Berbahaya! Memproduk Generasi Munafik dan Tak Kenal Agama Secara Sistematis Lewat Pendidikan Resmi


Mendikbud Nadiem Makarim dan Menag Fachrul Razi mau ‘Memproduk Generasi Munafik dan Tak Kenal Agama Secara Sistematis Lewat Pendidikan Resmi?’ / foto hdytllh

 

Kemenag Hapus Materi Tentang Perang dari Kurikulum Sekolah Tahun 2020, Bahkan Lafal Jihad pun Dihapus dari Pelajaran Sekolah. Itu Secara Aksiomatik menurut Islam akan menumbuhkan generasi yang jadi orang-orang munafik.

Karena dalam Islam ditegaskan:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“Siapa yang meninggal sementara ia tidak pernah berperang (berjihad) dan tidak pernah meniatkan untuknya, maka ia mati di atas cabang kemunafikan.” (HR. Muslim)

Dengan demikian, upaya memproduk generasi munafik lewat Pendidikan yang dipotong-potong materi Islamnya itu sama dengan menjerumuskan manusia ke kerak neraka untuk selama-lamanya. Karena Allah Ta’ala telah mengancamnya:

إِنَّ الْمُنٰفِقِينَ فِى الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا :١٤٥

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (
QS. An-Nisa’ [4]: 145).

Sementara itu, Pendidikan umum yang dibawah jalur kemendikbud yang menterinya Nadiem Makarim dipertanyakan agamanya karena nikahnya saja di gereja tapi mengaku Muslim, dirancang untuk membuang pelajaran/ Pendidikan agama. Agama hanya akan dijadikan sebagai landasan dari materi Pendidikan karakter, itupun hanya landasan pendamping Pancasila. Dengan dalih apapun, itu artinya membuang Pendidikan agama, yang sudah disuarakan oleh menteri sebeumnya, Muhajir, padahal dia wong Muhammadiyah, tapi rupanya tidak jauh dari manusia-manusia yang ingin menjauhkan generasi dari agama, lewat jalur Pendidikan. Hingga akhirnya jadi orang yang tidak kenal agama.

 


Ilustrasi mayat menteri orde baru Pengusul Agama Tak Usah Diajarkan di Sekolah/ Foto: dok. Agritama Prasetyanto)/kprnc Posted on 25 Januari 2018 by Nahimunkar.org

Ketika generasi yang dididik baik di umum maupun di madrasah diduga arahnya hanya untuk membentuk manusia-manusia yang tidak kenal agama, dan kalau toh tahu sedikit tentang agama yang materinya sudah dipotong-potong hingga pengetahuan agamanya itu hanya akan menjadikan manusia munafik, maka ini benar2 musibah yang digambarkan dalam Islam sebagi generasi yang sudah dekat benar engan Hari Qiyamat. Yaitu manusia2 yang laa ya’rifuunal ma’ruf, walaa yunkiruunal munkar. (tidak mengenal yang baik, dan tidak mengingkari yang munkar). Padahal, manusia-manusia sekarang yang masih hasil Pendidikan yang tidak menyingkirkan agama, dan tidak memotong-motong agama semaunya pun sudah banyak yang jadi tokoh, yang menunjukkan jati diri mereka tidak mengenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemungkaran. Sehingga mereka tidak malu2 menyuarakan, manusia2 penyandang LGBT pun dibela apa yang mereka sebut punya hak untuk jadi ASN. Bahkan manusia2 LGBT disebut punya hak, sedang hanya ada perda Islami saja dihapus. Itu contoh nyata, tidak kenal yang ma’ruf dan tidak mengingkari kemunkaran.

Padahal, Indonesia ini sudah punya UU Sisdiknas yang inti tujuan Pendidikan itu untuk membentuk manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlaq mulia.


