Beranikah MUI Fatwakan Haram Kerjasama dengan Komunis, Haram Pidato Pakai Salam Oplosan (Salam Islam Dilanjutkan dengan Salam-salam Agama Lain), dan Haram Doa Antar Agama


Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Itjima Ulama Komisi Fatwa ke-7 2021 pada bulan Juli mendatang. Foto/MUI

(Silakan klik di judul-judul biru tersebut)

Adapun hukum salam oplosan (Salam Islam Dilanjutkan dengan Salam-salam Agama Lain) yang sering dilakukan orang2 yang mengku Islam tapi sama sekali tidak menjaga keyakinan Islamnya, maka sudah diperingatkan oleh MUI Jawa Timur (MUI Jawa Timur Imbau Pejabat Muslim Tidak Ucapkan Salam Lintas Agama)

, namun kelihatannya mereka malah nekat, dan bahkan ada ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama, Mukhlis Hanafi membela salam oplosan yang rawan kemusyrikan dan kemurtadan itu. (Aneh, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama, Membela Salam Oplosan Agama?)

Bahkan ada juga yang mengusulkan agar dipakai saja ‘salam pancasila’ (untuk mengganti dan membuang salam Islam?)

***

Bila ‘Salam Pancasila’ dan ‘Salam Oplosan’ untuk Ganti Salam Akhir Shalat

Posted on 11 Agustus 2020

by Nahimunkar.org

Ada orang yang mengusulkan agar salam Islam ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ diganti dengan Salam Pancasila. Alasannya ya dia bikin-bikin sekenanya.

Yudian Ketua BPIP/ Rektor UIN Jogja Usulkan Ganti Assalamu’alaikum dengan Salam Pancasila?
https://www.nahimunkar.org/yudian-ketua-bpip-rektor-uin-jogja-usulkan-ganti-assalamualaikum-dengan-salam-pancasila/


Ada pula orang-orang yang mengamalkan dalam membuka pidatonya dengan salam oplosan. Itu terjadi di mana-mana. Yaitu salam Islam ‘Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh’ dilanjutkan dengan salam-salam agama-agama lain.

Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa

Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang

 OKT 22

Salam ‘Oplosan’ Merusak Iman dalam Pidato dan Doa pada Sidang Tahunan MPR 16 Agustus 2019

https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-merusak-iman-dalam-pidato-dan-doa-pada-sidang-tahunan-mpr-16-agustus-2019-2/

Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.
Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).
Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

https://www.nahimunkar.org/salam-oplosan-mencopot-iman-miras-oplosan-mencopot-nyawa/

Orang-orang yang mengamalkan salam oplosan ataupun mengusulkan untuk mengganti salam Islam dengan salam Pancasila itu sudah ‘lancang pangucap’ (Bahasa Jawa, lancang dalam berkata-kata). Sudah menginterupsi, menginovasi, dan mengintervensi agama Islam yang itu hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada yang berhak untuk mengaduk-aduk semaunya, apalagi memasukkan hal-hal yang sangat bertentangan dengan Islam.

Itu disamping ‘lancang pangucap’, masih pula mengubah kayakinan Islam, dari Tauhid (menyembah hanya kepada Allah Ta’ala) menjadi syirik (menyekutukan Allah dengan lain-Nya). Satu kemunkaran terbesar alias paling puncak. Makanya bila sampai meninggal belum bertaubat, akibatnya masuk neraka selama-lamanya dan haram masuk surga, seperti telah ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maaidah ayat 72 di atas.

Konsekuensi logis dari orang yang mau mengganti Assalamu’alaikum dengan salam Pancasila maka ketika dia mengakhiri shalatnya atau bahkan jadi imam shalat, maka shalatnya ditutup dengan ‘Salam Pancasila (toleh kanan), ‘Salam Pancasila’ (toleh kiri).

Astaghfirulaah… Astaghfirullaah… Astaghfirullaah…

Demikian pula konsekuensi logis dari orang yang mengamalkan salam oplosan dalam membuka pidato-pidatonya, maka seperti imam besar Masjid Istiqlal Jakarta Nasaruddin Umar (wong NU), Ketua Lajnah Pentashihan Al-Qur’an Kementerian Agama Mukhlis Hanafi (wong NU juga, sebagaimana Yudian Wahyudi pengusul salam Pancasila itu juga wong NU pula), Mukhlis Hanafi menulis pembelaan terhadap Salam Oplosan di media Kemenag, dan siapa saja yang berbuat lancang begitu itu, ketika mereka mengakhiri shalatnya atau bahkan jadi imam shalat, (konsekuensi logisnya) maka shalatnya ditutup tidak cukup dengan yang biasa dalam Islam yaitu ‘Assalamu’alaikum warahmatullaah’, tetapi masih dilanjutkan dengan salam agama Hindu (yang aqidahnya tidak sama dengan Islam tersebut) dan salam-salam agama lain. Maka sempurnalah praktek amalan kemusyrikan mereka.

