Berhentilah sejenak ketika kita merasakan rupanya ilmu yang kita bawa atau kita telah pelajari menjadikan kita sombong. Bahkan orang yang berada di atas kita dari segi ilmu namun sedang bersalah, kita posisikan lebih rendah dari diri kita.

Karena ada masanya, ketika kita mengghibahi seseorang akan aibnya tanpa haq, hadir kelak ujian ketika kita terjerumus di jenis kesalahan yang kita cela dari orang tersebut. Ada waktunya ketika kita menjelekkan seseorang, kelak kita diuji dengan kasus serupa.

Sebagaimana pula, ketika kita menuturkan suatu amar ma’ruf, kelak kita akan diuji pula. Agar diketahui sesiapa yang sekadar bicara dan sesiapa yang jujur hatinya.

Berhentilah sejenak ketika kita merasa tinggi. Karena saat itu jiwa sedang liar. Mungkin karena bangga sudah belajar pembahasan yang berat, atau pembahasan yang jarang dibahas di kalangan awam, atau telah bersama kelas elit. Jiwa yang sungguh tidak tenang dengan ilmu.

Berkata Ibnu Rajab:

فمتى كان العلم نافعاً ووقر في القلب فقد خشع القلب لله

“Ketika ilmu itu bermanfaat dan menjadi ketenangan di hati, maka khusyu’ lah hatinya kepada Allah.”

Tidak bersatu antara kesombongan dengan ilmu bermanfaat, ketenangan jiwa dan kekhusyu’an.

Orang yang sombong, ilmunya tidak dimanfaatkan. Hati orang yang sombong tidak sedang tenang, sekalipun sedang berbicara dengan ilmu. Dan bagaimana mungkin ia disebut sedang khusyu’ kepada Allah selagi sombong?!

Periksalah mari hati kita masing-masing. Kesombongan biasanya menjangkiti orang yang mempunyai kelebihan, atau merasa punya kelebihan. Ia sulit hadir di orang serba kekurangan, atau merasa kurang. Maka, sombongnya seorang berilmu, itu lebih mungkin daripada sombongnya orang jahil. Semoga Allah maafkan kesalahan kita, yang berilmu pun belum tentu, namun arogan bisa jadi

Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.org)

(Dibaca 692 kali, 1 untuk hari ini)