Poster dalam facebook Hadis Shahih

***

{مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ (42) قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ } [المدثر: 42، 43]

  1. “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?
  2. Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat

[Al Muddaththir,42-43]

Bagi orang yang dalam keadaan sakit (selama masih sadar, tidak hilang akal/ kesadarannya) bahkan sulit bersuci pun tetap wajib menegakkan shalat semampunya. Allah Ta’ala tidak mempersulit, diberi kelonggaran, sesuai dengan batas kemampuannya.

Allah Ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا

Maka bertakwalah kalian kepada Allah sesuai kesanggupan kalian dan dengarlah serta taatlah.(QS. At Taghobun [64]: 16)

Bila kesulitan, boleh dijama’

Syekh Utsaimin menjelaskan, wajib bagi setiap orang yang sakit untuk mengerjakan shalat di waktunya (tidak boleh sampai keluar waktu), dia mengerjakan sesuai dengan kemampuannya sebagaimana yang telah dijelaskan dan tidak boleh mengakhirkan satu shalat dari waktunya.

Jika memang menyulitkan bagi orang yang sakit untuk mengerjakan shalat di waktunya, maka boleh baginya untuk menjama’ shalat (menggabungkan shalat) yaitu menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’. Boleh dilakukan dengan jama’ taqdim atau pun jama’ takhir, terserah mana yang paling mudah. Jika mau, dia boleh mengerjakan shalat Ashar di waktu Zhuhur atau boleh juga mengerjakan shalat Zhuhur di waktu Ashar. Begitu pula boleh mengerjakan shalat Isya’ di waktu Maghrib atau boleh juga mengakhirkan shalat Maghrib di waktu Isya’.

Adapun shalat shubuh, maka tidak perlu dijama’ (digabungkan) dengan shalat yang sebelum atau sesudahnya karena waktu shalat shubuh terpisah dengan waktu shalat sebelum atau sesudahnya. (Penjelasan tentang jama’ ini dipetik dari  Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin Diterjemahkan secara bebas oleh Muhammad Abduh Tuasikal, ST dari risalah beliau yang berjudul Thoharotul Maridh wa Sholatuhu).

(nahimunkar.com)

(Dibaca 1.705 kali, 1 untuk hari ini)