October 5, 2015

MAMUJU (Manjanik.com) – Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.. Pada hari Sabtu (3/10/2015) telah terjadi pengepungan terhadap 1 (satu) kampung Muslim di Tobadak 8 (VIII), Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) oleh massa Kafir Kristen.

Kejadian tersebut pertama kali diketahui melalui akun Facebook (FB) Minato Rasenggan. “Umat Islam terkepung di desa Tobbada’ Mamuju Sulawesi Barat. Orang Kafir Kristen mengepung desa Tobbada’. Korban hari ini 1 Muslim dicincang jadi tiga. Bala bantuan Kristen dari Toraja telah berdatangan di Tobadda’,” tulis Minato seperti dilansir reportaseterkini pada Senin (5/10/2015).

Sedangkan kabar yang beredar di media sosial pada Senin (5/10/2015) siang menyebutkan bahwa aparat masih lamban dalam menangkap para pelaku pembunuhan. Aparat kepolisian menurut info tersebut justru memihak kepada para Kafir Kristen yang melakukan pengepungan kampung Tobadak 8.

“Assalamu’alaikum… Wahai ikhwan sekalian… BREAKING NEWS… Hari ini kami menerima info bahwa telah dan terjadi penyerangan dan pengepungan terhadap kaum Muslimin di kampung TOBADAK 8 MAMUJU SULBAR oleh sekolompok babi Nashrani gabungan dari Kristen Toraja dan Tobadak dan kemungkinan juga dari Nasrani Manado. Dan informasi terbaru bahwa kampung Tobadak sekarang dikepung oleh para babi Nashrani,” demikian info yang beredar.

“12 mobil ikhwan yang akan menuju Tobadak Mamuju Sulawesi Barat ditangkap Densus 88 di kota Pare-Pare Sulawesi Selatan. Sedangkan ratusan mobil orang Kristen lolos menuju Tobadak Mamuju Sulawesi Barat,” demikian kelanjutan info tersebut.

pembantaian2

Peristiwa mengenaskan dan memilukan tersebut langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial, baik FB maupun sejumlah grup Whatsapp (WA). (Baca: Kampung Muslim di Tobadak Mamuju Dikepung Kafir Kristen, 1 Muslim Jadi Korban Pembantaian)

Sejumlah foto tentang korban peristiwa yang merenggut satu nyawa tersebut cukup menarik perhatian Facebookers. Foto-foto ini salah satunya diupload oleh pengguna FB dengan nama akun Akbar Ruddin.

Dalam akun FBnya, Akbar Ruddin memperlihatkan lima foto korban yang diketahui bernama Salamuddin (45 tahun), yang merupakan warga Muslim Tobadak 8. Foto pertama memperlihatkan korban tergeletak di sebuah lahan. Foto kedua memunculkan bagian bawah korban. Terlihat, kaki korban nyaris putus.

Selanjutnya memperlihatkan foto bagian tengah hingga bagian atas korban yang bersimbah dengan darah. Foto keempat secara spesifik memperlihatkan kepala korban yang penuh dengan luka.

Lalu foto terakhir memperlihatkan korban sudah dipindahkan ke sebuah ruangan. Terlihat seorang warga Muslim memeluk korban dan menangis tersedu-sedu. [GA/dbs] http://manjanik.com

***  

Horor!!! 1 Warga Tewas dan 1 Kritis, Polisi Tepis Isu SARA di Insiden Tobadak Sulawesi Barat

Senin, 05 Oktober 2015 15:13 WITA

pembantaian1

Salamuddin, 54, korban tewas akibat pertikaian warga di Tobadak, Sulawesi Barat (Sulbar). | POJOKSULSEL – HERMAN MOCHTAR

POJOKSULSEL.com, MAMUJU – Sengketa dua kelompok warga terjadi di Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat (Sulbar), dua orang menjadi korban dalam kejadian ini.

