Atas perbuatan bejat kedua orang (oknum pendeta dan anaknya yang menyetubuhi gadis bawah umur) itu, kini keduanya terancam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Dengan sanksi pidana berupa pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 lima belas tahun, dan denda paling banyak Rp 5 miliar,” jelas Kasat Reskrim Polres Ketapang AKP. M. Yasin.

 

Kasat Reskrim Polres Ketapang AKP. M. Yasin tengah meminta keterangan dari GAK (59) oknum pendeta pelaku asusila terhadap gadis dibawah umur di Kecamatan Jelai Hulu Ketapang Kalimantan Barat.

 

triggernetmedia.com – Kepolisian Resort (Polres) Ketapang, Polda Kalimantan Barat, mengungkap kasus tindakan asusila terhadap anak bawah umur oleh oknum pendeta di Kecamatan Jelai Hulu, Senin (25/7/2022) sore di halaman Mapolres.

Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP. M Yasin menyebut adanya tindak pidana asusila oleh Pendeta GAK (59) terhadap anak perempuan KAR yang masih dibawah umur, warga Desa Deranuk, Kecamatan Jelai Hulu pada Jumat (15/7/2022) lalu.

Dalam konferensi pers, AKP. M Yasin memaparkan kejadian bermula saat pelaku Pendeta GAK (59) bersama istrinya PBE (51) tengah menginap di rumah pelapor KAR. Pada hari kejadian, pelapor bersama istrinya pergi tengah berkunjung ke rumah orang tuanya.

“Jadi di rumah tersebut tinggal si pelaku Pendeta GAK, PBE dan anak pelapor (gadis), sebut saja MON (16) yang menjadi korban tindak asusila itu,” beber AKP. M Yasin.

Saat istri pelaku PBE sedang keluar rumah, AKP M Yasin membeberkan bahwa kesempatan itu dimanfaatkan pelaku Pendeta GAK untuk melakukan perbuatan asusila kepada MON yang terjadi dalam kamar rumah pelapor.

“Perbuatan bejat si pelaku Pendeta GAK ini sempat kepergok oleh istrinya. Namun pelaku malah kabur dan sempat mendorong istrinya sampai terjatuh,” ujarnya.

Dari pengakuan korban (MON), sambungnya, sudah lebih dari satu kali mengalami tindak asusila dari pelaku (Pendeta GAK).

Atas perbuatan si pelaku, ayah korban, KAR langsung melaporkan peristiwa ini ke Polsek Jelai sebagai upaya hukum.

 

“Pelaku GAK sempat kabur selama dua hari. kemudian berhasil ditangkap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sekarang pelaku dan barang bukti ada di Polres Ketapang,” kata AKP .M. Yasin.

Menurut AKP. M. Yasin, aksi bejat Pendeta GAK ternyata sempat melakukan persetubuhan tidak hanya di rumah korbannya, tetapi pernah di lingkungan sekitar gereja.

Dari pengembangan pemeriksaan, Polisi juga mengungkap ada satu tersangka lain yang terlibat dalam perbuatan asusila tersebut.

“Tersangka lain itu adalah anak pelaku GAK berinisial GD (22),” sebut AKP. M. Yasin.

GD ternyata merupakan mantan kekasih MON. GD ditangkap usai MON diperiksa, dan mengaku bahwa dirinya juga pernah disetubuhi oleh GD sebelum dengan Pendeta GAK.

“Jadi ada dua tersangka. Mereka merupakan ayah dan anak. Ini diketahui berdasarkan hasil pengembangan pemeriksaan polisi,” ujar ujar AKP. M. Yasin.

Atas perbuatan bejat kedua anak dan bapaknya itu, kini keduanya terancam Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

“Dengan sanksi pidana berupa pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 lima belas tahun, dan denda paling banyak Rp 5 miliar,” jelas Kasat Reskrim Polres Ketapang AKP. M. Yasin.


Terhadap korban MON, kekinian tengah ditangani unit PPA Polres Ketapang dan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) serta Dinas Sosial untuk proses pemulihan.

Sementara pelaku Pendeta GAK, di tengah konferensi pers Polres Ketapang itu mengaku jika dirinya pernah menyetubuhi MON.

Ia pun mengaku menyetubuhi korban lebih dari 10 kali.

 

TriggerNetMedia

25 Juli 2022

(nahimunkar.org)