Beda Pilitisi_834653242837

Ilustrasi : politisi kini, tidur waktu sidang/ IPOSnews.com, M. Natsir politis Islam masa lalu/ hdytllh

  • Sekarang ini tidak seperti masa dulu, saat ada Masyumi. Tokoh-tokoh Masyumi itu berdebat dengan orang PNI, debat dengan PKI untuk menerapkan Syariat Islam
  • Politisi sekarang sangat jauh dari sosok politisi Islami. Gaya hidup dan cara berfikirnya tidak mencerminkan sebagai seorang Muslim. Mereka bergaulnya dari hotel mewah yang satu ke hotel mewah lainnya. Dari kafe satu ke kafe lainnya.

“Ada politisi partai Islam, mantan anggota himpunan mahasiswa Islam. Kunjungan ke Belanda dia judi kalah 2 miliar.”

Inilah beritanya

***

Ustad Mashadi: Tidak Ada Partai Islam, Tidak Ada Pemimpin Islam, yang Ada Islam-Islaman

Jakarta (SI ONLINE) – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat periode 1999-2004 dari Partai Keadilan (sekarang PKS) Ustad Mashadi mengkritisi perilaku politisi dan partai politik Islam saat ini. Menurutnya, kini tak ada lagi politisi Islam yang sejati, tidak ada pula parpol Islam yang sejati. Yang ada hanyalah “Islam-Islaman”.

“Tidak ada partai Islam, tidak ada pemimpin Islam. Yang ada hanya Islam-Islaman,” kata Ustad Mashadi dalam Majelis Taqarrub Ilallah dan Temu Pembaca Suara Islam, di Masjid Baiturahman, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (23/2/2013).

Melalui pernyataannya itu, Mashadi bukan berarti anti partai Islam. Tetapi untuk menunjukkan bahwa begitulah faktanya. Tidak ada lagi partai politik yang memperjuangkan syariat Islam di DPR.

“Sekarang ini tidak seperti masa dulu, saat ada Masyumi. Tokoh-tokoh Masyumi itu berdebat dengan orang PNI, debat dengan PKI untuk menerapkan Syariat Islam,” kata mantan Ketua Forum Umat Islam (FUI) itu lantang.

Politisi-politisi Islam dari Partai Masyumi, seperti Muhammad Natsir, M Roem, Burhanuddin Harahap, Syafruddin Prawiranegara, KH Isa Anshori, kata Mashadi, hidupnya juga sangat sederhana. “Tidak ada tokoh Masyumi yang menggunakan uang negara untuk kehidupan pribadi,” ungkapnya.

Sebaliknya, lanjut Mashadi, politisi sekarang sangat jauh dari sosok politisi Islami. Gaya hidup dan cara berfikirnya tidak mencerminkan sebagai seorang Muslim. Mereka bergaulnya dari hotel mewah yang satu ke hotel mewah lainnya. Dari kafe satu ke kafe lainnya.

“Ada politisi partai Islam, mantan anggota himpunan mahasiswa Islam. Kunjungan ke Belanda dia judi kalah 2 miliar,” ungkapnya.

Nah, kasus sekarang ini dimana sejumlah tokoh Islam, apalagi ada yang dari parpol Islam, ada yang menjadi tersangka kasus korupsi arus dijadikan pelajaran (ibrah) supaya tidak terulang lagi di masa mendatang.

“Ini karena secara terang-terangan kita berani durhaka kepada Allah Swt, menjauhkan diri dari Allah” tandasnya.

red: shodiq ramadha/ si online Shodiq Ramadhan | Minggu, 24 Februari 2013 | 06:18:37 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.851 kali, 2 untuk hari ini)