Ilustrasi / foto ermslm


1. Satu. