Oleh : Dr. Slamet Muliono

Perjanjian Hudaibiyah merupakan pintu masuk bagi tersebarnya dakwah Islam secara massif. Betapa tidak, sebelum adanya perjanjian ini, umat Islam mengalami tekanan dan himpitan yang terus menerus. Perang Badar, perang Uhud, hingga perang Ahzab merupakan peperangan untuk menekan dan mengancam eksistensi umat Islam yang telah berhasil berhijrah ke bumi Madinah. Artinya, Nabi Muhammad dan para sahabat tidak bisa leluasa untuk bergerak secara bebas dalam menjalankan perintah agama. Hal ini karena begitu besarnya tekanan yang menghimpit mereka.

Dengan adanya perjanjian Hudaibiyah ini, umat Islam telah diakui eksistensinya dan posisinya sejajar dengan kaum Quraisy. Kalau selama ini Quraisy menganggap remeh eksistensi Islam, dengan terus menerus mengadakan berbagai tekanan dan ancaman. Dengan  perjanjian Hudaibiyah ini, umat Islam berposisi sejajar dan bisa duduk dalam satu meja perundingan dengan pihak Quraisy.

Mimpi Nabi Berumroh dan Penghadangan Quraisy

Pergi Umroh ke Mekkah itu berawal dari mimpi Nabi. Nabi bermimpi memasuki Masjidil Haram dengan aman, dan nabi mengambil kunci kabah kemudian bertawaf mengelilinginya. Dalam mimpi itu, Nabi melihat sebagian sahabat menggundul kepala dan sebagian mencukur rambutnya.

Kabar tentang mimpi nabi itu kemudian terdengar para sahabat. Para sahabat sangat bergembira berdengar berita itu. Mereka percaya bahwa mimpi nabi bagian dari wahyu dan merupakan kebenaran. Di samping itu, para sahabat dari kalangan Muhajirin juga merasa rindu dengan kampung halaman yang telah mereka tinggalkan sekian lama.

Setelah nabi mengumumkan akan umroh, maka beliau menunjuk Abdullah bin Ummi Maktum sebagai pemimpin di Madinah. Sebagaimana biasanya Nabi selalu menunjuk seeorang pemimpin ketika beliau meninggalkan kota Madinah. Para sahabat yang berangkat umroh tidak membawa senjata karena memang bukan untuk berperang.

Sebelum pemberangkatan, Nabi mengutus seseorang dari Bani Khuza’ah yang bertugas sebagai mata-mata guna mengabarkan niat kedatangan nabi ke kota Mekkah. Diperoleh informasi bahwa orang Quraisy telah bersiap-siap untuk berperang guna menyambut kedatangan Nabi dan sahabatnya. Bahkan orang Quraisy mengutus Khalid bin Walid bersama 200 pasukannya yang siap untuk memerangi nabi. Pada saat itu, Khalid melihat para sahabat shalat khauf dan berniat menyerangnya, tetapi diurungkan niatnya.

Nabi juga mengutus Budail untuk menginformasikan kepada Quraisy bahwa kedatangan nabi bahwa bukan untuk perang tetapi orang Quraisy tetap tak percaya. Kemudian orang Quraiys mengutus Mikraz bin Hafs karena masih ragu dengan niat kedatangan nabi dan para sahabatnya. Tidak cukup disitu, orang Quraisy masih mengutus  Hulais untuk memastikan niat kedatangan nabi. Hulain suka berkurban, sehingga Nabi menyiapkan binatang kurban dan mengucapkan kalimat talbiyah. Hulais mendengar kaum muslimin bertalbiyah sehingga dia menyarankan Quraisy untuk memperbolehkan  Nabi dan sahabatnya masuk untuk berthawaf.  Tetapi orang Quraisy tetap tidak percaya, sehingga mereka mengutus Urwah bin Mas’ud Ats-Tsaqafi. Urwah menyarankan Nabi untuk kembali ke Madinah karena orang Anshar tidak akan menolong, tetapi akan meninggalkannya.

