteraan rakyat terus membaik. Kesejahteraan rakyat terus meningkat apabila memiliki kecukupan pangan, sandang, dan papan. Rakyat dikatakan makin sejahtera jika mendapat layanan pendidikan dan kesehatan yang layak serta memiliki rasa aman, tentram, dan damai.

Sering saya katakan, agar kesejahteraan rakyat makin meningkat, ekonomi kita harus terus tumbuh dan dunia usaha terus berkembang. Agar ekonomi tumbuh dan dunia usaha terus berkembang, maka keadaan dalam negeri harus aman dan damai, politik harus tetap stabil, tidak terjadi gonjang-ganjing yang tidak berujung pangkal dan kondisi sosial masyarakat juga harus tetap terjaga. Dengan keadaan dalam negeri yang baik itu, ekonomi akan tumbuh. Dan apabila ekonomi tumbuh, kesejahteraan rakyat akan dapat kita tingkatkan dan pada akhirnya, cita-cita bersama kita untuk membangun negara yang lebih maju, lebih adil, dan lebih sejahtera di abad ke-21 ini akan terwujud.

Saudara-saudara,

Saya sungguh bersyukur, lebih dari satu dasawarsa ini, komitmen etnis Tionghoa di seluruh tanah air tidak diragukan lagi. Etnis Tionghoa bersama-sama segenap anak bangsa, terus meningkatkan dukungan, peran, dan inisiatifnya dalam mempercepat pencapaian kehidupan rakyat Indonesia yang sejahtera, berdaya saing, dan berakhlak mulia. Saya yakin, dengan komitmen yang kuat dari Saudara-saudara, disertai kerja keras kita semua, kita akan dapat mewujudkan bangsa kita menjadi bangsa yang lebih maju, sekali lagi lebih adil, dan lebih sejahtera.

Semoga Tahun Naga Air ini memberi harapan akan masa depan dan kebahagiaan bagi segenap masyarakat Tionghoa. Saudara-Saudara dapat lebih berperan aktif dalam proses pembangunan saat ini dan di masa-masa mendatang. Sebab tidak ada lagi sekat dan penghalang, untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara kita. Masyarakat Tionghoa adalah bagian integral dari bangsa Indonesia, bangsa yang sama-sama kita cintai dan banggakan.

Hadirin yang saya hormati,

Negara kita sungguh menjadi mozaik yang indah, dari sebuah bangsa yang adaptif dan kaya warna. Berbagai budaya besar dan agama tumbuh subur dan berkembang di tanah air kita, serta pada hakekatnya hidup berdampingan secara damai, rukun, dan harmonis. Sebagai contoh, dalam perayaan Cap Go Meh tahun ini, di kota budaya Yogyakarta yang kental dengan adat istiadat Jawa, digelar Pekan Budaya Cap Go Meh. Pekan budaya itu menunjukkan akulturasi yang harmonis antara budaya Jawa dan budaya Tionghoa. Itulah modal sosial yang harus kita jaga dan kita kelola dengan baik.

Perayaan Cap Go Meh dalam beberapa tahun terakhir ini juga telah menjadi jembatan pembauran antar budaya dan etnis. Dalam naungan seloka Bhinneka Tunggal Ika, kita dapat menjalin persatuan dan memperkokoh jati diri bangsa kita yang majemuk. Sekali lagi saya katakan, persatuan adalah awal dari kebangkitan. Persatuan adalah kekuatan. Dan persatuan adalah syarat utama bagi kelestarian Bhinneka Tunggal Ika yang kita junjung bersama, berbeda-beda tetapi satu.

Hadirin yang saya hormati,

Sebagaimana dikemukakan tadi oleh Ketua Pembina Forum Bersama Indonesia Tionghoa, Bapak Murdaya Po, saat ini bukan waktunya lagi kita membeda-bedakan asal-usul keturunan. Bukan saatnya lagi kita membedakan seseorang berdasarkan kelompok etnisnya. Saat ini adalah saat yang tepat untuk membangun semangat kesetaraan antara semua warga bangsa. Semuanya telah membaur dan bersatu menjadi bangsa yang besar, bangsa Indonesia.