Mestinya, Pendidikan di Indonesia Untuk melaksanakan Pendidikan yang tujuannya dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikns) UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 ayat (2), ‘…peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,…. ‘ maka harus diberi materi pelajaran agama secara utuh dan benar, tidak dipotong-potong, dan apalagi malah dibuang, diganti dengan materi lain yang dikamuflase dengan sebutan beralandaskan agama dan Pancasila.

Bagaimana akan mendidik generasi, ketika para menteri dan yang bertanggung jawab dalam Pendidikan itu sendiri justru terang2an mengingkari UU Sisdiknas itu sendiri yang tujuannya:’… peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,…. ‘ ?

Itu termasuk prilaku yang diancam berat.

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: مَا مِنْ عَبْدِ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً, يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ, وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ, إِلَّا حَرَّمَ اَللَّهُ عَلَيْهِ اَلْجَنَّةَ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ma’qil Bin Yasâr Radhiyallahu anhu berkata, aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang hamba pun yang diberi amanah oleh Allâh untuk memimpin bawahannya yang pada hari kematiannya ia masih berbuat curang atau menipu rakyatnya, melainkan Allâh mengharamkan surga atasnya. [Muttafaq alaih]

***

Masalah Menghapus Materi Perang dan Lafal Jihad dari Kurikulum Sekolah

Perang jihad adalah amaliah paling utama dalam Islam, dan pahalanya besar. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun di Madinah, jihad itu beliau laksanakan bersama para sahabatnya tidak kurang dari 83 kali. Orang yang meninggal ketika jihad maka disebut mati syahid, kematian yang istimewa.

Allah Ta’ala berfirman

وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتَۢاۚ بَلۡ أَحۡيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمۡ يُرۡزَقُونَ ١٦٩ [سورة آل عمران,١٦٩]

yang artinya, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Rabb mereka mendapat rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

تَضَمَّنَ اللَّهُ لِمَنْ خَرَجَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَإِيمَانًا بِي وَتَصْدِيقًا بِرُسُلِي فَهُوَ عَلَيَّ ضَامِنٌ أَنْ أُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ أَرْجِعَهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ نَائِلًا مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا مِنْ كَلْمٍ يُكْلَمُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَهَيْئَتِهِ حِينَ كُلِمَ لَوْنُهُ لَوْنُ دَمٍ وَرِيحُهُ مِسْكٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْلَا أَنْ يَشُقَّ عَلَى الْمُسْلِمِينَ مَا قَعَدْتُ خِلَافَ سَرِيَّةٍ تَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَبَدًا وَلَكِنْ لَا أَجِدُ سَعَةً فَأَحْمِلَهُمْ وَلَا يَجِدُونَ سَعَةً وَيَشُقُّ عَلَيْهِمْ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنِّي وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي أَغْزُو فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُو فَأُقْتَلُ ثُمَّ أَغْزُو فَأُقْتَلُ

“Allah menjamin bagi orang yang berperang di jalan-Nya dan tidak ada yang mendorongnya keluar kecuali karena ingin jihad di jalan-Ku, dia beriman kepada-Ku, dan membenarkan para rasul-Ku, maka Aku menjamin akan memasukkannya ke dalam surga atau mengembalikannya pulang ke rumahnya dengan membawa kemenangan berupa pahala dan ghanimah (harta rampasan perang). Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seseorang pun yang terluka dalam perang fi sabilillah, melainkan kelak di hari kiamat dia akan datang dalam keadaan luka seperti semula, warnanya warna darah sementara baunya bau minyak kesturi. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sekiranya tidak memberatkan kaum muslimin, sungguh selamanya aku tidak ingin ketinggalan untuk mengikuti setiap kavaleri di jalam Allah. Namun saya tidak mampu untuk menanggung biaya mereka, sedangkan mereka juga tidak memiliki kelapangan, padahal mereka merasa kecewa jika tidak ikut berperang bersamaku. Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya saya ingin sekali berperang fi sabilillah, kemudian saya terbunuh, lalu saya berperang lagi lalu saya terbunuh, setelah itu saya berperang lagi dan terbunuh.” (HR. Al-Bukhari no. 2797 dan Muslim no. 1876)

Disamping mulianya kedudukan jihad dalam Islam, ada ancaman pula bagi orang muslim yang tidak pernah berjihad, dan tidak ada niat di hati untuk berjihad, maka ia mati di atas cabang kemunafikan.