Dari konsekuensi logis seperti itu akan lebih sempurna lagi, ketika dipimpin oleh ulamanya (wong NU juga) yang telah bertekad menerapkan Islam Nusantara.

Di Depan Partai Nasdem, Ma’ruf Amin Janji Terapkan Islam Nusantara Jika Terpilih

 
 

Posted on 17 September 2018

by Nahimunkar.org
https://www.nahimunkar.org/di-depan-partai-nasdem-maruf-amin-janji-terapkan-islam-nusantara-jika-terpilih/

 

Ketika sudah begitu, konsekuensi logisnya pula, maka Dzikir pagi dan petangnya, di antaranya diganti dengan:

 

Rodhiitu bi…. robban

 

Wa bi… (Islam Nusantara) diinan

 

Wa bi…. nabiyyan

 

 

Komplitlah sudah dalam merusak agama secara ramai-ramai menggunakan kekuasaan yang duit gaji mereka disedot dari rakyat yang penduduknya mayoritas Muslim, bahkan jumlah penduduk Muslimnya terbesar di dunia. Betapa mengerikannya…

 

Na’uudzubillaahi min dzalik!

 

(nahimunkar.org)

***

Mari kita simak artikel mengenai haramnya gunakan salam agama selian Islam berikut ini.

***

Hukum Salam Menggunakan Ucapan Salam non-Muslim



Salah satu syiar Islam adalah menebar salam kepada sesama muslim sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam

Jangan Berlebihan dalam Toleransi

Sebagian kaum muslimin ada yang menggunakan salamnya dengan menggabungkan salamnya muslim dan salam non-muslim. Tujuan utamanya adalah ingin menunjukkan toleransi dan ingin menyapa lebih hangat. Hal ini TIDAK diperkenankan oleh syariat dengan alasan:

Baca Juga: Toleransi Bukan Berarti Korbankan Akidah

Bolehkah Memulai Salam kepada non-Muslim?

Hukum asalnya seorang muslim tidak boleh memulai salam kepada non-muslim. Apabila memulai salam saja tidak boleh, maka apalagi salam menggunakan salam non-muslim?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ 

“Janganlah kalian memulai kaum Yahudi dan jangan pula kaum Nashrani dengan ucapan salam.” [HR. Muslim]

An-nawawi menjelaskan,

قال بعض أصحابنا يكره ابتداؤهم بالسلام و لا يحرم، وهذا ضعيف، لأن النهي للتحريم فالصواب تحريم ابتدائهم

“Sebagian dari ulama mazhab menyatakan makruhnya memulai salam (kepada orang kafir), tidaklah diharamkan. Pendapat ini lemah, karena (konteks) larangan menunjukkan keharaman. Yang benar adalah haram memulai salam kepada mereka.” [Al-Azkar 1/323]

Baca Juga: Bukti Toleransi Islam Terhadap Agama Lainnya

Bolehkah Mendahului Salam dengan Ucapan Umum?

Perlu diketahui agama Islam bukanlah agama yang kaku total, para ulama menjelaskan bahwa boleh mendahului salam apabila ada kebutuhan dan mashlahat yang lebih besar, akan tetapi salamnya TIDAK menggunakan salam non-muslim. Gunakan salam secara bahasa misalnya selamat pagi, selamat malam atau selamat datang. Dalam al- Mausu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan,

وإذا كانت هناك حاجة داعية إلى بدء الكافر بالتحية فلا حرج فيها حينئذٍ ، ولتكن بغير السلام ، كما لو قال له : أهلاً وسهلاً أو كيف حالك ونحو ذلك . لأن التحية حينئذ لأجل الحاجة لا لتعظيمه .

“Apabila ada kebutuhan/hajat untuk memulai salam, maka tidaklah mengapa, akan tetapi tidak menggunakan salam (doa keselamatan). (boleh) Mengatakan  ‘ahlan wa sahlan’ (selamat datang), ‘Kaifa haluk’ (bagaimana kabar) dan sejenisnya. Salam saat itu karena ada hajat, bukan untuk menghormati berlebihan’.” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah 25/168]

Demikian juga penjelasan Ibnul Qayyim

” و قالت طائفة – أي من العلماء – : يجوز الابتداء لمصلحة راجحة من حاجة تكون إليه ، أو خوف من أذاه ، أو لقرابة بينهما ، أو لسبب يقتضي ذلك

 “Sebagian ulama menjelaskan, boleh mendahului salam karena ada mashlahat yang lebih besar, misalnya ia membutuhkannya, takut dari gangguannya atau karena ada hubungan kerabat atau sebab lain yang menuntut ia harus memulai salam.” [Zadul Ma’ad 2/424]

Baca Juga: Menyoal Kembali Arti Toleransi Dalam Momentum Perayaan Natal

Macam-Macam Salam non-Muslim

Apabila kita melihat arti dan makna salam milik non-muslim tersebut, maka terdapat makna pengagungan terhadap agama mereka dan tuhan mereka.misalnya:

Salam Agama Hindu:
Om Swastyastu artinya ‘Semoga Selamat dalam Lindungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa’

Salam Agama Budha:
Namo Buddhaya artinya ‘Terpujilah Semua Buddha’

Salam Agama Kristen:
Shalom artinya ‘Keselamatan’. [Sumber: FB ustadz Dony Arif Wibowo]

Tentu hal ini tidak tepat dan sangat fatal, kita meminta doa perlindungan dan keselamatan dengan tuhan selain Allah.