Namun Urwah melihat langsung bagaimana perilaku sahabat nabi yang demikian istimewa memperlakukan nabinya. Dahak atau air ludah nabi diperebutkan. Bahkan para sahabat berebut tetesan air wudhu nabi. Sehingga Urwah mengatakan bahwa tidak pernah ada kecintaan kaum kepada pemimpinnya kecuali para sahabat kepada nabinya. Rakyat Persia dan Romawi tidak pernah memperlakukan rajanya sebagaimana yang dilakukan para sahabat kepada nabinya.

Oleh karena tidak ada kejelasan, Nabi mengutus Utsman bin Affan ke Quraisy, setelah Umar menolak keinginan Nabi, karena Umar tidak cukup kuat memperoleh perlindungan dari kaumnya. Ada kaum yang akan membelanya, sehingga Utsman diutus karena dia memiliki banyak kaum yang akan melindunginya. Utsman diperlakukaan dengan baik oleh kaumnya, karena memang dia dari bani Umayyah dan kabilahnya sangat kuat. Utsman dilayani dengan baik, bahkan dia diminta untuk thawaf tetapi Utsman menolaknya dan mengganggap tidak pantas karena mendahului nabi. Karena begitu lama Utsman tidak kembali dan terdengara kabar Utsman dibunuh. Maka nabi langsung mengajak baiat seluruh sahabat untuk siap mati guna menebus nyawa Utsman. Semua sahabat nabi ikut berbaiat kecuali Jad bin Qais, seorang munafik dari Madinah.

Perundingan : Awal Kemenangan Dakwah Nabi

Melihat kaum muslimin yang demikian gigih dan kokoh, membuat Quraisy merasa ketakutan, sehingga mengutus Suhail untuk berunding. Hasil perundingan terdapat 4 butir kesepakatan. Pertama,  Muhammad harus pulang ke Madinah dan tahun depan baru bisa umrah. Kedua, gencatan senjata antara kaum muslimin dan Quraisy selama 10 tahun. Ketiga, memperbolehkan bersekutu dengan Muhammad. Keempat, apabila ada orang Quraisy masuk ke Madinah maka harus dikembalikan. Apabila ada orang Islam masuk Mekkah tidak boleh kembali. Dalam perjanjian itu, kalimat “Bismillahirrahmanirrahim” dihapus dan diganti menjadi Bismika Allohumma. Juga nama Muhammad Rasulullah dihapus menjadi Muhammad bin Abdulah. Saat itu Abu Jandal (putra Suhail) masuk ke barisan kaum muslimin, maka Suhail melarangnya dan akan membatalkan perjanjian itu.

Setelah perjanjian itu, Nabi mengajak para sahabatnya untuk berkurban dan memotong rambutnya tetapi mereka enggan karena mereka merasa bahwa perjanjian itu merugikan dan merendahkan harga diri kaum muslimin. Tetapi atas istri Nabi, Ummu Salamah menyarankan Nabi untuk berkurban dan menggundul rambutnya. Melihat nabi melakukan hal itu, para sahabat langsung mengikutinya. Para sahabat menggundul kepalanya dan sebagian ketika memotongnya.

Perjanjian Hudaibiyah itu mengandung hikmah yang sangat besar. Dengan adanya perdamaian dan gencatan senjata selama 10 tahun itu membuka kesempatan untuk berdakwah secara leluasa. Sejak saat itu, nabi bebas berdakwah hingga bisa berkirim surat ke raja-raja Persia, Romawi, Mesir untuk mengajak masuk Islam. Posisi Nabi begitu tinggi di mata dunia karena mengirim surat dan mengajak banyak pihak untuk masuk ke dalam agama Islam. Di masa tenang itu, banyak pihak yang mengakui kekuatan dan keagungan Nabi sehingga mereka memasuki agama Islam dengan mudah tanpa ada peperangan.

Situasi tenang dan damai memberi angin segar bagi bersemainya dakwah ke berbagai level sosial. Oleh karena itu, musuh-musuh Islam tidak menginginkan suasana tenang dan damai, sehingga mereka senantiasa menciptakan konflik dan kekacauan di dunia Islam agar dakwah Islam tidak bisa berkembang dengan meluas dan leluasa. Konflik antar umat beragama terus menerus diciptakan. Bahkan konflik internal umat Islam terus menciptakan agar umat Islam terus menerus terlibat konflik dan tidak lagi memikirkan berkembangnya dakwah Islam.

Surabaya, 8 Agustus 2018

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.106 kali, 1 untuk hari ini)