Ilustrasi/fiqhmenjawab.net


Ramainya masalah pebedaan terjemah dalam Al-Maidah 51 perlu diberi pencerahan bagi yang belum faham. Karena tampaknya ada yang terjemahan awliya’ itu “pemimpin-pemimpin”, dan ada terjemahan awliya’ itu “Teman Setia” . Ini bagi yang belum mampu memahami perlu mendapatkan penjelasan.

Auliya’ itu merupakan jamak taksir (plural) dari kata Wali. Dan kata wali itu merupakan kata musytarak, yang memiliki lebih dari satu arti. Wali itu bisa berarti teman setia atau kawan akrab, teman dekat, pembela, pelindung, pemimpin, penolong dan lain-lain. Jadi perbedaan terjemah awlya’ di situ sifatnya adalah perbedaan variatif, istilahnya ikhtilaf tanawwu’. Perbedaan macam ini, dalam ilmu tafsir dibolehkan dan dipakai.

Hal ini berbeda dengan yang disebut ikhtilaf tadhod (perbedaan yang sifatnya kontradiktif), yang memang tidak boleh. Misalnya, lafal awliya’ itu tadi ada yang mengartikannya: musuh, maka tentu tidak boleh, karena sudah menyimpang, bahkan kontradiktif sifatnya. Sehingga perbedaan yang sifatnya tadhod (kontradiktif) itu tidak ditolerir.

Seorang Doktor Tafsir menjelaskan (penjelasan selengkapnya dapat di simak di lanjutan tulisn ini): Kalau kita perhatikan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan shohabat, kecuali jumlahnya sangat sedikit, sifat perbedaannya pun adalah ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan pendapat yang sifatnya variatif), bukan ikhtilaf tadhod (perbedaan pendapat yang sifatnya kontradiktif). Misalnya, dalam menafsirkan shirothol mustaqim (QS 1:6), ada sebagian shohabat yang menafsikannya sebagai Al-Islam dan sebagian lainnya menafsirkannya sebagai Al-Qur’an, sebenarnya keduanya sama saja. Kenapa demikian ? Karena dalam Islam ini kita harus mengikuti Al-Qur’anul Karim, dan sebaliknya, yang bisa mengikuti Al-Qur’an dengan benar dan sempurna hanyalah ummat Islam. Jadi antara keduanya sebenarnya sama saja. Inilah yang disebut dengan ikhtilaf tanawwu’, dan ikhtilaf semacam ini diperbolehkan dalam Islam.

Berikut ini pelajaran dasar mengenai ilmu tafsir, silakan menyimaknya baik-baik.

***

Ushulut Tafsir

By Masjid Al Amanah  – Friday, 25 March 2011

Pada hari Rabu, 2 Februari 2010, Masjid Al Amanah Departemen Keuangan menyelenggarakan kajian rutin bulanan bersama Ust. DR Ahzami Samiun Jazuli, LC. Pada pertemuan kali ini Ustadz Ahzami menyampaikan tentang Ushulut Tafsir, dasar-dasar tafsir sebagai pengantar kajian tafsir yang Insya Allah akan rutin dilakukan tiap hari Rabu pekan pertama. Berikut resume kajiannya :

Pengertian

Tafsir Al-Qur’an adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang Al-Qur’anul Karim, dilihat dari berbagai sudut sesuai dengan kehendak Allah SWT seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dari pengertian ini kita mendapatkan pemahaman bahwa ketika ada seseorang yang menafsirkan Al-Qur’an, berarti ia tengah menafsirkan firman Allah SWT. Oleh karena itu diperlukan obyektivitas dalam menafsirkan Al-Qur’an, sehingga benar-benar sesuai dengan kehendak Allah SWT. Namun demikian, sesuai dengan kewajaran kemanusiaan dengan segala keterbatasannya, kualitas penafsiran Al-Qur’an yang dilakukan seseorang sangat bergantung pada kemampun seorang Mufassir (seorang Ahli Tafsir). Oleh karena itu, kalau membaca beberapa kitab tafsir dan kemudian membandingkannya, kita akan melihat perbedaan-perbedaan di dalamnya. Perbedaan ini terkait erat dengan kemampuan seseorang yang menafsirkan Al-Qur’an.

