DENMARK – Naudzubillah, akhir-akhir ini dunia maya diramaikan dengan berita tentang rencana Denmark yang akan melarang hubungan seks dengan hewan.

Gilanya, yang setuju dengan rencana ini hanya 76% sedangkan sisanya yaitu 24% tidak setuju. Jadi ada 24% orang yang menghendaki hubungan seks dengan hewan tidak perlu dilarang. Naudzhubillah min dzalik.
Membaca beritanya saja membuat kita bergidik jijik dan ngeri. Tak bisa dibayangkan ada manusia yang mengaku dirinya manusia bisa melakukan hal ini dengan hewan.

Bahkan serendah-rendahnya hewan dan sebodoh serta tak punya akalnya mereka, tak ada hewan yang sudi melakukan hubungan seks dengan manusia. Terbukti hewan-hewan ini ternyata harus dirantai dulu ketika manusia menyalurkan nafsu bejatnya itu.

Anehnya, ada peraturan di Denmark yang menyatakan boleh berhubungan dengan hewan selama tidak ada indikasi perkosaan atau penyiksaan. Dengan kata lain, kedua belah pihak antara manusia dengan si hewan saling menikmatinya.

Orang-orang gila yang melakukannya, parahnya mengatakan demikian bahwa si hewan itu menikmati hubungan seks dengan dirinya. Padahal dari foto-foto yang dikumpulkan oleh perlindungan hewan menunjukkan hewan tersebut dirantai dan kemaluannya pun berdarah-darah.
Benar-benar manusia setengah setan orang-orang ini. Eh…setan pun enggan berhubungan dengan hewan (mungkin). Jadi apa sebutan untuk orang sebejat ini?
Selain Denmark ada Brazil, Kamboja, Finlandia, Hungaria, Italia, Jepang, Meksiko, Rumania, Rusia, Thailand, dan 14 negara bagian di Amerika Serikat.
Indonesia meskipun tak secara terang-terangan menyetujui kebejatan ini, tapi tak memunyai payung hukum untuk menghukum orang yang melakukannya. Sebut saja kasus orangutan di Borneo yang digunduli agar menyerupai tubuh manusia, dirantai ke dinding, dan ditidurkan di kasur.
Setiap ada laki-laki yang datang, dia langsung menyodorkan kemaluannya karena sejak kecil ternyata hewan ini sudah difungsikan melayani nafsu bejat di wisma pelacuran tersebut.
Butuh 35 polisi bersenjatakan AK-47 untuk menyelamatkan Poni, demikian orangutan tersebut diberi nama. Itu pun masih dihalangi oleh orang kampung yang merasa dirugikan bila Poni diambil. Dan apa reaksi penegak hukum atas fakta ini? Tak ada.
Kasus ini merebak hingga ke dunia internasional atas penyiksaan hewan untuk kebutuhan seksual. Pelaku utamanya adalah pemilik rumah bordil tersebut, bebas tak mempan dijerat hukum.

Inilah bentuk kehidupan ketika nafsu dipertuhan. Seks bebas manusia dengan manusia merajalela hingga tahapan bosan dan ingin sesuatu yang beda. Hewan pun jadi sasaran.

Apakah kebebasan seperti ini yang dikehendaki oleh demokrasi yang sangat menuhankan kebebasan individu? Sungguh, sepandai apapun otak manusia ia tak akan mampu menangkap hakikat penciptaan dirinya. Jadilah ia berjalan di muka bumi membuat kerusakan di sana-sini.

Inilah bentuk satu sistem yang enggan diatur oleh aturan Allah. Dirinya sendiri bingung menentukan apa yang terbaik untuk kehidupannya. Hingga hubungan seks yang seharusnya normal antara manusia dengan manusia demi prokreasi untuk kelangsungan jenis manusia di muka bumi, diselewengkan dengan hewan.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun! Semoga Allah tak menurunkan azabNya karena kebejatan satu kaum sehingga kaum yang baik pun terkena imbasnya. Yuk kita kembali ke aturan Ilahi agar nafsu pun harus tunduk pada hukumNya, bukan hukum manusia apalagi tipe bejat seperti kasus di atas. Wallahu a’lam. [riafariana/voa-islam.com] Kamis, 21 Zulhijjah 1435 H / 16 Oktober 2014 13:14 wib

***
Hukum Bunuh bagi pelaku homo, ataupun lesbi, ataupun menyetubuhi binatang

( 1138 ) – وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : { مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ , وَمَنْ وَجَدْتُمُوهُ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ فَاقْتُلُوهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ } رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْأَرْبَعَةُ وَرِجَالُهُ مُوَثَّقُونَ , إلَّا أَنَّ فِيهِ اخْتِلَافًا .
.–الجزء :4 (سبل السلام) الصفحة :25

Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ٍSiapa-siapa yang kamu dapati dia mengerjakan perbuatan kaum Luth (homoseksual, laki-laki bersetubuh dengan laki-laki), maka bunuhlah yang berbuat (homoseks) dan yang dibuati (pasangan berbuat homoseks itu); dan barangsiapa kamu dapati dia menyetubuhi binatang maka bunuhlah dia dan bunuhlah binatang itu. (HR Ahmad dan Empat (imam), dan para periwayatnya orang-orang yang terpercaya, tetapi ada perselisihan di dalamnya).
Dalam Kitab Subulus Salam dijelaskan, dalam hadis itu ada dua masalah. Pertama, mengenai orang yang mengerjakan (homoseks) pekerjaan kaum Luth, tidak diragukan lagi bahwa itu adalah perbuatan dosa besar. Tentang hukumnya ada beberapa pendapat: Pertama, bahwa ia dihukum dengan hukuman zinadiqiyaskan (dianalogikan) dengan zina karena sama-sama memasukkan barang haram ke kemaluan yang haram. Ini adalah pendapat Hadawiyah dan jama’ah dari kaum salaf dan khalaf, demikian pula Imam Syafi’i. Yang kedua, pelaku homoseks dan yang dihomo itu dibunuh semua baik keduanya itu muhshon (sudah pernah nikah dan bersetubuh) atau ghoiru muhshon (belum pernah nikah) karena hadits tersebut. Itu menurut pendapat pendukung dan qaul qadim As-Syafi’i.
Masalah kedua tentang mendatangi/ menyetubuhi binatang, hadits itu menunjukkan haramnya, dan hukuman atas pelakunya adalah hukum bunuh. Demikianlah pendapat akhir dari dua pendapat Imam As-Syafi’i. Ia mengatakan, kalau hadits itu shahih, aku berpendapat padanya (demikian). Dan diriwayatkan dari Al-Qasim, dan As-Syafi’i berpendapat dalam satu pendapatnya bahwa pelaku yang menyetubuhi binatang itu wajib dihukum dengan hukuman zina diqiyaskan dengan zina.. (Subulus Salam, juz 4, hal 25).
Dari ayat-ayat, hadits-hadits dan pendapat-pendapat itu jelas bahwa homoseks ataupun lesbian adalah dosa besar. Bahkan pelaku dan pasangannya di dalam hadits dijelaskan agar dibunuh. Maka tindakan dosa besar itu wajib dihindari, dan pelaku-pelakunya perlu dijatuhi hukuman.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 81.413 kali, 5 untuk hari ini)