Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Pernah suatu kala Edho Zell, seorang YouTuber sukses padahal isinya cuma entertainment dan lawakan semata, diundang ke suatu acara televisi, untuk diwawancarai dan diwawacandai. Saya lupa acara apa itu. Wong liatnya juga di YouTube kok. Pembawa acaranya gundul, mirip Dedy C. Atau jangan-jangan itu dia, entahlah.

Ditanyangkanlah courtesy dari channelnya, video Draw My Life, menceritakan kisah dan sejarah hidupnya. Konon dulunya dia adalah orang susah. Setelah video courtesy selesai, diwawancarai. Saya lumayan tertarik dengan momentum ini. Kira-kira dia ditanya begini:

“Dulu ente (redaksi bahasa pesantren dari saya sendiri) berarti hidupnya susah gitu ya, terombang-ambing ke sana kemari.”

Jawaban dia cuma begini: “Sebenarnya ga susah sih dulu hidupnya, cuman kurang bersyukur aja.”

Saya menyayangkan itu.

Lho, kenapa?

Karena jawaban itu keluar dari seorang penganut Kristen. Bukan muslim sama sekali. Bahkan, konon cerita dia, setelah hidupnya sebelumnya wrecked, stranded dan frustrated, dia baru mendapatkan illuminati dari gereja.

Saya menyayangkan itu.

Lho, kenapa lagi, sih?

Karena sekiranya saya tahu bahwa dia adalah muslim, akan saya doakan benar-benar supaya hidupnya tidak main-main lagi dan jadi anak pengajian saja. Jawaban itu bagus banget, jika pemilik lidahnya adalah muslim.

Dan saya sedih kalau melihat muslim yang frustrasi hidupnya, putus asa…semua itu karena kurang bersyukur. Ini orang bukan muslim, malah ga begitu strict di agamanya dia, jawabannya bagus. Walau bisa saja kita buruksangkakan, “Eh, ente pas udah tajir dapet duit banyak dari YouTube aja deh, enak bilang gitu. Dulu paling ente misuh-misuh.”

Saya banyak melihat potensi-potensi anak-anak muda di YouTube, mereka berkreasi di bidangnya, tapi sayang, bidangnya ga bermanfaat kecuali sekadar hiburan. Ada yang cuma bisa jadi beatboxer, atau tukang nge-prank di mall atau jalanan, atau vlogger yang isinya tidak memberikan nutrisi buat otak dan tidak bikin hati jernih. Sebagian mereka anak-anak Tiongkok, dan bukan Muslim. Sebagian mereka Muslim.

Kalau dipersilakan saya berharap baik buat mereka semua, semoga kembali ke jalan Islam, dan berhenti memberikan non-sense terutama yang alay-alay itu; sehingga kita bisa menjadi saudara yang sama-sama ingat kelak kita bakal mati membawa amal. Di kubur nanti ga bakal ditanya, ‘Sudah berapa vlog yang kamu upload?’, ‘Sudah berapa subscribers?’, ‘Sudah berapa kali buat video mailtime?’, ‘Kolaborasinya sampai sejauh mana?’

Yang ditanya:

“Siapa Tuhan kamu?”
“Siapa Rasul kamu?”
“Apa agama kamu?”

Jangankan yang pure entertaining, bahkan saudara-saudara muslim di kanal-kanal YouTube yang menyisipkan dakwah pun, sangat banyak yang hakikatnya hanya menghibur semata.

Entah…saya hanya merasa sayang akan waktu mereka semua. Grow up. Dewasalah dalam memandang kehidupan. Tapi, jika mau main-main terus, maka bermainlah saja.

(nahimunkar.com)

(Dibaca 6.015 kali, 1 untuk hari ini)