Beda Buya Hamka dan KH Ma’ruf Amin

Ilustrasi/ foto nahdlatululama.id/

Soal Fatwa Natal, Buya Hamka Istiqomah, Sedangkan Ma’ruf Amin Sikapnya Mencla Mencle

Mengenai Fatwa Natal yang dikeluarkan oleh MUI, ada dua ketua umum MUI yang pertama Buya Hamka tetap Istiqomah hingga wafatnya, tidak membolehkan Umat Islam ikut/ hadiri natal Bersama. Sedangkan Ketua Umum MUI yang sekarang Ma’ruf Amin Sikapnya Mencla Mencle. Sebelum Ma’ruf Amin mencalonkan diri sebagai cawapres 2019, MUI yang dia pimpin mengeluarkan fatwa yang di antaranya berisi haramnya mengucapkan selamat natal.

Haramnya mengucapkan selamat natal itu tercantum dalam fatwa tentang larangan memakai atribut natal bagi umat Islam (FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 56  Tahun 2016 Tentang HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM).

Namun aneh bin ajaib, haramnya mengucapkan selamat natal itu kemudian tampak diingkari Ma’ruf Amin, dengan bukti beredarnya video Ma’ruf Amin mengucapkan selamat natal, ketika dia berstatus sebagai calon wakil presiden pasangan Jokowi untuk pemilihan presiden 2019. (Dikhawatirkan, pengingkaran itu akan mencakup dua-duanya, yaitu fatwa berisi haramnya mengucapkan selamat natal telah dia ingkarai/ langgar, dan dikhawatirkan fatwa haramnya umat Islam ikut/ hadiri natal Bersama -yang dikeluarkan MUI zaman Buya Hamka 1981– jangan-jangan akan dilanggar pula oleh Ma’ruf Amin dengan menghadiri upacara natal karena sudah merasa resmi sebagai wakil presiden 2019, Semoga saja tidak).

Itulah letak mencla menclenya Ma’ruf Amin, tadinya mengharamkan ucapkan selamat natal (baik sebagai ketua umum MUI maupun Rais ‘Aam PBNU), ternyata dia sendiri malah mencontohi mengucapkan selamat natal.

Mencla-menclenya itu akan lebih kental lagi warnanya, karena dia setelah terpilih sebagai wakil presiden pun tidak melepas jabatannya sebagai ketua umum MUI. Jadi kalau mengucapkan selamat natal, atau bahkan bila hadir di perayaan natatalan (semoga jangan sampai hadir), maka artinya, Ma’ruf Amin bukan sekadar berstatus wakil presiden, namun juga merupakan ketua umum MUI yang fatwanya untuk Umat Islam se-Indonesia.

***

KH Ma’ruf Amin dan Oknum MUI Ketularan Bohong? Ingkari Fatwa MUI Sendiri Soal Haramnya Mengucapkan Selamat Natal


KH Ma’ruf Amin dan Oknum MUI telah mengingkari Fatwa MUI yang mereka keluarkan sendiri, yang dalam fatwa itu telah tegas mencantumkan haramnya Mengucapkan Selamat Natal. Diantaranya dicantumkan:

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan…”. Bahkan pelakunya dikenai hukuman ta’zir.

Mengenai haramnya ucapan selamat natal, dalam fatwa MUI itu, judul fatwanya adalah

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 56  Tahun 2016
Tentang
HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM.

Fatwa itu Ditetapkan di :   Jakarta, 14 Rabi’ul Awwal 1437 H/ 14 Desember  2016 M

Di dalam Fatwa itu dicantumkan di antaranya:

Dalam poin

MEMPERHATIKAN :

1. Pendapat Imam Khatib al-Syarbini dalam kitab “Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj”, Jilid 5 halaman 526, sebagai berikut:

 

ﻭَﻳُﻌَﺰَّﺭُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻴَّﺔَ ﻭَﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺬِﻣِّﻲٍّ ﻳَﺎ ﺣَﺎﺝُّ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻫَﻨَّﺄَﻩُ ﺑِﻌِﻴﺪِﻩِ….


“Dihukum ta’zir terhadap orang-orang yang menyamai dengan kaum kafir dalam hari-hari raya mereka, dan orang-orang yang mengurung ular dan masuk ke dalam api, dan orang yang berkata kepada seorang kafir dzimmi ‘Ya Hajj’, dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi) di hari raya (orang kafir)…”.

(Kemudian poin MEMPERHATIKAN pada butir ke-6):

6. Pendapat Imam Ibnu Qoyyim al Jauzi dalam kitab Ahkam Ahl al-Dzimmah, Jilid 1 hal. 441-442:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه


“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari raya ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat pada hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, jika orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”

Berita dan sorotannya sebagai berikut:

***

MUI dan Haramnya Ucapan Selamat Natal

Posted on 27 Desember 2017

by Nahimunkar.com

 


 

 

(MUI lempar batu sembunyi tangan?)

