Bebaskanlah Dirimu dari Pemimpin Zalim

  • Pejabat yang Shalih dan yang Fasiq Masing-Masing Ada Akibatnya
  • Bagaimana para pendukung penguasa zalim dan pengusaha fajir/ jahat, apakah dapat dosa pula?

     

Iustrasi foto/ejakatablog

 

Perbuatan orang shalih (baik, taat kepada Allah Ta’ala, tidak membuat kerusakan) ada akibat2nya di dunia dan akherat. Apalagi bila yang shalih itu seorang pejabat atau bahkan bnyak pejabat, maka akibat-akibat baik akan diterima di dunia maupun di akherat kelak.

Ketika orang umum (bukan pejabat) terdiri dari orang-orang shalih, maka negeri atau kampung atau desa itu tidak akan dihancurkan Allah.

{وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ } [هود: 117]

Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS Hud: 117)

Dalam Aisarut Tafasir / Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, mudarris tafsir di Masjid Nabawi menjelaskan:

 

Makna kata : (بِظُلۡمٖ) bizhulmin : (menyiksa mereka dengan zalim) tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat.

 

Makna ayat :

Firman-Nya : (وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهۡلِكَ ٱلۡقُرَىٰ بِظُلۡمٖ وَأَهۡلُهَا مُصۡلِحُونَ) Tidak mungkin Rabbmu—wahai Rasulullah—memusnahkan suatu kaum dengan zalim, padahal mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Namun, Dia menghancurkan mereka karena kezaliman mereka terhadap diri mereka sendiri, dengan berbuat syirik (kemusyrikan, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya), mendustakan utusan-utusan-Nya, dan maksiat.

Isi dari ayat ini, menjelaskan ketetapan Allah dalam menghancurkan umat-umat terdahulu, di antaranya yang telah dikisahkan di dalam surat ini (QS Hud).

Pelajaran dari ayat :

• Selama penduduk suatu negeri adalah orang-orang saleh, mereka akan aman dari segala mara bahaya. (Aisarut Tafasir)/tafsirweb.com

Bahkan kalau para penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa maka keberkahan dan rahmat Allah dicurakan kepada mereka.

{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [الأعراف: 96]

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raf: 96).

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-A’raf Ayat 96 menjelaskan:

Demikianlah siksa yang dijatuhkan Allah atas mereka yang durhaka, dan sekiranya penduduk negeri yang kami kisahkan keadaan mereka atau selain mereka itu beriman kepada apa yang dibawa oleh rasul dan bertakwa, yakni melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah, yaitu pintu-pintu kebaikan dari segala penjuru; langit dan bumi, berupa hujan, tanaman, buah-buahan, binatang ternak, rezeki, rasa aman, dan keselamatan dari segala macam bencana, serta kesejahteraan lahir dan batin lainnya, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat dan rasul-rasul kami, maka kami siksa mereka disebabkan kekufuran dan kemaksiatan yang terus menerus mereka kerjakan. Ketaatan akan membawa nikmat dan keberkahan, sebaliknya, kekufuran mendatangkan laknat dan kesengsaraan. Karena kedurhakaan dan kebejatan mereka yang sedemikian parah, sampai-sampai mereka merasa tidak mungkin terkena sanksi Allah, maka kepada mereka diajukan pertanyaan yang mengandung kecaman, apakah penduduk negeri-negeri itu mengira bahwa mereka merasa aman sehingga tidak khawatir dari kedatangan siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur lelap’. /tafsirweb.com

 

Adapun bila yang shalih itu pejabat atau pemimpin atau berkedudukan maka ada pujian dari Allah Ta’ala.

{…وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (40) الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ } [الحج: 40، 41]

… Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa,

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (QS Al-Hajj: 40-41)

Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat Al-Hajj Ayat 41 menjelaskan:

Para sahabat Nabi yang diusir dari kampung halamannya hanya karena mereka meyakini tidak ada tuhan selain Allah itu adalah orang-orang yang jika kami beri kedudukan kepada mereka di bumi dengan menjadi umara’, mereka akan menggunakan kekuasaannya untuk mengajak umat melaksanakan shalat berjamaah, di masjid, awal waktu; menunaikan zakat, infak, dan sedekah dengan manajemen yang baik untuk kesejahteraan umat, dan menyuruh berbuat yang makruf kepada seluruh lapisan masyarakat dan mencegah dari yang mungkar dari siapa saja yang mengindikasikan melanggar hukum dan menyimpang dari aturan yang berlaku; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan dengan seadil-adilnya mengenai nasib manusia di akhirat. /tafsirweb.com

***

Apabila penduduk apalagi para pejabatnya fasiq (melanggar, banyak dosa)

 

Bagaimana kalau penduduk dan bahkan para pejabatnya rusak, bejat, atau fasiq?