Macam-macam Tafsir Al-Qur’an

Macam-macam tafsir Al-Qur’an terjadi karena perbedaan metodologi dalam menafsirkan Al-Qur’anul karim. Secara umum, tafsir dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu tafsir bil Ma’tsur dan tafsir bir ro’yi:

1. Tafsir bil Ma’tsur
yaitu tafsir yang didasarkan pada riwayat-riwayat yang shohihah (benar) dari Rasulullah SAW, para Shohabat dan dari para Tabi’in yang senior. Sedangkan Tafsir bil Ma’tsur dibagi lagi menjadi :

a. Tafsirul Qur’an bil Qur’an

yaitu menafsirkan suatu ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lainnya. Misalnya ketika Allah berfirman :

{الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ } [الأنعام: 82]

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedholiman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:82)

Pada ayat di atas terdapat kata بِظُلْمٍ  bidhulmin (kedholiman). Apa yang dimaksud dengan kedholiman yang terdapat pada ayat ini ? Tentang maksud kedholiman ini diterangkan Allah SWT pada ayat yang lain dalam firmanNya :

{ وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان: 13]

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedholiman yang besar”. (QS. 31:13)

Pada Qs. Luqman ini kita ketahuilah bahwa kedholiman yang dimaksudkan pada ayat 82 Qs. Al-An’am tersebut adalah kesyirikan. Artinya, setiap manusia atau masyarakat yang hidupnya ternodai oleh syirik, dalam kehidupannya pasti tidak akan mendapatkan keamanan, seperti yang dimaksudkan pada Qs. Al-An’am ayat 82 di atas. Ketika Allah menegaskan bahwa orang yang tidak berbuat dholim adalah orang yang mendapatkan keamanan, ini artinya adalah bahwa jika dalam sebuah masyarakat kita saksikan maraknya praktek kesyirikan yang dilakukan anggota masyarakatnya, masyarakat tersebut pasti akan jauh dari kemanan, dan bahkan kehidupan mereka pasti akan terkena goncangan yang sangat dahsyat, serta penuh dengan ketakutan.

Contoh yang lainnya, ketika Allah SWT berfirman :

{صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7]

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. 1:7)

Pada ayat ini Allah menjelaskan adanya orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah SWT. Siapa mereka ? Allah menerangkan hal ini pada firmanNya :

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا } [النساء: 69]

Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)

Dari firman Allah di atas dapatlah kita ketahui bahwa yang dimaksud dengan orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah seperti yang terdapat pada Qs. Al-Fatihah ayat 7 adalah para Nabi, para Shiddiqqiin, para Syuhada’ dan orang-orang yang sholeh.

Di dalam ilmu tafsir, Tafsir Qur’an bil Qur’an (menafsirkan suatu ayat Al-Qur’an, dengan ayat Al-Qur’an yang lainnya) menduduki peringkat pertama dalam penafsiran Al-Qur’an, atau yang dikenal dengan istilah أصح طرق التفسير ashohhu thuruqit tafsiir, yaitu metodologi tafsir yang paling benar. Dan kitab tafsir yang banyak menggunakan metode tafsirul Qur’an bil Qur’an adalah Tafsir Ibnu Katsir. Dan bahkan Ulama Tafsir sepakat bahwa Tafsir Ibnu Katsir adalah kitab tafsir yang terdepan dalam hal Tafsirul Qur’an bil Qur’an.

b. Tafsir Qur’an bis Sunnah

Yaitu menafsirkan suatu ayat dalam Al-Qur’an dengan Sunnah Rasulullah SAW. Tafsir ini menempati urutan kedua dalam ilmu tafsir’ setelah tafsirul Qur’an bil Qur’an. Kalau kita tidak menemukan tafsir suatu ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lainnya, kemudian kita mencari tafsir ayat tersebut dengan Sunnah Rasulullah SAW. Kita telah memahami bahwa fungsi dari sunnah Rasulullah SAW adalah bayyinatu lil Qur’an (menjelaskan Al-Qur’anul Karim). Misalnya ketika Allah SWT berfirman :

{حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ} [البقرة: 238]

