Ilustrasi/ foto desicandra

AMBON, MALUKU – Peristiwa pelemparan bom oleh salibis pendengki ke arah permukiman Muslim Air Mata Cina (Amaci) pada tanggal 25 Desember 2011 pukul 04.00 WIT boleh jadi hanya salah satu upaya salibis untuk membuktikan ancamannya membuat “Natal berdarah”. Ada upaya lain dari salibis untuk menjadikan Ambon kembali kacau dilanda konflik dan perang bernuansa SARA. Kali ini mereka melakukan pelecehan terhadap syariat Islam yaitu memaksa seorang Muslimah membuka jilbabnya disertai dengan kalimat caci maki.

Inilah hasil penelusuran voa-Islam.com dari tempat kejadian.

Peristiwa yang menimpa seorang muslimah bernama Nurjanah Wala warga RT 02/RW 01 Desa BatuMerah terjadi sekitar pukul 22.00 WIT di jalan Tulukabessy di dekat swalayan citra (permukiman warga nasrani). Korban Nurjanah Wala yang sedang naik becak dihadang oleh orang tak dikenal yang memberhentikan secara paksa becak yang ditumpanginya. Becak yang ditumpangi Nurjanah Wala digoyang-goyang dengan sangat kasar disertai dengan teriakan oleh orang tak dikenal tersebut yang memaksa agar Nurjanah Wala melepaskan jilbabnya. Orang tersebut juga melontarkan ucapan caci maki dan kalimat kotor kepada Nurjanah Wala.

Tidak cukup sampai disitu, orang tersebut juga memukul pengemudi becak yang ditumpangi Nurjanah Wala. Beruntung tidak terjadi peristiwa yang lebih tragis karena pengemudi becak segera mengayuh becaknya dengan cepat untuk menyelamatkan diri. Peristiwa ini membuat Nurjanah Wala ketakutan sampai shock dan trauma, sebab menurutnya ia sudah mengalami kejadian serupa untuk kedua kalinya di tempat yang sama. Khawatir akan terjadi hal yang sama menimpa dirinya atau muslimah yang lain maka Nurjanah Wala mengadukan peristiwa tersebut ke Polres Pulau Ambon.

Namun sampai berita ini diturunkan belum ada tindakan serius dari aparat kepolisian untuk menangkap pelakunya.

Peristiwa pelecehan, penghinaan dan teror terhadap Muslimah berjilbab kontan membuat kaum muslimin marah dan geram. Sehingga pada sekitar pukul 23.00 WIT terjadi konsentrasi massa muslim di Batumerah belakang, Batumerah pantai, Mardika dan di jalan Sam Ratulangi.

..Ada upaya lain dari salibis untuk menjadikan Ambon kembali kacau dilanda konflik dan perang bernuansa SARA. Kali ini mereka melakukan pelecehan terhadap syariat Islam yaitu memaksa seorang Muslimah membuka jilbabnya disertai dengan kalimat caci maki..

Bersamaan dengan peristiwa pelecehan terhadap Muslimah berjilbab tersebut juga terjadi konsentrasi massa Kristen di beberapa tempat seperti Batu Gantung, Gereja Rehobot, Karpan dan yang lainnya. Tentu saja hal ini mengarah pada satu kesimpulan bahwa peristiwa tersebut direncanakan sebagai pemicu terjadinya kerusuhan di Ambon.

Namun anehnya aparat keamanan justru memblokade wilayah-wilayah Muslim dengan sangat ketat. Kendaraan-kendaraan perang ditempatkan di beberapa wilayah kaum Muslimin untuk menghalangi pergerakan kaum Muslimin. Akan tetapi wilayah-wilayah Nasrani dibiarkan lengang tanpa penjagaan ketat oleh aparat keamanan dan tidak ada penempatan kendaraan perang di wilayah salibis.

Malam itu Ambon sempat tegang dan mencekam akibat ulah provokator salibis.

Peristiwa ini adalah bukti bahwa kaum salibis Ambon memiliki kedengkian,kebencian dan permusuhan yang besar terhadap kaum Muslimin. Ini juga sekaligus fakta bahwa kaum Muslimin belum mendapatkan rasa aman melaksanakan ajaran agamanya di kota Ambon. Dan ini juga menunjukkan bahwa Ambon tidak sepenuhnya aman, masih ada bibit-bibit konflik yang terus diciptakan oleh para perusuh dan teroris salibis.

Dan jangan berharap banyak bahwa aparat kepolisian akan berhasil  menangkap pelaku pelecehan dan teror terhadap Muslimah berjilbab yang terjadi semalam.

..Peristiwa ini adalah bukti bahwa kaum salibis Ambon memiliki kedengkian,kebencian dan permusuhan yang besar terhadap kaum Muslimin. Ini juga sekaligus fakta bahwa kaum Muslimin belum mendapatkan rasa aman melaksanakan ajaran agamanya di kota Ambon..

Bandingkan dengan perlakuan santun kaum Muslimin pada malam yang sama sekitar pukul 20.30 WIT. Di depan masjid An Nur Batu Merah terjadi kecelakaan lalu-lintas yaitu pengendara sepeda motor yang berboncengan dengan istrinya terjatuh dan mengalami luka-luka yang parah. Pengendara sepeda motor tersebut adalah warga nasrani yang melintas di daerah Muslim. Si wanita mengalami pendarahan dan pingsan. Kaum Muslimin yang ada di tempat kejadian segera menolongnya dan membawanya ke rumah sakit.

Hal ini jauh berbeda dengan kelakuan salibis yang membunuh dengan keji seorang tukang ojek Muslim bernama Darfin Saiman di Gunung Nona yang kasusnya direkayasa oleh Polisi sebagai kecelakaan lalulintas tunggal.

Atau bandingkan juga dengan Udin yang dianiaya dan disayat dengan pisau oleh salibis di Jalan Tulukabessy di depan swalayan Citra, yang lagi-lagi kasusnya direkayasa oleh polisi sebagai lakalantas.

Perlu diketahui tempat peristiwa penganiayaan, pengeroyokan dan penikaman terhadap Udin sama dengan tempat peristiwa pelecehan, penghinaan dan teror terhadap Muslimah berjilbab yang terjadi semalam.

Semua rangkaian peristiwa teror, penyerangan, provokasi dan pengeboman yang dilakukan oleh salibis terhadap kaum Muslimin Ambon dari bulan september sampai Desember ini sesungguhnya adalah upaya untuk menyulut api peperangan dengan kaum Muslimin. Karena itu hendaknya kaum Muslimin Ambon jangan lengah dan kaum muslimin di tempat lain mendo’akan dan membantu saudaranya dalam menghadapi makar salibis. (AF) Selasa, 27 Dec 2011 AMBON, MALUKU (voa-islam.com)

(nahimunkar.com)

(Dibaca 2.202 kali, 1 untuk hari ini)