Lafal fitnah dalam Bahasa Indonesia maknanya dijelaskan dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) sebagai berikut:

fit·nah n perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yg disebarkan dng maksud menjelekkan orang (spt menodai nama baik, merugikan kehormatan orang): — adalah perbuatan yg tidak terpuji;

mem·fit·nah v menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dsb)

 

Lafal fitnah dalam bahasa Indonesia yang maknanya dalam kamus seperti itu, bila dicocokkan dengan Islam maka berdekatan dengan ayat ini (karena ayat yang lafalnya fitnah, bukan berarti fitnah dalam bahasa Indonesia).

{وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا } [الأحزاب: 58]

58. dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata. (QS Al-Ahzab/33: 58).

Oleh karena itu keliru besar ketika sering kita dengar orang menghubungkan lafal fitnah bahasa Indonesia dengan ayat ini:

{وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ} [البقرة: 191]

Dan ayat ini:

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة: 216]

Karena lafal fitnah dalam dua ayat itu artinya adalah kemusyrikan atau pemusyrikan, yakni mengembalikan keimanan kepada kemusyrikan, seperti yang diupayakan di perguruan-perguruan tinggi Islam (IAIN, UIN, STAIN, STAIS) dan sebagainya, membredel keimanan Tauhid dijerumuskan ke kemusyrikan baru dengan nama inklusivisme, pluralisme agama, multikulturalisme dan sebagainya dari faham liberal yang menganggap semua agama sama saja menuju kepada keselamatan, hanya beda teknis. (Lihat buku Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN).

 

 Pemusyrikan baru (yang di antara landasannya adalah penyelewengan aqidah oleh Harun Nasuition Guru Besar IAIN Jakarta) yang dilancarkan di dalam pendidikan Islam di Indonesia dengan nama inklusivisme, pluralism agama, dan multikulturalisme itu menurut Al-Qur’an adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga. Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan kemusyrikan baru yakni inklusivisme ataupun pluralism agama, ataupun multikulturalisme, maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan; maka masuk neraka. Hingga ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ  [البقرة/191]

dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)

وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).

Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:

عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)

Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).

Itulah betapa dahsyatnya pemusyrikan yang kini justru digalakkan secara intensip dan sistematis di perguruan tinggi Islam se-Indonesia, bahkan sudah dilancarkan pula ke sekolah-sekolah.

Untuk lebih lengkapnya mengenai makna lafal fitnah dalam Islam, mari kita simak berikut ini.

 

Dalam istilah agama (Islam) fitnah itu artinya:

  • Syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu dalam ibadah).
  • Ujian dan Cobaan.
  • Adzab (siksaan).
  • Dosa.
  • Pembakaran dengan Api.
  • Pembunuhan.
  • Berpaling dari Jalan yang Lurus.

Mari kita simak uraian tentang makna fitnah dalam satu situs berikut ini.

***

 

Berkenalan Dengan Fitnah

Kata fitnah (الفِتْنَةُ) sering terlintas di telinga kita dan terucap di lisan, namun masih banyak orang yang belum memahaminya dengan baik. Sebab ketika mendengar kata fitnah, maka dalam benak kita langsung mengarah kepada makna yang sempit yaitu “tuduhan yang tidak dilandasi bukti yang benar kepada seseorang atau kelompok tertentu dengan maksud menjelekkan orang (seperti, menodai nama baik, dan merugikan kehormatan orang)”.

Padahal sebenarnya kata fitnah memiliki cakupan makna yang cukup luas daripada itu.

Fitnah berasal dari bahasa arab. Para ahli bahasa Arab menjelaskan bahwa dalam kata fitnah terkandung makna ujian (الامْتِحَانُ) dan upaya untuk menyingkap sesuatu (الاِخْتِبَارُ). Oleh karenanya, kata fitnah pada asalnya digunakan untuk pengujian kadar keaslian emas atau untuk membedakan antara emas yang asli atau bukan, dengan cara dimasukkan ke dalam api yang panas. (Lihat Lisanul ‘Arab (13/317))

Di edisi kali ini, kami akan menjelaskan beberapa makna fitnah yang tertera di dalam Kitabullah agar kita tak salah kaprah tentang makna fitnah.

    Fitnah Bermakna Syirik (menyekutukan Allah dengan sesuatu dalam ibadah).

Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ  [البقرة/193]

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah (Syirik) lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al-Baqarah: 193)

Al-Imam Ibnu Jarir -rahimahullah- berkata, “Allah maksudkan, sampai tak ada kesyirikan (penyekutuan) terhadap Allah dan sehingga tak ada seorang pun yang disembah selain-Nya, penyembahan arca-arca, sesembahan dan tandingan sirna semuanya, serta ibadah dan ketaatan hanya untuk Allah saja, tanpa selain-Nya dari kalangan berhala dan arca”. [Lihat Jami’ Al-Bayan (3/570)]

Al-Imam Abu Muhammad Isma’il bin Abdir Rahman bin Abi Karimah Al-Kufiy -rahimahullah- berkata, “Adapun fitnah (الفِتْنَةُ), maka ia adalah kesyirikan”. [Lihat Tafsir Ath-Thobariy (no. 3117)]

Disana ada sebuah ayat yang sering disalahpahami oleh sebagian orang saat memaknai kata fitnah (الفتنة), yaitu ayat berikut,

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]

“Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah (kesyirikan) itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan “. (QS. Al-Baqoroh : 191)

