.

 

  • Sikap sombong Singapura itu, seperti digambarkan oleh situs Singapura, New Nation, menulis sebuah artikel bahwa Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong meng-unfriend Presiden Indonesia SBY dari halaman Facebooknya, bahkan Lee menghapus tag foto-foto yang menyertakan SBY.
  • Jika Indonesia berani melakukan perubahan kebijakan, dan menarik uang yang sekarang disimpan di Singapura, maka Singapura akan mati.
  • Indonesia juga harus memaksa Singapura menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Singapura, karena negara Singapura itu menjadi “bunker” para penjahat dan koruptor asal Indonesia, khususnya keturunan Cina, dan sampai sekarang terus berlangsung, tanpa ada tindakan hukum, sesudah mereka lari ke Singapura.

 

JAKARTA (voa-Islam.com)- Sebuah spekulasi politik dilakukan oleh Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong terhadap Presiden SBY yang sudah akan berakhir masa jabatannya.

Lee sudah berani bersikap dan sangat meremehkan dan menganggap “enteng” SBY dan Indonesia.

Ini terkait dengan kasus pemberian nama kapal perang RI “Usman dan Harun”. Usman dan Harun dianggap sebagai “teroris” oleh Singapura. Padahal, Usman dan Harun sudah ditetapkan sebagai pahlawan, dan keduanya dimakamkan di Makam Taman Pahlawan Kalibata.

Tindakan Singapura itu harus dibalas dengan berbagai kebijakan politik dan ekonomi oleh Indonesia. Indonesia tidak boleh membiarkan Singapura terus menerus berlaku sombong dan menghina terhadap Indonesia.

Singapura sangat tergantung kepada Indonesia. Hidupnya Singapura berasal dari Indonesia. Banyak warga Singapura yang melakukan aktifitas ekonomi di Indonesia. Indonesia juga dirugikan oleh Singapura, karena banyak warga negara Indonesia, khususnya Cina yang melakukan aktifitas ekonomi di Indonesia, tetapi uangnya disimpan di Singapura.

Jika Indonesia berani melakukan perubahan kebijakan, dan menarik uang yang sekarang disimpan di Singapura, maka Singapura akan mati.

Indonesia juga harus memaksa Singapura menandatangani perjanjian ekstradisi dengan Singapura, karena negara Singapura itu menjadi “bunker” para penjahat dan koruptor asal Indonesia, khususnya keturunan Cina, dan sampai sekarang terus berlangsung, tanpa ada tindakan hukum, sesudah mereka lari ke Singapura.

Banyak konglomerat hitam keturunan Cina yang ‘ngendon’ di Singapura sesudah menggarong uang puluhan triliun dari Indonesia, diantara salah satunya Syamsul Nursalim. Para obligor BLBI Rp 650 tirliun sebagian besar Cina, dan sekarang mereka hidup dengan enak di Singapura.

Orang-orang Indonesia, khususnya kaum pribumi harus menghentikan bepergian ke Singapura, berbelanja, berobat, berbisnis,berinvestasi,  berekreasi,  dan berbagai aktitifitas lainnya di negara Singapura. Karena, tidak ada manfaatnya bagi Indonesia.

Indonesia harus berani menghentikan segala bentuk kerjasama apapun dengan Singapura, karena Singapura tak lebih hanya sebagai parasit dan lintah darat, dan sangat merugikan masa depan Indonesia. Maka, Indonesia tidak perlu bersahabat dengan Singapura, yang merupakan negara “yahudi” Asia Tenggara, dan tidak tahu diuntung.

Sikap sombong Singapura itu, seperti digambarkan oleh situs Singapura, New Nation, menulis sebuah artikel bahwa Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong meng-unfriend Presiden Indonesia SBY dari halaman Facebooknya, bahkan Lee menghapus tag foto-foto yang menyertakan SBY.

“Ketegangan yang meningkat antara Singapura dan Indonesia telah mencapai puncaknya,” tulis New Nation. Situs itu lantas menyebutkan bahwa Lee meng-unfriend SBY dari Facebook. Beberapa jam kemudian langkah ini diikuti dengan penghapusan tag foto-foto yang menyertakan keduanya.

Hal ini dilakukan sebagai wujud protes Singapura karena Indonesia menamakan salah satu KRInya dengan nama KRI Usman-Harun. Langkah ini diprotes oleh Singapura. Dilansir dariTribun News, Usman Haji Mohamed Ali dan Harun Said merupakan dua prajurit Korps Komando Operasi (KKO) TNI AL, yang tewas setelah dihukum mati oleh pemerintah Singapura pada 17 Oktober 1968.

Keduanya tertangkap setelah melakukan pengeboman di MacDonald House di Orchard Road, Singapura, pada 10 Maret 1965 yang menewaskan tiga orang dan melukai 33 orang. Singapura menganggap Usman dan Harun sebagai teroris, adapun Indonesia menilai keduanya adalah pahlawan yang gugur usai menjalankan tugas. Saat terjadinya konfrontasi antra Indonesia-Malaysia.

Tindakan PM Lee ini dianggap kelewat batas. Ahli politik dan hubungan internasional Eric de Yaya menulis dilansir oleh New Nation, “Skala perlawanan Singapura benar-benar di luar proporsi. Tapi ini sebuah tanda pasti bahwa keduanya serius. Hal inilah yang terjadi bila Anda menamai sebuah kapal perang dengan nama teroris. Anda akan di-unfriend di sosial media.”

SBY, TNI, dan bangsa Indonesia harus berani menghadapi Singapura yang sudah berani menunjukkan sikap arogannnya, seperti penjajah yang ingin menunjukkan kekuatannya terhadap Indonesia.

Kalangan penguasa Singapura sudah merasa kuat, karena di Indonesia ekonominya sudah 80 persen dikuasi Cina, dan para pejabatnya sudah berada “dikantong” saku konglomerat Cina. Sehingga,  sikapnya Lee Hsien Loong sangat pongah. Perangi penjajah Singapura! (dbs/afgh/voa-Islam.com) Rabu, 11 Rabiul Akhir 1435 H / 12 Februari 2014 12:33 wib

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 394 kali, 1 untuk hari ini)