Menggunakan Salam Islam kepada non Muslim?

Kemudian perhatikan poin ke-4:

“Apabila kita menggunakan salam secara Islam saja karena kita negara mayoritas Islam, maka hal ini tidak lah mengapa, walaupun ada juga yang tidak bergama Islam, selama kita bermaksud menujukan pada muslim saja. Selama ini, inilah yang berjalan dan tidak merusak toleransi sama sekali.”

Secara hukum hal ini diperbolehkan, sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar Al-Asqalani,

جواز السلام على المسلمين إذا كان معهم كفار وينوي حينئذ بالسلام المسلمين.

“Bolehnya mengucapkan salam  kepada kaum muslimin apabila bersama mereka orang kafir dan berniat salam itu hanya untuk muslim saja.” [Fathul Bari 8/230]

Demikian semoga bermanfaat

@ Lombok, Pulau seribu masjid

Penyusun: Raehanul Bahraendr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK 

 
 

Artikel www.muslim.or.id

(nahimunkar.org)

***


MUI Akan Bahas Komunisme hingga Khilafah di Ijtima Ulama 2021

JAKARTA, iNews.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Ijtima Ulama Komisi Fatwa ke-7 2021 pada Juli mendatang. Terdapat tiga tema besar yang akan diangkat dalam forum ini yaitu masalah strategis kebangsaan, fikih kontemporer, dan peraturan perundang-undangan.

Ijtima Ulama merupakan kegiatan yang menghadirkan berbagai kalangan ahli dan diadakan setiap tiga tahun sekali guna menghasilkan berbagai fatwa-fatwa terkini sesuai dengan perkembangan zaman.

“Kita diskusikan lebih lanjut mengenai tema masalah strategis kebangsaan, fikih kontemporer, dan peraturan perundang-undangan,” ujar Wakil Ketua Komisi Fatwa Prof Amin Suma dikutip dalam laman resmi MUI, Jumat,(4/6/2021).

Pada tema pertama akan membahas terkait masalah strategis kebangsaan seperti komunisme, panduan pilpres dan pilkada, dan khilafah.

“Tema kedua, membahas mengenai masalah fikih kontemporer yaitu zakat perusahaan dan saham, pernikahan dan perceraian online, pinjaman online, salam dan doa lintas agama, transplantasi rahim, ucapan selamat hari raya agama lain, dan pelaksanaan fatwa tajhiz janaiz Covid-19,” katanya.

Terakhir, mengenai peraturan perundang-undangan yang meliputi pembahasan mengenai tata kelola sertifikasi halal, Rancangan Undang-undang (RUU) larangan minuman beralkohol, RUU PIP, KUA sebagai layanan agama-agama serta RUU HMPA.  Hadir Ijtima Ulama Komisi Fatwa ke-7 2021, lembaga Fatwa masing-masing seperti ormas Islam, perguruan tinggi, dan pesantren di Indonesia. Editor : Faieq Hidayat/ www.inews.id.
Widya Michella · Jumat, 04 Juni 2021 – 20:35:00 WIB

***

MUI Akan Gelar Ijtima Bahas soal Komunisme, Salam (Oplosan) Lintas Agama, dan Doa antar Agama

Posted on 8 Juni 2021

by Nahimunkar.org

 

  • Penjajah Kafir Belanda Berhasil Hancurkan Kekuatan Islam di Aceh dan Nusantara karena Licikya dalam Mendekati Tokoh Islam yang Berambisi Jabatan
  • Ulama dan tokoh Islam hendaknya jangan jadi pengkhianat demi ambisi jabatan serta kesenangan dunia
  • Kongres Alim Ulama se Indonesia Tahun 1957 di Palembang: Meyakini Komunis Hukumnya Kafir
  • Awas! Bisa Murtad dan Musyrik! Orang Muslim yang Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain

Silakan simak ini.

***

 
 

MUI Gelar Ijtima Bahas soal Khilafah

 
 

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar Ijtima Komisi Fatwa ke-7 pada Juli mendatang.

 
 

Adapun Ijtima itu digelar setiap tiga tahun sekali untuk menghasilkan fatwa terbaru dengan menghadirkan berbagai ahli.

 
 

“Kita diskusikan lebih lanjut mengenai tema masalah strategis kebangsaan, fikih kontemporer, dan peraturan perundang-undangan,” kata Wakil Ketua Komisi Fatwa Amin Suma, dilansir dari laman resmi MUI, Senin (7/6/2021).

