Upacara pembukaan Asian Games 2018 yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (18/08 2018) libatkan 3.500 penjoget, 400 perias, dengan dekorasi latar gunung seberat 600 ton. Pembukaan ini habiskan biaya Rp 676,6 Miliar/ foto http://nova.grid.id.

Luar Biasa!  Pembukaan Asian Games 2018 Perlu Dana Rp 676,6 Miliar./ sport.tempo.co

 Opening Asian Games 2018 Lebih Mahal dari Olimpiade 2016/ jpnn.com

(Dekorasi berupa) Gunung ini beratnya sekitar 600 ton, dilengkapi dengan tanaman asli di sekitarnya. Wah, berapa lama membuatnya?

Butuh waktu tiga bulan, dan hanya ditampilkan selama tiga jam saja (tertawa). Tantangannya kami harus mengembalikan lapangan seperti semula dalam waktu 60 jam untuk pertandingan atletik./ msn.com

Ketua Panitia Penyelenggaraan Asian Games (INASGOC) Erick Thohir merinci, total dana penyelenggaraan Asian Games 18 Agustus – 2 September 2018 secara keseluruhan mencapai Rp 6,6 trillun./ cnbcindonesia.com

Untuk membangun venue olahraga Asian Games 2018 di Palembang dan Jakarta menurut Wapres membutuhkan biaya sebesar Rp 10 triliun./ /sport.tempo.co , Rabu, 6 Desember 2017 13:40 WIB

Biaya Penyiaran Asian Games 2018 Mencapai Rp800 Miliar/ http://olahraga.metrotvnews.com

Obor Api Pesta Olahraga

Api abadi Mrapen

UMAT Buddha melakuan ritual pengambilan Api Dharma Waisak di obyek wisata Api Abadi Mrapen, Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa(9/5/2017). (Kompas.com/Puthut Dwi Putranto)

Setelah tiba di Indonesia, api abadi dari India disatukan dengan api abadi yang diambil dari Mrapen, Grobogan, Jawa Tengah. Penyatuan api tersebut akan digelar pada hari Rabu (18/7/2018), di Candi Prambanan, Yogyakarta.

API Obor Asian Games 2018 sudah tiba di Yogyakarta, Selasa (17/7/2018). Obor tersebut dibawa keliling di 54 kota dan kabupaten di 18 provinsi di Indonesia dengan menempuh jarak sekitar 18.000 kilometer.

Setelah mengelilingi Indonesia kurang lebih satu bulan, obor tersebut tiba di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta tepat pada saat acara pembukaan pada 18 Agustus 2018./ wartakota.tribunnews.com

***

Pesta Olahraga Yunani dan obor api untuk penyembahan dewa     

Orang Yunani sudah mengadakan olimpiade sejak tahun 776 sebelum masehi hingga 394 masehi.

Olimpiade yang diadakan masyarakat Yunani kala itu bertujuan untuk menghormati Dewa Zeus.

Sejarah Kirab Obor Pesta Olahraga yang Mengubah Dunia, Sejak Tahun 776 Sebelum Masehi

Kamis, 19 Juli 2018 20:47

…tahukah Anda, torch relay atau kirab obor telah dilakukan jauh lebih lama?

Mitologi Yunani Kirab obor telah ada sejak zaman Yunani kuno.

Kegiatan ini berhubungan dengan pemujaan mereka terhadap api dan kekuatan.

Menurut mitologi Yunani, api diberikan oleh dewa Promotheus setelah ia mencurinya dari Zeus.

Untuk merayakan pemberian api ini, orang Yunani kuno mengadakan lomba estafet.

Tapi yang digunakan bukan tongkat seperti sekarang, melainkan obor yang menyala.

Selanjutnya, mereka mengadakan olimpiade pertama sekitar tahun 776 sebelum masehi (SM).

Perhelatan tersebut dilakukan setiap empat tahun di Olympia sebagai bentuk penghormatan terhadap Zeus dan dewa-dewa lain.

Olimpiade awal ini juga menandai periode damai orang Yunani yang suka berperang.

Untuk membuka perhelatan akbar tersebut, mereka akan memilih pelari yang disebut “pewaris perdamaian”.

Pelari pertama akan membawa api dari kuil Hera di kota Olympia ke kaki monumen tempat jantung Baron de Coubertin, pendiri gerakan Olimpiade modern, dikebumikan.

Selanjutnya, secara estafet, para pelari akan melakukan perjalanan ke seluruh wilayah negara tersebut dengan membawa obor api tersebut.

