.

 

JAKARTA (voa-islam.com) – Sedang ramai dibicarakan dikalangan Muslim melalui sosial media, di mana NU membawa anak-anak Muslim masuk ke Gereja diajarkan toleransi. Anak-anak itu diajarkan tentang toleransi antar agama-agama yang ada di Indonesia. Seperti ramai dibicarakan di : http://www.facebook.com/photo.php?Ibid=623974413067&set=a.100235496713544.182.

Ini sebuah langkah besar dari kalangan NU yang ingin menjadikan warganya sebagai golongan yang sangat toleran terhadap golongan agama lain, khususnya Kristen. Hal ini bukan sekarang saja.

Saat Natal lalu, Gus Nuril, juga memberikan ceramah di Gereja di sebuah kota di Jawa Tengah. Lebih-lebih Gus Dur sendiri pernah menjadi polemik, karena di dalam gambar nampak Gus Dur dibaptis. Ini bisa dilihat dalam YouTube.

Dibagian lain,  Pak Raden yang biasa  tampil di televisi, ia diminta mendongeng di depan  puluhan anak yang sudah berkumpul di Gereja Kristen Pasundan (GKP), Kramat Jati, Jakarta Timur. Meski tampil di rumah ibadah umat Kristen, puluhan perempuan berjilbab ikut hadir di aula gedung. Salah satunya  Lili, yang mengajak anaknya berusia 3 tahun.

Sebuah langkah yang sangat strategis yang dijalankan oleh Gereja dalam rangka melakukan usaha-usaha pendangkalan iman dan aqidah anak-anak Islam dengan menggunakan kedok toleransi.

Di mana anak-anak Islam akan larut ke dalam kondisi yang sangat mudah menuju ke arah murtad dari agamanya. Sedangkan Gereja dengan menggunakan tokoh seperti Pak Raden bercerita dan bertutur mengajak anak-anak Islam berkumpul diarahkan dan diajarkan tentang toleransi. (sumber : Dewan Gereja Indonesia/afgh/voa-islam.com) Rabu, 12 Rabiul Akhir 1435 H / 12 Februari 2014 20:48 wib

***

NU paling sering memberi aba-aba dengan ucapan “Al-Fatihah” tapi tidak mengamalkan isinya?

Di antara isi Al-Fatihah adalah berdoa agar dijhindarkan dari jalannya orang yang maghdhub (dimurkai, yaitu Yahudi) dan dhaallin (orang-orang sesat, yakni Nasrani).

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)

6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,

[صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS Al-Fatihah: 6-7).

 Dalam kitab Tafsir Jalalain yang biasa diajarkan di pesanren-pesantren NU, lafal maghdub itu adalah orang-orang Yahudi, dan dhaalliin itu orang-rang Nasrani. Ini teksnya:

“غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهِمْ” وَهُمْ الْيَهُود “وَلَا” وَغَيْر “الضَّالِّينَ” وَهُمْ النَّصَارَى

bukan (jalan) mereka yang dimurkai – yaitu orang-orang Yahudi– dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat—yaitu orang-orang Nasrani.  (Tafsir Jalalain QS Al-Fatihah: 7).

Ketika dirujukkan kepada Al-Qur’an dan juga kitab tafsirnya yang jadi pedoman NU, ternyata tingkah polah NU tidak cocok lagi. Lalu sebenarnya yang mereka jadikan rujukan itu apa?

(nahimunkar.com)