Kemarin, sempat memberi motivasi kepada salah satu adik kami, untuk memulai berjuang berdagang, sekalipun memang di awal tiada pembeli. Karena normalnya begitulah nasib newcomer, newbie atau pendatang baru. Malah tidak elok kalau pemula langsung kebanjiran orderan. Tidak bagus dan tidak mendidik jika pendatang langsung laris. Kecuali kalau nasibnya menjadi ‘orang yang diusung’. Tapi, tidak enaknya ‘diusung’ : Anda tidak bisa bergerak bebas; terpaku pada peraturan pengusung.

Justru jika di awal merasakan pahitnya berdagang, harus buang rasa malu dan sedih-sedihan, nanti saat sukses, bakal ingat dulu toh kita bukan siapa-siapa.

Sebagai ‘mantan’ pedagang gorengan Ramadhan di pasar, saya suka memperhatikan para pedagang sore di bulan Ramadhan. Kadang beli, kadang lihat saja dari atas motor. Minimal, mengenang masa lalu lah. Ahad sore kala itu, hujan deras sekali. Pukul 5-an lah, saya menerobos riuhnya angin dan siraman rahmat, sambil tolah-toleh para pedagang. Hati serasa mendung. Saya melihat banyak pedagang berselindung di balik kain, atau plastik; dan tak satupun pembeli. Mereka masih terduduk membeku, menunggu halilintar membeli.

Setidaknya, yang pernah mengalami adalah yang tahu rasanya. Di awal dagang makanan dulu, saat membeli bahan, harapannya tinggi. Lalu membuat adonan, menyalakan kompor, aduk ini itu, harapannya tinggi. Setelah jadi, harapan kian menjulang. Lalu bawa satu per satu barang dagangan, ekspektasinya makin besar. Kadang perlu dorong-dorong gerobak dulu, dengan roda kecil 4 biji yang sekali jalan di aspal sudah membuat kebisingan. Semua menoleh. Yah, namanya juga survival, mas. Biar pada senyum, ada yang berbisik, tapi memang begitulah hidup. Kita mau naik onta bareng mbah, kita diomongin. Kita mau tidur pun, juga kena omongan.

Ekspektasi tinggi saat kita taruh dan rapikan dagangan. Apalagi kalau bahu membahu sama orang tua kandung. Seenggaknya, kita sudah tahu harapan duniawi ini belum tentu terwujud. Tapi sama-sama percaya kok, harapan ngumpul bareng di Surga, bakal ditunaikan. Lalu terdengar adzan shalat Ashar. Minta sama Allah, mudah-mudahan berkah, yah kalau minta habis terus, secara logika pasar, tidak mungkin. Walau of course secara qudratullah, itu semua mudah bagi Allah.

Namanya juga orang usaha. Datang satu persatu pesaing. Harapan-harapan selalu ada. Selalu kita bicarakan.

Tapi…

Kadang jangankan habis, bisa jadi tak ada yang mau menukar uang dengan barang kami. Pulang mepet buka puasa jelang bedug bentar lagi bersih-bersih dagangan. Bukan bersih ludes karena laku, tapi ya memang harus dibersihkan dan dibawa pulang semuanya. Balikkan gerobak, atau meja ke tempat penitipan. Semua harapan terkubur. Habis waktunya. Maghrib makin dekat. Langit menggelap. Suasana hati menggemuruh. Pulang ke arah Barat. Melihat ke ufuk jauh sana, sambil tergopoh membawa harapan-harapan yang sudah layu. Datang membawa segunung mimpi. Pulang bawa selaut tangisan hati. Yah, namanya juga orang usaha.

Yang terindah, minimal, tidak beli dari orang buat berbuka. Kalaupun beli, paling beli brains (otak-otak). Dengan ada niatan, moga pedagangnya senang kita beli banyak.

Begitulah dagang, nak.

Yang seharusnya terpatri dari awal: laku atau tidak, minimal pedagang sudah berikhtiyar di hadapan Allah. Dia tidak mengemis. Dia hanya ingin usahanya diminati. Karena itu, kadang timbul tidak tega kalau ada muslim berdagang di bulan Ramadhan sepi-sepi saja. Dan kini banyak seperti itu. Menjamur, karena saingan terlalu banyak. Kualitas gorengan makin merendah. Yang masih banyak terjaga kualitasnya adalah minuman. Saya mah berbicara Jakarta, bukan kota lain.

Para pendatang baru di dunia usaha, harus sungguh bersabar. Baik di pasar tradisional maupun modern, sistem kepadukaan tetap ada. Pasar-pasar ada penguasanya. Jangankan di dunia niaga, wong di dunia dakwah saja ada kok. Saya berharap besar, perdagangan tradisional, dan yang berlawanan dengan sistem kapitalisme, tetap exist.

Pedagang baru atau bukan, yang suka mengeluh nasib usahanya, sangat rentan akan mengalami repetisi. Terus berulang-ulang gagal. Mengeluh tidak laku, ya mungkin trik berdagangnya kurang baik. Kurang ramah. Kurang menawarkan. Pasang muka Madam Mikmak. Atau kurang jaringan. Dan seterusnya.

Kalau bisa, jadilah pedagang, pengalaman demi pengalaman akan membuat jiwa yang besar dan dada yang lapang. Kalaupun tidak bisa jadi pedagang, jadilah orang yang tidak pernah menzhalimi pedagang.

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)