Berkaca Omongan Presiden Tanzania, Pemerintah Harus Buka-bukaan Soal Hubungan Dengan China


Ilustrasi – Sikap melunak respon petinggi Indonesia atas klaim perairan Natuna dikaitan dengan utang kepada China / serambinews.com
4 Januari 2020

Cengkraman utang merupakan salah satu beban yang harus ditanggung seluruh anak bangsa dan dapat menghambat laju pembangunan Indonesia.

 

Begitulah kata pakar politik dan hukum Universitas Nasional Jakarta, Saiful Anam yang setuju dengan pernyataan dan sikap Presiden Tanzania, John Magufuli yang membatalkan pinjaman dari China. Magufuli menolak utang China lantaran menganggap syarat yang diberikan tidak masuk akal dan hanya bisa dipenuhi oleh orang mabuk.

 

Menurut Saiful, Indonesia terlalu memberi tempat spesial untuk China dengan berbagai cara apapun, mulai dari pembangunan infrastruktur serta memberikan akses Tenaga Kerja Asing (TKA).

 

Atas dasar itu, dia menduga ada sesuatu yang mengikat Indonesia dan China.

 

“Saya menduga ada deal tersendiri antara Jokowi dengan Pemerintah China,” ucap Saiful Anam kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (27/4).

 

Hal itu diyakini Saiful lantaran melihatnya ketidakberdayanya pemerintahan Jokowi dalam berhubungan dengan China.

 

“Bahkan bukan tidak mungkin utang yang diberikan oleh China kepada Pemerintah Indonesia terdapat kompensasi tertentu, sehingga pemerintah tidak berdaya apabila berhubungan dengan China,” kata Saiful.

 

Dengan demikian, Saiful mendesak agar pemerintahan Jokowi untuk segera membuka data deal-dealan tertentu dengan pemerintah China kepada rakyat Indonesia.

 

“Selain itu penting kiranya bagi rakyat tau apakah hal itu benar-benar ada. Tentu rakyat ingin tahu dan mendesak kepada siapapun untuk membuka deal tertentu dengan Pemerintah China,” tegas Saiful.

 

“Deal sangat berbahaya bagi kemandirian bangsa, cengkraman utang menjadi salah satu beban yang harus ditanggung seluruh anak bangsa dan dapat menghambat pembangunan Indonesia,” sambung Saiful.[rmol]

 

Gelora News 
27 April 2020

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 214 kali, 1 untuk hari ini)