Ilustrasi muslmah.net

Tanpa mengurangi rasa hormat, dari beragam kejadian akhir-akhir ini, saya mendapatkan: hal-hal tematik yang digembar-gemborkan sana-sini, ujung-ujungnya tidak jadi alias batal. Penyebabnya mungkin kalangan awam yang berlebihan promonya, terlalu bereuforia, bahkan saling sikut. Capek sikut-sikutan, ujung-ujungnya tidak jadi. Harusnya kita semua malu.

Dan jikapun misal jadi, dari rangkaian kejadian, kita sering menemukan teori ‘easy comes easy goes’ terjadi.

Kalau boleh saya menasehati diri sendiri juga tak luput kawan-kawan: mari membina diri (membangun) tidak dengan cara instan juga tematikan occasional saja. Ketika kita tahu makan adalah kebutuhan, kita tidak makan hanya pas musim buahnya saja, tapi harian. Dan makan yang teratur itu kunci kesehatan. Lebih-lebih, belajar secara teratur jauh lebih menyehatkan.

Dan saudaraku, belajar teratur itu sama sekali tidak membutuhkan euforia, melainkan niat dari awal mau sungguh-sungguh dan istiqamah. Inilah yang membuat kebaikan menjadi kental dan mengakar. Adapun yang occasional, dicabutnya sangat mudah.

Saya pernah mengeluhkan di hadapan seorang syaikh, dosen Aqidah kami, perihal kuburan keramat di daerah kediaman saya dahulu. Apa kiranya solusi menghilangkan kesyirikan di sana?

Syaikh malah balik bertanya, “Kuburan itu jadi serr itunya, secara dadakan atau sudah terbina bertahun-tahun?”

Bertahun-tahun, saya jawab.

Maka jawab beliau, “Maka tugas antum bertahun-tahun untuk melawan itu.”

Jawaban yang bisa melebar kiasannya ke mana-mana. Saat Anda memupuk tanaman, tidak bisa memupuk ala tematik semaunya pilih-pilih pupuk seenaknya. Dan harus rutin. Jika tidak, tanaman Anda cepat bubaran.

Berapa tahun Anda sekolah? Kalau Anda tidak pernah tinggal kelas, katakanlah: 12 tahun sekolah. Apakah pernah satu cawu misalnya, semua pelajaran di sekolah tematik dan ngacak? Apa pernah satu bulan penuh sekolah Anda hanya adakan perbincangan tematik buat Anda? Pernah guru Biologi selama sebulan mengajar secara acak temanya terserah beliau dan antum tinggal nyimak plus ga bawa catatan atau pena ga masalah?

Kalau ada sekolahan begitu, Anda akan tertawa. Sekolahan edan!

Nah, sekarang, dalam masalah belajar agama, ternyata kita lebih parah dari sekolah edan itu. Loncat-loncatan. Kenapa giliran belajar agama, kita malah tidak beraturan semerawut, tapi untuk ilmu dunia kita minta tatanan pendidikan teratur? Kegilaan model apa pula ini?

Apakah masih kita mengekor pada euforia akbar satu persatu sampai nanti di titik lemas, kita baru sadar selama ini capek ikut arus sikut sana sikut sini rupanya tidak ada faedah berbekas kecuali sekadar menambah perbendaharaan musuh dan cap stempel. Kegilaan ini membuat sekian persen teman-teman berjenggot pada kesurupan. Bahkan ada pula akhwat hijabers ikut andil dalam proses mediumisasi setan merasuk ke tubuh anak ngaji.

Anda, boleh saja sekarang blacklist nama penulis tulisan ini, karena mungkin terkesan kasar dan tajamnya tidak diukur. Tapi insya Allah, yang ditulis adalah realita. Mau menyangkal silakan juga. Pokoknya silakan. Sekarang serba permisif. Mau apa saja boleh. Saya sarankan kembali: jangan keseringan ikutan arus yang sedang berlaku.

Untuk cari duit atau ilmu dunia, kita menuntut diri kita mencari cara efektif.

Untuk cari ilmu atau ilmu agama, kita berlenje-lenje saja selonjoran dan kita klaim bahwa kita adalah pengikut Salaf?

Semoga Allah bimbing kita semua menuju ke manhaj Salaf.


Hasan Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 3.820 kali, 1 untuk hari ini)