Ramai di media, soal ucapan selamat natal.

Sejatinya, MUI telah mengeluarkan

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 56  Tahun 2016
Tentang
HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM.

Fatwa itu Ditetapkan di :   Jakarta

Pada tanggal :

14 Rabi’ul Awwal 1437 H
14 Desember  2016 M

MAJELIS ULAMA INDONESIA
KOMISI FATWA

Ketua

PROF. DR. H. HASANUDDIN AF, MA 

Sekretaris

Intinya:

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT

MEMUTUSKAN

MENETAPKAN : FATWA TENTANG HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM

Pertama  :  Ketentuan Umum

Dalam Fatwa ini yang dimaksud dengan :

Atribut keagamaan adalah sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau  umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan, ritual ibadah, maupun tradisi dari agama tertentu.

Kedua  : Ketentuan Hukum 

  1. Menggunakan atribut keagamaan non-muslim adalah haram.
  2. Mengajak dan/atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-muslim adalah haram.

Mengenai ucapan selamat natal, dalam fatwa MUI itu dicantumkan di antaranya:

Dalam poin

MEMPERHATIKAN : 

1. Pendapat Imam Khatib al-Syarbini dalam  kitab “Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifati Alfazh al-Minhaj, Jilid 5 halaman 526, sebagai berikut:

ﻭَﻳُﻌَﺰَّﺭُ ﻣَﻦْ ﻭَﺍﻓَﻖَ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻓِﻲ ﺃَﻋْﻴَﺎﺩِﻫِﻢْ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻤْﺴِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻴَّﺔَ ﻭَﻳَﺪْﺧُﻞُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﺬِﻣِّﻲٍّ ﻳَﺎ ﺣَﺎﺝُّ ، ﻭَﻣَﻦْ ﻫَﻨَّﺄَﻩُ ﺑِﻌِﻴﺪِﻩِ….

“Dihukum  ta’zir terhadap orang-orang yang menyamai dengan kaum kafir dalam hari-hari raya mereka, dan orang-orang yang mengurung ular dan masuk ke dalam api, dan orang yang berkata kepada seorang kafir dzimmi  ‘Ya Hajj’, dan orang yang mengucapkan selamat kepadanya (kafir dzimmi) di hari raya (orang kafir)…”.

(Kemudian poin MMEMPERHATIKAN pada butir ke-6):

6. Pendapat Imam Ibnu Qoyyim al Jauzi dalam kitab Ahkam Ahl al-Dzimmah, Jilid 1 hal. 441-442:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari raya ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat pada hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, jika orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”

***

Walaupun fatwa MUI itu mengenai HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM, namun jelas-jelas mencantumkan dua poin fatwa ulama yang tegas-tegas mengharamkan ucapan selamat untuk perayaan agama selain Islam.

Oleh karena itu kalau MUI menyatakan belum pernah mengeluarkan fatwa haramnya ucapan selamat natal (namun kenyataannya mencantumkan/ mengutip fatwa yang sangat tegas:

Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir adalah haram berdasarkan kesepakatan. Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari raya ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan “selamat pada hari raya ini” dan yang semacamnya. Maka ini, jika orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, maka ini termasuk perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka setara dengan ucapan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.” ), maka MUI ibarat lempar batu sembunyi tangan.

Ada apa?

Semoga jadi pelajaran berharga bagi Umat Islam.

(nahimunkar.org).

***

Disamping itu, KH Ma’ruf Amin selaku Rais Aam PBNU telah menyatakan haramnya mengucapkan selamat natal.

Inilah beritanya.

***

Rais Am PBNU KH Maruf Amin Haramkan Ucapkan Selamat Natal

Posted on 23 Desember 2017

by Nahimunkar.com

 


KH Ma’ruf Amin/ foto ckrwrta

by Nahimunkar.com16
Desember 2015

Rais Am Pengurus Besar NU (PBNU) KH Makruf Amin menegaskan keharaman mengucapkan dan ikut perayaan Natal.

Menurut Kiai Maruf Umat Islam haram mengikuti perayaan Natalan bersama, Karena mengandung unsur ibadah, Sehingga akan merusak aqidah dan keimanan umat Islam.

“Bahkan ucapan Selamat Hari Natal, jangan sampai diucapkan oleh umat Islam,” ungkap Kiai Maruf.

Selain itu, Kiai Maruf mengungkapkan, adapun yang diperbolehkan adalah ucapan Selamat Tahun Baru dan itu saja masih diperselisihkan (boleh dan tidaknya).

