Ada seorang ayah miskin dari keluarga besar yang memiliki banyak anak, dan mendapat warisan rumah-tua dan tanah-air dari mertuanya.

Karena tidak bisa ngapa-ngapain dan nggak punya duit, sang ayah tadi minta tetangganya untuk membangunkan rumah yang lebih baik, dan berkebun ditanah-air warisan milik keluarga mertuanya.

Sementara itu dengan alasan untuk bisa menghidupi anak-anaknya yang banyak itu, hari-hari sang ayah kerjanya ngutang kesana-kemari, sambil sesumbar, bahwa dia telah berbuat lebih baik untuk anak-anaknya, daripada perbuatan mertuanya.

Begitu rumahnya selesai dibangun, dan kebunnya mulai berbuah, rumah dan kebun itu dijual kepada tetangganya yang tadi membantunya. Sementara itu anak-anaknya yang semula tinggal gratis, sekarang harus mbayar sewa kost bila tinggal di rumahnya yang baru, dan harus membeli buah dari kebun yang ada tanah-airnya sendiri.

Ketika anak-anaknya ngomel, dan bahkan ada yang keberatan untuk mbayar sewa rumah, dan beli buah di kebun yang ada di tanah-air warisan leluhurnya itu. Sang ayah marah dan menilai anak-anaknya MALAS, maunya gratisan aja, dan tidak memiliki daya saing.

Kelakuan sang ayah seperti itu benar atau SALAH hayo …..

 — bertanya-tanya .

Via fb Suryo Prabowo

(nahimunkar.org)

(Dibaca 1.364 kali, 1 untuk hari ini)