Dari kejadian tersebut, polisi sudah mengamankan dua pelaku, masing-masing berinisial EK (18), warga Dusun Rawa Makmur, Desa Tobadak 8, dan AG (23) warga Dusun Sejati, Kecamatan Tobadak 8.

Kasat Reskrim Polres Mamuju AKP Aryo Dwi Wibowo mengungkapkan, peristiwa berdarah tersebut terjadi pada hari Sabtu (03/10/2015) lalu, sekitar pukul 16.30 Wita. Kejadian nahas terjadi di perbatasan Desa Tobadak 7 dan Tobadak 8 atau di Jalan Poros Saloadak-Sejati. Desa Tobadak 8 merupakan wilayah yang banyak didiami oleh masyarakat suku Timor Timur.

“Saat itu tiga warga Tobadak 8 masing-masing Salamuddin (54), anaknya bernama AG dan Latif melaju dari arah Desa Tobadak 1 menuju Tobadak 8. Tanpa disadari mereka dikejar oleh EK dan berhasil mencegat ketiganya di perbatasan itu. Tanpa banyak kata, EK langsung membantai Salamuddin dengan sebilah parang hingga tewas di tempat,” tuturnya, Senin (05/10/2015).

AG dan Latief memilih melarikan diri ke desanya karena takut dan tidak membawa senjata. Sesampainya di Desa Tobadak 8, keduanya langsung menyampaikan ke warga bahwa ada penganiayaan di perbatasan. Mendengar itu, warga langsung menuju lokasi.

pembantaian

Matius, 60, korban akibat penganiayaan warga di Tobadak, Sulawesi Barat (Sulbar). | POJOKSULSEL – HERMAN MOCHTAR

“Niat awalnya adalah mengambil mayat. Saat di TKP, tiba-tiba melintas Matius Padaunan (60). Warga tahu bahwa Matius pun suku Tator (Tna Toraja, red) sama dengan EK. Karena itu, AG langsung menganiaya Matius tepat di lokasi pembantaian ayah kandungnya. Korban sekarang sudah dirujuk ke Makassar,” katanya.

Aryo membantah penganiayaan itu bersumber dari masalah antar suku. Berdasarkan pemeriksaan, diduga kuat masalah lahan sawit di Tobadak 8.

“Kami masih mendalami kasus ini. Jadi tidak benar ada isu SARA, bukan sengketa antara warga Timtim dengan Tator. Ini murni masalah pribadi,” pungkas Aryo.

(herman mochtar/kin)/ http://sulsel.pojoksatu.id

***

Isu Satu Kampung Muslim Dibantai di Mamuju Tak Jelas, Ini Kronologisnya!

3 jam 29 menit lalu

KIBLAT.NET, Jakarta – Aktivis dan Pengacara Muslim kelahiran Sulawesi, H Ismar Syafrudin menegaskan umat Islam mesti waspada terkait provokasi yang kerap digencarkan pihak tertentu terkait isu SARA.

Hal itu diutarakannya terkait adanya isu satu kampung muslim dibantai di Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, belakangan ini. Isu tersebut menyebutkan bahwa ada perang antar Muslim dan Nasrani dari suku Tana Toraja dan menyebar luas di media sosial.

Menurut Ismar, kejadian itu hanyalah masalah pribadi terkait sengketa lahan dan tidak ada sangkut paut dengan agama.

“Kasus ini masalah tanah di Tobada. Seorang mantan kepala desa Muslim di Tobada meminta kepada seorang warga Toraja agar jangan menyerobot tanah,” ujarnya kepada Kiblat.net. Selasa, (06/10).

Begini kronologis kasus di Mamuju, seperti dilansir dari beritabulukumba.com:

Mantan Kepala Desa Sejati Tobadak 8, Kec. Tobadak, Kab. Mamuju Tengah tewas setelah dianiaya oleh 10 orang warga Tobadak 7, Sabtu (3/10/15). Kejadian ini bermula akibat adanya sengketa lahan antara warga Tobadak 8 (mayoritas suku Timor) dengan warga Tobadak 7 (mayoritas suku toraja) sehingga terjadi pertumpahan darah yang mengakibatkan korban meninggal Mantan Kepala Desa Sejati Tobadak 8, Sa (50).