Orang2 yang mengaku Islam di Kemenag tapi berani mau menghapus/ melarang lafal jihad dalam kurikulum sekolah tahun 2020, tidak takutkah matinya nanti sebagai orang munafik yang diancam jadi penghuni kerak neraka? Karena ada hadis begini: Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ بِهِ نَفْسَهُ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنْ نِفَاقٍ

“Siapa yang meninggal sementara ia tidak pernah berperang (berjihad) dan tidak pernah meniatkan untuknya, maka ia mati di atas cabang kemunafikan.” (HR. Muslim)

Hadits telah mengancam seperti itu. Lantas dalam kenyataan di sini, dengan dihapusnya materi tentang perang (jihad) dalam Islam dari kurikulum sekolah tahun 2020, bahkan lafal jihad pun dihapus dari kurikulum sekolah oleh Kemenag, apakah maksudnya itu untuk menumbuhkan generasi munafik?

Dimana pelaksaan UU Sisdiknas yang bertujuan ‘…peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,…. ‘ ?

Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, untuk Membentuk Manusia Beriman dan Bertaqwa, maka Wajiblah diberi materi pelajaran agama yang sesuai dengan pedoman pokok agama

Untuk melaksanakan Pendidikan yang tujuannya dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikns) UU Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 ayat (2), ‘…peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,…. ‘ maka harus diberi materi pelajaran agama yang sesuai dengan pedoman pokok agama (dalam Islam, pedoman pokoknya adalah Al-Qur’an, Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ijma’ para sahabat Nabi).

Materi pelajaran agama Islam seperti tersebut hanya bisa ditangani pengadaannya (buku2 pelajaran agama) ataupun pengubahannya oleh para ulama yang terpercaya ilmunya.

Dalam masalah Kemenag mau merombak 155 buku pelajaran agama, Kemenag tidak boleh melakukannya sama sekali tanpa menyerahkan sepenuhnya kepada para ulama yang terpercaya. Sedangkan Kemenag sendiri mengaku tidak memiliki ulama. Hingga ketika dalam kasus Ahok Gubernur Jakarta menjadi tersangka menghina Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 51, lalu Ahok diadili di pengadilan, ternyata Kemenag diminta menghadirkan ulama ahli untuk jadi saksi ahli di Pengadilan, Kemenag mengaku tidak memiliki ulama, maka tidak menghadirkan ulama yang diminta pengadilan.

https://www.nahimunkar.org/stop-merombak-155-buku-pelajaran-agama-islam/

Pantas saja Umat Islam protes, di antaranya ini.

***

Fahri Hamzah: Kata “PKI” dan “Komunis” tidak pernah dilarang, Kenapa “Khilafah” dan “Jihad” dilarang?



Wakil Ketua Umum Partai Gelora, Fahri Hamzah tidak setuju materi tentang “Khilafah” dan “Jihad” dihapus dari kurikulum madrasah oleh Kementerian Agama RI.

“Kalau betul negara ingin menghilangkan sejarah “khilafah” dan “jihad” dalam kurikulum nasional maka sebentar lagi kita akan bertengkar oleh penggunaan keluasaan lewat belakang terhadap kurikulum nasional. Pemerintah ini bisa dituduh pembuat onar dan kekacauan. @Kemenag_RI,” kata Fahri Hamzah di akun twitternya, Ahad (8/12/2019).

Mantan Wakil Ketua DPR ini membandingkan antara kata “Khilafah” dengan “Komunisme”. Walaupun PKI resmi dilarang melalui TAP MPR, namun kata “PKI” dan “Komunis” tidak pernah dilarang.

