Dalam tulisan nahimunkar.com yang berjudul Ngawurnya Said Agil Siradj dalam Menjelek-jelekkan Pihak yang Dia Sebut Wahabi (https://www.nahimunkar.org/8897/ngawurnya-said-agil-siradj-dalam-menjelek-jelekkan-pihak-yang-dia-sebut-wahabi/) ada komentar dari pembaca yang menunjukkan ke link http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html.

Di sana ada artikel yang membuka aurat Syaikh Idahram penulis buku lanjutan dari buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”. Buku kedua itu  berjudul  MEREKA MEMALSUKAN KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK” Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi.

Buku kedua Syaikh Idahram itu ditelanjangi oleh Ustadz Agus Hasan Bashori dengan judul artikel berseri: SERIAL AURAT BUKU SYAIKH IDAHRAM -2 yang direncanakan ditulis sampai 3 seri.

Seri pertama dapat dibaca di link tersebut di atas, yang intinya adalah membuka aurat syaikh Idahram dalam menerjemah yang memalukan, hingga kesimpulannya pun sangat jauh dari kebenaran.

Berikut ini kami kutip sebagiannnya, kemudian kami lanjutkan dengan seri yang kedua di bagian bawah.

Selamat menyimak.

***

Bismillahirrahmanirrahim

Aurat pertama:

Di halaman 49-50 mereka menulis:

Perintah untuk membakar Buku-Buku dan memalsukannya

ولا نأمر باتلاف شيء من المؤلفات أصلاً، إلاّ ما اشتمل على ما يوقع الناس في الشرك، كروض الرياحين، أو يحصل بسببه خلل في العقائد، كعلم المنطق، فإنه قد حرمه جمع من العلماء، على أنا لا نفحص عن مثل ذلك، وكالدلائل، إلاّ إن تظاهر به صاحبه معانداً، أتلف عليه ؛ وما اتفق لبعض البدو، في اتلاف بعض كتب أهل الطائف، إنما صدر منه لجهله، وقد زجر هو، وغيره عن مثل ذلك

 Perhatikan terjemahannya dalam buku ini:

Bandingkan dengan terjemahan kami:

“Dan kami tidak memerintahkan untuk menghilangkan (memusnahkan) sesuatu pun dari kitab-kitab itu sama sekali, kecuali yang berisi sesuatu yang menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan, seperti Raudh al-Rayyahiin, atau apa yang bisa menyebabkan kerusakan dalam akidah, seperti ilmu manthiq, karena ia telah diharamkan oleh sejumlah ulama, itupun kami tidak memeriksa (mencari-cari) tentang hal itu, dan seperti Dalail al-Khairat, kecuali jika pemiliknya menampakkannya sebagai orang yang menentang, maka dihilangkan atasnya. Dan apa yang terjadi secara kebetulan bagi sebagian orang baduwi dalam memusnahkan sebagian kitab penduduk Thaif, maka sesungguhnya hal itu dilakukan karena kebodohannya, padahal ia dan yang lainnya sudah dilarang dari hal tersebut (maksudnya dari mencari-cari dan memeriksa, atau juga membakar-bakar.” Wallahu a’lam.

Perhatikan aurat mereka:

  1. Dalam judul bahasan mereka tulis: “dan memalsukannya”.

Perintah untuk Membakar Buku-Buku dan memalsukannya

 Begitu pula dalam keterangan di bawahnya. Maka, kita yang berakal ini perlu bertanya, mana ucapan Syaikh Muhammad yang menyuruh pengikutnya untuk memalsukan buku-buku para ulama?!!

Kalau demikian, siapa yang melakukan kebohongan publik?!

Saya sangat khawatir banyak pembaca berhusnuzhan kepada para tokoh yang begitu meyakinkan mendukung buku ini sehingga menelan begitu saja apa yang ada di dalamnya meskipun itu dusta. Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni mereka dan melindungi umat Islam dari orang-orang alim yang membawa fitnah.

  1. Kalimat “ajaran yang membuat manusia menjadi musyrik” diberi catatan kaki sebagai berikut: musyrik versi salafi wahhabi adalah orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul, tabarruk, peringatan maulid nabi, dzikir bersama, ziarah ke makam orang shaleh, dan tidak sependapat dengan mereka. Karena menurut mereka, umat Islam yang tidak mengkafirkan orang-orang yang mereka (salafi wahabi) kafirkan maka dia juga adalah kafir, sebagaimana hal itu dinyatakan dalam buku mereka; Muhammd ibn Abdil Wahhab dkk: ad-Durar as-Saniyyah, op.cit, pada jilid 9 h. 289.