Obor Api Olimpiade Pertama

Obor Olimpiade modern pertama dinyalakan pada 1928 di Amsterdam.

Api di obor yang telah dinyalakan dijaga agar tetap menyala sepanjang perhelatan olahraga tersebut.

Cahaya nyala api ini kemudian menjadi upacara wajib dalam setiap pembukaan Olimpiade.

Kirab Obor Pertama Tak hanya menyalakan obor, Dr Carl Diem dari Jerman terinspirasi untuk mengarak obor Olimpiade.

Dia terinspirasi oleh gambar-gambar Yunani Kuno dan tulisan Plutarch.

Kirab obor pertama dilakukan dalam upacara pembukaan Olimpiade 1936 di Berlin.

Saat itu, apinya didatangkan langsung dari Olympia, Yunani.

Sedang pelari pertama dalam arak-arakan tersebut adalah Konstantin Kondylis, seorang pemuda Yunani.

Nyala api dalam obor sejak saat itu diartikan sebagai perlambang dari semangat, pengetahuan, dan kehidupan.

Sedang penyerahan api disebut mengekspresikan simbolis dari generasi ke generasi.

Pesta Olahraga Selanjutnya, kirab dan penggunaan obor ini ditiru dalam berbagai pesta olahraga seperti Asian Games dan Paralympics.

Saat ini, Indonesia sedang melakukan kirab obor Asian Games 2018.

Api yang digunakan dalam obor tersebut berasal dari New delhi, India dan Mrapen, Indonesia.

http://jambi.tribunnews.com

***

Api Simbol kemusyrikan dilestarikan dengan dilingkupi kemusyrikan.

Api dari Indonesia diambil dari api di Mrapen Godong Purwodadi yang biasa ada upacara sakral pengambilan api oleh kaum Buddha. Llu api itu disatukan dengan api dari India di Candi Pambanan Yogyakarta. Kemudian api simbol kemusyrikan dan diupacarai di lingkup kemusyrikan itu diarak ke 54 kota di Indonesia. Kemudian untuk simbol pembukaan Asian Games di GBK Jakarta 18 Agustus 2018 dengan biaya  Rp 676,6 Miliar .

Semuanya itu dalam Islam termasuk thagha dan mengutamakan kehidupan dunia.

{ فَأَمَّا مَنْ طَغَى (37) وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (38) فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى (39) وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى (40) فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى } [النازعات: 37 – 41]

  1. Adapun orang yang melampaui batas, [An Nazi’at:37]
  2. dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, [An Nazi’at:38]
  3. maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). [An Nazi’at:39]
  4. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, [An Nazi’at:40]
  5. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). [An Nazi’at:41]

Dari sisi penghamburan harta, itu semua merupakan tingkah orang-orang yang disebut mubadzdzirin.

{وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا } [الإسراء: 26، 27]

dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. [Al Isra”:26]

  1. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. [Al Isra”:27]

Dari segi asal mula maupun pelaksanaan mengusung-usung api itu adalah dari keyakinan kepercayaan orang-orang musyrik Yunani kuno, dan kini masih dilestarikan di lingkup kemusyrikan pula (Api diambil dari Mrapen Purwodadi Jateng, yang biasa umat Buddha melakuan ritual pengambilan Api Dharma Waisak di situ, kemudian penyatuan api dari Mrapen Purwodadi dan India dilangsungkan di Candi Prambanan. Itu seakan menirukan Yunani kuno yang petugas mengusung obor apinya, Pelari pertama akan membawa api dari kuil Hera di kota Olympia). Jadi masih meneruskan api Yunani simbol kemusyrikan dalam rangka persembahan untuk dewa, diupacarai dengan kental lingkup kemusyrikan.

Perlu dikhawatirkan kena bahaya kemusyrikan

Syirik (kemusyrkan) ini susah dideteksi karena begitu halus, digambarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الشِّرْكُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلةِ السَّوْدَاءِ على صفاة سَوْدَاءِ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ

“Syirik yang menjangkiti umat ini lebih tersembunyi daripada seekor semut hitam yang merayap pada bebatuan hitam di tengah gelap malam.” (Riwayat Ahmad dalam Musnad-nya IV/303, al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad hal. 242, dan tercantum dalam Majma’ al-Zawa-id X/ 223 & 224).

