• Menurut keterangan penduduk setempat, para pengikut aliran Syiah sengaja menanam ranjau di perkampungan mereka. Ranjau yang ditanam tersebut diledakkan menggunakan remote control, akibatanya terdapat korban luka terkena ranjau tersebut.
  •  Data sementara yang berhasil dikumpulkan oleh PCNU Sampang, bentrok yang kedua kalinya yang memakan korban jiwa tersebut dipicu oleh letusan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam disekitar tempat kejadiajn perkara (TKP). Bom yang ditanam di tanah itu mengenai sejumlah warga yang tidak sengaja menginjak. Letusannya sangat kuat dan terdengar hingga satu kilometer.

SURABAYA – Terkait kerusuhan antara aliran sesat Syiah dan umat Islam di desa Karanggayam, Omben, Sampang, Madura Jawa Timur, Pengurus Cabang Nahdhotul Ulama (PCNU) Kabupaten Sampang dan Pengurus Wilayah Nahdotul Ulama (PWNU) Jawa Timur menerjunkan Tim Pencari Fakta (TPF).
Hasilnya, TPF NU menemukan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam di sekitar lokasi kejadian.
“PCNU sejak kemarin tengah mengumpulkan sejumlah data dan informasi dari lapangan. Data sementara yang berhasil dikumpulkan oleh PCNU Sampang, bentrok yang kedua kalinya yang memakan korban jiwa tersebut dipicu oleh letusan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam disekitar tempat kejadian perkara,” kata Wakil Ketua PCNU Sampang H. Nuruddin JC dalam keterangan rilisnya seperti dikutip okezone, Senin (27/8/2012).

Menurutnya, letusan tersebut sangat kuat bahkan terdengar hingga satu kilometer. Ranjau rakitan itu memiliki daya ledak yang luar biasa dan mematikan. Sebab, ranjau tersebut dicampur dengan kelereng.

Buktinya, lanjut Nurruddin, sejumlah warga yang terluka terkena serpihan kelereng sedalam dua centimeter di bagian paha dan kaki.

…Data sementara yang berhasil dikumpulkan oleh PCNU Sampang, bentrok yang kedua kalinya yang memakan korban jiwa tersebut dipicu oleh letusan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam disekitar tempat kejadian perkara

Mendengar letusan itu, tanpa dikomando ribuan massa yang berada di desa terdekat menuju lokasi dengan membawa senjata tajam. Saat itu, di lokasi sudah ditemukan banyak korban yang terkena ledakkan bom itu. Hingga akhirnya bentrok tak terhindarkan.

“Mereka saling serang dengan senjata tajam, batu, kayu dan bom molotov,” tambahnya.
Oleh karena itu, sebagai organisasi Islam terbesar, pihaknya meminta kepada aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Termasuk mengusut perakit dan orang yang menanam bom rakitan mirip ranjau itu. Yang terpenting saat ini, lanjutnya, adalah menangani para korban-korban akibat kerusuhan tersebut dan melokalisir agar konflik ini tidak menyebar ke tempat lain.
“Sebab kelompok Syiah di Sampang tidak hanya ada di Dusun Nangkernang, tetapi ada di beberapa desa di Kabupaten Sampang. Tetapi mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan dan menghormati kelompok lain yang jumlahnya lebih banyak,” tandasnya.

Ia juga mengatakan, hasil temuan TPF ini akan disampaikan ke Pengurus Besar Nahdhotul Ulama (PBNU), Pemerintah dan Aparat Hukum. Sehingga hasilnya dapat menjadi referensi untuk lahirnya sebuah resolusi konflik yang lebih komprehensif.

“Penyelesaian secara damai dan penuh kekeluargaaan kan menjadi acuan para ulama Sampang,” tukasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, menurut keterangan penduduk setempat para pengikut aliran Syiah sengaja menanam ranjau di perkampungan mereka. Ranjau yang ditanam tersebut diledakkan menggunakan remote control, akibatanya terdapat korban luka terkena ranjau tersebut. [Widad/okz] (voa-islam.com) Rabu, 29 Aug 2012

***

Kronologi Konflik Warga dengan Syiah Versi NU Sampang

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama ( PWNU) Jawa Timur membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) Konflik Nangkernang. TPF tersebut ditugaskan untuk mengumpulkan fakta, data dan informasi di lapangan baik dari kalangan Sunni maupun Syiah.