 

  • Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki pun menggelarinya dengan sebutan “Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin” (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya Mafahim Yajib an-Tushahhah[1] halaman 202

[1] Kitab Sayyid Muhammad ibn Alwiy al-Maliki ini sudah dikritisi kesalahan-kesalahannya oleh Syaikh Shalih ibn Abdul Aziz Al-Syaikh dalam buku yang berjudul Hadzihi Mafahimuna, yang dicetak dalam edisi Indonesia  dengan judul Meluruskan Pemahaman, terbitan Nashirul Haq.

Untuk lebih lengkapnya, silakan baca di link:

http://www.gensyiah.com/serial-aurat-buku-syaikh-idahram-2-bag-1.html

***

Selanjutnya, mari kita simak seri kedua:

SERIAL AURAT BUKU SYAIKH IDAHRAM -2

Bagian (2)

Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.

 Belakangan diketahui bahwa  nama Syaikh Idahram adalah Marhadi kelahiran 1975, sengaja dia samarkan dengan membalik hurufnya menjadi Idahram mengikuti model bahasa Kera Ngalam/Arek Malang.  Kemudian dia beri gelar Syaikh di depannya, yang di negri kita ini maknanya adalah orang yang sepuh usia dan sepuh ilmunya, ternyata kenyataannya  tidak demikian. Ini bisa disebut sebagai perbuatan mengecoh atau mengelabui yang dalam bahasa Arab dan dalam disiplin Ilmu Hadits disebut tadlis. Oleh karena itu mulai sekarang kita panggil dengan panggilan Ustadz, sebagaimana lazimnya di Indonesia.  Ustadz Idahram, penulis buku “MEREKA MEMALSUKAN KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK” Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi

secara meyakinkan dan terang-terangan telah melakukan “kedustaan kebohongan” di depan publik, dengan menuduh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab dengan tuduhan-tuduhan keji sebagai orang yang ajarannya sesat, (setan berbentuk manusia, pemimpim aliran sesat yang sudah diprediksi oleh Nabi sebelumnya dan diperintahkan untuk dibunuh dan dijanjikan pahala bagi yang membunuhnya, karena ia dan kelompoknya melakukan terror kepada umat Islam), mengkafirkan umat Islam, membakar kitab dan mengajarkan pengikutnya untuk memalsukan kitab para ulama dan lain sebagainya. Hal itu didasarkan pada pemahamannya (terjemahannya) yang salah fatal terhadap ucapan syaikh Muhammad ibnu abdil wahhab!!!

Pembaca yang kami hormati, Syaikhul Islam ibnu Taimiah berkata:

وكثير من الناقلين ليس قصده الكذب، لكن المعرفة بحقيقة أقوال الناس من غير نقل ألفاظهم، وسائر ما به يعرف مرادهم قد يتعسر على بعض الناس، ويتعذر على بعضهم

“Banyak dari orang yang mengutip bukan maksudnya berdusta tetapi mengetahui hakekat ucapan manusia tanpa mengutip redaksi mereka, dan semua apa yang dengannya bisa diketahui maksud mereka, terkadang sulit atas sebagian manusia, dan tidak mungkin bagi sebagian mereka (yang lain).” (Lihat Minhaj as-Sunnah, 6/3030)

Ibnul Qayyim berkata:

صحة الفهم وحسن القصد من أعظم نعم الله التي أنعم بها على عبده، ثم قال  وصحة الفهم نور يقذفه الله في قلب العبد، يميز به بين الصحيح والفاسد، والحق والباطل، والهدى والضلال، والغي والرشاد   (

“Benarnya pemahaman dan bagusnya maksud (niat) adalah termasuk nikmat Allah yang paling agung yang dianugerahkan kepada hamba-Nya. Kemudian berkata: Benarnya  pemahaman adalah cahaya yang dilontarkan oleh Allah di hati hamba-Nya, dengannya ia membedakan antara yang benar dan yang rusak, yang hak dan yang batil, petunjuk dan kesesatan, penyimpangan dan kelurusan.” (lihat A’lamul Muwaqqi’iin, 1/87)

Oleh karena itu mari kita memohon kepada Allah ilmu yang benar dan pemahaman yang tepat, khususnya pada saat menghadapi masalah yang rumit. Syaikhul Islam ibn Taimiah kalau menghadapi masalah sulit yang sudah buntu pikiran berdoa kepada Allah diantaranya dengan:

يا معلّم ابراهيم علمني ويا مفهّم سليمان فهمني.

