Sumber foto : salafiyunpad.wordpress.com/Ilustrasi


Menonton tv kajian pagi, ada beberapa ustadz dan ustadzah”gaul” sebagai pengisi acaranya pengen dapat ilmu malah bikin sering2 istighfar, karena misinya membawa citra Islam itu indah akhirnya seakan-akan semua perkara yang di tanyakan halal semua, astaghfirulloh.

Jadi ingat perkataan Ustadz Maududi Abdullah, “seseorang yang baru saja berhijab beberapa tahun yang lalu tiba2 menjadi ustadzah, dan dia sudah berani mengisi acara kajian ilmu kepada orang2 awam, ini jelas berbahaya, dia belum berhak menyampaikan risalah karena ilmu yang dimilikinya masih sangat sedikit, dia sebenarnya masih lebih pantas duduk di kajian para kyai dan ustadz serta banyak belajar jika dia berniat menyampaikan ilmu kepada yang awam. Karena jika memaksakan diri sementara ilmu belum punya, yang terjadi justru membahayakan umat ini, mendorong yang awam kepada kesesatan karena kesalahan dalam menyampaikan sebuah perkara tanpa disertai dalil shahih”.

Ustadz Abu Haidar As Sundawy juga menyampaikan hal senada, jika seseorang menyampaikan sebuah syariat Allah dan RasulNya meskipun niatnya baik, namun karena ada kesalahan atas apa yang dia sampaikan karena minimnya ilmu yang dimilikinya, kemudian itu dipahami yang awam dengan salah, kemudian diamalkan banyak orang dengan salah juga, maka dosanya sangatlah besar bagi orang yang menyampaikan nya.

Allah Ta’ala berfirman

قُلْ إنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui“.” (QS. Al A’rof: 33)”

Ibnul Qayyim -rahimahullah- ketika menjelaskan ayat di atas mengatakan, “Allah mengurutkan keharaman menjadi empat tingkatan. Allah memulai dengan menyebutkan tingkatan dosa yang lebih ringan yaitu al fawaahisy (perbuatan keji). Kemudian Allah menyebutkan keharaman yang lebih dari itu, yaitu melanggar hak manusia tanpa jalan yang benar. Kemudian Allah beralih lagi menyebutkan dosa yang lebih besar lagi yaitu berbuat syirik kepada Allah. Lalu terakhir Allah menyebutkan dosa yang lebih besar dari itu semua yaitu berbicara tentang Allah tanpa ilmu. Larangan berbicara tentang Allah tanpa ilmu ini mencakup berbicara tentang nama dan shifat Allah, perbuatan-Nya, agama dan syari’at-Nya.”

Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena berbicara tentang Allah dan agama-Nya tanpa dasar ilmu akan membawa pada dosa-dosa yang lainnya.

Via FB Siswo Kusyudhanto

 (nahimunkar.com)

(Dibaca 4.297 kali, 1 untuk hari ini)