Beda Jauh Akibatnya, antara yang Berilmu Islam dan yang Tidak

  • Sesungguhnya Dunia Diberikan untuk Empat Orang


Dalam hadits, orang yang bahagia adalah yang memiliki ilmu (agama dari Allah Ta’ala), dan yang paling celaka adalah yang tidak memiliki ilmu (agama dari Allah Ta’ala).

Imam Ahmad dan at-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Shahabat Abu Kabasyah al-Anmari (wafat th. 13 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقَّهُ “، قَالَ: «فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ» قَالَ: «وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا؟» قَالَ: ” فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ كَانَ لِي مَالٌ عَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ ” قَالَ: «فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ» ، قَالَ: «وَعَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ، لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقَّهُ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ» قَالَ: ” وَعَبْدٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا، وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ كَانَ لِي مَالٌ لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ، قَالَ: هِيَ نِيَّتُهُ، فَوِزْرُهُمَا فِيهِ سَوَاءٌ “

 

“…Sesungguhnya dunia diberikan untuk empat orang:

(1) seorang hamba yang Allah berikan ilmu dan harta, kemudian dia bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, dengannya ia menyambung silaturahim, dan mengetahui hak Allah di dalamnya. Orang tersebut kedudukannya paling baik (di sisi Allah).

(2) Seorang hamba yang Allah berikan ilmu namun tidak diberikan harta, dengan niatnya yang jujur ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama.

(3) Seorang hamba yang Allah berikan harta namun tidak diberikan ilmu. Lalu ia tidak dapat mengatur hartanya, tidak bertaqwa kepada Allah dalam hartanya, tidak menyambung silaturahim dengannya, dan tidak mengetahui hak Allah di dalamnya. Kedudukan orang tersebut adalah yang paling jelek (di sisi Allah).

Dan (4) seorang hamba yang tidak Allah berikan harta tidak juga ilmu, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan.’ Ia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.”

[Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/230-231), at-Tirmidzi (no. 2325), Ibnu Majah (no. 4228), al-Baihaqi (IV/ 189), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (XIV/289), dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (XXII/345-346, no. 868-870), dari Shahabat Abu Kabsyah al-Anmari radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Shahiih Sunan at-Tirmidzi (II/270, no. 1894)]/ lihat buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu“, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor .

  1. Orang yang memiliki ilmu (agama Islam) ketika berharta dan bertaqwa, maka mampu mengetahui dan melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak manusia, maka dibalas oleh Allah Ta’ala dengan kedudukan paling baik di sisi-Nya.
  2. Orang memiliki ilmu (agama Islam) tapi tidak punya harta, namun tetap bertaqwa dan mengetahui serta melaksanakan hak-hak Allah dan hak-hak manusia semampunya, dan berniat bila punya harta maka akan berbuat seperti orang yang berilmu (agama Allah) dan berharta serta bertaqwa tersebut; maka pahalanya dan kedudukannya sama dengan orang yang berilmu (agama Islam) dan berharta lagi bertaqwa dengan menjalankan hak-hak Allah dan hak-hak manusia tersebut.
  3. Sebaliknya, orang yang tidak berilmu (agama Islam) tapi berharta, maka tidak mengetahui cara mengatur hartanya (secara agama Islam), tidak bertaqwa, tidak tahu hak-hak Allah dan hak-hak manusia, serta (otomatis) tidak menjalankan apa yang menjadi hak-hak itu, maka kedudukannya paling jelek (di sisi Allah).
  4. Demikian pula orang tidak berilmu (agama Islam) juga tidak berharta, ia berkata, ‘Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan’ (yang punya harta tapi tak berilmu agama Islam, tidak bertaqwa tersebut). Ia berniat seperti itu dan keduanya sama dalam mendapatkan dosa.

Betapa beruntungnya orang yang berilmu (agama Islam) dan menjalankan ilmunya itu dengan ikhlas untuk Allah Ta’ala, hingga kedudukannya mulia di sisi Allah Ta’ala.

Sebaliknya, betapa ruginya orang yang tidak berilmu (agama Islam) hingga jauh dari penghambaan kepada Allah secara benar, akibatnya sangat jelek kedudukannya di akherat kelak. Na’udzubillahi min dzalik (kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian).

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

Selengkapnya dapat disimak di sini: https://www.nahimunkar.org/jangan-dikira-tidak-tahu-islam-itu-bebas-dari-tuntutan/

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 381 kali, 1 untuk hari ini)