Akibat kejadian tersebut warga tobadak 8 tidak menerima dan mengumpulkan warga untuk melakukan aksi balasan kepada warga Tobadak 7. Pihak Kepolisian dari Polsek Tobadak yang mendengar informasi mendatangi TKP namun tidak dapat masuk dikarenakan warga tobadak 8 menghadang petugas yang datang dan tidak mengijinkan petugas masuk di area Tobadak 8.

Warga tobadak 8 yang berkumpul tersebut lalu melakukan penganiayaan terhadap MP yang merupakan suku Toraja, MP pun mengalami luka pada betis dan bahu sebelah kanan akibat sabetan benda tajam. Warga Tobadak 8 juga melakukan penyanderaan terhadap salah seorang warga Tobadak 2 YT yang juga merupakan suku Toraja di Pustu Tobadak 8.

Keesokan harinya, Ahad (4/10) sekitar pukul 13.00 Wita Tim Gabungan Polres Mamuju, Polsek Tobadak, Polsek Sampaga, Polsek Budong-Budong, Polsek Topoyo, Polsek Karossa, 2 Pleton Brimob Karossa dan TNI AD yang berjumlah 100 Personil berhasil melakukan negosiasi dengan warga Tobadak 8 dan masuk ke Desa Tobadak 8.

Petugas yang berhasil masuk menemukan jenasah Sa (50) yang berada di dalam ruangan Balai Desa, serta sandera YT yang dikunci dalam 1 ruangan pustu yang mengalami luka pada kaki kiri dan kaki kanan serta luka di bagian dada dan jidatnya.

Selanjutnya petugas melakukan pencarian terhadap pelaku penganiayaan terhadap sandera MP yaitu Ag dan berkat negosiasi kemudian pihak keluarga menyerahkan Ag kepada petugas untuk diamankan.

Pada pukul 15.15 Wita Tokoh Masyarakat Tobadak H. Aras Tammauni mendatangi Desa Tobadak 8 dan mengumpulkan warga dan mengatakan akan bertanggung jawab sebagai tokoh masyarakat di Tobadak dan menjamin tidak akan ada gangguan lagi serta akan membiayai semua ongkos jenazah Sa yang rencananya akan di makamkan di Kab. Luwu.

Masyarakat Tobadak 8 mengharapkan kepada pemerintah untuk kejelasan tapal batas, “Kami datang di sini untuk cari hidup bukan untuk cari musuh, sampaikan kepada Bupati dan Gubernur kami siap meninggalkan Tobadak 8 jika kami dianggap penyakit,” ujar salah seorang warga.

Tim Gabungan meninggalkan Tobadak 8 pukul 15.35 Wita dengan membawa Jenazah Sa yang rencananya akan dibawa ke RS Benteng Tobadak untuk dilakukan otopsi.

Adapun pelaku penganiayaan As akan dibawa ke Mamuju untuk dilakukan penyidikan bersama dengan 2 saksi yaitu La dan UA sedangkan sandera YT dibawa ke keluarganya di Tobadak 2. Kasat Sabhara Polres Mamuju berinisiatif untuk melakukan aksi penggalangan dana bagi keluarga korban Sa dan dana yang berhasil terkumpul sekitar Rp. 2 juta dari personel Kepolisian, Brimob dan TNI yang ada di lokasi tersebut. Istri korban mengucapkan terima kasih atas simpati yang diberikan oleh pihak aparat keamanan atas kejadian yang menimpa dirinya.

Sampai dengan saat ini situasi kamtibmas di wilayah Tobadak sudah dalam keadaan aman dan terkendali dan pihak yang bertanggung jawab dalam kejadian tersebut telah berada di Mapolres Mamuju untuk menjalani pemeriksaan.

Reporter: Bunyanun Marsus
Editor: Fajar Shadiq

.kiblat.net/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 47.278 kali, 1 untuk hari ini)