“Setahu saya, dalam sejarah Indonesia, kata “PKI” dan “Komunis” tidak pernah dilarang. Padahal PKI pernah mendalangi tragedi kebangsaan berkali-kali dan diinspirasi oleh komunisme sebagai ideologi. PKI itu nyata, ada dan pernah berkuasa dan menentukan arah bangsa,” kata Fahri.

Mungkin sekarang kubu sekuler radikal di negeri ini sudah tidak takut dengan bangkitnya PKI atau dianutnya kembali paham komunis dalam politik. Tapi, di dunia ini komunisme itu ada di mana2 bahkan di negara2 demokrasi besar masih ada partai komunis,” lanjutnya.

***

Sebelumnya, beredar surat Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI yang ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi u.p. Kepala Bidang Pendidikan Madrasah/Pendidikan Islam Seluruh Indonesia tentang Penghapusan konten khilafah dan jihad dari materi pendidikan dan soal ujian.

Dalam surat Nomor B-4339.4/DJ.I/Dt.I.I/PP.00/12/2019 tertanggal 04 Desember 2019 tersebut disebutkan tujuannya:

“Dalam rangka pengarusutamaan Moderasi Beragama dan Pencegahan Paharn Radikalisme”.

Dilansir Republika, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah pada Kementerian Agama (Kemenag), Umar, mengatakan, setiap materi ajaran yang berbau tidak mengedepankan kedamaian, keutuhan dan toleransi juga dihilangkan.

“Karena kita mengedepankan pada Islam wasathiyah,” kata Umar kepada Republika.co.id, Sabtu (7/12/2019).

Kalau betul negara ingin menghilangkan sejarah “khilafah” dan “jihad” dalam kurikulum nasional maka sebentar lagi kita akan bertengkar oleh penggunaan keluasaan lewat belakang terhadap kurikulum nasional. pemerintah ini bisa dituduh pembuat onar dan kekacauan. @Kemenag_RI

— #ArahBaru2019 (@Fahrihamzah) December 8, 2019

Setahu saya, 
Dalam sejarah Indonesia, kata “PKI” dan “Komunis” tidak pernah dilarang. Padahal PKI pernah mendalangi tragedi kebangsaan berkali-kali dan diinspirasi oleh komunisme sebagai ideologi. PKI itu nyata, ada dan pernah berkuasa dan menentukan arah bangsa. @Kemenag_RI

— #ArahBaru2019 (@Fahrihamzah) December 8, 2019

— NinjAA (@yantomee) December 8, 2019

[portal-islam.id] 09 Desember 2019

 

***

Menelaah Penghapusan Materi Perang


Ilustrasi/net

  • Kemenag yang seharusnya jadi benteng pembinaan umat Islam, telah menempatkan diri sebagai “perusak” Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

 

KEMENAG mulai tahun 2020 berencana menghapus materi perang pada Madrasah Ibtidaiyah hingga Aliyah dalam kurikulum  Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Rencana ini untuk membangun jiwa toleransi pada agama lain. Materi perang akan diganti dengan materi tentang kejayaan Islam. Rencana ini dinilai kontroversi dan kontraproduktif bahkan dapat bernilai manipulatif.


Ada beberapa hal kontroversi dari rencana ini, yaitu :

Pertama, secara hakiki ini adalah mereduksi ajaran Islam itu sendiri sebab komprehensivitas ajaran termasuk “jihad bima’na qital”. Berperang adalah jalan agama melawan penindasan dan kedzaliman.

Kedua, menghapus sejarah Islam. Tak dapat dipungkiri sejarah Islam dilengkapi dengan catatan emas peperangan menegakkan dan membela kebenaran. Rosulullah SAW adalah komandan tempur. Ingat Badar, Uhud, Khandaq dan lainnya.

