“… kuburan bukan utk tempat sujud tapi sujud baiknya di Masjid,” kata Kyai Cholil Nafis (kyai NU yang duduk di MUI Pusat, red NM) dalam akun Twitter @cholilnafis, Sabtu (5/5/2018).

Teguran itu ditujukn kepada tindakan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra yang mencium sujud di pusara makam Bung Karno, di Blitar, Jawa Timur, Jumat (4/5/2018).

Anehnya, cuitan Kyai Cholil ini ditanggapi oleh beberapa akun. Akun @NIAS2013 menilai cuitan Kyai Cholil ini dapat melebar serta menyinggung kalangan NU. “Jangan pancing masalah ini menjadi lebar. Warga NU bisa tersinggung,” tulis akun @NIAS2013.

Berikut ini beritanya dari situs voa-islam.com.

***

Sujud di Makam Bung Karno, Prabowo Dinasehati MUI

JAKARTA (voa-islam.com)—Tindakan Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra yang mencium sujud di pusara makam Bung Karno mendapat teguran dari Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis.

Menurut Kyai Cholil, tindakan Prabowo tersebut dinilai tak tepat. “Baiknya berdoa kpd Allah SWT utk dirinya dan kpd al Marhum, tapi tak perlu sujud di kuburan ya Pak. krn kuburan bukan utk tempat sujut tapi sujud baiknya di Masjid,” kata Kyai Cholil dalam akun Twitter @cholilnafis, Sabtu (5/5/2018).

Cuitan Kyai Cholil ini ditanggapi oleh beberapa akun. Akun @NIAS2013 menilai cuitan Kyai Cholil ini dapat melebar serta menyinggung kalangan NU. “Jangan pancing masalah ini menjadi lebar. Warga NU bisa tersinggung,” tulis akun @NIAS2013.

Kemudian, Kyai Cholil membalas, “warga NU tak ada yg sujud klo ziarah kubur Pak.”

Selain itu, ada juga yang mengapresiasi nasehat Kyai Cholil kepada Prabowo ini. “Alhamdulillah….beginilah seorang ulama menasehati umara.. Semoga yaii selalu dlm lindungan Allah,” tulis akun @im4r4h.

Seperti diketahui, Prabowo pada Jumat (4/5/2018) melakukan ziarah ke makam Presiden RI pertama Soekarno di Blitar, Jawa Timur. Prabowo ditemani putri Bung Karno Rachmati Soekarnoputri. * [Syaf/voa-islam.com]/ www.voa-islam.com Sabtu, 21 Sya’ban 1439 H / 5 Mei 2018 22:34 wib

***

Rawan Kemusyrikan

Syaikh Shalih Alu asy Syaikh menjelaskan, ada tiga bentuk menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah.

Pertama : Menjadikan kuburan itu sebagai tempat sujudnya. Bentuk yang paling bisa dipahami dari perkataan ‘mereka menjadikan kuburan tersebut sebagai masjid’ ialah, menjadikan kuburan sebagai masjid. Yaitu tempat melakukan shalat dan sujud di atasnya. Demikian ini jelas merupakan sarana yang sangat berbahaya, dan paling merusak yang mengantarkan kepada syirik dan berlaku ghuluw (melampaui batas ketentuan) kepada kuburan.

Selengkapnya dapat disimak artikel ini dalam judul: ‘Larangan Beribadah di Kuburan’ https://www.nahimunkar.org/larangan-beribadah-di-kuburan/

(nahimunkar.org)

(Dibaca 2.236 kali, 1 untuk hari ini)