Dalam hadis ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata umat ini, umat Islam secara umum hingga menjelang kiamat kelak. Masih banyak peringatan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat akhir zaman terhadap bencana syirik. Bahkan beliau tegaskan umatnya kelak ada yang mengekor kaum musyrikin hingga berhala pun disembah.

Dalam sebuah hadits panjang, disebutkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَلْحَقَ قَبَائِلُ مِنْ أُمَّتِى بِالْمُشْرِكِينَ وَحَتَّى تُعبَد الأَوْثَان

َ“…Kiamat tidak akan terjadi hingga sekelompok kabilah dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sampai-sampai berhala pun disembah…” (Shahih Ibni Hibban Juz XVI hal. 209 no. 7237 dan hal. 220 no. 7238 Juz XXX no. 7361 hal 6, Syu’aib al-Arnauth berkata, “Sanad-sanadnya shahih sesuai dengan syarat Muslim).

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

«لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَضْطَرِبَ أَلَيَاتُ نِسَاءِ دَوْسٍ، حَوْلَ ذِي الْخَلَصَةِ» وَكَانَتْ صَنَمًا تَعْبُدُهَا دَوْسٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ بِتَبَالَةَ

 “Kiamat tidak akan terjadi hingga pantat para wanita dari suku Daus bergoyang di hadapan Dzul Kholashoh.” (HR Bukhari dan Muslim). Dzul Kholashoh adalah nama berhala. Yaitu sebuah berhala diantara berhala-berhala yang disembah  suku Daus zaman jahiliyah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

«لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ»

“Sungguh kalian akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lobang biawak gurun tentu kalian juga akan memasukinya.”

Kami (para shahābat) berkata, “Wahai Rasūlullāh, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?”

Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR Muslim no. 2669)

Semua hadits di atas Nabi sampaikan dalam rangka menghendaki kebaikan untuk umatnya dan untuk mengingatkan umatnya dari bahaya dosa yang sangat besar itu dan kejahatan yang sangat ngeri itu.

Semoga Allah melindungi kita semua darinya.

Di antara faktor yang mendorong kita untuk memiliki kekhawatiran dengan kemusyrikan adalah orang musyrik itu dekat dengan neraka. Tidak ada yang menghalangi untuk masuk neraka kecuali karena belum mati saja.

Renungkanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terdapat dalam Sahih Bukhari,

«مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ»

“Barang siapa mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka pasti akan masuk neraka.” (HR Bukhari).

Para ulama mengatakan bahwa dalam hadits ini terdapat dalil bahwa neraka itu dekat dengan orang musyrik. Tidak ada penghalangnya dengan neraka melainkan karena belum mati.

Semua dalil di atas mendorong orang beriman untuk merasa sangat khawatir dengan kemusyrikan. Kemudian rasa khawatir tersebut menggerakkan hati untuk mempelajari dosa besar tersebut supaya bisa mewaspadainya dan menjaga diri darinya dalam hidup ini./ muslim.or.id

Perlu sekali dicamkan hadits ini:

Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir رضي الله عنه bahwa Rasululloh bersabda :

 «مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ»

Barang siapa yang menemui Allah (mati) dalam keadaan tidak berbuat syirik kepadaNya, pasti ia masuk surga, dan barang siapa yang menemuiNya (mati) dalam keadaan berbuat kemusyrikan maka pasti ia masuk neraka”. (HR Muslim).

Jadi sesat dan diazab jika membiarkan kezaliman

Dalam Al-Quran surat Al- Anfaal ayat 25, Allah SWT berfirman :

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ } [الأنفال: 25]

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”

Mengomentari ayat ini, Ibnu ‘Abbas berkata, “Allah memerintahkan kepada kaum Mukminin agar tidak mendiamkan saja kemungkaran terjadi di sekitar mereka sehingga azab tidak menimpa secara merata kepada mereka.

عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَهْلِكُ وفينا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: (نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ”.

Di dalam Shahih Muslim dari Zainab binti Jahsy bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah SAW,

 “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami.?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.” (HR Muslim)

Ayat tersebut menyiratkan bahwa siksaan atau azab yang ditimpakan Allah sebagai balasan atas kezaliman yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok kecil orang tidak saja menimpa si pelaku kezaliman tetapi bisa juga menimpa orang-orang lain yang tidak bersalah atau tidak terlibat dalam kezaliman tersebut.

Orang-orang yang tidak bersalah sering harus turut menanggung penderitaan yang timbul sebagai azab atas kezaliman yang dilakukan orang lain.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 3.159 kali, 1 untuk hari ini)