“Wahai Yang Maha mengajari Ibrahim ajarilah aku dan wahai yang Memahamkan Sulaiman fahamkanlah aku.”

Karena jika tidak diberi ilmu dan pemahaman maka akan terjerumus kepada kekeliruan, kezhaliman dan fitnah, serta menelanjangi auratnya sendiri di hadapan orang –di dunia dan juga di akhirat jika tidak bertaubat- seperti yang kita saksikan bersama dialami oleh Ustadz Marhadi ini. –Alhamdulillah alladzi ‘afana mimma ibtalahu bih-

Berikut ini adalah auratnya yang kedua:

Di halaman 166-167 dia menulis sebb:

Komentar:

  1. sudah kita terangkan bahwa tawassul dengan Nabi saw bukan kufur dan bukan syirik, selalu saja orang menuduh syaikh mengkafirkan orang yang bertawassul. Faham yang salah ini juga dibawa oleh KH. Muhammad Idrus Ramli penulis buku Madzhab Asy’ari benarkah Ahlussunnah? saat bertemu dengan saya di Surabaya[1]. Faham ini  juga dibawa oleh Tenku Dzulkarnaen dalam bukunya  Salah Faham halaman 237.

 

Ternyata mereka ikut KH. Sirajuddin Abbas penulis 40 Masalah Agama, dan KH. Sirajuddin mengikuti orang lain sebelumnya.

Di dalam makalah pertama sudah kita buktikan bahwa menuduh syaikh mengkafirkan orang yang bertawassul adalah fitnah, tuduhan, kebohongan dan kebatilan.

  1. Model Terjemah yang menyesatkan:

Ucapan syaikh begitu jelas dan gamblang:

من لم يكفر المشركين، أو شك في كفرهم، أو صحح مذهبهم كفر

Yang artinya: “barang siapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau meragukan kufur mereka atau membenarkan madzhab mereka maka ia kafir.”

Namun sangat disayangkan ustadz Marhadi menerjemah sesuai dengan keinginan dirinya bukan sesuai dengan keinginan pemilik ucapan. Dia terjemahkan: “barang siapa yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik-yakni umat islam yang bertawassul dengan nabi saw,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid nabi saw dan isra` mi’raj, dll, pen.- atau ragu untuk mengkafirkan mereka, atau membenarkan madzhab mereka maka dia telah kafir.”

Untuk mengetahui bahaya dan lucunya model terjemahan ini, mari kita terapkan pada ayat-ayat al-Qur`an. Allah berfirman:

فَاقْتُلُوا الْمُشْرِكِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ

“Maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu -yakni umat islam yang bertawassul dengan nabi saw,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid nabi saw dan isra` mi’raj, dll, pen.- dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.” (QS. At-Taubah, 5)

أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang mempersekutukan tuhan-yakni umat islam yang bertawassul dengan nabi saw,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid nabi saw dan isra` mi’raj, dll, pen.-.” (QS. An-Nahl, 123)

Atau kita terapkan pada sabda Nabi saw:

أَخْرِجُوْا الْمُشْرِكِيْنَ مِنْ جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ

“Keluarkan orang-orang musyrik-yakni umat islam yang bertawassul dengan nabi saw,. Melakukan dzikir jama’i, tahlilan, peringatan maulid nabi saw dan isra` mi’raj, dll, pen.-  dari jazirah Arab.” (HR. Bukhari, Muslim)

Pertanyaannya:

Apakah boleh menerjemah dengan cara begini? Jelas tidak boleh. Mengapa? Sebab bukan itu yang dimaksud oleh Allah dan Rasul-Nya. Begitu pula, tidak boleh menerjemah ucapan syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab rahimahullah dengan cara begitu, sebab bukan begitu yang beliau maksud. Dari mana kita tahu maksudnya? Dari ucapannya dan penjelasannya, dari penjelasan para muridnya dan pengikutnya. Jika kita menerjemah tidak berdasarkan maksud si pembicara maka kita telah berbuat zhalim, dusta dan nista.