Ketiga, toleransi salah kaprah. Bagaimana bertasamuh dengan agama lain dengan cara menipu kita sendiri. Harusnya difahami tentang makna perang dalam Islam yang tidak sembarang dalam memerangi agama lain.

Keempat, sedemikian parah mental budak pada umat Islam. Kita kehilangan kepercayaan diri berhadapan dengan umat lain. Anak dan generasi mendatang dididik dengan mental “minderwardig” seperti ini sehingga sejarah pun harus dimanipulasi.

Kelima, umat menjadi korban serangan musuh. Isu radikalisme dan intoleran telah memorakporandakan kekuatan umat. Ironinya justru yang menjadi sasaran adalah madrasah, tragis sekali.

Keenam, Kemenag yang seharusnya jadi benteng pembinaan umat Islam, telah menempatkan diri sebagai “perusak” Sejarah Kebudayaan Islam (SKI). Keliru dan tidak proporsional memaknai perang dan kejayaan Islam. Jiwa perang umat Islam telah memerdekakan Negara Indonesia.

Kiranya penting untuk merenungi kondisi umat Islam Indonesia sekarang ini yang semakin lama terasa seperti tamu di rumah sendiri. Ayo kita tegakkan harga diri umat dengan kepercayaan pada kemuliaan agama yang diturunkan Allah SWT ini. Jangan rusak agama demi pergaulan dunia dan setitik materi. Semoga kita tidak mendidik anak muda menjadi umat yang penakut. Nashrun minallah.[***]

 

M Rizal Fadillah Penulis pemerhati keagamaan

 


rmoljabar.com
15 September 2019 , 20:58:00 Wib | Laporan: Rmol Network

 

(nahimunkar.org)

https://www.nahimunkar.org/menelaah-penghapusan-materi-perang/

 

***

Adapun Pendidikan umum yang dikatakan akan menghapus pelajaran agama, inilah sorotannya.

***

Ditengarai, Pelajaran Agama Bakal Digusur dari Sekolah

… rencananya, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran (mapel) utama di SD.

Perlu diperhatikan, yang disebut Pendidikan karakter itu, walau dikatakan berbasis agama dan pancasila, namun itu jelas bukan pendidikan/pelajaran agama. Itu boleh jadi merupakan trik menghapus pendidikan/ pelajaran agama dari sekolah.

Bila kurikulumnya diubah dengan menggusur pendidikan agama dari sekolah, berarti benar-benar melanggar tujuan pendidikan yang telah dicanangkan dalam UU Sisdiknas No 20Tahun 2003 yang tujuannya untuk menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berakhlak mulia…

Apakah bisa, pendidikan tanpa pendidikan agama, mau mewujudkan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia… ?

Apakah itu menunjukkan adanya semacam alergi agama?

Sejumlah pertanyaan pun mungkin akan muncul dari masyarakat, dengan adanya ketidak berbobotan fikiran (serta buta terhadap Undang-undang namun mengatur negara?) yang disasarkan ke bidang pendidikan untuk seluruh Indonesia ini.

 

 

Prihatin soal Menteri Pendidikan


ILustrasi foto slideplayer.info

 

Mengatur negara itu pakai undang2. Ketika sudah ada undang2 tapi tampaknya belum tentu digubris, maka pendidikan yang (dalam UU Sisdiknas) tujuannya untuk menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia… tapi ternyata kementrian pendidikan diserahkan ke orang yang agamanya saja jadi pertanyaan banyak orang.

Ini bagaimana?

https://www.nahimunkar.org/prihatin-soal-menteri-pendidikan/

Selanjutnya, silakan simak ini.

***

 

Kurikulum Bakal Berubah Lagi : Bahasa Inggris SMP-SMA Dihapus, SD 5 Mata Pelajaran


JAKARTA –, Kurikulum pendidikan di tanah air nampaknya bakal berubah lagi.

Hal itu terungkap saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengundang sejumlah organisasi guru ke kantornya. Dia ingin mendengar cerita dan solusi masalah pendidikan tanah air dari para guru.

