AntiLiberalNews – Alhamdulillah tabligh akbar dengan tema “Isu Terorisme dan Radikalisme Adalah Alat untuk Menghancurkan Islam” telah diselenggarakan di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, Ahad (3/4/2016) siang tadi.

Dalam acara yang diselenggarakan Angkatan Muda Forum Ukhuwah Islamiyah ini, terdapat sejumlah poin penting yang harus dipahami Ummat Islam Indonesia, sebagaimana disampaikan Ustadz Mu’inuddinillah Basri dan Ustadz Mustofa B. Nahrawardaya.

Poin-Poin Kajian Ust.Muinuddinillah Basri, Ketua Dewan Syariah Kota Solo:

  •  Indonesia didirikan oleh ummat Muslim, sehingga kita harus merasa memilikinya.
  • Kita sebagai ummat Islam tidak boleh menginginkan kerusakan bagi negeri ini. Dan juga tidak boleh, tidak logis, bila menginginkan kerusakan bagi negri ini.
  • Realitasnya, umat Islam dikorbankan, didiksriminasi dan dipojokan ingin meneror Indonesia. Padahal semua itu adalah dagangan orang-orang tertentu.
  • Isu terorisme ini menjadi tempat mencari makan bagi sebgian orang yang punya sifat licik dan rakus (yakni) Yahudi yang dikutuk (sebagaimana dicatat dalam) al Qur’an.
  • Sejak peristiwa WTC, sudah ada indikasi rekayasa. Ada banyak kejanggalan.
  • Termasuk juga Bom Bali. Amrozi CS cuma bisa bikin bom kecil, yang meledak (sedahsyat) itu bukan punya mereka.
  • AS butuh lawan pasca runtuhnya USSR. Islam dijadikan lawan baru. Cara menjadikannya lawan adalah dengan isu terorisme.
  • Kami mengundang BNPT dan Densus 88, di UMS. Dan kami bongkar, duitnya dari musuh-musuh Islam.
  • Dari AS, Aussie, dan Kristen fundamentalis, misal Tommy Winata.
  • Anggota Densus, tidak punya belas kasihan ketika membunuhi ummat Islam. Mereka dididik untuk itu.
  • Kita harus membedakan antara pejabat di TNI, Polri, yang punya nurani dengn mereka yang tidak bisa makan tanpa fitnah!
  • Teroris itu, mereka yang bikin, mereka yang ciptakan, pelihara dan kasih duit.
  • Ada laskar yang cerita, ada orang yang suka mengajarkan bom tapi tidak tersentuh aparat
  • Contoh lucu, ada yang rekruitmen ISIS dari penjara. Kok dibiarkan?
  • Maka kami ingatkan pada aparat.. ada orang orang yang memanfaatkan institusi mereka untuk menfitnah ummat Islam, demi dapat uang! Demi makan!
  • Ada 118 orang yang dibunuh tanpa pengadilan. Disebut teroris tidak dikenal.. apa ini ?
  • Dalam Islam, ada kisah: bahkan Yahudi pun, dibela ketika dituduh tanpa bukti.
  • Apalagi Imam Masjid yang dibunuh karna tuduhan yang blum diadili ?
  • Kita tidak boleh membiarkannya. Aparat harus diingatkan.
  • Bangsa ini masih punya nurani, maka mereka yang memegang posisi, hendaknya jangan mau jadi alat mereka yang mengorbankan kaum Muslimin hanya untuk cari makan.
  • Allah akan menjadi pelindung bagi mereka yang membela kaum terdzalimi.
  • Jihad adalah membela Islam ketika teraniaya, dan memajukannya ketika sudah jaya agar terjagamaqashid syariah. Salah satunya menjaga nyawa.
  • Aksi seperti di Sarinah, tentu bukan jihad. Aksi di Brussel pun bukan. Sebab dampaknya justru merugikan ummat Islam.
  • Perjanjian Hudaibiyah adalah kemenangan yang nyata. Islam tersebar lewat kedamaian.
  • Maka marilah beraksi dengan berdasarkan ilmu.
  • Jihad kita sekarang adalah membongkar kedzaliman di belakang Densus 88.

Poin-Poin Ust. Musthofa Nahrawardaya, Peneliti Terorisme, PP Muhammadiyah:

  •  Dari 10 WNI yang ditangkap di Turki karena mau membawa bantuan ke Suriah dan Turki. Saya salah satunya.
  • Ini indikasi bahwa negeri-negeri Islam diadu domba, saya dikirim Indonesia, tapi ditangkap Densus Turki. Kita diadu domba.
  • Misal, ada orang Uighur mati di Poso, ada orang asing lainnya. Mereka siapa yang bawa ke sini? Kapan masuk?
  • Siapa yang merekam Santoso nyemplung di danau di Poso?
  • Kasus lain, ada orang yang menggiring laskar ke Aceh, lalu diberikan senjata, lalu direkam oleh Sofyan Sauri. Semua laskar itu sekarang sudah mati diburu aparat.
  • Siapa Sofyan Sauri ? Dia mengaku mantan Brimob. Senjata yang dia kasikan itu nilainya 400juta. Dari mana? Bahkan laskar-laskar lugu itu dilatih tembak di Brimob. Janjinya, akan dikirim ke Palestina untuk melawan “Israel”, mereka mau saja, dan akhirnya masuk jebakan.
  • Jika ditanya adakah intel yang Islam? Saya tidak bisa jawab. Tapi jika ditanya adakah Densus yang Islam? Saya ragu apakah ada. Mengingat kejamnya mereka pada aktivis Islam.
  • Saya sudah meneliti teroris sejak lama. Saya tanya wartawan apakah memang ada ‘baku tembak’? Dia bilang tidak. Saya tanya ke orang tua apakah anaknya yang disebut media baku tembak memang baku tembak? Kata ortunya, tidak ada!
  • Kenapa mereka tidak bilang wartawan? Karena mereka sudah tanda tangan surat pernyataan bahwanggak boleh ngomong ke wartawan. Padahal anaknya ditembak lagi sholat. Masih ada potongan daging kepalanya di pojok ruangan.
  • Sumber info soal terorisme hanya dari satu sumber, Humas.
  • Kasus Siyono akhirnya memecah kediaman ini. Wartawan mainstream mulai berani menulis dari sudut pandang korban Densus dan keluarganya.
  • Pak Din (Syamsudin) pernah diceramahi 2 jam oleh ketua BNPT. Pak Din cuma bilang “Sudah?”. Kepala BNPT menawarkan duit untuk deradikalisasi.
  • Jawab beliau, ” Mohon maaf, Muhammadiyah menolak ini. Silakan pulang”. Kami sudah deradikalisasi sebelum Indonesia merdeka. Jika ada kader yang radikal, pasti disusupi.
  • Di Kebayoran Baru, ada ssorang bernama N. Suatu ketika, ia dihubungi oleh seorang mengaku bernama Bashir, dia ngomong dengan bahasa “akhi… afwan, ana” .. Setahun dia didekati.
  • Setelah setahun, akhirnya mau temu darat. Tiba-tiba malam idul Adha, rumahnya digerebek Densus. Ada alat bukti yang lengkap, dari mesiu hingga manual rakitan.
  • Basyir ikutan ditangkap, tapi ketika jumpa pers, Basyir tidak disebut. Dasar orang kampung, mereka tidak curiga.
  • Basyir, tiba-tiba menghilang…..
  • Polisi malah nanya, “Siapa Basyir?”
  • Kasus Sofyan Sauri pun sama. Sekarang dia sudah bebas. Yang jual senjata dihukum ringan. Tapi 25 Laskar yang diperangkap itu, diburu hingga liang lahat. Mati semua.
  • Kenapa bisa terjadi ? Karena kita diam, terus-terusan diam.
  • TV pun sudah diatur, agar narasumber yang memihak mereka yang didzalimi tidak diundang. Mediamainstream sudah diatur.
  • Lalu ada media media online abal-abal, isinya sangat radikal. Agar semua media Islam digeneralisir semua radikal dan ditutup.
  • Muhammadiyah menolak program deradikalisasi, karena cenderung proyek.
  • Densus sudah punya dana 1,9 Triliun. Dari pajak kita juga. Tapi peruntukannya tidak diaudit.
    Kasus Siyono ini adalah the point of no return. Tidak bisa mundur lagi.
  • Maka Muhammadiyah konsentrasi dulu ke otopsi. Kita hati-hati pada provokasi.
  • Sudah ada 121 yang meninggal di luar pengadilan. Siyono salah satunya, alasan yang diberikan Polri sangat konyol.
  • Demi Allah, kasus ini adalah tabir pembuka. Tidak ada kesalahan yang bisa ditutupi terus.
  • Tuntutan Muhammadiyah jelas, Densus 88 dan BNPT diaudit. Termasuk yang untuk menutup mulut keluarga Siyono.
  • Maka kita harus bersatu merapatkan barisan. Tahun 1884, ada ahli yang menyatakan, selama ummat Islam masih
    1. Masih berkumpul di Kabah.
    2. Khilafah masih ada.. ini sudah tumbang 1924.
    3. Kebangkitan umat Islam lewat gerakan kebangkitan di setiap sudut dunia Islam.
  • Maka, Mekah dibuat tidak aman. Dengan destabilisasi Tim Teng (Timur Tengah). Atau kecelakaan ketika Haji. Selain itu, travel Umrah pun mulai diawasi dengan fitnah terorisme ke Suriah.
  • Beragam lagi dilakukan untuk menghambat kebangkitan peradaban Islam. Yang utama adalah demonisasi Islam, agar non-Muslim takut pada Islam, dan menolak dipimpin olehnya.
  • Kita juga harus faham bahwa kita hanya korban proxy war pabrik senjata. 50% lebih senjata ke Tim Teng, sisanya ke negara kecil yang konflik.
  • Kita punya Allah. Kita berdoa pada-Nya. Tapi doa yang maqbul tentu jika para pendoanya hatinya bening. Maka mulailah dari sini, mari mulai dari tazkiyah nufus (taubat, sucikan jiwa – pen.).
  • Islam akan tetap jaya! Jadikan generasi kita penegaknya. (Lindungi mereka dari perangkap isu radikalisme dan terorisme, ajarkan agama yang benar agar tidak mau diperalat mereka yang memancing jadi radikal seperti kasus Sofyan Sauri dan si N di atas___peringkas)

Wallahu a’lam Allahu Akbar…

Red: Adiba Hasan (antiliberalnews.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.137 kali, 1 untuk hari ini)