Telah jelas dalam ayat tersebut di atas:

وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [الأعراف: 96]

tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al-A’raf: 96).

Penjelasannya: … tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat dan rasul-rasul kami, maka kami siksa mereka disebabkan kekufuran dan kemaksiatan yang terus menerus mereka kerjakan.

Bahkan apabila yang fasiq itu para pemimpin dan kaum elit yang hidup mewah, maka ancaman Allah ta’ala sangat dahsyat:

{وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا } [الإسراء: 16]

 Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (QS Al-Isra’: 16).

16. وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا
(Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu)
Yakni Kami akan perintahkan mereka untuk melakukan ketaatan dan kebaikan namun mereka bermaksiat dan melakukan keburukan.
Terdapat pendapat mengatakan bahwa yang dimaksud dengan (أمرنا مترفيها) yakni Kami akan memperbanyak orang-orang yang berbuat kefasikan di negeri tersebut.
Makna (مترفيها) yakni orang-orang yang mendapat kenikmatan yang terlena oleh kenikmatan mereka, mereka adalah orang-orang yang bertindak sewenang-wenang dan semena-mena, mereka adalah para penguasa yang zalim dan orang-orang kaya yang fajir (jahat)./ tafsirweb.com/  Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir / Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah

 

Bagaimana para pendukung atau yang cenderung kepada penguasa zalim dan pengusaha fajir/ jahat itu, apakah dapat dosa pula?

 


Imaratus Sufaha’

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ أَعَاذَكَ اللَّهُ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ قَالَ وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ قَالَ أُمَرَاءُ يَكُونُونَ بَعْدِي لَا يَقْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ وَسَيَرِدُوا عَلَيَّ حَوْضِي

الراوي : جابر بن عبدالله المحدث : الألباني

المصدر : صحيح الترغيب الصفحة أو الرقم: 2242 خلاصة حكم المحدث : صحيح لغيره

/Dorar.net

Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ka’b bin’ Ujroh, “Semoga Allah melindungimu dari Imaratis Sufahaa’ (pemerintahan orang-orang yang bodoh)”, (Ka’b bin ‘Ujroh Radliyallahu’anhu) bertanya, apa itu pemerintahan orang-orang bodoh? (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) bersabda: “Yaitu para pemimpin (kekuasaan) sesudahku yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak pula berjalan dengan sunnahku, barangsiapa yang membenarkan mereka dengan kebohongan mereka serta menolong mereka atas kedholiman mereka maka dia bukanlah golonganku, dan aku juga bukan termasuk golongannya, mereka tidak akan datang kepadaku di atas telagaku, barang siapa yang tidak membenarkan mereka atas kebohongan mereka, serta tidak menolong mereka atas kedholiman mereka maka mereka adalah golonganku dan aku juga golongan mereka serta mereka akan mendatangiku di atas telagaku. (Musnad Ahmad No.13919, shahih lighairihi menurut Al-Albani dalam Shahih at-Targhib).

Apalagi mendukung, hanya cenderung saja akan termasuk golongannya

Simak hadits berikut ini.

Dari Abu Kabsyah Al-Anmari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ، عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَفْضَلِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا، فَهَذَا بِأَخْبَثِ المَنَازِلِ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Dunia itu milik empat golongan, yaitu:

(1) Seseorang yang Allah beri ilmu dan harta lalu dia bertakwa kepada Allah, menyambung silaturahim (hubungan dengan kerabat), dan mengetahui hak Allah pada harta tersebut. Orang ini yang paling utama kedudukannya di sisi Allah.

(2)  Seseorang yang Allah beri ilmu tetapi tidak diberi harta, lalu dia berkata, ‘Andai aku punya harta, aku akan melakukan seperti amalan si polan.’ Karena niat baiknya itu, dia dan orang pertama sama dalam pahala.

