Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Semakin ke sini, semakin tahulah bahwa perkataan manusia selain Nabi, sesaleh apapun, bukanlah hujjah secara dzat perkataannya. Jika konklusi hasil istinbath ulama manapun, mungkin saja salah, maka lebih-lebih yang belum se-rutbah dengan ulama.

Kadang ada ulama berbicara tentang hewan untuk menarik kesimpulan hukum halal-haramnya, tanpa tabayyun langsung ke ‘pakar satwa’. Pakar satwa setelah menyimak penjelasan ulama tentang hewan, justru senyam-senyum. Karena yang dijelaskan ulama tersebut berlawanan dengan realita.

Kadang ada ulama/ustadz berbicara tentang suatu permasalahan sosial, lalu menghakimi dan menghukumi begini begitu. Tapi waqi’nya tidak beliau fahami dengan baik. Malah bisa hanya menelan kalam sepihak. Akhirnya, chaos terjadi. Kemudian grassroot berperang.

Segala sesuatu di dunia ini tidak bisa ditanyakan kepada ulama apalagi ustadz. Contoh dalam hal management. Jangankan ustadz, ikhwan biasa saja, yang biasa main di lapangan dan puas terik matahari, belum tentu paham urusan management, pasar dan kondisi terkini dengan baik. Bencananya, kadang beberapa ikhwah istifta’ (minta fatwa) pada ustadz tentang fulan, atau management fulan, atau pasar fulan atau atau atau. Mungkin karena saking hormatnya pada ustadz, hal yang jauh di luar jangkauan ilmunya ustadz, tetap ditanyakan padanya. Bencana lebih besar, jika ustadznya juga merasa kadung diustadzkan, maka jawab tanpa meminta penjelasan lebih detail. Walau kadang kerjaan beberapa ikhwah, memanipulasi atau meng-kamuflase persoalan, supaya mendengar jawaban yang paling memuaskan…terutama untuk menyerang pihak yang tidak mereka sukai.

Kalau perkataan guru selalu benar, maka masukkan nama pak guru ke kitab-kitab Ushul Fiqh. Ada tambahan dalil syar’i, mengalahkan Qaul Shahabah.

Jika ada judgment seorang ustadz tentang suatu kasus sebagai ‘gak boleh’, maka belum tentu kemutlakan judgment tersebut tidak bisa di-taqyid.

Berusahalah berlaku adil, walau belum tentu bisa 100%, dan memang kita masih belum bisa berlaku adil. Bahkan, taqlid buta dan ta’ashshub (fanatik) majelis bisa jadi masih ada di diri kita. Fanatik kampus bisa ada, fanatik majelis bisa ada, fanatik guru bisa ada. Dan kategori terakhir ini paling halus, selain paling keras.

If you don’t agree with my teacher, it means you are against my teacher. Bentuk fanatik yang tidak dideklarasikan, tapi secara lisanul hal, diamalkan.

ألا تتقوا الله؟

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 2.103 kali, 1 untuk hari ini)