Dalam rilis yang dikirim ke beritajatim.com, Senin (27/8/2012), Wakil Ketua PCNU Sampang, H Nuruddin  JC menjelaskan bahwa hasil TPF bakal disampaikan kepada PBNU, pemerintah dan aparat hukum, sehingga hasilnya dapat menjadi referensi lahirnya sebuah resolusi konflik yang lebih komprehensif. Penyelesaian secara damai dan penuh kekeluargaaan kan menjadi acuan para ulama Sampang.

Seperti diberitakan sebelumnya, konflik SARA kembali pecah di Dusun Nangkernang, desa Karanggayam, Omben, Sampang, Minggu (26/8). Tercatat dua orang korban meninggal dunia, satu luka parah dan puluhan lainnya luka ringan dan puluhan rumah terbakar. “Korban luka selain terkena sabetan clurit juga terkena letusan bom rakitan,” katanya.

PCNU sejak kemarin tengah mengumpulkan sejumlah data dan informasi dari lapangan. Data sementara yang berhasil dikumpulkan oleh PCNU Sampang, bentrok yang kedua kalinya yang memakan korban jiwa tersebut dipicu oleh letusan bom rakitan mirip ranjau yang sengaja ditanam disekitar tempat kejadiajn perkara (TKP). Bom yang ditanam di tanah itu mengenai sejumlah warga yang tidak sengaja menginjak. Letusannya sangat kuat dan terdengar hingga satu kilometer.

Mendengar ada letusan bom, tanpa dikomando ribuan warga sekitar dan diantaranya desa terdekat menuju lokasi dengan membawa senjata apa adanya. Di lokasi sudah ditemukan banyak jatuh korban bom. Bentrok dua warga itu akhirnya tak terhindarkan. Mereka saling serang dengan senjata tajam, batu, kayu dan bom molotov.

Diakui, awalnya kelompok anti syiah berdemo secara damai, tidak membawa senjata tajam. Mereka meminta bus yang akan membawa anak-anak itu kembali ke rumahnya, mereka kuatir anak-anak itu sengaja dicuci otaknya menjadi penganut faham aliran sesat seperti Tajul Muluk yang terbukti bersalah menganut ajaran sesat. tapi demo damai itu disikapi secara keras oleh kelompok syiah dengan mengacungkan clurit dan pedang, bahkan kelompok sunni ada yang terkena bom rakitan.

Melihat situasi seperti itu, kelompok sunni tersebut tersudut dan mundur ke rumahnya masing-masing, mereka mengambil benda tajam, kayu dan batu seadanya. Bentrokpun tak bisa dihindari. Mereka saling serang dengan senjata tajam dan bom rakitan. Sehingga banyak jatuh korban dari kedua belah pihak. “Jadi tidak benar yang menyerang hanya satu pihak. Kedua pihak sama sama menyerang. Kami tidak ingin melindungi siapapun. Itu temuan kami di lapangan” tegasnya.

Karena itu, organisasi Islam terbesar di Sampang tersebut meminta polisi juga mengusut tuntas kasus tersebut seadil-adilnya termasuk mengusut perakit dan orang yang menanam bom rakitan mirip ranjau. bom rakitan itu berdaya ledak luar biasa dengan sifat mematikan. Isinya bahan kimia dicampur kelereng. Buktinya warga yang terluka akibat bom, rata-rata terkena serpihan kelereng sedalam 2 cm di paha dan kaki.

“Bayangkan kalau terkena kepala. Berapa korbannya. jelasnya. Kalau melihat adanya bom rakitan yang ditanam di tanah sepertinya ada yang mensekenario untuk perang,” katanya.

(fq/beritajatim)/ermslm | Senin, 27 Agustus 2012 – 20:18:13 WIB

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.214 kali, 1 untuk hari ini)