(3) Seseorang yang Allah beri harta tetapi tidak diberi ilmu, lalu dia menghabiskan harta tersebut tanpa bertakwa kepada Allah, tidak menyambung silaturahim, dan tidak tahu hak Allah pada harta itu. Orang ini kedudukannya paling buruk di sisi Allah.

(4) Seseorang yang tidak diberi Allah harta dan ilmu, lalu berkata, ‘Andai aku punya harta, aku akan melakukan seperti amalan si polan.’ Karena niat buruknya itu, keduanya sama dalam dosa.'” (HR. Tirmidzi, no. 2325 dan Ahmad, 4:231. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

 

Betapa celakanya, orang yang tidak punya harta, tak punya jabatan, tetapi dia berangan-angan, berniat, bertekad atau bahkan bercita-cita, kalau punya jabatan, maka akan berbuat seperti penguasa zalim, misalnya. Misla, karena bencinya ke Islam walau mengaku Muslim atau bahkan pemuka, namun tak bisa mengganggu Islam, lalu dia berangan-angan bertekad bila punya jabatan seperti mereka yang zalim terhadap Islam, maka ia bertekad ingin bertindak demikian juga, (walaupun itu hanya angan-angan atau cita-cita atau niat, tekad yang akan dia perbuat, belum sampai diperbuat karena tidak punya jabatan), namun itu terhitung kejahatan sempurna.

Maka wajib hati2 wahai para pendukung penguasa2 zalim di dunia ini di manapun, dukungan bahkan hanya kecenderungan pendukung2 itu akan terhitung kejahatan sempurna bila memang bertekad malakasnakannya bila punya jabatan ataupun kemampuan.

Silakan simak catatan Rumaisyho berikut ini.

 

  • Berkeinginan melakukan kejelekan, dan berusaha untuk menggapainya, tetapi tidak mampu. Orang seperti ini mendapatkan dosa yang sempurna.

Abu Bakrah Nufa’i bin Harits Ats-Tsaqafi radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِى النَّارِ » . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ « إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

Apabila dua orang Islam bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada di dalam neraka.” Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka, lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari, no. 31 dan Muslim, no. 2888).

 

  • Bertekad melakukan suatu kejelekan, kemudian menjauhkan diri darinya, bukan karena Allah, bukan karena tidak mampu, maka seperti itu tidak diberi pahala karena ia tidak meninggalkan maksiat karena Allah dan ia tidak dihukum karena tidak melakukan hal-hal yang mewajibkan mendapatkan hukuman.

Berarti hadits,

وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

Jika dia berniat melakukan keburukan lalu tidak jadi mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna”, maksudnya jika meninggalkan kejelekan karena Allah./
rumaysho.com

 

***

Demikianlah.

Betapa celakanya ketika orang mendukung pemimpin zalim di dunia ini di manapun. Apalagi kezalimannya itu mengenai Islam agama Allah, dari Tauhid direkayasa untuk ke kemusyrikan, entah itu berupa keyakinan keyakinan batil tak sesuai dengan Islam seperti upacara2 kemusyrikan larung laut, sedekah bumi, larung sesajen dsb dengan sebutan kearifan lokal (padahal sejatinya kejahilan lokal) atau bahkan yang telah difatwakan haram oleh MUI 2005 seperti sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme agama (karena bertentangan dengan Islam) atau sekadar simbol2 ke arah keyakinan batil, maka: para pendukungnya yang ingin berbuat begitu pula walau tak melakukan karena tak mampu, maka kedudukannya sama, berbuat kejelekan secara sempurna. Bahkan mendukung disebarkannya salam oplosan, salam Islam dilanjutkan dengan salam2 agama kekufuran dan kemusyrikan, maka mendapatkan dosa yang sama pula dengan pelakunya, karena salam oplosan macam itu bisa mengeluarkan dari Islam, lantaran menabrakkan salam Islam berisi Tauhid dengan salam2 agama kekufuran dan kemusyrikan berisi ketuhanan kemusyrikan. (lihat selengkapnya di sini: https://www.nahimunkar.org/bisa-murtad-dan-musyrik-mengucapkan-salam-islam-disertai-salam-agama-lain/ )

Oleh karena itu bebaskanlah dirimu dari pemimpin zalim! Agar tidak termasuk yang mendapatkan dosa sebagaimana mereka.

Hartono Ahmad Jaiz

https://www.facebook.com/hartonoahmadjaizy/photos/a.107957398152215/290185809929372/

(nahimunkar.org)