Ketua Bawaslu Kota Tangerang Agus Muslim menunjukan Tabloid Indonesia Barokah yang berhasil diamankan, Kamis (24/1). (ANTARA FOTO | MUHAMMAD IQBAL)


KARAWANG (HN) -Badan Pengawas Pemilihan Umum Kabupaten Karawang, Jabar, menemukan ribuan eksemplar tabloid “Indonesia Barokah” yang siap disebar melalui Kantor Pos Cabang Karawang, Kamis (24/1).

“Kami sudah meminta (pihak Kantor Pos Karawang) agar tidak menyebarkan tabloid itu,” kata Koordinator Divisi Pengawasan dan Hubungan Antar Lembaga Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) setempat Charles Silalahi, di Karawang.

Pihaknya bersama Intelijen Polres Karawang sudah mendatangi kantor pos Cabang Karawang, untuk meminta agar penyebaran tabloid “Indonesia Barokah” tidak dilakukan. “Dari hasil koordinasi dengan Kantor Pos Karawang, ada 247 amplop yang siap disebar ke semua pos kecamatan,” katanya.

Ia mengatakan, isi satu amplop itu bervariasi, ada yang tiga eksemplar dan lima eksemplar tabloid. Terkait tabloid “Indonesia Barokah” yang sudah terlanjur dikirimkan ke kecamatan-kecamatan, Bawaslu Karawang telah berkoordinasi dengan Polres Karawang agar menyita tabloid tersebut.

Diharapkan, jika ada masyarakat yang menemukan tabloid “Indonesia Barokah”, segera menyerahkannya ke pihak kepolisian terdekat atau ke Panwaslu tingkat kecamatan, sebab isi tabloid tersebut dianggap berbahaya.

Menurut dia, dari pendataan sementara, sebanyak 330 eksemplar tabloid tersebut sudah tersebar di sejumlah kecamatan seperti Kecamatan Purwasari, Cilamaya Wetan, Klari, Tempuran, Telagasari, Lemahabang, Kutawaluya, Majalaya, dan Banyusari.

“Kami juga belum membaca semua isi tabloid itu, tapi disinyalir ada propaganda dalam tabloid itu,” kata dia. Saat ini Bawaslu Karawang hanya melakukan pendataan terhadap tabloid itu sambil menunggu instruksi dari Bawaslu Jabar./harnas.co

Reportase : Mulya Achdami

Editor : Mulya Achdami

***

MUI Nilai Tabloid ‘Indonesia Barokah’ Tidak Pancasilais: Jangan Disebarkan

Foto: Ilustrasi: Mindra Purnomo

Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai tabloid ‘Indonesia Barokah’ yang beredar di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah rawan menimbulkan pecah belah antar masyarakat. Sekjen MUI Anwar Abbas meminta tabloid itu tidak disebarkan ke masjid-masjid.

“Kan kita punya filosofi namanya Pancasila, sila Ketuhanan yang Maha Esa, jadi oleh karena itu kalau media itu media yang Pancasilais, yang menjujung tinggi nilai-nilai agama, nilai-nilai ketuhanan. Jadi apa yang diajarkan oleh agama supaya juga ditegakkan oleh media dalam pemberitaannya. Yang kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, saling hormat menghormati, sampaikan lah pendapat itu dengan baik. Yang ketiga persatuan Indonesia, jangan pecah belah, kalau media (Tabloid Indonesia Barokah) yang terkait itu kan pecah belah itu,” ujar Anwar saat dihubungi, Rabu (23/1/2019).

Anwar melanjutkan, media harus mendorong pihak yang berkompetisi di Pilpres 2019 untuk bermusyawarah, dan berdialog dengan baik. Hal ini untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana isi sila kelima Pancasila.

“Media itu harus mendorong bagi tegaknya persatuan dan kesatuan, jangan pecah belah, injak satu angkat satu, jangan begitu media. Kalau kayak media-media kayak gitu tu (tabloid ‘Indonesia Barokah’) yang namanya sila pertama nggak tegak, sila kedua nggak tegak, ketiga nggak tegak, apalagi yang kelima,” katanya.