Kita telah bertekad untuk menjadi bangsa yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Undang-Undang Dasar kita telah menegaskan bahwa semua warga negara berkesamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan. Karena itu, semua warga negara termasuk masyarakat Tionghoa, mempunyai hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara Republik Indonesia. Sekali lagi saya katakan, kita tidak lagi mengenal, Pak Po mengatakan tadi, pribumi dan non-pribumi atau warga asli dan warga keturunan, semuanya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi, semuanya memiliki hak sebagai warga bangsa yang sama.

Ke depan, bangsa kita harus bertambah rukun dan bertambah bersatu. Masyarakat kita, harus makin bersemangat untuk memberikan peran konstruktifnya dalam pembangunan. Jika kita rukun dan bersatu, insyaAllah, kita akan menjadi bangsa yang makin kuat, makin bermartabat, dan makin sejahtera.

Hadirin yang berbahagia,

Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada segenap masyarakat Tionghoa atas peran aktifnya dalam berbagai bidang. Saya juga ingin menyampaikan ucapan selamat kepada 10 orang etnis Tionghoa yang memperoleh penghargaan Apresiasi CSR Sejahtera  Tahun 2012.

Saya mengajak masyarakat Tionghoa, terutama yang bergerak di dunia usaha, untuk mewujudkan kepedulian kepada sesama warga bangsa, dengan meningkatkan tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility, sebagaimana yang kita saksikan tadi kontribusi dan prestasinya, secara luas dan berkelanjutan. Negeri ini memerlukan kesetiakawanan dan rasa persaudaraan yang tinggi. Yang kaya membantu yang miskin, yang kuat membantu yang lemah. Saya juga mengajak Saudara-Saudara untuk mensinergikan dunia usaha dengan agenda dan program pemerintah, untuk mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi yang insya Allah akan makin mensejahterakan kehidupan masyarakat kita.

Akhirnya, kepada Saudara-Saudara etnis Tionghoa di manapun Saudara berada, sekali lagi, saya ucapkan selamat merayakan Cap Go Meh. Saya juga ucapkan terima kasih kepada pimpinan dan Keluarga Besar Forum Bersama Indonesia-Tionghoa, serta semua pihak yang telah mendukung penyelenggaraan acara Cap Go Meh 2012 yang semarak dan meriah ini. Sekian. Terima kasih. Gong Xi Fa Cai.

Asisten Deputi Naskah dan Penerjemahan,

Deputi Bidang Dukungan Kebijakan,

Kementerian Sekretariat Negara RI

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=6196&Itemid=26

***

Presiden SBY dan Ahok hadiri Cap Go Meh di Kemayoran

Minggu, 24 Februari 2013 21:48:56 Reporter : Dedi Rahmadi

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama menghadiri acara perayaan Cap Go Meh Bersama 2013 di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Event itu adalah acara puncak dari Tahun Baru Imlek 2564.

Dalam acara tersebut kembali menegaskan UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis tidak lagi dikenal adanya pribumi dan nonpribumi. “Kita sekarang adalah sama-sama warga Indonesia. Tugas dan tanggung jawab yang kita pikul juga sama yaitu bagaimana membangun Indonesia yang sejahtera,” kata Ketua Forum Bersama Indonesia Tionghoa (FBIT) Murdaya Poo di Jakarta, Minggu (24/2).

Acara perayaan Cap Go Meh Bersama 2013 itu diisi oleh pertunjukan drama musikal bertajuk ‘Imlek Turut Berperan Serta Memajukan Indonesia’ dan kesenian Barongsay.

Presiden SBY dan Ibu Ani kompak menggunakan busana berwarna biru-ungu. SBY juga didampingi oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh, Menko Polhukam Djoko Suyanto, Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Politik Daniel Sparingga.

[ded] merdeka.com

***

Kaum Muslimin Haram Merayakan Imlek (Tahun Baru Cina)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah untuk baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Anda mungkin pernah mendengar pernyataan begini, “Bahwa Imlek itu hanyalah tradisi etnis Tionghoa dan bukan bagian ajaran agama tertentu”. Karenanya umat Islam khususnya yang beretnis Tionghoa boleh-boleh saja merayakan Imlek.