Dalam pertemuan pada 4 November itulah muncul wacana mengubah kurikulum. Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim ikut hadir dan berdiskusi dalam acara itu.

Menurut dia, rencananya, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran (mapel) utama di SD.

“Karena itu, mapel bahasa Inggris dihapus untuk SMP dan SMA. Sebab, sudah dituntaskan di SD,” kata Ramli.

Pembelajaran bahasa Inggris yang dimaksud Nadiem, lanjut dia, lebih fokus mengajarkan percakapan. Bukan tata bahasa.

Kemudian, untuk SMP tidak boleh lebih dari lima mapel yang diajarkan kepada siswa. Sedangkan di SMA, maksimal enam mapel tanpa penjurusan.

“Bagi siswa yang ingin fokus pada keahlian tertentu dipersilakan memilih SMK,” terang Ramli, menirukan ucapan Nadiem.

Karena SMK fokus mengajarkan keahlian tertentu, muncul wacana untuk menggunakan sistem SKS (Satuan Kredit Semester).

Dengan begitu, siswa yang dianggap pintar dan lebih cepat menguasai keahlian tertentu bisa lulus setelah dua tahun menempuh pembelajaran di sekolah. Sedangkan siswa yang lambat menyerap ilmu bisa sampai 4 tahun untuk lulus.

Menurut Ramli, Nadiem bahkan mengusulkan ujian kelulusan SMK tidak hanya normatif. Lebih ke praktis untuk mengukur ketrampilan dan keahlian siswa. “SMK tidak boleh kalah dari Balai Latihan Kerja yang hanya tiga, enam, atau 12 bulan saja,” ujarnya.

Sementara itu, Nadiem mengungkapkan bahwa dirinya hanya mengikuti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meningkatkan dan mengelola sumber daya manusia Indonesia agar lebih maju. Menurut dia, mengubah kurikulum itu bukan hanya mengubah konten.

Esensinya adalah menyederhanakan dan mengubah cara penyampaian materi kepada siswa untuk tidak hanya sekadar menghafal.

“Dan itu adalah PR (pekerjaan rumah) saya untuk bisa mengubahnya. Tapi itu bukan sesuatu yang bisa diubah dalam waktu cepat. Butuh pemikiran yang sangat matang dan butuh masukan dari para guru dan pihak lain. Jadi, penyempurnaan, penyederhanaan, dan perubahan kurikulum itu saya mengacu pada guru,” beber mantan bos Goj-Jek itu. Sebab, kata Nadiem, guru yang paling mengetahui apa yang dibutuhkan siswa-siswanya.

Menurut dia, guru-guru era sekarang sudah canggih. Mampu menggunakan teknologi sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan teknologi, guru bisa bebas memilih konten seperti apa yang cocok dengan materi pelajaran. Dengan begitu, banyak inovasi akan muncul.

Dari momen-momen tersebut bisa memicu pemerintah daerah untuk menggelar pelatihan guru berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi, pembelajaran bisa menjadi lebih efisien dan fleksibel.

“Namun yang perlu diingat, teknologi tidak bisa menggantikan peran seorang guru. Karena pembelajaran yang sesungguhnya adalah adanya koneksi batin guru dan siswa. Teknologi adalah alat, bukan segalanya,” jelasnya.

Nadiem membenarkan, dalam pertemuan dengan beberapa organisasi guru itu, banyak guru yang ingin bebas dan merdeka untuk memberikan yang terbaik kepada siswanya. Dalam arti, mereka tidak dibebani tugas yang sifatnya administratif.

“Kalau kebanyakan tugas untuk guru itu soal administratif (seperti sertifikasi atau kenaikan pangkat), tentunya waktu untuk anak dan energi akan terkuras. Itu yang harus dipikirkan,” beber Nadiem. (han/oni)

radarbogor.id/ 18 November 2019

Ilustrasi foto ytb

***

Cara menghapus pendidikan agama?

