Bersatunnya Umat Islam Menggentarkan Musuh Islam


EPA

Puluhan ribu orang turun ke jalan di ibukota Bangladesh, Dhaka, menuntut pemboikotan produk Prancis di tengah sentiment anti-Islam Prancis lapor BBC pada Selasa (27/10/2020).

Mereka membakar patung Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang membela karikatur yang menghina Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. / Hidayatullah.com 

***

Momentum suburnya Islam senantiasa dihalangi

Tahun 1966 hingga 1968 dakwah Islam sangat semarak dengan dilarangnya PKI Komunis akibat memberontak, dikenal dengan gerakan 30 sepetember PKI 1965.

1966-1968 itu pengajian kuliah subuh ada di masjid2 kota maupun desa. Masjid2 dan langgar2 bertambah jamaahnya dan bermunculan masjid dan langgar baru. Alhamdulillah. Islam tampak tumbuh subur.

Namun rupanya pihak2 musuh Islam gerah, lalu ditumbuh suburkan lah sejak 1968 adanya club2 malam remang2 maksiat, aneka macam judi, dan bahkan bacaan2 ke arah porno dan maksiat.

Singkatnya, digalakkan lah aneka kemaksiatan, hingga dai2 dan tokoh Islam kewalahan dengan apa yang disebut dekadensi moral (kemerosotan moral). Pengarang2 novel, novelet, cerita2 fiksi yang ke arah porno bermunculan dan terkenal, bahkan difilmkan. (Saya ga’ mau menyebut nama mereka, karena ada yang kemudian saya kenal baik, setelah tahun 1980-an dia menulis yang Islam2i. Dan dia telah tiada, mungkin juga yang lainnya).

Jadinya, dakwah Islam yang subur selama dua tahun (1966-1968) itu disapu oleh gelombang penggalakan aneka maksiat dengan aneka jenisnya itu. Dan baru mulai bangkit kembali setelah 1990-an, ketika Presiden Soeharto selama 25 tahun menekan Islam, kemudian belakangan tidak lagi. Belakangan selama kurang lebih 7 tahun Presiden Soeharo tampak dekat dengan Islam. Tetapi gejalanya dunia kafirin sangat khawatir, kalau dibiarkan, maka Islam di Indonesia akan subur makmur. Makanya diadakanlah huru hara 1998. Itu Pak Amien Rais seharusnya kini merasa salah, karena ketipu. Huru hara itu hanya karena dunia kafirin sangat khawatir berkembangnya Islam di Indonesia. (Namun tentu saja yang seperti itu harus ditutup rapat2. Agar Umat Islam tidak merasa kecolongan). Sehabis huru hara itu, buktinya Islam senantiasa jadi obyek sasaran, dan sulit sekali untuk bangkit.

Setelah Islam seakan jadi sasaran selama 20-an tahun, lalu ada moment yang bagus. Yaitu aksi bela Islam 212 yang menggetarkan dalam melawan Ahok non Islam penista Al-Qur’an. Jutaan Umat Islam berkumpul di Jakarta untuk menyuarakan, penista Al-Qur’an agar ditangkap dan diadili.

Anehnya, di situ NU (Nahdlatul Ulama) ormas Islam terbesar justru tampak membela Ahok. Di pergaulan maupun di persidangan. Padahal yang dinista itu Kitab Suci Umat Islam, Al-Qur’anul Kariim, dan vonis pengadilan pun (kemudian) menjatuhkan hukuman 2 tahun untuk Ahok. Mustinya NU bertobat dan sangat malu atas tingkah buruknya soal Islam ini. Dosa NU ini menjadi salah satu noktah sejarah buruk di dunia Islam tentunya.

Lagi2 moment 212 itu segera diupayakan untuk diredupkan. Kemudian diterpa dengan aneka macam yang dirasakan bagi yang faham…

Jadinya, moment2 bersatunya Umat Islam seperti kini boikot produk prancis akibat penghinaan mereka terhadap Nabi dan Islam, jangan sampai hanya seumur jagung lalu diterpa badai yang dipompakan musuh2 Islam, hingga Islam jadi sasaran lagi dalam jangka yang lama dan sulit bangkit.

Umat Islam harus mampu memelihara moment2 itu agar tetap berkelanjutan akibat baiknya. Jangan seperti yang sudah2. Itu perlu teguh berupaya, teguhkan iman taqwa tawakkal, dan sabar tanpa cakar-cakaran, tanpa pengkhianatan. InsyaAllah berkah. Aamiin ya Rabbal ‘alamiin.

(nahimunkar.org)

(Dibaca 726 kali, 1 untuk hari ini)