Bentrokan Berdarah dan Bakar-bakaran antara Satpol PP dan Pendukung Makam Mbah Priok

Penggusuran senantiasa mencekam bagi masyarakat. Barisan Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) dengan aneka peralatan dan seragamnya biasanya mendapatkan perlawanan dari masyarakat yang kena gusur. Kadang sampai ibu-ibu yang tidak mampu melawan dengan tenaga, diberitakan, sampai ada yang melawan dengan cara melepas seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat sambil lari-lari dan berteriak-teriak. Aneka berita yang seperti itu sering muncul dan telah berlangsung bertahun-tahun dan di berbagai tempat.

Penggusuran sangat mencekam masyarakat di mana-mana sejak pemerintahan Soeharto selama 32 tahun yang akhirnya lengser tahun 1998. Makam Mbah Priok di Jakarta Utara dekat Laut Jawa telah diancam penggusuran sejak 1997 menjelang berakhirnya kepemimpinan Soeharto.

Situs okezone memberitakan:

Teror terhadap makam wali Al Imam Al Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad Husain Ass Syafi’i Sunnira, atau kerap disebut Mbah Priok, bukan dimulai pada tahun 2003-2004. Namun menjelang keruntuhan orde baru.
“Ancaman dan upaya-upaya untuk menggusur makam sudah dilakukan sejak 12 tahun yang lalu. Tak jarang kami sebagai pengurus makam diancam untuk dibunuh, disantet, dan lain-lain,” ungkap pengurus makam, seperti dituturkan Pengurus makam, Habibina, kepada okezone, Kamis (14/1/2010).
Pada tahun 1997, tuturnya, berbagai cara dilakukan untuk menggusur dan membongkar lahan makam kramat. Ahli waris, dan para alim ulama khasaf sudah memperingatkan pada penguasa agar tidak mencoba-coba menggusur keberadaan Makam, tetapi tidak dihiraukan.
21 Agustus 1997 silam, saat proyek dan penggusuran serta pembongkaran paksa berjalan, terjadilah peristiwa-peristiwa aneh. “Alat-alat mesin berat yang digunakan untuk membongkar patah, buldozer terperosok ke dalam tanah, orang-orang yang terlibat dalam proyek pembongkaran banyak yang celaka, ada yang sakit, lumpuh, stroke, dan ada yang mati,” sebutnya. (okezone, Kamis, 14 Januari 2010 – 20:34 wib).

Dalam sejarah penggusuran di Tanjung Priok, –kalau boleh disebut begitu— peristiwa berdarah kemarin Rabu 14/ 4 2010 atau 29 Rabi’ul Akhir 1431H adalah yang terbesar.
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono menjelaskan, berdasarkan laporan, jumlah korban luka-luka berat dan ringan mencapai 144 orang, terdiri atas 11 orang polisi, 69 orang Satpol PP, 53 orang masyarakat sipil, dan dua reporter televisi.

Sumber lain menyebutkan, korban tewas dua orang. Sedang mobil yang dibakar massa ada 70 mobil di antaranya container, water canon, dan alat berat untuk menggusur, beko.

Di sela-sela bentrok berdarah yang mencekam antara satpol PP dibantu polisi berhadapan dengan massa pendukung makam Mbah Priok itu ada hal-hal yang menunjukkan semacam keaslian tingkah mereka. Di antaranya ada orang-orang yang menjarah, dan setelah mobil-mobil dibakar kemudian mereka membawa gerobak untuk membawa besi-besi yang dipreteli dengan modal kunci Inggris. Mobil-mobil yang baru saja dibakar itu kemudian dipreteli dan besi-besinya mereka ambili.

Koran Pos Kota memberitakan, sekitar 70 mobil dibakar oleh massa simpatisan makam Mbah Priok. Tiga puluh dua mobil diantaranya milik polisi termasuk satu water canon. Sedangkan sisanya milik satpol PP dan dua beko.