Mari kita ulangi kalimat ini:

Menurut dia, rencananya, Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta pendidikan karakter berbasis agama dan Pancasila menjadi mata pelajaran (mapel) utama di SD.

Pendidikan karakter itu, walau disebut berbasis agama dan pancasila, namun itu jelas bukan pendidikan agama. Itu boleh jadi merupakan trik menghapus pendidikan agama dari sekolah.

https://www.nahimunkar.org/ditengarai-pelajaran-agama-bakal-digusur-dari-sekolah/

(nahimunkar.org)

 

Nadiem mengungkapkan bahwa dirinya hanya mengikuti arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)…

Apakah maknanya, gejala ke arah menghapus pelajaran agama dari sekolah itu dari Jokowi ya?

Ya memang kenyataannya Jokowi telah menghapus perda2 yang bernuansa Islam. Lalu kemenag merombak 155 buku pelajaran agama Islam. Diduga itu untuk mengubah dari keyakinan Islam Tauhid ke sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme alias kemusyrikan baru yang telah diharamkan MUI 2005). Juga sertifikasi pra nikah arahnya juga ditengarai begitu. Terakhir kurikulum kemendikbud diduga mau membuang pelajaran agama. Apakah memang benar dugaan bahwa mereka itu anti Islam ya?

https://www.nahimunkar.org/perda-calon-pengantin-wajib-bisa-baca-quran-saja-dihapus-jokowi-kini-secara-nasional-tidak-boleh-nikah-tanpa-lulus-sertifikasi-pra-nikah-ditempuh-3-bulan/?f

***

Sebelumnya, MUI telah protes keras terhadap Kemendikbud yang mewacanakan untuk menghapus pelajaran agama dari sekolah.

Inilah beritanya.

***

Pelajaran Agama Dihapus, MUI: Gagasan Itu Bertentangan dengan Undang-Undang


Posted on 14 Juni 2017

by Nahimunkar.com

 

Wakil Ketua MUI, Zainut Tauhid Sa”adi.. Istimewa.


AKURAT.CO, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menanggapi pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy yang mengatakan akan menghapus pendidikan agama di sekolah dengan alasan nilai agama di rapor siswa akan diambil dari pendidikan di Madrasah Diniyah, masjid, Pura, atau gereja.

Wakil Ketua MUI, Zainut Tauhid Sa’adi menilai gagasan tersebut bertentangan dengan UU Nomor 20 TAHUN 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional khususnya Pasal 12 (1) butir a. yang mengamanatkan bahwa setiap peserta didik pada Satuan Pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya masing-masing.

Pengertian Satuan Pendidikan dalam UU tersebut yakni kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan.

“Jadi setiap siswa yang menempuh pendidikan baik itu di jalur formal, nonformal maupun informal itu berhak mendapatkan pendidikan agama, dan sekolah wajib memberikan pendidikan agama kepada siswa,” kata Zainut dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/6).

Politisi PPP itu menegaskan, hak siswa mendapat pendidikan agama adalah hak yang melekat pada setiap siswa baik yang belajar di jalur formal, nonformal maupun informal.

“Pihak sekolah sebagai pengelola pendidikan jalur formal wajib memberikan pendidikan agama,” tegasnya.

Oleh karena demikian, MUI meminta pada Mendikbud untuk lebih bijak dalam mengeluarkan pernyataan apalagi menyangkut hal yang sangat sensitif dan berpotensi menimbulkan kegaduhan.

“Lebih bagus Pak Menteri fokus bekerja menyiapkan anak didik lebih berprestasi.  Daripada terjebak pada polemik yang tidak produktif,” sarannya.[]

By: Dedi Ermansyah /news.akurat.co

(nahimunkar.com) https://www.nahimunkar.org/pelajaran-agama-dihapus-mui-gagasan-itu-bertentangan-dengan-undang-undang/

***

Catatan: Zainut Tauhid memprotes itu waktu dia hanya duduk di MUI. Kini dia telah duduk di Kemenag sebagai wakil Menag Fachrul, dan masih di MUI pula. Apa masih ada suaranya yang seperti itu? Atau mingkem, padahal justru sudah tahap perombakan untuk dilaksanakan? Menunggu kapan lagi untuk dia bersuara?

