Bisa Digulingkan dengan Mudah

Jakarta – Sebenarnya pemerintahan SBY saat ini lemah sebagai akibat dari menurunnya kepercayaan rakyat dan banyaknya skandal yang terjadi seperti Century, Mafia Pajak, IT Pemilu dan sebagainya. Apalagi sekarang TNI tidak lagi solid dan sudah terpecah belah. Jadi sebenarnya untuk menggulingkan SBY sangatlah mudah.

“Saya kira kalau Tunisia butuh korban 67 orang, Mesir 400 orang dan Libia 6000 orang, maka untuk menggulingkan SBY dari kekuasaannya tidak perlu korban banyak, cukup 1 orang korban saja saya yakin SBY akan terguling,” ujar tokoh oposisi kawakan Sri Bintang Pamungkas dalam diskusi “KPK Gagal, Saatnya Kasus Century ke Ranah Politik”, yang diadakan di Press Room DPR-MPR RI, Senin (19/9/2011).
Selain Sri Bintang, juga tampil para tokoh oposisi dan vokalis DPR seperti  Mayjen TNI (Purn) Saurip Kadi, Sekjen Asosiasi Pembayar Pajak Indonesia (APPI) Sasmito Hadinagoro, Anggota Komisi III DPR Syarifuddin Suding dan Nudirman Munir.

Menurut Sri Bintang, rezim Sukarno jatuh hanya dengan korban 3 orang termasuk  Arief Rahman Hakim, sedangkan rezim Suharto jatuh hanya dengan korban 4 mahasiswa Trisakti. Jika nanti SBY jatuh hanya perlu 1 korban mahasiswa, apalagi TNI sekarang sudah terpecah dan tidak sesolid ketika zaman Orde baru.

“Jadi kalau prediksi Ridwan Saidi, untuk menjatuhkan SBY perlu korban sampai 50 orang saya kira terlalu banyak, cukup 1 korban saja maka SBY akan jatuh. Jika SBY sampai jatuh, harus ganti rezim ganti sistim,” ungkap Sri Bintang Pamungkas.

Dikatakannya, rezim saat ini sudah gagal dan rusak. Kegagalan SBY bukan hanya pada masalah penegakan hukum, khususnya dalam kasus korupsi, tetapi juga dari segi moral bangsa.

“Pemerintahan saat itu gagal menumpas korupsi, gagal dalam melindungi dan menyejahterakan rakyat dan gagal menguasai kekayaan alam Indonesia. Sudah lengkaplah kegagalan pemerintahan ini,” tegasnya.

Sementara itu Saurip Kadi mengungkapkan, saat ini bangsa Indonesia krisis kepemimpinan. “Kerusakan terjadi sekarang ini adalah kerusakan peradaban, kalau kerusakan di zaman Orde Baru hanya pada administrasi pemerintahan saja,” katanya.

Dia menyontohkan dalam masalah korupsi misalnya, di zaman Orde Baru korupsi dilakukan secara sembunyi-sembunyi, sehingga sulit untuk dikontrol dan dibuktikan. Tetapi zaman sekarang justru terang-terangan sekalipun ada KPK. “Inilah yang saya maksud dengan kerusakan moral dan peradaban itu,” tegas Saurip Kadi.

Sedagkan anggota Kosmisi III DPR Syarifuddin Suding juga mengatakan bahwa, bukti kegagalan pemerintahan saat ini adalah, tidak tuntasnya berbagai kasus serius seperti Century. Pemerintah utamanya penegak hukum sudah melecekan rekomendasi DPR atas kasus Century tersebut.

Jika hingga Desember 2011 nanti rekomendasi DPR masih tidak ditindaklanjuti aparat penegak hukum, kata Suding, maka DPR berhak mengambil kembali rekomendasi tersebut dan menindaklanjutinya dengan menggunakan Hak Menyatakan Pendapat, yang merupakan hak terakhir bagi DPR dalam melakukan fungsi kontrol.

Sementara Sasmito Hadinagoro mengusulkan dibukanya kembali Hak Angket Mafia Pajak yang sempat gagal digulirkan ke DPR beberapa waktu lalu, karena tidak solidnya kekuatan oposisi di DPR.

“Saya kira Hak Angket Mafia Pajak jilid II perlu digulirkan setelah jilid I gagal. Sebab jika berhasil diungkap, maka korupsi pajak akan jauh lebih menakutkan penguasa daripada korupsi Century. Sebab dalam perhitungan saya, korupsi pajak mencapai Rp 1.000 triliun pertahun,” tegas Sasmito Hadinagoro.

Rep: Abdul Halim

Tuesday, 20 September 2011 22:54 | Written by Jaka |   (SI ONLINE)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 482 kali, 1 untuk hari ini)