Peliharalah segala shalat, dan (peliharalah) shalat wustho. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (QS. 2:238)

Pada ayat ini Allah memerintahkan kaum muslimin untuk memelihara sholat, terlebih lagi sholat wustho (sholat tengah). Apa yang dimaksud dengan sholat wutho pada ayat ini ? Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan “Alaa inna sholatul wustho sholatul ‘Ashr (ketahuilah bahwa yang dimaksud dengan sholat wustho adalah sholat ‘Ashr)”.

c. Tafsirul Qur’an bi Aqwaali Shohaabah

Yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan ucapan para Shohabat Rasulullah rodliallahu ‘anhum jamii’an. Ketika penafsiran Al-Qur’an dengan Al-Qur’an tidak kita temukan, dan demikian pula dengan penafsiran Al-Qur’an dengan Rasulullah SAW juga tidak kita temukan, maka kita menafsirkan suatu ayat dalam Al-Qur’an dengan perkataan para Shohabat Rasulullah SAW. Mungkin kita bertanya, bukankah para shohabat adalah manusia biasa seperti kita ? Memang benar bahwa para sahabat Rasulullah SAW adalah manusia biasa. Namun ada konsideran yang menyebabkan mengapa perkataan shohabat menduduki peringkat ketiga dalam menafsirkan Al-Qur’an, diantaranya adalah :

1) Para Shohabat sangat memahami bahasa Arab dengan segala dialek qobilah-qobilahnya. Kita tahu bahwa Al-Qur’an menggunakan bahasa Arab, seperti bahasa Quraisy, Tamim, Tsaqif, dan lain sebagainya.
2) Para shohabat adalah orang-orang yang berinteraksi langsung dengan turunnya Al-Qur’anul Karim dan mengetahui langsung bagaimana mengaplikasi Al-Qur’anul Karim dalam kehidupan.

Contoh daripada Tafsirul Qur’an bi Aqwalish Shohabah banyak kita jumpai, diantaranya ketika Allah SWT berfirman :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (QS. 1:6)

Ayat ini berisi tentang permohonan seorang hamba kepada Allah SWT, agar Dia menunjuki ke jalan yang lurus (shirothol mustaqim). Apa shirothol mustaqim (jalan yang lurus) yang dimaksudkan pada ayat ini ? Dalam menafsirkan hal ini, sebagian shohabat mengatakan yang dimaksud shirothol mustaqim pada ayat ini adalah Al-Islam. Ini berarti bahwa ketika seorang hamba membaca ayat ini, berarti ia mohon kepada Allah SWT agar Dia menunjukinya kepada Islam. Sedangkan sebagian shohabat yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud dengan shirothol mustaqim di sini Al-Qur’an.

Dari pendapat para Shohabat Rasulullah tentang maksud dari shirothol mustaqim ini, seolah-olah terdapat perbedaan di dalamnya. Tetapi kenapa perkataan para shohabat tetap kita jadikan pedoman dalam menafsirkan Al-Qur’anul Karim ? Perlu kita pahami bahwa perbedaan yang terjadi diantara para shohabat ketika menafsirkan Al-Qur’an, jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan perbedaan pendapat yang terjadi pada para mufassir yang hidup setelah para Shohabat tersebut. Jadi secara umum para shohabat mempunyai pendapat yang sama dalam menafsirkan Al-Qur’anul Karim. Hal ini disebabkan mereka selalu menafsirkan Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya. Dan ketika hal itu tidak mereka dapatkan, maka mereka menafsirkan suatu ayat Al-Qur’an dengan penjelasan Rasulullah SAW. Dan ketika hal itu juga tidak mereka dapatkan, maka mereka berijtihad dengan pendapatnya.

