Pertanyaan

 Syaikh Muhammad bin Shalih al-Ustaimin ditanya tentang hukum berkumpul di kuburan dan membaca al-Qur’an. Apakah bacaan tersebut bermanfaat bagi si mayit atau tidak?

Jawaban: Perbuatan ini termasuk perbuatan mungkar yang tidak dikenal pada masa para as-Salaf ash-Shalih, yaitu berkumpul di kuburan dan membaca al-Qur’an. Tentang bermanfaatnya bagi mayit, dikatakan, “Jika yang dimaksud adalah bahwa mayit tersebut mengambil manfaat dengan mendengarkan bacaan, maka hal ini tidak mungkin, karena ia telah meninggal, dan telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, bahwa beliau bersabda:

 إِذَا مَاتَ الْعَبْدُ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مَنْ ثَلَاثِ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَ لَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ

“Jika seorang hamba meninggal, maka terputuslah semua amalnya kecuali dari tiga hal; Shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.(HR. Muslim 1631). Ini artinya, bahwa mayit itu tidak dapat mengambil manfaat dari bacaan tersebut dalam kondisi ini, sebab, jika memang ia bisa mengambil manfaatnya, tentu tidak dinyatakan “terputus amalnya”, sedangkan hadits tadi menyebutkan tentang batasan amal yang masih bisa bermanfaat bagi mayit, yaitu hanya tiga saja sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tersebut.

Dan biasanya yang membaca akan mendapatkan upah, padahal upah untuk amal-amal yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah adalah bathil. Orang yang mengupah untuk mengerjakan amal shalih, jika ia meniatkan dengan amal shalihnya itu –yakni jenisnya termasuk amal shalih, namun katagorinya tidak termasuk shalih– jika ia meniatkan dengan amal shalihnya itu untuk mendapatkan pahala didunia, maka amalnya itu tidak berguna baginya dan tidak mendekatkannya kepada Allah dan tidak mendapat pahala, hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:

 مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ. أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itu lah orang-orang yang tidak memperoleh diakhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16). Maka orang yang membaca al-Qur’an dengan niat memperoleh balasan duniawi, bacaan itu tidak diterima, bahkan sia-sia, tidak berpahala dan tentunya saat itu mayit tidak mendapatkan manfaat pahala yang dihadiahkan kepadanya karena bacaan tersebut tidak berpahala.

 Jadi, praktik ini hanya menyia-nyiakan harta, buang-buang waktu dan keluar dari jalan as-Salaf ash-Shalih, lebih-lebih jika harta yang digunakan itu berasal dari peninggalan si mayit, berarti telah mengurangi hak para ahli warisnya yang masih kecil dan belum dewasa, yaitu mengambil sebagian harta mereka dengan cara yang tidak benar, sehingga dengan begitu bertambah lagi dosanya. Hanya Allah-lah tempat memohon pertolongan. (Majmu’ Fatawa wa Rasa ‘I’ll Fadhilah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, no. 360).

FB Usman

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.381 kali, 1 untuk hari ini)