Sumber Foto : beritaislam24h.info


Permusuhan Yahudi terhadap kaum muslimin telah lama muncul, yaitu sejak awal diutusnya Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam. Siapa pun yang mencermati sejarah hidup Rasulullah di Madinah, maka tidak asing dengan banyaknya bentuk pengkhianatan Yahudi terhadap beliau Sallallahu ‘alaihi wasallam. Pelanggaran mereka terhadap berbagai macam perjanjian yang mereka setujui bersama Rasulullah terjadi berulang kali. Tidak pernah menyesal, seolah-olah apapun bentuk kezaliman yang mereka lakukan terhadap kaum muslimin bukan sebuah dosa yang patut disesalkan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa permusuhan ini abadi dan telah mendarah daging di dalam jiwa mereka. Sampai akhirnya mereka menduduki (merampas) tanah-tanah suci di Palestina dengan bantuan imperium Inggris pada tahun 1948 M.

Karena itu, upaya mereka menguasai tempat-tempat suci dan masjid Al-Aqsha serta usaha menghancurkannya dilakukan secara terus-menerus dan berulang kali dengan klaim di bawah masjid Al-Aqsha terdapat Haikal Sulaiman. Klaim ini bagian dari keyakinan mereka agar mendapatkan pembenaran untuk melakukan pendudukan (perampasan).

Fenomena ini jika kita perhatikan lebih dalam, lalu kita bandingkan dengan nubuwat dari Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam , maka seolah-olah Allah sengaja mengumpulkan mereka di dalam tanah suci Palestina, di mana sebelumnya mereka berpecah belah di berbagai negara. Tujuan tidak lain kecuali semata-mata untuk membinasakan mereka pada akhir zaman dengan pembinasaan yang tak terelakkan lagi, sebagaimana yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya.

Seseorang mungkin bertanya, “Bagaimana mereka akan menemui kebinasaan, sedang mereka sudah mendirikan Negara Israel Raya dan memiliki persenjataan mematikan yang bisa melindungi mereka dari perlawanan dan serangan kaum muslimin yang tak diharapkan. Ditambah lagi, seluruh negara, selain dua negara, yakni Arab dan Islam, senantiasa membantu mereka dengan bantuan materi dan moral dan dengan segala kekuatan mereka?”

Bagi seorang mukmin, semua yang dijanjikan oleh Allah Ta’ala itu pasti terjadi dan tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Maha Pencipta. Pertanyaan di atas hanya muncul dari sudut pandang manusia yang sempit. Kita tidak pernah menjangkau keluasan ilmu Allah. Yang kita ketahui hanyalah apa yang telah Allah beritahukan kepada kita di dalam kitabNya, bahwa kita akan mampu membinasakan mereka pada akhir zaman. Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا

“…Dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isrâ‘: 7)

Bahkan dalam nubuwat nabi disebutkan bahwa Kiamat tidak akan terjadi hingga Allah membinasakan Yahudi. Karena mereka mengubah manhaj Allah di muka bumi, mengada-adakan kebohongan terhadap-Nya, menyimpangkan kitab-kitab samawi, membunuh para nabi, dan melakukan kemungkaran yang telah diharamkan Allah. Allah berfirman:

{لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ } [المائدة: 78، 79]

 “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Mâidah: 78-79)

Sebagaimana Allah telah memberikan kepada mereka sedikit kenikmatan dan kesenangan, maka masa (kehancuran) akan berbalik menimpa mereka dan bencana pun akan bergilir pada mereka. Mereka tidak dikumpulkan di Palestina, melainkan sebagai bukti kebenaran sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa kaum muslimin kelak akan membunuh mereka semua, insya Allah. Sampai-sampai batu dan pohon akan berbicara dan memberitahukan kepada seorang muslim, “Ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah ia!”

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّـى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّـى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ، فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ! يَا عَبْدَ اللهِ هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ، فَاقْتُلْهُ، إِلاَّ الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ.

“Kiamat tidak terjadi hingga kaum muslimin memerangi Yahudi. Kaum muslimin akan membunuh mereka semua hingga orang Yahudi bersembunyi di belakang batu dan pohon. Maka, batu dan pohon itu pun berkata, ’Wahai muslim, wahai hamba Allah, ini orang Yahudi ada di belakangku, bunuhlah ia!’ Kecuali gharqad, sebab ia termasuk pohon orang Yahudi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalian akan diperangi oleh Yahudi, lalu kalian akan diberi kemenangan atas mereka. Sampai-sampai batu akan berbicara, ‘Hai Muslim, ini orang Yahudi di belakangku, bunuhlah ia!’,” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari dua hadits ini dapat kita ketahui, bahwa peperangan melawan Yahudi pasti terjadi karena adanya pengabaran dari Rasulullah tentang peristiwa ini. Selain itu, berkumpulnya mereka (Yahudi) di Palestina tak lain merupakan bukti kuat benarnya berita ini. Sungguh, apa yang mereka lakukan saat ini memenuhi dada-dada kaum mukminin dengan kemarahan dan kebencian.

Namun, Mahabenar-lah Allah bahwa kaum muslimin akan berhasil masuk kembali ke Masjid Al-Aqsha dan membebaskannya dari cengkraman tangan-tangan Yahudi. Tentunya kemenangan itu tidak datang begitu saja layaknya ketika Allah mengirimkan Burung Ababil untuk menghancurkan Pasukan Abrahah. Sebab, sunnatullah yang berlaku bagi Umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kemenangan itu datang melalui jalan perjuangan (jihad). Sebagaimana firman-Nya dalam Surat Muhammad ayat 7;

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ } [محمد: 7]

7. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu [Muhammad7]

“Jika Kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” Karena itu, untuk mengharap pertolongan yang dijanjikan itu, ada tuntutan yang harus dipenuhi oleh setiap kaum muslimin. Ya, tuntutan untuk berjuang secara totalitas dalam segala hal yang mampu kita lakukan.

sumber: kiblat.net/ http://pembelaislam.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.984 kali, 1 untuk hari ini)