Anas Urba_823472386473

Ilustrasi: news.viva.co.id

Dijadikannya Anas Urbaningrum sebagai tersangka bukan melulu menjadi kabar buruk. Justru, Anas diharapkan bisa membongkar kasus korupsi lainnya di lingkungan politikus dan pejabat negara.
“Kasus ini bisa membuka kasus yang lebih besar, di sini Anas bisa mengatakan lawan dan bongkar dan sangat bagus itu bagi rakyat Indonesia,” kata praktisi hukum Ahmad Rivai di diskusi Polemik Anas Buat KPK Panas, Jakarta, Sabtu (23/2).

Ke depannya, Anas juga diharapkan bisa memposisikan diri sebagai rekan KPK seperti yang dilakukan Nazaruddin. Dengan ini Anas mungkin bisa dimaafkan masyarakat.

Anas harus jadi rekanan keadilan, bisa enggak menjadi Nazaruddin? Ini momentumnya jikaAnas ingin membersihkan politisi dari korupsi. Masyarakat akan memaafkan. Anas kan banyak sumber informasi. Nazaruddin saja bisa,” kata pengamat hukum UI Churdy Sitompul.

Sore kemarin, Anas telah ditetapkan sebagai tersangka kasus Hambalang dan dicegah ke luar negeri.

[did] Reporter : Mustiana Lestari/ Sabtu, 23 Februari 2013 10:28:18/ mrdkcom, ‘Anas harus seperti Nazaruddin, berani bongkar korupsi’

***

Sebagaimana diketahui, korupsi di Indonesia yang besar-besar belum tentu disentuh. Di antaranya pernah disinggung oleh seorang penulis yang ringkasannya begini:

Di balik penangkapan Presiden PKS

  • Nyatanya tingkat korupsi di Indonesia tak pernah berkurang dengan kehadiran KPK.
  • Terbukti KPK tak juga mengusut perkara korupsi yang merugikan negara  Rp 6,7 trilyun dalam kasus Bank Century yang melibatkan bekas Menteri Keuangan Sri Mulyani, Wakil Presiden Budiono atau bahkan Presiden SBY sendiri. KPK tak menuntaskan kasus Hambalang yang merugikan negara lebih Rp 2 trilyun, dan membawa-bawa nama Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, selain Menpora Andi Mallarangeng .

Peristiwa terakhir yang paling banyak dibicarakan orang adalah pemberitaan koran berbahasa Inggris, The Jakarta Post edisi 30 dan 31 Januari 2013, tentang SPT (Surat Pemberitahuan) pajak keluarga Istana: SBY dan dua putranya, Mayor Agus Harimurti, dan Edhie ‘’Ibas’’ Baskoro.

Ternyata The Jakarta Post menemukan ketidak-sesuaian atau ketidak-benaran  ketiganya. Materi di satu SPT berbeda dengan SPT lainnya. Padahal kebohongan dalam SPT mendapat ancaman pidana. Tapi tentu saja KPK tak akan berani mengusut perkara ini.

  • Mereka hanya asyik menangkap koruptor-koruptor yang tak punya beking kuat.

https://www.nahimunkar.org/di-balik-penangkapan-presiden-pks/?fb_source=pubv1

(nahimunkar.com)

(Dibaca 360 kali, 1 untuk hari ini)