By: suaranasional.com/16/12/2015

(nahimunkar.org)

***

Aneh bin ajaib. Kini tersebar berita Ma’ruf Amin dan orang penting di MUI mengingkari fatwa MUI tersebut, dan berdalih bahwa MUI belum mengeluarkan fatwa tentang mengucapkan selamat natal. [Kilah itu menyembunyikan makna. Karena judul fatwa MUI memang tentang HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM, namun dalam poin-poin fatwa itu ada penegasan tentang haramnya mengucapkan selamat natal secara kesepakatan (ulama)].

Kilah, ingkar, plus ketularan bohong (?) itu demi membela perbuatannya yang bernilai rusak pikirannya sekaligus mempermainkan agama, yaitu ketika Ma’ruf Amin (selaku dari kaum Kristiani? ) beredar videonya dengan perkataan, “kepada saudara-saudara, kami dari kaum Kristiani, kami sampaikan selamat Hari Natal dan Tahun Baru, semoga berbahagia,” ucap Ma’ruf Amin.

Video:

https://youtu.be/JFD2dnxhTZo

 

Keruan saja kemudian Ma’ruf Amin dinilai sebagai rusak pikirannya dan sekaligus mempermainkan agama. Inilah beritanya.

***

Omongan Ma’ruf Amin Soal Ucapkan Selamat Natal, Rusak Cara Berfikirnya Sekaligus Mempermainkan Agama


Ma’ruf Amin berkilah, yang diharamkan MUI itu ikut/ menghadiri perayaan natal. Kalau soal mengucapkan selamat natal, tidak.

Ma’ruf Amin saat menjadi bintang tamu dalam acara talkshow Rosi bertajuk ‘Jalan Politik Ma’ruf Amin’ mengatakan:

“Tidak ada fatwa MUI yang menyatakan (mengucapkan selamat natal) itu (haram). Yang MUI itu tidak boleh mengikuti upacara peribabadatannya,” ucap Ma’ruf Amin saat menjawab pertanyaan dari pemandu acara, Rosiana Silalahi, diberitakan pojoksatu.id, Rabu, 26 Desember 2018 | 13:11 WIB.

Heboh! Ucapan Natal Ma’ruf Amin: Kami dari Kaum Kristiani, Selamat Natal dan Tahun Baru

 

Lewat sebuah video singkat, Ma’ruf Amin menyampaikan selamat Natal dan Tahun Baru 2019. Namun, kalimat Ma’ruf Amin dipertanyakan warganet lantaran seolah-seolah memposisikan diri sebagai umat Kristiani.

“Saudara-saudara, kami dari kaum Kristiani, kami sampaikan selamat Hari Natal dan Tahun Baru, semoga berbahagia,” ucap Ma’ruf Amin.

Video tersebut diunggah di akun Instagram Mohamad Guntur Romli, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga pendukung setia pasangan capres dan cawapres nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Ucapan Selamat Natal dari Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin,” tulis Guntur Romli di keterangan video.

Gara-gara video tersebut, Ma’ruf Amin dikecam banyak orang. Pasalnya, selain terkesan memposisikan diri sebagai umat Kristiani, dia juga membolehkan umat Islam mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani. (pojoksatu.id, Rabu, 26 Desember 2018 | 13:11 WIB).

Faham Ma’ruf Amin Sangat Parah

Mengenai heboh Ma’ruf Amin ucapkan selamat natal itu ramai dibicarakan di medsos. Lalu ada yang tanya di medsos, mana yang lebih besar madharatnya, menghadiri/ mengikuti upacara natalan ataukan mengucapkan selamat natal.

Ada yang menjawab,

Menghadiri ataupun mengucapkan selamat natal dua2nya madharat. Yang lebih berat adalah yang mengakui bahwa ikut/ hadiri natalan itu haram, tapi ucapkan selamat natal itu tidak haram. Itu yang paling parah secara agama maupun akal. Karena menghalalkan ngucapin selamat kepada acara perayaan natal yang diyakini haram untuk dihadiri, itu jelas rusak cara berfikirnya, sekaligus mempermainkan agama.

Foto ytb

***

 

Buya Hamka Tegas Pertahankan Fatwa Haramnya Ikut Natalan, MUI Sumbar Tegas Menolak Islam Nusantara


Posted on 31 Juli 2018

by Nahimunkar.com


Suduik Minang

Pado pai suruik nan labiah, samuik tapijak indak mati, alu tataruang patah tigo

Terus istiqomah Para Buya Diranah Minang
Untuk Mendakwahkan Kebenaran
.
#KAMIBASAMOBUYA

via fb Suduik Minang

***

Buya Hamka pilih mundur dari jabatan ketua umum MUI daripada mengikuti penguasa yang mendesak agar mencabut fatwa haramnya ikut natalan.