  1. Maksud ucapan syaikh yang sebenarnya:

Syaikh Muhammad berkata: Ketahuilah bahwa pembatal Islam itu ada 10:

الأول : من النواقض العشرة : الشرك في عبادة الله تعالى ، قال الله تعالى : { إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ } 1) وقال تعالى : { إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ } ومنه الذبح لغير الله ، كمن يذبح للجن أو للقبر.

 الثاني : من جعل بينه وبين الله وسائط يدعوهم ويسألهم الشفاعة ويتوكل عليهم فقد كفر إجماعا.

الثالث : من لم يكفّر المشركين أو شك في كفرهم أو صحح مذهبهم كفر .

Pertama: syirik dalam beribadah kepada Allah. Allah berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 116). Dan dia berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72) diantaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti untuk jin atau untuk kuburan.

Kedua: barang siapa menjadikan antara dirinya dan Allah perantara-perantara yang ia berdoa kepada mereka dan meminta syafaat kepada mereka dan bertawakkal kepada mereka maka ia kafir secara ijma’.

Ketiga: barang siapa tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu-ragu tentang kufurnya mereka atau membenarkan madzhab mereka maka ia kafir.” (Ini disebut oleh beliau dalam beberapa kitabnya; al-Wajibat al-Mutahattimat ‘ala kulli muslim wa muslimah, daftar isi oleh Abu Ayyub al-Sulaiman, hal. 4;)

Sementara dalam kitab ar-Rasail al-Syakhshiyyah, daftar isi oleh abu Ayyub al-Sulaiman, risalah 32, ditujukan kepada Muhammad ibn Faris, hal 125, disebutkan contoh syirik (pembatal pertama):

ومنه الذبح لغير الله كمن يذبح للجن أو القباب.

“Diantaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti untuk jin atau untuk kubah-kubah kuburan.” Ini juga disebutkan dalam dalam kitab Mausu’ah Muallafat al-Imam Muhammad Ibn Abdul wahhab, yang dikumpulkan oleh Abu Ayyub alSulaiman, 8/125, hanya saja ayat dari surat al-Maidah tidak disebut.

Sementara dalam kitab Nawaqidhul Islam tulisan Syaikh Abdul Aziz ibn Baz, disebutkan contoh syirik (pembatal pertama):

ومن ذلك دعاء الأموات ، والاستغاثة بهم ، والنذر والذبح لهم .

Diantaranya adalah berdoa (meminta hajat) kepada orang mati, istighatsah (meminta pertolongan keselamatan, pada saat genting) kepada mereka, bernadzar dan menyembelih karena mereka .

kemudian Syaikh Abdul Aziz Ibn Abdillah al-Rajihi dalam kitab As-ilah Wa Ajwibah Fil Iman Wal Kufr, pada soal ke 23 ditanyakan:

ما معنى قول الشيخ محمد بن عبد الوهاب في الناقض الثالث من نواقض الإسلام : (من لم يكفر المشركين أو شك في كفرهم أو صحَّح مذهبهم فهو مثلهم)؟

الجواب:

معنى هذا أن من اعتقد أن المشركين على حق أو توقَّف في ذلك فهو كافر ؛ لأنه لم يكفر بالطاغوت ؛ لأن التوحيد لا بد فيه من أمرين :

الأمر الأول : الكفر بالطاغوت .

الأمر الثاني : الإيمان بالله .

وهذا هو معنى : ( لا إله إلا الله ) وأن معناها : لا معبود بحقٍ إلا الله

Jawab:

Maknanya, barang siapa meyakini bahwa orang musyrik itu berada di atas kebenaran atau dia diam tidak mau bersikap (ragu-ragu) dalam hal itu maka dia kafir sebab dia tidak menyatakan kufur kepada thaghut, sebab tauhid itu harus  mengandung 2 unsur: pertama: kufur kepada thaghut dan kedua: iman kepada Allah.

Ini adalah makna Laa ilaaha illallah, yang artinya: tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.