Kalau kita perhatikan perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan shohabat, kecuali jumlahnya sangat sedikit, sifat perbedaannya pun adalah ikhtilaf tanawwu’ (perbedaan pendapat yang sifatnya variatif), bukan ikhtilaf tadhod (perbedaan pendapat yang sifatnya kontradiktif). Misalnya, dalam menafsirkan shirothol mustaqim di atas, ada sebagian shohabat yang menafsikannya sebagai Al-Islam dan sebagian lainnya menafsirkannya sebagai Al-Qur’an, sebenarnya keduanya sama saja. Kenapa demikian ? Karena dalam Islam ini kita harus mengikuti Al-Qur’anul Karim, dan sebaliknya, yang bisa mengikuti Al-Qur’an dengan benar dan sempurna hanyalah ummat Islam. Jadi antara keduanya sebenarnya sama saja. Inilah yang disebut dengan ikhtilaf tanawwu’, dan ikhtilaf semacam ini diperbolehkan dalam Islam.

d. Tafsirul Qur’an bi Aqwali Kibaarit Tabi’in

Menafsirkan Al-Qur’an dengan perkataan para Tabi’in yang senior. Berkenaan dengan manafsirkan Al-Qur’an dengan perkataan para Tabi’in ini ada perbedaan pendapat diantara Ulama’ Tafsir, dimana sebagian Ulama’ berpendapat bahwa perkataan para Tabi’in yang dapat dipergunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an hanyalah para Tabi’in yang senior, sedangkan sebagian Ulama’ lainnya mengatakan bahwa hal itu berlaku untuk seluruh Tabi’in, baik yang senior maupun yang yunior. Namun demikian kita lebih setuju bahwa yang bisa dipergunakan untuk menafsirkan Al-Qur’an hanyalah perkataan para Tabi’in yang senior saja, karena para senior Tabi’in inilah yang bertemu dengan mayoritas para Shohabat Rasulullah, sehingga sanadnya masih dekat dengan Rasulullah SAW. Yang termasuk dalam senior Tabi’in diantaranya adalah Mujaahid r.a., Hasan Al-Basri r.a., Muqotil, Ikrimah Ibnu ‘Abbas, Ath-Thowus dan sebagainya rodhiallahu ‘anhum jamii’an.

Dan subhanallah, kalau kita baca sejarah para kibaarut Tabi’in (Tabi’in yang senior), mereka ini dulunya adalah kaanu mawaalii (mereka dulunya adalah budak). Laula haa ulaa’ ba’dallahi subhanahu wata’ala (seandainya bukan karena mereka – setelah anugerah Allah SWT), niscaya Tafsir bil Ma’tsur tidak akan sampai kepada kita. Jadi demikian besar jasa para mantan budak tersebut bagi perkembangan Islam. Fakta ini hendaknya memotivasi kita dalam melakukan ‘amal Islami. Kita adalah manusia yang merdeka, sehat, bebas untuk belajar, namun satu kitab tafsir pun belum kita hasilkan, bahkan seringkali sekedar membaca Al-Qur’an saja malas.

2. Tafsir bir Ro’yi
Tafsir bir Ro’yi yaitu tafsir Al-Qur’an yang menitikberatkan pada penalaran (ijtihad). Tafsir bir ro’yi ada dua jenis, yaitu :

a. Tafsir bir ro’yi al-madhmum (tafsir bir ro’yi yang tercela)
yaitu menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pemikiran dan penalaran semata-mata, dan tidak mengkaitkannya dengan nash (ayat-ayat Al-Qur’an maupun Hadits Rasulullah SAW). Penafsiran Al-Qur’an seperti ini dilarang dalam Islam dan hukumnya haram, sesuai dengan penegasan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits

من تكلم في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار “

“Man takallama fil Qur’anil Karim bi ghoiri ‘ilmin fal yatabawwa’ maq‘adahu minan naar (barangsiapa berbicara/menafsirkan Al-Qur’an tanpa ‘ilmu, maka tempat kembalinya adalah neraka)”. Pada riwayat yang lain Rasulullah SAW mengatakan

 مَنْ تَكَلَّمَ فِي الْقُرْآنِ بِرَأْيِهِ فَأَصَابَ، فَقَدْ أَخْطَأَ

“Man takallama fil Qur’anil Karim bi ghoiri ‘ilmin fa ashooba faqod akhtho’ (barang siapa menafsirkan Al-Qur’anul Karim tanpa ilmu, sekalipun kebetulan benar maka tetap dianggap salah). Dengan hadits ini, maka seseorang dilarang untuk mengira-ngira ketika berbicara tentang Al-Qur’anul Karim, akan tetapi semua itu harus ‘ala bashiiroh (dengan pemahaman yang benar).

b. Tafsir bir ro’yi al-mamduh (tafsir bir ro’yi yang terpuji)

yaitu menafsirkan Al-Qur’anul Karim dengan penalaran, akan tetapi hal itu dilakukan masih dalam kerangka nash (keterangan dari Al-Qur’an dan Hadits), serta sesuai dengan ruh syari’at Islam, dengan ditunjang dengan qowa’idul lughoh (pemahaman tentang kaidah-kaidah bahasa Arab). Penafsiran seperti ini diperbolehkan dalam Islam.