Kasus Buya Hamka, menolak untuk mencabt fatwa MUI mengenai haramnya umat Islam ikut perayaan natalan bersama.

Buya Hamka pilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum MUI ketimbang mencabut “Fatwa haramnya mengucapkan selamat Natal dan ikut merayakannya”.

Sayalah yang bertanggungjawab atas beredarnya fatwa tersebut …. Jadi sayalah yang mesti berhenti,” kata Hamka pada Harian Pelita. (voa-islam.com)

Saat berkhutbah di Masjid Al-Azhar, Buya Hamka mengingatkan kaum Muslimin, bahwa kafir hukumnya jika mereka mengikuti perayaan natal bersama.

“Natal adalah kepercayaan orang Kristen yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah akidah mereka. Kalau ada orang Islam yang turut menghadirinya, berarti dia melakukan perbuatan yang tergolong musyrik,” terang Hamka. “Ingat dan katakan pada kawan yang tak hadir di sini, itulah akidah kita!” tegasnya di hadapan massa kaum Muslimin.

Keteguhannya dalam memegang fatwa haramnya natal bersama inilah yang kemudian membuatnya mengundurkan diri dari Ketua Majelis Ulama Indonesia. Tak berapa lama setelah fatwa itu dikeluarkan (dikeluarkan pada 1 Jumaidil Awal 1401 atau 7 Maret 1981*), kemudian pada 24 Juli 1981, Buya Hamka wafat menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allahyarham Mohammad Natsir, teman karib seperjuangan yang menyaksikan detik-detik wafatnya Buya Hamka kemudian memanjatkan doa tulus bagi seorang pejuang dan pengawal akidah umat.

Semoga ALLAH TA’ALA mengampuni semua dosa dan kesalahan beliau, serta memasukkan beliau ke tempat yang terpuji di sisi-NYA. Aamiin.
——————–
Oleh: Alan Ruslan Huban, Bidang Komunikasi Sosmed Lazis Dewan Da’wah, Wapemred Majalah Syi’ar Islam

* Alasan menfatwakan Haram Natal bersama mempunyai argumentasi yang kuat, Buya Hamka bersama ketua Al Fadhil H. Syukri Ghazali bahwa fatwa itu masih lunak. Karena kalau diperhatikan isi ayat Al-Maidah 51 itu, bukan lagi Haram, bahkan KAFIR. Mengkompromikan antara Tauhid dengan Syirik. Bagi penulis tak ada kompromi antara Islam dengan Kufar. / Azmi Muhammad, kompasiana, Published: 23.12.12 03:47:49, Updated: 24.06.15 19:10:30

https://www.nahimunkar.org/fatwa-tegas-dari-ulama-buya-hamka/

***

MUI Provinsi Sumatera Barat telah mengeluarkan keputusan resmi menolak “Islam Nusantara”.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin menegaskan pihaknya bakal meluruskan perbedaan pandangan terkait penolakan konsep “Islam Nusantara” di ranah Minang oleh MUI Sumatera Barat.

“Itu nanti kita luruskan nanti, MUI tak boleh mencela salah satu aliran. Itu bagian dari Indonesia,” kata KH Maruf saat ditemui di kawasan Bambu Apus, Jakarta Timur, Kamis (26/7).

Menanggapi wacana tersebut, MUI Sumbar menyatakan tak akan goyah dengan keputusan awalnya. Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, kemudian menuangkan pemikirannya melalui akun media sosialnya. Artikel ini ia terbitkan pada Kamis (26/7) dengan judul ‘Amanah Kami Tunaikan’.

Melalui tulisan tersebut, Buya Gusrizal menilai bahwa sikap pembiaran terhadap umat yang kebingungan dengan pernyataan orang-orang yang mengusung konsep ‘Islam Nusantara’ justru mengabaikan tugas keulamaan dalam menjaga kesatuan umat. Apalagi, bersamaan dengan diusungnya konsep ini muncul kesan tudingan ‘Islam Arab’ sebagai Islam Radikal, Islam penjajah, dan lainnya.

MUI Sumbar: Ketika kaum sekuler, liberal dan pluralis menjadikan Islam Nusantara sebagai payung tumpangan mereka, itu bukan lagi perkara furu’ yang bisa didiamkan begitu saja.
“Sekali kata dikatakan, seribu fikiran menjadi timbangan, pantang bertarik surut ke belakang, kecuali Al-Qur’an dan Sunnah yang menentang”.

Itulah ketegasan Ketua MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar.

https://www.nahimunkar.org/buya-hamka-tegas-pertahankan-fatwa-haramnya-ikut-natalan-mui-sumbar-tegas-menolak-islam-nusantara/

(nahimunkar.org)

 


 

 

 

 

(Dibaca 557 kali, 1 untuk hari ini)