Ayat ini sering disalahgunakan oleh kaum awam saat mereka mendengar ada seseorang yang menuduh orang lain, maka ia pun berkata dengan lugunya, “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Padahal para ulama telah menjelaskan bahwa dosa pembunuhan adalah dosa terbesar setelah kesyirikan”. [Lihat Al-Kaba’ir (hal. 12) karya Adz-Dzahabiy, Dar An-Nadwah Al-Jadidah]

Al-Imam Abul Khoththob Qotadah bin Di’amah As-Sadusiy -rahimahullah- berkata saat memaknai kata fitnah dari ayat di atas, “Kesyirikan lebih bahaya dari pembunuhan”. [Lihat Jami’ Al-Bayan fi Ta’wil Aayil Qur’an (no. 3098)]

Abul Faroj Abdur Rohman Ibnul Jawziy Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata, “Kata “fitnah” disini bermakna kesyirikan. Penafsiran ini dinyatakan oleh Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Mujahid, Ibnu Jubair dan Qotadah serta sekelompok ulama”. [Lihat Zaadul Masiir (1/210)]

Fitnah Bermakna Ujian dan Cobaan.

Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ  [الأنفال/28]

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai fitnah (cobaan) dan bahwa di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (Q.S. Al-Anfal: 28)

Al-Imam Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithiy -rahimahullah- berkata, “Allah -Ta’la- memerintahkan manusia dalam ayat yang mulia ini agar mereka mengetahui bahwa harta dan anak adalah fitnah (ujian) yang dengannya mereka diuji”. [Lihat Adhwaa’ Al-Bayaan (2/51)]

Fitnah Bermakna Adzab (siksaan).

Allah -Ta’ala- berfirman,

إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِلظَّالِمِينَ  [الصافات/63]

“Sesungguhnya Kami menjadikan pohon Zaqqum itu sebagai fitnah (siksaan) bagi orang-orang yang zalim.” (Q.S. Ash-Shaaffat: 63)

Al-Imam Abu Muhammad Ibnu Qutaibah Ad-Dainuriy -rahimahullah- menjelaskan bahwa fitnah disini bermakna “siksaan”. [Lihat Ghoribul Qur’an (hal. 372) oleh Ad-Dainuriy, cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, 1398 H]

Dari sinilah muncul istilah fitnah kubur, artinya siksa kubur atau ujian dan pertanyaan dua malaikat, Munkar dan Nakir di alam kubur.

Fitnah Bermakna Dosa.

Allah -Ta’ala- berfirman,

{وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلَا تَفْتِنِّي أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ} [التوبة: 49]

 “Di antara mereka ada orang yang berkata, “Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah (dosa)”. Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah (dosa). Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (Q.S. At-Taubah: 49).

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thobariy -rahimahullah- membawakan sebuah atsar dari Qotadah Al-Bashriy bahwa makna fitnah di dalam ayat ini adalah dosa (اْلإِثْمُ). [Lihat Jami’ Al-Bayan (no. 16791), dengan tahqiq Ahmad Syakir]

Fitnah Bermakna Pembakaran dengan Api.

Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ  [البروج/10]

“Sesungguhnya orang-orang yang mem-fitnah (membakar) orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.”  (Q.S. Al-Buruj: 10)

Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata, “Maksudnya, mereka membakar orang-orang beriman dengan api. Orang Arab bilang, “Si fulan mem-fitnah uang dirham dan dinar, bila ia memasukkannya ke dalam tungku api agar ia bisa melihat kualitasnya”. [Lihat Al-Jami li Ahkam Al-Qur’an (19/295)]

Fitnah Bermakna Pembunuhan

Allah -Subhana Wa Ta’ala- berfirman,

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا [النساء/101]

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah mengapa kamu men-qashar  sholat(mu), jika kamu takut di-fitnah (dibunuh) oleh orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Q.S. An-Nisaa: 101).

Al-Imam Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghowiy -rahimahullah- menerangkan bahwa maksud dari kata di-fitnah adalah “dibunuh”. [Lihat Ma’alim At-Tanzil (1/685/695), cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Arobiy, 1420 H]

Fitnah Bermakna Berpaling dari Jalan yang Lurus.

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ  [المائدة/49]

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak mem-fitnah (memalingkan) kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al-Maidah: 49).

Mem-fitnah disini bermakna “memalingkan” sebagaimana yang dituturkan Ahli Tafsir Negeri Syam, Al-Imam Ibnul Jauziy -rahimahullah- dalam Zaadul Masiir (2/221)

Inilah beberapa buah dalil yang menunjukkan bahwa kata fitnah (الْفِتْنَةُ) memiliki makna yang lebih luas. Telah menjadi ketetapan Allah yang tidak akan pernah berubah bahwa dalam kehidupan manusia sangat mustahil tanpa adanya fitnah. Cobaan dan ujian senantiasa mengitari kehidupan kita untuk mengetahui siapa yang jujur keimanannya dan yang hanya sekedar pengakuan belaka. Dengan adanya fitnah akan terlihat keteguhan hati dan kesabaran yang murni di atas ketaatan kepada Allah -Subhana Wa Ta’ala- sehingga pada akhirnya mereka akan keluar  dalam keadaan murni dan bersih sebagaimana murninya emas setelah dibakar ke dalam api. Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ  [البقرة/214]

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Q.S. Al-Baqarah: 214)

[source: http://pesantren-alihsan.org/berkenalan-dengan-fitnah.html]

September 14th 2012 by Abu Muawiah

http://al-atsariyyah.com/berkenalan-dengan-fitnah.html

***

(nahimunkar.com)

(Dibaca 17.068 kali, 3 untuk hari ini)