Benarkah Imlek hanya tradisi? Bolehkah seorang muslim turut merayakan Imlek? Tulisan ini berusaha untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, dengan menelaah ajaran agama Khonghucu, serta menelaah hukum syariah Islam yang terkait dengan keterlibatan kaum muslimin dalam perayaan hari raya agama lain.

Imlek Adalah Ajaran Agama Khonghucu, Bukan Sekedar Tradisi Tionghoa

Memang tak jarang kita dengar dari orang Tionghoa, termasuk tokoh-tokohnya yang sudah masuk Islam, bahwa Imlek itu sekedar tradisi. Tidak ada hubungannya dengan ajaran suatu agama sehingga umat Islam boleh turut merayakannya. Sebagai contoh, Sekretaris Umum DPP PITI (Pembina Iman Tauhid Islam), H. Budi Setyagraha (Huan Ren Cong), pernah menyatakan bahwa Imlek adalah tradisi menyambut tahun baru penanggalan Cina, datangnya musim semi, dan musim tanam di daratan Cina.

H. Budi Setyagraha berkata,”Imlek bukan perayaan agama.” (Lihat “Sekjen DPP PITI : Rayakan Imlek Jangan Berlebihan”, Kedaulatan Rakyat, Selasa, 13 Pebruari 2007, hal. 2).

Padahal kalau kita mendalami agama Khonghucu, khususnya mengenai hari-hari rayanya, terbukti bahwa pernyataan tersebut tidak benar. Sebab sebenarnya Imlek adalah bagian integral dari ajaran agama Khonghucu, bukan semata-mata tradisi.

Dalam bukunya Mengenal Hari Raya Konfusiani (Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003) hal. vi-vii, Hendrik Agus Winarso menyebutkan bahwa masyarakat memang kurang memahami Hari Raya Konfusiani.

Hendrik Agus Winarso mengatakan,”Misalnya Tahun Baru Imlek dianggap sebagai tradisi orang Tionghoa.” Dengan demikian, pandangan bahwa Imlek adalah sekedar tradisi, yang tidak ada hubungannya dengan agama, menurut penulis buku tersebut, adalah suatu kesalahpahaman (Ibid., hal. v).

Dalam buku yang diberi kata sambutan oleh Ketua MATAKIN tahun 2000 Hs. Tjhie Tjay Ing itu, pada hal. 58-62, Hendrik Agus Winarso telah membuktikan dengan meyakinkan bahwa Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu. Hendrik Agus Winarso menerangkan, Tahun Baru Imlek atau disebut juga Sin Cia, merupakan momentum untuk memperbarui diri. Momentum ini, kata beliau, diisyaratkan dalam salah satu kitab suci Khonghucu, yaitu Kitab Lee Ki, bagianGwat Ling, yang berbunyi:

“Hari permulaan tahun (Liep Chun) jadikanlah sebagai Hari Agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Thian, karena Maha Besar Kebajikan Thian. Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia… (Tiong Yong XV : 1-5).

(Lihat Hendrik Agus Winarso, Mengenal Hari Raya Konfusiani, [Semarang : Effhar & Dahara Prize, 2003], hal. 60-61).

Penulis buku tersebut lalu menyimpulkan Imlek adalah bagian ajaran Khonghucu, dengan menegaskan,”Dengan demikian, menyambut Tahun Baru bagi umat Khonghucu Indonesia mengandung arti ketakwaan dan keimanan.” (ibid.,hal. 61).

Maka tidaklah benar pendapat yang menyebutkan bahwa Imlek hanya sekedar tradisi orang Tionghoa, atau Imlek bukan perayaan agama. Yang benar, Imlek justru adalah bagian ajaran agama Khonghucu, bukan sekedar tradisi.

Lagi pula, harus kami tambahkan bahwa boleh tidaknya seorang muslim melakukan sesuatu, tidaklah dilihat apakah sesuatu itu berasal dari tradisi ataukah dari agama. Seakan-akan kalau berasal dari tradisi hukumnya boleh-boleh saja dilakukan, sementara kalau dari agama lain hukumnya tidak boleh.