 
 

Pembahasan tema awal Ijtima Komisi Fatwa ulama ini dipimpin pengurus-pengurus Komisi Fatwa MUI seperti Prof Huzaemah T Yanggo, KH Asrorun Ni’am, KH Amin Suma, dan KH Miftahul Huda.

 
 

Mereka akan membicarakan tema awal sebelum nantinya tema-tema tersebut akan dibawa ke forum pembahasan yang lebih besar pada Juli mendatang. Terutama tema yang belum pernah dibahas pada musyawarah nasional (Munas) sebelumnya.

 
 

Terdapat tiga tema besar yang akan diangkat dalam forum ini, antara lain; masalah strategis kebangsaan, fikih kontemporer, dan peraturan perundang-undangan.

 
 

“Kita masih perlu memperjelas tema-tema yang akan dibicarakan nanti ketika forum diskusi ijtima ulama komisi fatwa digelar,” ujarnya.

 
 

Lebih lanjut, Amin menyampaikan tema pertama yang dibahas adalah masalah strategis kebangsaan meliputi komunisme, panduan pilpres dan pilkada, hingga soal khilafah.

 
 

Kemudian tema kedua, masalah fikih kontemporer meliputi zakat perusahaan dan saham, pernikahan dan perceraian online, pinjaman online, salam dan doa lintas agama, transplantasi rahim, ucapan selamat hari raya agama lain, dan pelaksanaan fatwa tajhiz janaiz Covid-19.

 
 

Sedangkan tema terakhir mengenai peraturan perundang-undangan akan meliputi pembahasan mengenai tata kelola sertifikasi halal, Rancangan Undang-undang (RUU) larangan minuman beralkohol, RUU PIP, KUA sebagai layanan agama-agama serta RUU Hukum Materiil Pengadilan Agama (HMPA).

 
 

Ijtima Komisi Fatwa yang akan digelar MUI ini juga menjadi ajang bertemunya lembaga Fatwa masing-masing ormas Islam, perguruan tinggi, dan pesantren di Indonesia.

 
 

Sumber: MUI

Foto: Komisi Fatwa MUI

[PORTAL-ISLAM.ID] Selasa, 08 Juni 2021 KABAR UMAT

***

Penjajah Kafir Belanda Berhasil Hancurkan Kekuatan Islam di Aceh dan Nusantara karena Licikya dalam Mendekati Tokoh Islam yang Berambisi Jabatan

 

Posted on 16 September 2020

by Nahimunkar.org

 
 

(Pelajaran berharga bagi Umat Islam dari Sejarah)



Christian Snouck Hurgronje Jr Lahir Di Tholen Oosterhout Belanda Pada 8 Februari 1857 Dan Meninggal Pada 26 Juni 1936 Di Leiden Belanda./ foto redaksiindonesia.com

  
 

Snouck Hurgronje Berhasil Menghancurkan Kekuatan Islam Aceh dan Nusantara karena Licikya dalam Mendekati Tokoh Islam yang Berambisi Jabatan, hingga mendapatkan rahasia2 untuk mengalahkan Umat Islam yang melawan penjajah Belanda.

Siapa Snouck Hurgronje Itu?

Christian Snouck Hurgronje lahir pada tahun 1857. Ayahnya seorang pendeta. Dia belajar teologi dari guru Taurat, Abraham Kuenen, kemudian mulai belajar bahasa Arab dan Islam pada M J de Goeje. Atas bimbingan de Goeje, dia berhasil menyusun disertasi Het Mekkaansche Feast (Berhaji ke Makkah) pada tahun 1880. Ketika dilangsungkan konferensi para orientalis di Leiden pada tahun 1883, hadir pula Amin Al-Madani Al-Halwani yang membawa sekumpulan manuskrip berharga dan menjualnya kepada penerbit  E.J. Brill.

Beberapa bagian manuskrip dibeli oleh Universitas Leiden. Pada konferensi itu, Snouck Hurgronje berkenalan dengan Amin Al-Madani. Setelah Amin Al-Madani menulis kesan-kesannya tentang konferensi itu dalam surat kabar Al-Burhan terbitan Kairo, Snouck segera menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab (Belanda?, pen). Setelah konferensi itu, Amin bin Hasan Al-Halwani Al-Madani berangkat ke India tempat menerbitkan buku al-Qurb fi mahabbat al- Arab (Pendekatan dalam mencintai orang-orang Arab) oleh Abdur  Rahim Al-Iraqi pada bulan Shafar 1302H (1884M).  Dia menyebut dirinya sebagai guru di Raudhatul Muthahharah. Setahun setelah konferensi orientalis itu, Snouck dengan ditemani Konsul Belanda, Kruyt, berangkat ke Jeddah. Pertanyaan yang muncul ialah apakah ada hubungan antara perkenalan Snouck Hurgronje dan Amin Al-Madani dengan keberangkatan  Snouck ke Jeddah, kemudian pernyataan masuk Islamnya dan masuknya ke Makkah al-Mukarromah.

