Di suatu sesi tanya jawab, permasalahan kartu kredit diangkat. Ada kalimat Ust. Erwandi yang layak diangkat di sini: “Jangan dengarkan ustadz yang ndak ngerti mu’amalat. Banyak ustadz yang ngomong…saya tahu banyak ustadz yang ngomong…ustadz sunnah juga….ustadz salaf juga…salaf (itu di) aqidah…kalau mu’amalat belum ngerti beliau. Belum sampai derajat ustadz (di bidang mu’amalat).”

Kemudian beliau mengutip perkataan, “Asal tidak terlambat, silakan pakai kartu kredit. Mau leasing silakan, asal tidak terlambat.”

Beliau pun mengomentari, “Ini kalau jadi mahasiswa saya, saya kasih nilai NOL.”
Selesai.

Hendaknya memang kita tidak memandang mentang-mentang. Mentang-mentang ust. fulan adalah ustadz sunnah, maka bisa segala hal ditanyakan kepadanya. Soal management, soal mu’amalat dan soal lapangan.

Kami pun pernah menyimak pula dan cukup takjub pada sekian detik pembicaraan seorang dai menuju sunnah namun tendensius terhadap beberapa asatidzah pakar mu’amalat yang mengkritik bank-bank sekalipun berlabel syariah. Padahal kenyataannya, asatidzah ini benar dalam bertutur, sesuai realita.

Dan setelah terketahui, oh, sang dai juga mengisi kajian di salah satu bank.

Mengerti aqidah Ahlus Sunnah tidak mesti langsung begitu saja memahami perkara-perkara mu’amalah apalagi yang bersifat kontemporer. Kadang mahasiswa semester dua jurusan Bahasa Indonesia yang tak ada nyambungnya dengan Sunnah dan Mu’amalah, malah lebih mengerti teori mu’amalah, skema, hukum dan lapangannya.

Disebabkan: belajar. Terlebih menerawang ke lapangannya.

Butuh belajar dulu. Kalau belum belajar atau belum tahu, cukuplah bertaqlid pada ulama dan asatidzah yang mumpuni di bidang mu’amalah. Sekalipun beliau juga ustadz? IYA. Sekalipun beliau juga banyak jema’ahnya? IYA.

Sekalipun beliau lebih tua usianya? IYA!

Ust. Erwandi sendiri menuturkan, “Beberapa ustadz sunnah adalah mahasiswa saya di S2 dan s3 di kampus (X).”

Ya lebih-lebih semisal kita. Lebih butuh belajar daripada berfatwa.

Point penting lainnya: Jangan sampai gegara diundang dan diberi service enak, kemudian kita membela yang haram karena kejahilan dan terlanjur diberi yang enak-enak. Jadinya tidak enakan.

Sunnah ya sunnah.

Kajian terbaru Ust. Erwandi Tarmizi yang diupload di YouTube.

https://www.youtube.com/watch?v=g5udnJGu_lA

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

Kajian ilmiah: Apa Itu Gharar? – Ustadz Dr. Erwandi Tarmizi, MA

Gharar pada saat melakukan transaksi akad apakah jelas atau tidak. Bisa dilihat dari terjadi atau tidak, object ada atau tidak, harga dari object itu bisa di…

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.522 kali, 1 untuk hari ini)