“Kalau tabloidnya itu tidak berisikan yang hak, ya jangan disebarkan, kalau tidak (berisi yang hak) kan hoax berarti. Hak itu kan benar, kalau tidak berisikan ketidakbenaran berarti hoax, bukan hak, jangan disebarkan,” lanjutnya.

Anwar lalu mengingatkan sikap MUI terkait media dan penggunaan media sosial. Menurutnya media harus menjunjung tinggi akhlak dan etika. Untuk itu media dan pengguna media sosial tidak boleh menabrak etika dan akhlak.

“Menyudutkan Prabowo tidak boleh, menyudutkan Jokowi tidak boleh. Yang namanya tabloid itu kan media ya, media itu kan bicara tentang kebenaran semestinya, media itu adalah tempat orang mengungkap kebenaran, bukan tempat orang menyudut-nyudutkan. Menurut saya itu (tabloid ‘Indonesia Barokah’) sudah keluar dari jati diri media. Media itu mendeskripsikan apa yang terjadi, meminta pendapat orang apa jalan keluarnya,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat KH Cholil Nafis mengatakan sebetulnya masjid jadi ruang yang terbuka untuk pembahasan segala hal, termasuk politik. Hanya saja, menurutnya, politik yang pantas untuk dibahas di masjid bukan yang bersifat politik praktis.

“Jadikan masjid sarana pemersatu umat, jadi tempat membangun peradaban yang baik, membangun kemajuan di masjid. Kalau yang sifatnya dukung-mendukung mudaratnya lebih besar, mengakibatkan perpecahan jemaah. Kalau begitu silakan di luar tempatnya, jangan di masjid,” tutur Cholil.

Dia mengingatkan, undang-undang pun melarang kegiatan kampanye yang dilakukan di tempat ibadah dan juga lembaga pendidikan. Masjid harus steril dari kegiatan politik praktis.

Terkait tabloid ‘Indonesia Barokah’ yang ditemukan tersebar di masjid-masjid di Jawa Barat dan Jawa Tengah, Cholil menyinggung soal peran vital takmir masjid. Dia mengatakan takmir punya peranan penting dalam menyaring informasi yang pantas dan tidak pantas untuk disebar di lingkungan masjid.

“Takmir punya peran sangat vital dalam mengelola informasi di masjid. Takmir mesti selektif, memilih mana yang bisa beredar di masyarakat. Kalau ada yang mengedarkan, mesti dipilah-pilih dulu apa isinya. Takmir jadi filter hal-hal yang disebarkan. Pantas atau tidak itu ada di takmir kewenangannya. Jadi takmir yang seleksi kapan itu disebarkan,” paparnya.
(nvl/jbr)/ news.detik.com

***

Menyelisik Tabloid Indonesia Barokah, Apa Isi dan Siapa di Baliknya

Koordinator Divisi Humas dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Jateng Rofiuddin menunjukkan Tabloid Indonesia Barokah. antarafoto/Wisnu Adhi

Oleh: Felix Nathaniel – 24 Januari 2019

Isi tabloid Indonesia Barokah terkesan menyudutkan paslon nomor urut 02. Tapi tim kampanye 01 mengaku tak tahu-menahu soal itu.

tirto.id – Amplop cokelat muncul di beberapa masjid di Jawa Tengah dan Jawa Barat beberapa waktu yang lalu. Isinya adalah setumpuk tabloid berjudul Indonesia Barokah edisi pertama. Di sana tertulis tabloid terbit pada Desember 2018, tapi memang baru ramai dibicarakan Selasa (22/1/2019) kemarin.

Tabloid itu mengusung tajuk berjudul “Reuni 212: Kepentingan Umat atau Kepentingan Politik?” dengan semua huruf kapital. Gambar di halaman depan menampilkan karikatur orang memakai sorban dan memainkan dua wayang.