 

***

Mereka Berkehendak Memadamkan Cahaya (Agama) Allah


Posted on 8 Desember 2018

by Nahimunkar.com

 

Hari ini umat dikepung berbagai musuh. Mulai dari komunis, Syi’ah, kaum sekuler dan orang-orang munafik dari berbagai arah.

Suasana memang semakin panas. Meski konfrontasi fisik belum banyak terjadi, tetapi perseteruan pemikiran dan gesekannya bisa dirasakan. Sudah saatnya kita mengingat kembali berita Al-Qur’an, yang menyatakan bahwa orang-orang kafir ingin memadamkan cahaya Allah, dengan mulut-mulut mereka. Tetapi Allah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya walaupun mereka tidak suka. Allah berfirman;

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 7)

Ibnu katsir menjelaskan bahwa orang-orang kafir yaitu musyrikin dan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) ingin memadamkan cahaya (agama) Allah SWT. Petunjuk dan agama yang haq (benar) yang dibawa utusan Allah ingin mereka padamkan dengan bantahan-bantahan dan kebohongan-kebohongan mereka. Maka perumpamaan upaya orang-orang kafir itu seperti orang yang ingin memadamkan sinar matahari atau cahaya rembulan dengan cara meniupnya. Ini tidak mungkin. Demikian pula Rasul yang Allah utus dengan agama-Nya pastilah akan sempurna dan tampak. Oleh karena itu dalam hal yang mereka lontarkan dan inginkan, Allah Ta’ala telah berfirman membantah mereka:

وَيَأْبَى اللهُ إِلا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32)

Salah satu usaha untuk memadamkan cahaya Allah adalah membredel media-media Islam, terutama media online. Mereka blokir web-web Islam, sementara web-web yang notabene merusak generasi muda yang menyebar berita bohong dan pornografi dibiarkan. Mereka sampaikan bahwa media Islam sumber berita hoax. Memprovokasi umat dan media yang penuh dengan ketidakobyektifan. Hanya mengambil berita dari satu sisi saja.

Padahal semua orang tahu bahwa portal media Islam dan juga akun-akun media sosial lebih dekat dengan fakta. Mereka memberitakan kejadian langsung dari lapangan. Membimbing umat dengan tulisan-tulisan yang ada di dalamnya. Membantah syubhat yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Justru media-media besar yang berada di bawah kendali orang-orang kafirlah yang menjadikan berita sebagai tunggangan politik. Mendiskreditkan para ulama dan kiyai dan memisahkan mereka dari umat.

Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya. Apapun tipudaya orang-orang yang tidak senang terhadap Islam, Allah pasti akan membalas dengan tipu daya yang lebih baik. Allah ta’ala berfirman;

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللهُ وَاللهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran: 54)

Ayat di atas juga mengandung ancaman bagi orang-orang kafir bahwa kelak mereka akan kalah. Yakinlah bahwa Islam akan menang karena janji Allah pasti terjadi. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda;

إِنَّهُ سَيُفْتَحُ لَكُمْ مَشَارِقُ اْلأَرْضِ وَمَغَارِبُهَا

“Sesungguhnya akan ditaklukkan untuk kalian timur dan barat bumi.” (HR Ahmad).

Maknanya bahwa belahan bumi barat dan timur akan menjadi tempat tegaknya kembali syari’at Islam/ www.an-najahnet, diringkas.

***

Islam Tidak Dapat Dibendung

Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. [at-Taubat/9:32].

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

…Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. [Ali ‘Imrân/3:120].

 

(nahimunkar.org)