Standar semacam itu sungguh batil dan tidak ada dalam Islam. Karena standar yang benar menurut Islam, adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS. Al-A’raaf: 3)

Kalimat “maa unzila ilaykum min rabbikum” dalam ayat di atas yang berarti “apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”, artinya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. (Tafsir Al-Baidhawi, [Beirut: Dar Shaadir], Juz III/2).

Jadi suatu perbuatan itu boleh atau tidak boleh dilakukan, tolok ukurnya adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Apa saja yang benar menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti boleh dikerjakan. Sebaliknya apa saja yang batil menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, berarti tidak boleh dilakukan

Maka kalau kita hendak menilai perbuatan muslim turut merayakan Imlek menurut Islam, tolok ukurnya harus benar. Yaitu harus kita lihat adalah apakah perbuatan itu boleh atau tidak menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah, bukan melihat apakah Imlek itu dari tradisi atau dari agama.

Sungguh kalau seorang muslim menggunakan tolok ukur tadi, yaitu melihat sesuatu itu dari tradisi atau agama, ia akan tersesat. Sebab suatu tradisi tidak selalu benar, adakalanya ia bertentangan dengan Islam dan adakalanya sesuai dengan Islam. Contoh, free sex pada masyarakat Barat yang Kristen. Free sex jelas telah menjadi tradisi Barat, meski perbuatan kotor itu bukan bagian agama Kristen/Katholik, karena agama ini pun mengharamkan zina. Lalu, apakah karena free sex itu sekedar tradisi, dan bukan agama, lalu umat Islam boleh melakukannya? Jelas tetap tidak boleh, bukan?

Walhasil, mari kita gunakan barometer yang benar untuk menilai suatu perbuatan. Barometernya, bukan dilihat dari segi asalnya apakah suatu perbuatan itu dari tradisi atau agama, melainkan dilihat dari segi boleh tidaknya perbuatan itu menurut Al-Qur`an dan As-Sunnah. Inilah pandangan yang haq, tidak ada yang lain.

Haram Atas Muslim Turut Merayakan Imlek

Berdasarkan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari raya agama lain, termasuk Imlek, baik dengan mengikuti ritual agamanya maupun tidak, baik dianggap ajaran agama maupun dianggap tradisi, termasuk juga memberi ucapan selamat Gong Xi Fat Chai. Semuanya haram.

Imam Suyuthi berkata,”Juga termasuk perbuatan mungkar, yaitu turut serta merayakan hari raya orang Yahudi, hari raya orang-orang kafir, hari raya selain orang Arab [yang tidak Islami], ataupun hari raya orang-orang Arab yang tersesat. Orang muslim tidak boleh melakukan perbuatan itu, sebab hal itu akan membawa mereka ke jurang kemungkaran…” (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91).

Khusus mengenai memberi ucapan selamat, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berkata,”Adapun memberi ucapan selamat yang terkait syiar-syiar kekufuran yang menjadi ciri khas kaum kafir, hukumnya haram menurut kesepakatan ulama, misalnya memberi selamat atas hari raya atau puasa mereka...” (Ahkam Ahli Adz-Dzimmah, [Beirut : Darul Kutub Al-’Ilmiyah], 1995, Juz I/162).

Dalil Al-Qur`an yang mengharamkan perbuatan muslim merayakan hari raya agama kafir di antaranya firman Allah SWT (artinya) : “Dan (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah) orang-orang yang tidak menghadiri kebohongan…” (QS. Al-Furqan: 72).

Kalimat “laa yasyhaduuna az-zuur” dalam ayat tersebut menurut Imam Ibnu Taimiyah maknanya yang tepat adalah tidak menghadiri kebohongan (az-zuur), bukan memberikan kesaksian palsu. Dalam bahasa Arab, memberi kesaksian palsu diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna bi az-zuurJadi ada tambahan huruf jar yang dibaca bi. Bukan diungkapkan dengan kalimat yasyhaduuna az-zuur (tanpa huruf jar bi). Maka ayat di atas yang berbunyi “laa yasyhaduuna az-zuur” artinya yang lebih tepat adalah ”tidak menghadiri kebohongan”, bukannya ” memberikan kesaksian palsu.” (M. Bin Ali Adh-Dhabi’i, Mukhtarat min Kitab Iqtidha` Shirathal Mustaqim Mukhalafati Ash-habil Jahim (terj.), hal. 59-60)