Tabloid berisi 16 halaman ini menampilkan 13 macam rubrik berita, mulai dari Mukadimah hingga Galeri.

Dari sekian banyak tulisan itu, yang paling menarik disorot adalah Laporan Utama (hlm. 5) dan Liputan Khusus (hlm. 6). Laporan Utama menurunkan berita berjudul “Prabowo Marah, Media Dibelah.” Kalimat pertamanya lumayan menghantam: “Prabowo Subianto kembali berulah dengan marah-marah dan melontarkan pernyataan kontroversial.”

Isi laporan itu adalah soal tuduhan bahwa Prabowo terlibat, atau minimal punya kepentingan besar di balik Reuni 212. Ini ditunjukkan ketika ia marah-marah ke media yang dianggap mengecilkan jumlah massa yang mengikuti acara.

Pada rubrik Liputan Khusus, Indonesia Barokah menurunkan artikel berjudul “Membohongi Publik untuk Kemenangan Politik?: Membongkar Strategi Semprotan Kebohongan.” Naskah ini bercerita soal kasus-kasus hoaks yang melibatkan tim sukses Prabowo, dari mulai Ratna Sarumpaet hingga Neno Warisma.

Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Ferdinand Hutahaean menilai karena isi berita seperti itu patut diduga pembuat tabloid ini berasosiasi dengan Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Tim suksesnya, misalnya.

“Kami meyakini ini terasosiasi dengan kubu 01 [Jokowi-Ma’ruf Amin] karena tabloid itu isinya fitnah semua kepada Prabowo. Siapa lagi yang melakukan itu, ya, selain 01,” ujar Ferdinand kepada reporter Tirto, Rabu (23/1/2019) kemarin.

Tabloid ini jadi tak jauh beda dengan Obor Rakyat yang masif menyebar pada Pilpres 2014, tambah Ferdinand. “Polanya sama, menyebarkan tabloid isinya fitnah.”

Tudingan ini, seperti bisa ditebak, disanggah Tim Kampanye Nasioanal (TKN) Jokowi-Ma’ruf. Direktur Konten TKN, Fiki Satari, menyatakan bahwa kerja mereka hanya membentuk narasi, sosialisasi, dan juga video kampanye kepada relawan. Tapi mereka tidak pernah membuat atau menyuruh membuat tabloid.

“Kalau dari kami yang jelas enggak ada sama sekali,” kata Fiki kepada reporter Tirto.

Dia malah menduga Indonesia Barokah bisa mempunyai maksud lain. Hal ini karena menurutnya saat ini ada banyak selebaran terkait Jokowi-Ma’ruf yang malah berisikan berita tidak benar dan menyudutkan paslon 01.

“Seolah-olah dibuat untuk degradasi 02, tapi nanti dijadikan playing victim, itu kan bisa terjadi,” ucapnya.

Diteliti

Pada halaman 2 sebetulnya tercantum susunan redaksi, juga alamat, sebagaimana media-media cetak pada umumnya. Yang dicatat mulai dari pemimpin umum hingga bagian pemasaran. Dua orang teratas di susunan redaksi, Moch Shaka Dzulkarnaen dan Ichwanuddin, menjabat Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi.

Tak jelas siapa nama-nama yang tercantum. Tak ada yang familiar kecuali kesamaan nama yang tak bisa diverifikasi.

Alamat redaksi, Jalan Haji Kerenkemi, Rawa Bacang, Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Bekasi, pun palsu. Hal ini juga terjadi di Obor Rakyat.

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI tengah menggandeng Dewan Pers untuk meneliti konten tabloid. Bila memang dalam tabloid tersebut ditemukan unsur penghinaan terhadap pasangan calon tertentu, Bawaslu segera melimpahkan penanganan perkara ini ke Sentra Penegakkan Hukum Terpadu (Sentra Gakkumdu).

Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino
Sumber : tirto.id

(nahimunkar.org)

(Dibaca 317 kali, 1 untuk hari ini)