Sebahagian besar surat  pribadinya masih tertutup bagi para  peneliti berdasarkan wasiat puterinya sampai tahun 1894. Jadi, jawaban pertanyaan tadi masih sangat tergantung pada orang lain. Namun demikian, mungkin sekali Amin Al-Madani sudah melapangkan jalan bagi Snouck Hurgronje untuk memasuki Makkah Al-Mukarramah. Data sejarah menyebutkan bahwa Snouck menyatakan Islam di hadapan orang banyak dan saksi-saksi secara tipu muslihat. Dia terus memainkan peran di tengah kaum Muslimin Makkah, kemudian di Indonesia selama hidupnya. Menurut responden yang dapat dipercaya dari Indonesia disebutkan bahwa Snouck menipu seorang camat dengan pengakuan keislamannya dan mengawini puteri camat itu. Dari isterinya dia memperoleh beberapa orang anak dan yang sulung bekerja pada satu jabatan penting dalam kepolisian di Indonesia. Kami yakin akan kebenaran informasi itu ketika bertemu seorang cucu Snouck secara pribadi dengan ditemani  Sjord  van Koningsveld di Leiden. Tidak ada keraguan bahwa Snouck pandai memainkan peran di hadapan isteri dan anak-anaknya, seperti kepandaiannya memainkan peran di tengah kebanyakan umat Islam yang menganugerahkan kepadanya kecintaan lalu dikhianatinya sendiri. ( Dr Qasim As-Samra’i, Al-Istisyraqu bainal Maudhu’iyati wal Ifti’aliyah, terjemahan Prof. Dr Syuhudi Isma’il dkk, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, GIP, Jakarta, cetakan pertama 1417H/ 1996M,  hl 142-143).

Snouck menetap selama enam setengah bulan di Makkah dengan memakai nama Abdul Ghaffar. Dia mendatangi majelis-majelis ulama dan kiyai-kiyai pemimpin pengajian hingga dia berhasil menjalin hubungan erat dengan banyak ulama Makkah dan sejumlah ulama dari Jawa, Sumatera, dan Aceh yang berdatangan ke Makkah, khususnya kepada Syekh Makkah dan muftinya, Syekhnya para ulama, Ahmad bin Zaini DahlanTampaknya, Syekh yang baik membolehkan kepadanya atau membekalinya surat rekomendasi-rekomendasi agar rencana Snouck menjadi lebih sempurna dalam membuka jalan di Indonesia, khususnya di daerah Aceh yang memberontak terhadap pemerintah Belanda. Dia juga menjalin hubungan baik dengan Habib Abdur Rahman al-Zahir  yang tampaknya berambisi agar dijadikan Sultan oleh Belanda untuk daerah Aceh. Gagasannya (Habib Abdur Rahman al-Zahir)  tentang cara terbaik untuk menghancurkan pemberontakan kaum muslimin di Aceh disampaikan kepada Konsul Belanda, Kruyt, dan Snouck Hurgronje. Untuk mencapai tujuan itu, dia memberatkan pemerintah Belanda, tetapi akhirnya dia merasa puas dengan gaji besar yang diperolehnya dari Konsulat Belanda di Jeddah seumur hidupnya. Jadi, tidak aneh jika kaum muslimin di Aceh mengecap Habib Abdur Rahman al- Zahir dan Snouck Hurgronje sebagai pengkhianat hingga sekarang ini. ( Dr Qasim As-Samra’i, Al-Istisyraqu bainal Maudhu’iyati wal Ifti’aliyah, terjemahan Prof. Dr Syuhudi Isma’il dkk, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, GIP, Jakarta, cetakan pertama 1417H/ 1996M,  hal 143-144.)

***

Ulama dan tokoh Islam hendaknya jangan jadi pengkhianat demi ambisi jabatan serta kesenangan dunia

Ujian bagi Ulama dan tokoh Islam. Bila hanya mementingkan kehidupan dunia dan syahwatnya maka agamanya dan imannya bisa dibeli oleh penjajah kafir, komunis, dan musuh2 Islam. Yang celaka bukan hanya dirinya sendiri, namun sekian banyak Umat Islam bahkan jutaan bahkan ratusan juta Umat Islam bisa terinjak-injak di bawah kezaliman penjajah kafir ataupun musuh Islam, komunis, kafirin, musyrikin, dan munafqin.

Betapa ruginya. Betapa berbahayanya. Dunia yang diidamkan dengan rakusnya, sama sekali tidak sebanding dengan kehancuran Umat Islam akibat kelengahan tohkoh2nya yang tergiur kesenangan dunia. Padahal setiap Jum’at dan hari raya telah diingatkan dengan bacaan shalat, Surat Al-A’la dan Alghasyiyah (mungkin bahkan Ulama dan tokoh Islam itu sendiri yang membaca ketika jadi imam shalat), yang mengingatkan jangan sampai lebih mementingkan kehidupan (kesenangan) dunia, karena akherat itu lebih baik dan lebih kekal. Dan peringatan tentang betapa dahsyatnya siksa api neraka yang panas di akherat. Namun betapa ni’matnya surga yang dikaruniakan untuk orang2 yang amalnya di dunia diridhai Allah Ta’ala.