Aksi anarkis ini terpicu karena penertiban gapura makam Mbah Priok. “Kami sudah sebel banget sama Satpol PP. kenapa mereka tidak membela kami yang rakyat kecil ini dan kecintaan kami kepada Habib mau dihilangkan,”kata Agus, satu simpatisan Makam Mbah Priok.

perlengkapan Satpol PP, seperti tameng, rompi, topi, helm dan tas ranselnya menjadi jarahan massa di sekitarnya. Pelaku asik mengumpulkan potongan besi yang masih utuh maupun yang sudah gosong terbakar.

Bahkan ada sebuah motor mio yang sudah terbakar hanya tinggal rangkanya didorong warga yang hanya tersisa selain besi adalah ban belakangnya saja.

“Lumayan dikumpuli nanti dikiloan,” kata salah satu warga sambil membersihkan besinya.

Seusai Magrib setelah kondisi tenang dan kepulan asap ban, warga sebagian menenteng potongan besi dari mobil yang terbakar tersebut.

(lina/sir) (http://www.poskota.co.id/berita-terkini/2010/04/14/70-mobil-dibakar-massa, Rabu, 14 April 2010 – 20:25 WIB).

Sedangkan seperti apa kelakuan pemilik mobil, dapat dilihat pula dalam berita, di antaranya ternyata ada minuman keras di dalam mobil. Vivanews memberitakan, hingga pukul 01.10 WIB, api masih berkobar dari lima mobil. Sesekali terdengar letusan dari tangki mesin mobil tersebut. Sebelumnya warga sempat menemukan minuman keras di satu mobil dengan merek Civas Regal.

(VIVAnewshttp://metro.vivanews.com/news/read/144121-massa_bajak_kontainer_tabrak_mobil_satpol).

Untuk apa arela itu?

Media Indonesia memberitakan, Penggusuran Makam Mbah Priok telah diagendakan pemerintah sejak lama. Pemerintah Kotamadya Administrasi Jakarta Utara telah mengeluarkan tiga kali Surat Perintah Bongkar sejak Februari 2010 untuk menggusur makam yang terletak di Terminal Peti Kemas Koja, Jakarta Utara ini.

Penggusuran Makam Mbah Priok dilakukan untuk kepentingan pelebaran pelabuhan Tanjung Priok berskala internasional. Area milik PT.Pelindo ini direncanakan akan disterilkan dari aktivitas yang tidak berkaitan dengan perkapalan. Selain itu area tersebut juga termasuk dalam jalur rencana pembangunan jalan tol. (*/OL-02) (mediaindonesia.com, Rabu, 14 April 2010 09:07 WIB).

Keserakahan manusia dan tidak taat agama

Dari berita-berita itu, terjadinya bentrok berdarah ini factor yang bisa dilihat adalah keserakahan manusia, kedhaliman atau kesewenang-wenangan, tidak taat kepada agama. Dan itulah yang telah disabdakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَمَا لَمْ تَحْكُمْ أَئِمَّتُهُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ وَيَتَخَيَّرُوا مِمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ (رواه ابن ماجه واللفظ له والبزار والبيهقي – صحيح الترغيب والترهيب – الألباني (ج 2 / ص 157) 1761 – ( صحيح لغيره )

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum dengan Kitab Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.” (HR Ibnu Majah nomor 4009, lafal baginya, dan riwayat Al-Bazar dan Al-Baihaqi, shahih lighoirihi menurut Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat-Tarhib hadits nomor 1761).

Yang perlu direnungkan, dari kedua belah pihak (penguasa dan massa) itu apakah pemimpin-pemimpin mereka itu menjalankan hukum dengan Kitab Allah dan mematuhi apa yang diturunkan Allah Ta’ala?

Pihak penguasa, apakah para pemimpinnya melaksanakan keadilan sebagaimana yang digariskan dalam Kitab Allah Ta’ala? Sedang pihak penguasa kuburan itu apakah yang mereka yakini selama ini sesuai dengan Kitab Allah?

Selama kedua belah pihak dari para pemimpin (yang formal dan non formal) baik mengenai makam itu maupun secara umum di Indonesia ini bahkan di dunia ini kalau tidak menjalankan hukum dengan Kitab Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah; maka Allah akan menjadikan saling memerangi di antara mereka.

Itu ancaman dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenyataan telah terjadi. Tinggal kita mengambil pelajaran darinya. (nahimunkar.com).

(Dibaca 426 kali, 1 untuk hari ini)