Berpulang! Umbu Landu Paranggi Penyair Gurunya Emha Ainun, la ila haaula’ wala ila haaula’?

  • Secara ekstrem dapat dikatakan, Umbu telah memiliki “agama”-nya sendiri yakni puisi dan sunyi.

 

Umbu Landu Paranggi, penyair, berpulang, Selasa (6/4/2021), pukul 03.00 (di Denpasar Bali).

Umbu dijuluki “Presiden Malioboro”, Yogyakarta, karena membina komunitas seniman di kawasan itu tahun 1960-an 70-an.

 

Dia guru Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi AG (mendiang, Katolik-Kejawen, red NM), Korie Layun Rampan. Selamat jalan, guru.



ilham khoiri

@ilhamkhoiri

· 2j

 

***

Secara ekstrem dapat dikatakan, Umbu telah memiliki “agama”-nya sendiri

yakni puisi dan sunyi.

Menelisik latar belakang religiositas lingkungan yang membentuk Umbu

setidaknya ada empat yakni kepercayaan animisme Marapu di Sumba, agama

Kristen juga di Sumba, agama Islam di Jawa, dan agama Hindu di Bali. Kendati

hidup dan berkarya dalam iklim religiositas yang beragam itu, Umbu sama sekali tidak terkooptasi dengan salah satu dogma agama atau kepercayaan. Umbu mampu menjaga jalan spiritualitasnya yang melampaui jalan agama-agama yang ada.

 

Secara ekstrem dapat dikatakan, Umbu telah memiliki “agama”-nya sendiri

yakni puisi dan sunyi. Hal ini dapat dilihat dari sajaknya yang berjudul “Mantra

Pengantar”. (Spiritualitas dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi* I Made Sujaya, Jurnal e-Utama, Vol. 2 (2009)

Emha Ainun Najib menyebutnya sufi    

“Mas Umbu ini seorang sufi, namun tidak pernah merasa dirinya sebagai seorang sufi”, Mbah Nun menceritakan pergaulannya dengan Umbu. (CakNun.com, 06 Agustus 2019 ).

***

Ayat Al-Quran mengenai para penyair

{وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ (224) أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ (225) وَأَنَّهُمْ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ (226) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَذَكَرُوا اللَّهَ كَثِيرًا وَانْتَصَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنْقَلَبٍ يَنْقَلِبُونَ} [الشعراء: 224 – 227]

224. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. [Ash Shu’ara”:224]

225. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, [Ash Shu’ara”:225]

226. dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? [Ash Shu’ara”:226]

227. kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali. [Ash Shu’ara”:227].

 

Tafsir QS As-Syu’ara ayat 224-227:

Allah menyampaikan bahwa para penyair terbagi menjadi dua golongan dari sisi kebaikan dan kefasikan mereka; adapun para penyair yang fasik adalah yang diikuti orang-orang yang sesat dari kebenaran.

Tidakkah kamu melihat di setiap perkataan mereka berisi pujian yang buruk, perkataan yang menghina, dan gurauan yang beracun. Mereka berjalan seperti orang yang bingung, dan berpaling dari jalan yang benar. Kebanyakan perkataan meraka adalah dusta, karena mereka mengakui sesuatu yang tidak mereka lakukan.

Kemudian Allah mengecualikan golongan penyair yang baik: Kecuali mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, melakukan amalan-amalan shalih yang telah Allah syariatkan, banyak menyebutkan nama Allah dan pujian pada-Nya pada syair-syair mereka, dan mereka membela Rasulullah dan memperjuangkan agama Islam dan umat Islam dalam membela orang yang terzalimi dari mereka. Dan orang-orang yang zalim akan mengetahui di mana tempat mereka akan kembali.

(Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta’dzhim al-Qur’an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur’an Universitas Islam Madinah)

Referensi: https://tafsirweb.com/6634-quran-surat-asy-syuara-ayat-224.html

(nahimunkar.org)


 

(Dibaca 551 kali, 1 untuk hari ini)