Sore ini beberapa kali bersyukur, awalnya di hati, namun kini merasa perlu dituangkan syukur ini melalui tulisan, setelah tahmid lisan. Ada apa? Begini. Pagi tadi, sempat membaca share perihal “Nasi Uduk Babi Buncit”. Terpantik cemburu, perasaan gerah menghantui. Ingin re-share kemudian meledak marah melampiaskan kecemburuan religius. “Ini penghinaan buat Islam!” Inginnya begitu.

Tapi, tiba-tiba merasa diajak tenang. ‘Tenang, nak. Jangan terburu-buru.’ Terlebih ketika mendapat keterangan bahwa pegawainya beragama Kristen Orthodox, makanya pakai jilbab. Dikesankan semua ini dari nama, kartun, gambar makanan sampai jilbabnya adalah pelecehan buat Islam. Dikesankan begitu. Justru dari keterangan itu, tiba-tiba saya stepping-back.

Iya. Sebentar. Sebentar. Apa betul jilbaber itu non-muslim?

Dari situ saya berhenti. Ada takut. Pasalnya: bukan sekali saya atau Anda atau simple-nya: KITA, tergelincir terhasut oleh info pemantik emosi. Saat semua menjadi clear, barulah kita menyesal. Terlebih, terbayang di benak, bahwa pembaca postingan saya pribadi kuantitasnya tidak sedikit. Tidak bermaksud membanggakan, bahkan justru ini amanat dan beban.

Nah, kalau saya re-share kemudian ternyata ada kedustaan, akan repot lagi memutihkan catatan yang sudah kadung dihitamkan. Belum lagi perlu mengucapkan apologi begini begitu. Dan seterusnya.

Akhirnya….diam.

Sore ini, berkali-kali membaca klarifikasinya, saya bersyukur puji kepada Allah al-Hakim. Syukurlah. Tidak lagi kena jebakan. Rasanya nyes plong.

Justru kemudian hilang bara emosinya. Justru yang kepikiran adalah pegawai muslimah. Ia mungkin butuh pekerjaan untuk melangsungkan hidup. Wallahu a’lam. Justru yang diperlukan adalah solusi, bukan caci maki. Jangan terjebak lagi.

Saya berkali bertanya kepada para pekerja, “Apa nyari kerja sekarang susah?” Semua berkata, “Susah!” Ini jawaban realita dunia kita. Ya tentu beda jawabannya kalau secara rabbani, semua akan menjawab, “Tidak susah jika Allah mudahkan.” Tapi nyatanya, lapangan kerja di Jakarta sekalipun banyak bidangnya, kansnya menyempit, disebabkan kepadatan penduduk dan pendatang. Sementara, cost of living di Jakarta terbilang lumayan membebani.

Pula saya teringat, seorang pencari ilmu sampai-sampai pernah ada yang tidak bisa hadir kajian karena bensin motor habis, dan dirinya tidak punya uang lagi.

Pula saya teringat, banyak orang yang bekerja di lembaga keuangan ribawi, baik mengatasnamakan konvensi atau religi (bahkan).

Pula saya teringat, kekehan dan candaan deras beberapa pegawai bank ribawi di kitaran 5 sore di suatu gedung mewah di area Soedirman sana. Letupan kegembiraan yang seperti tak kenal dosa.

Dan kepulaan yang masih banyak, hasil saksian dan dengaran.

Dari situ tertarik benang kesimpulan: jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan mengujinya. Dan banyak dari manusia, tidak dicintai karena tak mencintai. Banyak manusia merasa tidak sedang diuji dan dibencanai, sehingga mereka dimuraki. Banyak manusia yang tahu sedang diuji namun tak bersabar, sehingga mereka dimurkai.

Maka beruntunglah manusia yang tahu dirinya sedang diuji, memahami peta ujian dan kunci jawaban, kemudian bersabar dan tawakkal, sehingga ia dicintai.

Berharaplah saya semoga pegawai muslimah tersebut adalah golongan yang beruntung itu. Jikalau tidak, maka sungguh rugi; karena mungkin ada beberapa muslim dan muslimah sudah menitikkan binar simpati; berkehendak membantu. Jika sempat, jadilah pasukan Allah, yang rela membantu hamba Allah.

Via FB Hasan Al-Jaizy Al-Jaizy

(nahimunkar.com)

(Dibaca 917 kali, 1 untuk hari ini)