Sekali lagi, jangan jadi pengkhianat demi ambisi jabatan dan kesenangan dunia. Sejarah bahkan ayat suci Al-Qur’an telah wanti2 sebegitunya. Faham?

(nahimunkar.org)
***

Awas! Bisa Murtad dan Musyrik! Orang Muslim yang Mengucapkan Salam Islam Disertai Salam Agama Lain

 

Posted on 13 November 2019

by Nahimunkar.org

 
 

Ilustrasi Jokowi menyampaikan pidato usai dilantik jadi Presiden 2019-2024, Ahad (20/10/2019) sore /Foto: Dok. screenshot TV Parlemen

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera Bagi Kita Semua, Om Swastyastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan,

Yang saya hormati para Pimpinan dan seluruh anggota MPR; Yang saya hormati Bapak Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia; Yang saya hormati Ibu Megawati Soekarnoputeri, Presiden ke-5 Republik Indonesia; ( pembukaan
Pidato Presiden RI Joko Widodo pada Sidang Paripurna MPR RI dalam Rangka Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih, Periode 2019-2024. Jakarta, 20 Oktober 2019/ https://news.detik.com/
2019/10/20 16:47:32 WIB ).

***

  
 

Sering kita jumpai pejabat pemerintahan di negeri ini dari tingkat desa hingga tingkat pusat, dari ketua RT hingga presiden mengucapkan salam Islam, tapi diwaktu yang bersamaan juga mengucapkan salam agama lain atau lebih dikenal dengan nama “Salam Oplosan”. Maka perilaku itu tidak dibenarkan dalam Islam./erms

— Salam Oplosan Mencopot Iman, Miras Oplosan Mencopot Nyawa.

  • Salam Oplosan, Haram! Dapat Membatalkan Iman bagi Muslim. Lebih dahsyat bahayanya dibanding miras oplosan yang dapat mengakibatkan copotnya nyawa.
  • Islam jelas bertuhan satu, ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Dalam bahasa lain disebut monotheisme. Sedang monothetisme itu sangat dikecam oleh Hindu.

Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010) menyatakan: “Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).
Oleh karena itu, orang Islam yang mengucapkan salam Hindu, Om Swastiastu (yang itu kental dengan ketuhanan Hindu) maka dapat mengeluarkannya dari Islam alias bisa murtad dan musyrik. Na’udzubillahi min dzalik! Bila meninggal dalam keadaan tetap belum bertaubat, bila terhitung musyrik, maka haram masuk surga, dan kekal di nereka. Na’udzubillahi min dzalik!

{إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ} [المائدة: 72]

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS Al-Maaidah: 72).

Walaupun sama-sama sangat berbahaya antara salam oplosan dengan miras oplosan, namun sejatinya lebih berbahaya salam oplosan, karena jatuhnya ke syirik, menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya, yang itu dosa paling besar dan tidak diampuni bila meninggal dalam keadaan belum bertaubat.

***

Kita masih ingat saat kemarin di gedung perwakilan rakyat, seorang penguasa yang baru dilantik dan memberikan pidato perdananya. Ia membuka pidatonya dan menyampaikan salam menurut 4 agama: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Damai Sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu, Namo Buddhaya.
Tindakan pejabat tinggi Indonesia dalam mengucapkan salam dalam berbagai versi agama itu sudah seringkali terdengar. Bagi kaum Hindu, “Om Swastyastu” memang ucapan ibadah dalam agama Hindu.
Dr. Adian Husaini, dalam Catatan Akhir Pekan-nya di Hidayatullah Online, 12 November 2012, menyebutkan bahwa Seorang Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut:
“Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.
Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.” (http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg07018.html).

Itulah penjelasan Hindu tentang ucapan salam khas Hindu, “Om Swastyastu”. Dari penjelasan itu tampak, bahwa ungkapan salam Hindu itu sangat terkait erat dengan konsep Tuhan dan sembahyang dalam agama Hindu. Jadi, kata “Om” dalam agama Hindu berarti “Ya Tuhan”.
Dalam buku kecil berjudul “Sembahyang, Tuntunan Bagi Umat Hindu” karya Jro Mangku I Wayan Sumerta (Denpasar: CV Dharma Duta, 2007), disebutkan sejumlah contoh doa dalam agama Hindu yang diawali dengan kata “Om”, seperti doa sebelum mandi: “OM, gangga di gangga prama gangga suke ya namah swaha”.
Meskipun sama-sama menyatakan bertuhan SATU, agama-agama memiliki konsep Tuhan yang berbeda-beda tentang “Yang Satu” itu. Kaum Hindu, misalnya, mempunyai konsep dan juga sebutan-sebutan untuk Tuhan mereka secara khas. Dalam buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010), dijelaskan perbedaan konsep Tuhan antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam. Tentu saja penjelasan itu dalam perspektif Hindu. Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yakni Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut “Allah”. Disimpulkan oleh penulis buku ini: “Membangun toleransi bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah!” (hal. 33).
Misalnya, tentang perbedaan antara Kristus dan Krishna dijelaskan: “Ingat Hindu tidak percaya akan dosa asal, tidak percaya dengan Adam dan Hawa, dan Krishna juga tidak mati di kayu salib. Krishna datang ke dunia sebagai Avatara, bukan untuk menebus dosa, tetapi untuk menegaskan kembali jalan menuju moksha (empat yoga itu) terutama karma yoga. Jadi manusia sendiri harus aktif untuk memperoleh keselamatannya. Tidak perlu akal yang terlalu kritis untuk membedakan misi keberadaan Kristus dengan Krishna di dunia ini.” (hal. 31).
Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik. Lebih jauh buku terbitan Media Hindu ini menyatakan:

“Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).

Untuk membanggakan agama Hindu sebagai agama yang lebih hebat dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam, buku ini juga memberikan gambaran yang tidak sepenuhnya benar tentang ajaran Islam. Dalam bab berjudul “Agama-agama Langit Kualitasnya Jauh di Bawah Hindu” ditulis ungkapan-ungkapan sebagai berikut: “Hakikat manusia adalah dosa (Yahudi/Kristen) atau budak Allah (Islam). Artinya agama-agama ini memandang manusia secara sangat negatif. Untuk membuat manusia tetap percaya kepada Tuhan dan agennya dan taat beribadah, ia terus diancam dengan kiamat, siksa neraka bahkan termasuk pembunuhan di dunia ini. Di samping itu, agar manusia terus memerlukan Tuhan, Tuhan menciptakan dan memelihara setan untuk menggoda manusia.

Sebagai budak manusia tidak memiliki kebebasan. Hidupnya ditentukan secara sepihak dan sewenang-wenang oleh Tuhannya, pemilik budak-budak itu. Karena Tuhan bermukim jauh di langit, kekuasaan Tuhan itu didelegasikan atau diasumsikan oleh para agennya, apakah dengan sebutan nabi, rasul, sultan, atau paus. Kebebasannya digantungkan pada seorang tokoh pendiri agama. Kematian Yesus menyelamatkan semua pengikutnya. Muhammad, pada waktu Pengadilan Akhir, merekomendasikan siapa dari pengikutnya masuk sorga atau neraka, dan Allah hanya mengikuti rekomendasi itu. Keselamatan mereka semata-mata karena iman. Bukan karena perbuatannya. Etika tidak perlu. Ini tentu saja merupakan ketidakadilan rangkap dua…
Tujuan tertinggi manusia menurut agama-agama ini adalah sorga di mana mereka hidup abadi dengan badannya, yang berasal dari badan yang hina, tempat pencabulan, kata Paulus, salah satu pendiri agama Kristen. Bahkan di dalam sorga salah satu agama ini, dijelaskan secara rinci bagaimana hidup untuk memenuhi nafsu birahinya, terutama seks, tanpa batas. Sorga menjadi tempat pesta orgi yang menjijikkan.” (hal. 217-218).

Itulah pandangan Hindu yang pada realitasnya tidak bisa disatukan dengan konsep tauhid dalam Islam. Sehingga mengucapkan salam “Om Swastyastu” adalah tidak diperbolehkan. Selain itu, salam “Om Swastyastu” juga merupakan syiar agama lain yang mana umat Islam diharamkan untuk menyebarkannya.
Mengucap salam “Om Swastyastu” yang merupakan ciri khas keagamaan Hindu merupakan bentuk tasyabbuh bil kufar yang haram.
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Lantas, bagaimana hukum mengucapkan salam “Assalamu’alaikum” untuk sekelompok orang yang terdiri dari orang Islam dan non Islam?

وعن أُسَامَة – رضي الله عنه – : أنَّ النَّبيَّ – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى مَجْلِسٍ فِيهِ أخْلاَطٌ مِنَ المُسْلِمِينَ وَالمُشْرِكينَ – عَبَدَة الأَوْثَانِ – واليَهُودِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِم النبيُّ- صلى الله عليه وسلم 

