ilustrasi/ slideshare.net


Sudah sewajibnya setiap muslim berprinsip lakum diinukum waliya diin.

Bagi kalian (manusia-manusia kafir) agama kalian, dan bagiku (muslim) agamaku (Islam).

Aku lebih percaya kepada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Kafirun di Al-Qur’an itu.

Aku tidak percaya kepada yang menyelisihi firman Allah dalam Kitab Suci itu.

Bahkan lebih tidak percaya plus benci ketika ada pentolan tertuduh berbau syiah menyiarkan bahwa tidak apa-apa, boleh-boleh saja mengucapkan selamat natal kepada orang Nasrani.

Aku lebih percaya kepada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Kafirun di Al-Qur’an itu.

Dan aku tidak percaya kepada pentolan-pentolan yang disumpah jabatan secara Islam

dengan lafal Wallahi (Demi Allah), tapi tahu-tahu ubyang-ubyung runtang-runtung di upacara kekafiran, natalan, dan semacamnya.

Aku lebih percaya kepada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Kafirun di Al-Qur’an itu.

Dan aku tidak percaya kepada pentolan-pentolan yang mengucapkan salam Islam, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, tetapi dioplos dengan salam kekafiran dari macam-macam agama selain Islam. Itu sama saja menyiarkan ajakan kemurtadan, yang sangat dibenci oleh Allah Ta’ala. Karena Allah Ta’ala befirman:

{وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ} [الزمر: 7]

dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; [Az Zumar:7]

Aku lebih percaya kepada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Kafirun di Al-Qur’an itu.

Aku tidak percaya kepada media massa apapun yang memajang-majang simbol-simbol kekafiran, natal, pohon natal, sinterklas dan semacamnya, ketika mereka kemudian memberitakan Islam dan kaum Muslimin. Kalau ada persoalan, ujung-ujungnya yang mereka pajang adalah pentolan-pentolan yang berlabel Islam namun menyuarakan kekafiran, membolehkan ucapan selamat natal bagi Muslimin, dan semacamnya.

Aku lebih percaya kepada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Kafirun di Al-Qur’an itu.

Dalam berbelanja, aku terbelalak bila toko-toko memajang simbol-simbol kekufuran, simbol natalan, pohon natal, sinterklas dan sebagainya, hingga aku harus menghindarinya. Karena aku lebih percaya kepada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Kafirun di Al-Qur’an itu.

Ikhwani wa akhawati, sudah sewajibnya kita berprinsip lakum diinukum waliya diin. Maka jangan lagi mendekati toko-toko yang memajang asesoris natalan, pohon natal, sinterklas, dan semacamnya. Agar prinsip lakum diinukum waliya diin itu tidak luntur. Dan jangan percaya lagi kepada siapapun yang ubyang-ubyung runtang-runtung ke acara-acara kekafiran, natalan, dan semacamnya. Walau mereka ketika disumpah jabatan pakai ucapan Wallahi (Demi Allah). Entah apakah agama mereka telah dijual, atau bagaimana, aku tidak tahu. Lebih menyakitkan lagi bagi setiap Muslim, tahun lalu, syiar Islam yang diagungkan, yaitu azan (panggilan untuk shalat berjamaah), telah dilecehkan secara nasional, yaitu untuk mengiringi acara natalan. Innalillahi, Adzan Dikumandangkan untuk Iringi Natalan di NTT yang Dihadiri Jokowi Posted on 30 Desember 2015 https://www.nahimunkar.org/innalillahi-adzan-dikumandangkan-iringi-natalan-ntt-dihadiri-jokowi/

Aku lebih percaya kepada firman Allah Ta’ala dalam Surat Al-Kafirun di Al-Qur’an itu.

Karena sudah ada suri teladan yang melarang untuk mempercayai orang-orang semacam itu. Hingga Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an:

{ قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ…} [الممتحنة: 4]

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dan daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja…. [Al Mumtahanah:4]

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.com)