Ketika menafsirkan Al-Qur’anul Karim, ada baiknya kalau kita menggunakan metode Tafsir bil ma’tsur dan sekaligus juga Tafsir bir Ro’yi, karena kedua-duanya sangat penting dalam membentuk persepsi Islam yang benar. Sebagaimana kita ketahui min khosho’ishul Islam (diantara keistimewaan Islam) adalah bahwa Islam adalah ats-tsabat (tetap atau solid atau kokoh atau tidak berubah). Dan agar kita bisa memahami Islam secara tsabat, maka kita harus memahami Al-Qur’an dengan tafsir bil ma’tsur, karena hal itu bersumber dari Tafsirul Qur’an bil Qur’an dan Tafsirul Qur’an bis Sunnah Rasulullah SAW. Ketika kita mengembalikan semua hal kepada ajaran Allah SWT seperti yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW termasuk ketika menafsirkan suatu ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an, maka asholah (keaslian) pemahaman Islam kita akan terjaga.

Selain bersifat tsabat (tetap dan tidak berubah), keistimewaan Islam yang lain adalah sifatnya yang muruunah (fleksibel), dan mampu menjawab semua tantangan yang berkembang dalam kehidupan manusia. Untuk memahami suatu ayat Al-Qur’an sesuai dengan konteks perkembangan yang terjadi dalam kehidupan itulah diperlukan Tafsir bir Ro’yi. Jadi tafsir bil ma’tsur kita pergunakan dalam rangka untuk membingkai pemikiran kita tentang Islam sehingga dalam mengamalkannya kita tidak kehilangan keasliannya, sehingga ummat tidak dibuat bingung karena penafsiran yang tidak mempunyai landasan yang kuat, sedangkan tafsir bir ro’yi diperlukan agar Islam tidak kaku.

Seperti kita pahami, banyak ayat dalam Al-Qur’an yang bisa ditafsirkan dengan beberapa penafsiran, yang dalam ilmu ushul fiqh disebut dhonniyu dalaalah. Namun kalau terhadap penafsiran pada ayat-ayat yang seperti ini tidak diberikan batasan yang jelas, maka akan sangat berbahaya bagi kehidupan kaum muslimin, karena mereka akan dibingungkan oleh penafsiran-penafsiran yang dilakukan orang yang memperturutkan hawa nafsunya. Dalam realita kehidupan, memang ada orang yang senang memperturutkan akalnya semata ketika menafsirkan suatu ayat Al-Qur’an, seperti yang dilakukan oleh kaum mu’tazilah. Dan ketika orang yang senang berbuat seperti ini kita tegur, biasanya mereka beralasan “Ayat ini kan dhonniyu dalaalah, boleh saja kamu berpendapat seperti itu, pendapat saya kan berbeda”. Kalau yang seperti ini diperturutkan, sangat mungkin Islam akan kehilangan keasliannya dan tidak ada qowa’id-nya lagi. Batasannya adalah bahwa ayat yang dikatakan dhonniyu dalaalah adalah ayat-ayat yang memang benar-benar dhonniyu dalaalah. Jangan sampai ayat-ayat yang shoriihah (ayat yang sudah jelas dalalahnya dan tidak menunjukkan dalalah yang lain) juga dikatakan dhonniyu dalaalah agar bisa ditafsirkan sesuai dengan kemauan hawa nafsunya.#

=>Jika anda ingin mendownload rekaman kajian, silahkan klik

disini    http://www.masjidalamanah.com/download/

Sumber : masjidalamanah.com

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 1.356 kali, 1 untuk hari ini)