Bicara Kebablasan? Masa’ Sih Petumbuhan Ekonomi Tergantung yang Begitu?


Rapat pemerintah terkait cuti bersama. Foto: Antara. Senin (9/3 2020)

Libur seputar hari raya Idul Fitri 1441/ 2020 diperpanjang. Karena cuti bersamanya ditambah sekian hari.

Lalu komentar-komentar yang mengiringinya, di antaranya diharapkan mengurangi kemacetan mudik lebaran.

Koemntar iringan semacam itu wajar saja. Tapi ketika ditambah lagi bahwa dengan libur panjang itu pertumbuhan ekonomi dikatakan akan lebih berkembang, nah… dari teori mana itu?

Mungkin itu teori soal bicara kebablasan.

Menteri PMK Muhajir Effendy berkata: “Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah melakukan kajian yang menyatakan libur panjang dapat berpengaruh terhadap peningkatan PDB (Produk Domestik Bruto),” jelas Muhadjir Effendy dalam Rapat Tingkat Menteri Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama di Kantor Kemenko PMK, Senin, (9/3).

Pemerintah meyakini, penambahan hari libur dapat mendongkrak sisi konsumsi nasional. Sebab, saat liburan biasanya diisi dengan plesiran./ https://indonesiainside.id/
Senin, 09 Maret 2020 – 16:31 WIB

***

Sebaik-baik perkataan adalah Kalamullah (firman Allah) yaitu Kitab Suci Al-Qur’an. Mari kita lihat ayat sejenak:

{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [الأعراف: 96]

96. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. [Al A’raf:96]

Tafsir:

Demikianlah siksa yang dijatuhkan Allah atas mereka yang durhaka, dan sekiranya penduduk negeri yang kami kisahkan keadaan mereka atau selain mereka beriman kepada apa yang dibawa oleh rasul dan bertakwa, yakni melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah, yaitu pintu-pintu kebaikan dari segala penjuru; langit dan bumi, berupa hujan, tanaman, buahbuahan, binatang ternak, rezeki, rasa aman, dan keselamatan dari segala macam bencana, serta kesejahteraan lahir dan batin lainnya, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat dan rasul-rasul kami, maka kami siksa mereka disebabkan kekufuran dan kemaksiatan yang terus menerus mereka kerjakan. Ketaatan akan membawa nikmat dan keberkahan, sebaliknya, kekufuran mendatangkan laknat dan kesengsaraan. Karena kedurhakaan dan kebejatan mereka yang sedemikian parah, sampai-sampai mereka merasa tidak mungkin terkena sanksi Allah, maka kepada mereka diajukan pertanyaan yang mengandung kecaman, apakah penduduk negeri-negeri itu mengira bahwa mereka merasa aman sehingga tidak khawatir dari kedatangan siksaan kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur lelap’

  • Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI/ tafsirweb.com

     

    ***

 

Dari penjelasan ayat itu, sejatinya upaya untuk mendidik masyarakat agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa sebenarnya adalah mutlak penting. Hingga masyarakat itu seandainya kehidupan di dunia sebagiannya ternyata sempit atas taqdir Allah Ta’ala, maka masih ada harapan untuk kehidupan akheratnya kelak menjadi orang yang sejahtera atas balasan Allah Ta’ala terhadap iman dan taqwa pelakunya ketika di dunia.

 

Para penguasa dan pendidik yang mengarahkan masyarakat untuk jadi masyarakat yang beriman dan bertaqwa pun akan mendapatkan balasan pahala besar dari Allah Ta’ala.

 

Semoga saja dengan ayat itu Umat Islam menyadari kekeliruan pandangan selama ini yang telah dilanda pendangan sekuler yang tidak merujukkan kehidupan dunia ini dengan ayat-ayat suci dari Allah Ta’ala dan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sudah saatnya kekeliruan fatal itu dihindari, dan diganti dengan pandangan yang benar lagi lurus. Dan itu diperlukan pendidikan generasi dengan muatan materi keimanan dan taqwa. Bukan seperti belakangan ini yang justru pendidikan di Indonesia justru membentuk manusia-manusia munafiq yang mengaku beragama (Islam) namun tidak tahu soal Islam, karena dijauhkan dari pendidikan agama, (baik pendidikan di bawah Kemendikbud maupun Kemenag) dengan cara buku-buku ratusan buku bermuatan agama bahkan ada unsur lafal tertentu dalam agama Islam saja dihapus oleh Kementerian Agama, yang tampaknya merupakan pusat agen pemurtadan. Di antara buktinya, murid tokoh orang murtad internasional Nasr Hamid Abu Zaid (divonis murtad resmi oleh Mahkamah Agung Mesir 1996 karena menganggap Al-Qur’an itu produk budaya/ muntaj tsaqafi), malah sang murid yakni Nurcholish Setiawan dari UIN Jogja diangkat jadi pejabat tinggi di Kemenag, bahkan aneh dengan rangkap Jabatan, Sekjen Kemenag sekaligus Irjen Kemenag. Mau dibawa ke mana negeri ini?

 


Sekjen Sekaligus Irjen Kemenag yang Dipanggil KPK itu Murid Wong Murtad Tingkat Internasional

Murid dan Guru: Nur Kholis Setiawan, Nasr Hamid Abu Zaid/ foto trbn/ ibnrushd Sekjen Kemenag. https://www.nahimunkar.org/sekjen-sekaligus-irjen-kemenag-yang-dipanggil-kpk-itu-murid-wong-murtad-tingkat-internasional/

 

 

Bukti Kemenag sebagai agen pemurtadan di Indonesia adalah tokoh resmi murtad tersebut (Nasr hamid Abu Zaid orang Mesir lalu minggat ke Belanda setelah divonis murtad oleh Mahkamah Agung Mesir 1996) justru diundang oleh Depag/ kini Kemenag untuk menatar 160-an dosen2 perguruan tinggi Islam se-Indonesia (UIN, IAIN, STAIN dsb) di Riau 2007, untuk menatar ‘peningkatan pendidikan Islam di Indonesia’ (lha wong murtad kok diminta menatar pendidikan Islam?), makanya ditolak oleh MUI Riau dan Umat Islam, hingga batal ketika orang yang divonis murtad itu sudah datang ke Indonesia. Dia juga ditolak Umat Islam di Surabaya dan Malang Jawa Timur hingga batal. (Bukankah itu artinya Depag/ kini Kemenag menjadi Pusat agen pemurtadan?). Lihat pula buku ‘Ada Pemurtadan di IAIN’, karya Hartono Ahmad Jaiz’.


 

Miris sekali memang!. Makanya kalau mau terhindar dari keterpurukan segalanya, hendaknya sistem pemurtadan yang anti Islam ini disudahi, diubah menjadi sistem yang menghargai agama Allah, mengakui sebagai hamba Allah, dan membuang segala kesombongan yang jusru mengantek kepada pihak2 kafir musyrik dan semacamnya yang hanya menjadikan manusia2 bersikap munafik lagi serakah dan membahayakan kehidupan dunia maupun akherat.

 

Perkataan ini mungkin dianggap kurang halus, namun sejatinya bagai obat untuk mengobati penyakit yang sudah kronis dan berbahaya namun tidak dirasa bahwa itu berbahaya. Begitu ada obat, dianggapnya justru membahayakan, padahal sejatinya untuk penyembuhan. Bila tidak mau diobati maka keterpurukan di dunia sudah nyata, sedang kerugian di akherat merupakan hal yang pasti, bila tidak bertobat dengan sebenar-benarnya taubat.

 

(nahimunkar.org)

(Dibaca 260 kali, 1 untuk hari ini)