Sedang kata “az-zuur” (kebohongan) itu sendiri oleh sebagian tabi’in seperti Mujahid, adh-Dhahak, Rabi’ bin Anas, dan Ikrimah artinya adalah hari-hari besar kaum musyrik atau kaum jahiliyah sebelum Islam (Imam Suyuthi, Al-Amru bi Al-Ittiba’ wa An-Nahyu ’An Al-Ibtida` (terj.), hal. 91-95).

Jadi, ayat di atas adalah dalil haramnya seorang muslim untuk merayakan hari-hari raya agama lain, seperti hari Natal, Waisak, Paskah, Imlek, dan sebagainya.

Imam Suyuthi berdalil dengan dua ayat lain sebagai dasar pengharaman muslim turut merayakan hari raya agama lain (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92). Salah satunya adalah ayat (artinya) : “Dan sesungguhnya jika kamu [Muhammad] mengikuti keinginan mereka setelah datangnya ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 145).

Menurut Imam Suyuthi, larangan pada ayat di atas tidak hanya khusus kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tapi juga mencakup umat Islam secara umum. Larangan tersebut adalah larangan melakukan perbuatan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang bodoh atau orang kafir [seperti turut merayakan hari raya mereka]. Sedangkan yang mereka lakukan bukanlah perbuatan yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya (Lihat Imam Suyuthi, ibid., hal. 92).

Adapun dalil As-Sunnah, antara lain Hadits Nabi SAW,“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).

Dalam hadits ini Islam telah mengharamkan muslim untuk menyerupakan dirinya dengan kaum kafir pada hal-hal yang menjadi ciri khas kekafiran mereka, seperti hari-hari raya mereka. Maka dari itu, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan hari-hari raya agama lain (Lihat Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Penjelasan Tuntas Hukum Seputar Perayaan, [Solo : Pustaka Al-Ummat], 2006, hal. 76).

Berdasarkan dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah di atas, haram hukumnya seorang muslim turut merayakan Imlek dalam segala bentuk dan manifestasinya. Haram bagi muslim ikut-ikutan mengucapkan Gong Xi Fat Chai kepada orang Tionghoa, sebagaimana haram bagi muslim menghiasi rumah atau kantornya dengan lampion khas Cina, atau hiasan naga dan berbagai asesoris lainnya yang serba berwarna merah. Haram pula baginya mengadakan berbagai macam pertunjukan untuk merayakan Imlek, seperti live band, karaoke mandarin, demo masak, dan sebagainya.

Semua bentuk perbuatan tersebut haram dilakukan oleh muslim, karena termasuk perbuatan terlibat merayakan hari raya agama kafir yang telah diharamkan Al-Qur`an dan As-Sunnah.

Himbauan Kepada Muslim Etnis Tionghoa

Terakhir, kami sampaikan seruan dan himbauan kepada saudara-saudaraku muallaf dari etnis Tionghoa, hendaklah Anda masuk ke dalam agama Islam secara keseluruhannya (kaffah). Janganlah Anda –semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda semua— mengikuti langkah-langkah setan, yakni masuk ke dalam agama Islam namun masih mempertahankan sebagian ajaran lama yang dulu Anda peluk dan Anda amalkan, seperti perayaan Imlek. Marilah kita masuk ke dalam agama Islam dengan seutuhnya dan seikhlas-ikhlasnya. Mari kita renungkan firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208) Wallahu a’lam bi al-shawab.

Sumber: Tulisan Ust. M Shiddiq Al-Jawi berjudul : Imlek Adalah Hari Raya Agama Khonghucu Bukan Sekedar Tradisi Tionghoa: Haram atas Muslim Turut Merayakannya. (Dengan sedikit editan) Dari Situs:  www.khilafah1924.org

[PurWD/voa-islam/www.khilafah1924.org] Senin, 23 Jan 2012

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.924 kali, 1 untuk hari ini)