Meninggalnya seseorang merupakan ketentuan dari Allah Ta’ala. Baik dan buruknyapun sudah dijelaskan dalam Islam, bukan menurut perasaan manusia. Oleh karena itu, kita Umat Islam tinggal merujuk dan mengikuti petunjuk yng dibawa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, mana jenis-jenis meninggal yang baik atau mulia itu.

Meninggal di hari Jum’at itu saja bagi Muslimin telah dijelaskan akan dilindungi dari fitnah kubur, yakni adzab kubur dan pertanyaan kubur. Jamaah haji kemarin yang tertimpa alat berat dan wafat itu pada hari Jum’at.

Berikut ini ada ulasan mengenai keutamaan jamaah haji yang meninggal dalam musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram Makkah, Jum’at 27 Dzulqa’dah 1436H/ 11 September 2015.

Crane jatuh di Masjidil

Crane jatuh di Masjidil Haram Makkah pada Jum’at (11/9 2015). Foto reuters

Silakan simak ulasan berikut ni.

***

 

Bagi Pembenci Saudi, Mereka Membuat Postingan Miring,. Bagi Yang Paham, Berilah Kabar Gembira Bagi Orang Yang Ditinggalkannya..

September 12, 2015

Termasuk Tanda Mati Syahid, Mati Karena Tertimpa Reruntuhan

Ada beberapa keutamaan jamaah haji yang menjadi korban tertimpa crane di Masjidil Haram. Dan hanya Allah yang mengetahui hikmah dalam masalah ini.Diantaranya :

  1. Meninggal di hari yg mulia, yaitu Jumat.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ »

Artinya: “Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau pada malam Jumat melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah (pertanyaan) kubur. (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Humaid, Abu Ya’la, dan Al-Baihaqi).

  1. Meninggal karena tertimpa reruntuhan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah).

 

  1. Meninggal di jalan Allah, yaitu sedang atau akan beribadah haji.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu menyampaikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :

مَا تَعُدُّوْنَ الشَّهِيْدَ فِيْكُمْ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ. قَالَ: إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيْلٌ. قَالُوْا: فَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فيِ الطَّاعُوْنَ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَالْغَرِيْقُ شَهِيْدٌ

“Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?”

Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.”

Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit. “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat.

Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha’un2 maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim)

 

  1. Meninggal ketika sedang beramal shalih.

Hudzaifah radhiyallahu anhu menyampaikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:

مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga.” (HR. Ahmad, sanadnya shahih).

Semoga Allah menerima amalan para korban jatuhnya crane di Masjidil Haram dan menjadikan mereka sebagai para syuhada.

Innalillah wa inna ilaihi raaji’uun Taqabbalahumullah minas syuhada..

sumber : koment fb https://www.facebook.com/abulfidaa.fahd.1?fref=ufi

Raehanul Bahraen

# Maksud Dari Hadits: Mati Syahid Tertimpa Reruntuhan

Terdapat hadits mengenai keutamaan berupa syahid bagi mereka yang meninggal karena tertimpa reruntuhan. Apakah maksud hadits ini? Apakah mati syahid seperti mereka yang terbunuh di peperangan berjihad membela agama Allah?

Jawabannya:
mendapatkan PAHALA mati syahid. Bukan “status” mati syahid sebagaimana mereka yang terbunuh ketika berjihad beperang di jalan Allah. Sehingga mereka yang mendapatkan pahala syahid mayat mereka tetap dimandikan, dishalatkan dan dikafani sebagaimana biasanya.

Sedangkan orang yang mati syahid berjihad di peperangan maka tidak perlu dimandikan, dishalatkan dan dikafani tetapi langsung dikuburkan dengan pakaian yang ia pakai saat itu. Kita harapkan dengan “pahala” mati syahid tersebut mereka bisa mendapatkan keutamaan sebagaimana mati syahid berjihad di peperangan.

Hadits mengenai mati syahid tertimpa reruntuhan, Rasulullahshallallahu ‘alahi wa sallambersabda,

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un, orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa RERUNTUHAN, dan orang yang gugur di jalan Allah.” [1]

Syaikh prof. Abdullah bin Jibrinrahimahullah menjelaskan,

والمراد له أجر شهيد، لكنه لا يعامل معاملة الشهيد في الدنيا، فإنه يغسل ويكفن ويصلى عليه بخلاف شهيد المعركة، فإنه يدفن بثيابه ولا يغسل ولا يصلى عليه، على المشهور عند العلماء، والله أعلم.

“Yang dimaksud di sini adalah baginya PAHALA mati syahid. Akan tetapi mayatnya tidak diurus sebagaimana orang mati syahid (orang yang mati syahid tidak perlu dimandikan dan dikafani, pent). Maka jasadnya tetap dimandikan, dikafani dan dishalatkan berbeda dengan syahid di medan peperangan maka ia dikubur dengan pakaian syahidnya di dunia, tidak dimandikan, tidak dishalatkan sebagaimana pendapat yang masyhur di kalangan ulama.Wallahu a’lam[2]

Semoga ini bisa menjadi keutamaan besar bagi jamaah haji yang tertimpa reruntuhan Crane saat pelaksaan haji Jumat 11 september 2015 dan menjadi hiburan bagi keluarga
keutaaman yang lain:
1. Meninggal di hari jumat, insyaAllah dilindungi dari fitnah kubur
2. Meninggal dalam keadaan ibadah haji agung
3. Meninggal dalam keadaan beramal shalih
4. Haji dan umrah adalah jihad bagi wanita, anak kecil dan orang tua, mereka meninggal dalam keadaan itu
5. Mereka dishalatkan dan didoakan oleh para jamaah haji yang banyak jumlahnya dan mustajab doanya insyaAllah serta doa kaum muslimin
6. Meninggal di daerah yang suci dam diberkahi

Demikian semoga bermanfaat

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

[1] HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah

[2] http://www.ibn-jebreen.com/books/6-50-2406-2240-.html

http://muslimafiyah.com/maksud-dari-hadits-mati-syahid-tert…

aslibumiayu.wordpress.com

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.949 kali, 1 untuk hari ini)