***

Syaikh dalam rasailnya telah menjelaskan macam-macam syirik akbar dengan dalil-dalilnya, yaitu:

  • Syirik berdoa kepada selain Allah.
  • Syirik taat yaitu mentaati para pemimpin dan ulama su` dalam mengharamkan apa yang Allah halalkan, atau menghalalkan apa yang Allah haramkan, atau menghukumi dengan selain yang Allah turunkan.
  • Syirik mahabbah bersama Allah.
  • Syirik iradah dan al-qashd; yaitu menampakkan Islam dan menyembunyikan kufur.

Beliau juga menjelaskan perbedaannya dengan syirik ashghar.

Jadi tidak ada yang disebut syirik tawassul, syirik dzikir jama’i, syirik perayaan maulid dlsb seperti yang dituduhkan pada beliau oleh musuh-musuhnya.

Sementara Syaikh ibn Bazz (7/415) menjelaskan:

ومن لم يكفر الكافر فهو مثله :

إذا أقيمت عليه الحجة وأبين له الدليل فأصر على عدم التكفير ,كمن لا يكفر اليهود أ والنصارى أو الشيوعيين أو نحوهم ممن كفره لا يلتبس على من له أدنى بصيرة وعلم .

“Barang siapa tidak mengkafirkan orang kafir maka ia sama dengannya:

Jika telah ditegakkan hujjah dan dijelaskan padanya dalil lalu ia masih bersikeras untuk tidak mau mengkafirkan, seperti orang yang tidak mau megkafirkan orang yahudi, atau nashrani atau komunis atau yang sepadan dari orang-orang yang kufurnya tidak samar atas orang yang memiliki ilmu dan pemahaman minimal.”

Lalu beliau menjelaskan tentang orang yang tidak mengkafirkan tarikusshalah (28/234):

ومن شك في كفر هذاـ (تارك الصلاة) ـ لا يكون كافرا ؛

لأنه محل اجتهاد بين أهل العلم ، فمن رأى بالأدلة الشرعية أنه كافر وجب عليه تكفيره ،

ومن شك في ذلك، ولم تظهر له الأدلة، ورأى أنه لا يكفر كفرا أكبر بل كفر أصغر،
فهذا معذور في اجتهاده، ولا يكون كافرا بذلك

“Barang siapa meragukan kufurnya orang yang tidak shalat maka tidak kafir. Karena ia adalah medan untuk berijtihad antara ahli ilmu. Barang siapamelihat berdasarkan dalil-dalil syar’i bahwa ia kafir maka wajib mengkafirkannya, barang siapa meragukan hal itu dan belum tampak terang baginya dalil-dalil, dan melihat bahwa dia tidak kafir dengan kekufuran yang besar tetapi kufur kecil  maka orang ini dimaklumi alasannya dalam ijtihadnya, dan tidak kafir karenanya.”

http://www.alagidah.com/vb/showthread.php?t=1429

Lanjut Kebagian 2

(nahimunkar.com)



[1]  Lihat makalah saya di www.gensyiah.com, makalah 1, 2, 3, dan 4.

Setelah selesai acara bedah bukunya Gus Idrus mengatakan kepada saya bahwa wahhabi mengkafirkan orang yang  bertawassul. Saya katakana tidak. Tidak ada yang mengkafirkan tawassul. Dia bertanya tentang hukumnya maka saya jelaskan bahwa tawassul itu ada yang sunnah dan ada yang bid’ah. Lalu dia meminta penjelasan tentang macam-macam tawassul. Ketika saya mlai menjelaska tawassul yang sunnah dia bilang: saya tidak mau tawassul yang sunnah, saya mau tawassul yang bid’ah. Maka saya katakana: baik, kalau mau tawassul yang bid’ah; yaitu tawassul dengan kedudukan nabi, hak nabi, dzat makhluk, tetapi itu semua tidak syirik. Lalu saya jelaskan dua kelompok yang salah dalam hal ini yaitu yang mengatakan bahwa tawassul dan istighatsah kepada selain Allah boleh dan kelompok lain yang menganggap tawassul dan itighatsah adalah syirik. Sumber kesalahannya adalah menyamakan antara tawassul dan istighatsah. Saya jelaskan Syekh Muhammad membedakan antara keduanyaL tawassul itu bukan syirik, sedangkan istighatsah kepada selain Allah itu yang syirik. Selama saya jelaskan gus idrus diam dan tanpa komentar. Saya tidak tahu apa yang beliau pikirkan.