Zahrul Fata lulus doctor di Malaysia dengan mengkritisi pemikiran-pemikiran liberal dan menyimpang dari Sunnah Nabi yang bermunculan dari UIN (Universitas Islam Negeri, dahulu IAIN) Jakarta dan UIN Yogya. Zahrul berhasil menggondol gelar doktoralnya Jumat (11/10/2013) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dengan judul “al-Ittijah al-Libroliy fi Dirosat as-Sunnah an-Nabawiyah fi Indonesia: Dirosah Tahliliyah Naqdiyah”.

Secara spesifik Zahrul asal Gresik Jawa Timur ini mengkritisi pemikiran kalangan liberal dan  menfokuskan pendapat para akademisi yang tumbuh dari dua universitas Islam di Indonesia yaitu: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SKJ) dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dari dua lembaga Islam di Indonesia itulah menurutnya banyak lahir dan melahirkan para tokoh-tokoh pemikir yang beraliran liberal. Mereka mengusung ideologi relatifisme, secularism, persamaan gender, juga pluralisme agama yang dikampanyekan kepada masyarakat melalui tulisan-tulisan mereka yang termuat di berbagai media.

Oleh karenanya menurut Zahrul, apa yang ditulisnya dalam tesis merupakan kritik dan conter terhadap pendapat-pendapat mereka yang diyakininya kurang benar.

Hidayatullah.com memberitakan sebagai berikut.

***

Kritisi Paham Liberal dalam Tafsirkan teks Hadits, Zahrul Fata Lulus Doktor

Selasa, 22 Oktober 2013 – 05:17 WIB

Dr Zahrul Fata MADr. Zahrul Fata bersama tim penguji

Hidayatullah.com–Banyaknya pendapat para pemikir liberal di Indonesia dalam memahami maupun menafsirkan teks-teks Hadits dan al-Quran rupanya membawa Zahrul Fata, MA, salah satu mahasiswa Indonesia yang mendalami disiplin ilmu Hadits dan Quran telah lulus program doktoral dengan cemerlang dari  International Islamic University Malaysia (IIUM).

Zahrul berhasil menggondol gelar doktoralnya setelah menulis thesis dengan judul “al-Ittijah al-Libroliy fi Dirosat as-Sunnah an-Nabawiyah fi Indonesia: Dirosah Tahliliyah Naqdiyah”.

Di hadapan para pengujinya Prof. Dr Anis Malik Thoha, Prof. Dr Abu Laits, dan Prof. Muhammad Musthofa Ya’kub, putra asli gresik yang menuntut ilmu di Malaysia sejak akhir 2002 ini hari Jumat (11/10/2013) mampu mempertahankan apa yang ditulisnya dengan meyakinkan.

Alumni Pondok Pesantren Modern Gontor dan Jurusan Quran-Sunnah Universitas Al-azhar Mesir ini secara spesifik mengkritisi pemikiran kalangan liberal dan  menfokuskan pendapat para akademisi yang tumbuh dari dua universitas Islam di Indonesia yaitu: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta (UIN SKJ) dan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dari dua lembaga Islam di Indonesia itulah menurutnya banyak lahir dan melahirkan para tokoh-tokoh pemikir yang beraliran liberal. Mereka mengusung ideologi relatifisme, secularism, persamaan gender, juga pluralisme agama yang dikampanyekan kepada masyarakat melalui tulisan-tulisan mereka yang termuat di berbagai media.

Oleh karenanya menurut Zahrul, apa yang ditulisnya dalam tesis merupakan kritik dan conter terhadap pendapat-pendapat mereka yang diyakininya kurang benar.

Dalam diskusi yang digelar di kampus pada hari Senin (21/10/2013) untuk merayakan kesyukurannya bersama komunitas Indonesia di Kuala Lumpur, dosen mata kuliah hadits di STAIN Ponorogo ini mengeluhkan, bahwa kalau di dunia Arab, setiap kali ada pemikiran dan pendapat yang “aneh dan nyeleneh” oleh salah seorang cendekiawan atau pemikir maka segera muncul berbagai sanggahan dalam bentuk tulisan di media maupun buku yang mempunyai semangat meluruskan pendapat tersebut.

Sayangnya di Indonesia tidak begitu, sehinggai banyak virus, pendapat yang aneh dannyeleneh tadi sudah menyebar meracuni masyarakat.

Di hadapan audiens yang kebanyakan mahasiswa, bapak dari dua anak ini menghimbau untuk mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman dengan benar dan mendalam supaya mempunyai pijakan yang kuat dalam meluruskan pendapat-pendapat yang tidak betul dan terlanjur berkembang di Indonesia.*/kiriman Sulton Kamal, Sekretaris Umum Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah KL

Rep:

Anonymous

Editor: Cholis Akbar

***

Tidak punya malu?

Sebagaimana telah ditulis dalam buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Ada Pemurtadan di IAIN, banyak pendapat sangat merusak Islam bermunculan dari IAIN di Indonesia yang kini sebagian jadi UIN. Tampaknya mereka justru bangga dengan kesesatan bahkan pemurtadan yang mereka lakukan lewat pendidikan tinggi, padahal berlabel Islam. Contoh paling baru adalah sikap tidak malu-malunya Azyumardi Azra dai UIN Jakarta yang justru bangga dengan ulah busuknya menyerang Islam dengan membela Ahmadiyah, agama nabi palsu, hingga ditulis dalam biografinya. Lihat nahimunkar.com, Azra “Jawara” Pembela Ahmadiyah Agama Nabi Palsu https://www.nahimunkar.org/azra-jawara-pembela-ahmadiyah-agama-nabi-palsu/

Lebih dari itu dapat pula dibaca dalam artikel UIN Jakarta Telah Memproduk Nabi Palsu, dan Pembela Nabi Palsu

https://www.nahimunkar.org/uin-jakarta-telah-memproduk-nabi-palsu-dan-pembela-nabi-palsu/

(nahimunkar.com)

(Dibaca 5.103 kali, 1 untuk hari ini)