Dari Usamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati suatu majelis yang di situ bercampur antara muslim, orang musyrik -penyembah berhala-, dan orang Yahudi. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi salam kepada mereka. (HR. Bukhari no. 6254 dan Muslim no. 1798).
Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan disunnahkan jika melewati majelis yang bercampur antara Muslim dan non Muslim untuk tetap mengucapkan salam untuk maksud umum dengan diniatkan salam tersebut untuk Muslim. (Al Adzkar, hal. 464).
Nah, bagaimana jika terhadap orang non Islam yang di situ tidak ada orang Islamnya sama sekali? Bolehkah memberi salam, “Assalamu’alaikum”?
Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad jilid 2 halaman 424 menuliskan bahwa sebagian ulama membolehkan untuk mendahului non muslim dalam memberi salam demi kemashlahatan yang kuat dan nyata amat diperlukan, atau karena kwatir dari ulah non muslim itu, atau karena adanya hubungan kekerabatan dengan mereka. Atau karena sebab-sebab lain yang seperti itu.
Imam Al-Qurtubi menyebutkan nama beberapa ulama salaf yang membolehkan memberi salam kepada non Muslim. Di anataranya Ibnu Mas’ud, Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakhai, dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani menyebutkan di dalam kitabnya Fathul Bari bahwa Abu Umamah dan Ibnu Uyainah berpendapat sedemikian.
Sementara itu, ulama lain menyatakan tidak boleh memberi salam berdasarkan hadits berikut.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Jangan kalian mengawali mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani. Jika kalian berjumpa salah seorang di antara mereka di jalan, maka pepetlah hingga ke pinggirnya.” (HR. Muslim no. 2167)
Fimadani/Tarqiyah
***

Kesimpulan

  • Mengucapkan salam Isam kepada hadirin yang ada muslimnya dan ada non muslimnya, tidak jadi persoalan.
  • Mengucapkan salam Islam kepada hadirin yang tidak ada muslimnya, menurut hadits riwayat Muslim tersebut tidak boleh mengawalinya/ tidak boleh memulai duluan.
  • Yang jadi persoalan adalah mengucapkan salam Islam disertai mengucapkan salam agama selain Islam. Itu dapat mengakibatkan murtad bahkan syirik, pelakunya disebut musyrik menyekutukan Allah Ta’ala dengan lainnya. Karena mengucapkan salam (selain salam Islam) yang berisi ketuhanan yang bertentangan dengan Tauhid, keesaan dan kemahasucian Allah Ta’ala.

Hakekatnya: Mengucapkan salam Islam disertai salam agama selain Islam pada hakekatnya adalah penodaan terhadap Islam secara terang-terangan. Bahkan bila disengaja atau bahkan disengaja agar ditiru, maka berarti punya misi pemurtadan secara massal. Mencontohi praktek salam Islam disertai salam agama selain Islam, resikonya mendapatkan dosa, masih pula memperoleh dosa dari para penirunya tanpa mengurangi dosa para penirunya. Betapa beratnya, menumpuk dosa. Orangnya (yang mencontohi itu) sudah meninggal pun bila ajaran atau contohnya itu masih dilakukan orang, maka tetap masih mendapatkan aliran dosa. Betapa beratnya. Maka sebaiknya para pelakunya (yang mencontohi itu) mengumumkan untuk mencabut dari kesalahannya dan bertaubat. Semoga saja.

HAJ/BR

Posted on 30 Oktober 2014

by Nahimunkar.com / diperbarui 13 Nov 2019


***

Kongres Alim Ulama se Indonesia Tahun 1957 di Palembang: Meyakini Komunis Hukumnya Kafir

Posted on 1 Mei 2016

by Nahimunkar.org



Sejarah mencatat, sikap umat Islam Indonesia tegas terhadap paham komunis sudah dimulai sejak Kongres Alim Ulama se Indonesia tahun 1957 di Palembang. Ada beberapa point yang dihasilkan dalam Kongres Alim Ulama se Indonesia tersebut, antara lain:

Pertama, Ideologi atau ajaran komunis kufur hukumnya, dan haram bagi umat Islam menganutnya. Kedua, bagi seseorang yang menganut ideologi komunis dengan keyakinan dan kesadaran, maka dia termasuk kafir dan tidak sah menikah dengan orang Islam, tidak ada waris mewarisi (ahli waris), serta jenazahnya tidak diboleh diselenggaran secara Islam.

Ketiga, bagi seseorang yang memasuki organisasi atau partai yang berideologi komunis tidak dengan keyakinan dan kesadaran, maka dia termasuk orang yang sesat, dan harus diajak agar meninggalkan organisasi atau partai tersebut.
Keempat, walaupun Indonesia belum menjadi Negara Islam, namun haram bagi umat Islam mengangkat/memilih Kepala Negara/pemerintah yang berideologi komunis (di masa itu dasar Negara RI sedang dibahas dalam Konstituante berdasarkan UUD Sementara tahun 1959).

Kelima, memperingatkan kepada pemerintah agar bersikap waspada terhadap gerakan aksi subversif asing yang membantu aksi-aksi perjuangan kaum komunis di Indonesia.

Keenam, mendesak kepada Presiden RI (Soekarno ketika itu) untuk mengeluarkan dekrit yang menyatakan PKI dan mantel organisasinya sebagai partai terlarang di Indonesia. (Selasa, 20 Zulhijjah 1435 H / 1 Oktober 2013 07:07 wibIngat! Banyak Kiai dan Santri yang Syahid Dibunuh PKI Secara Keji voa-islam.com/nahimunkar.org)

(nahimunkar.org)

 

(Dibaca 201 kali, 1 untuk hari ini)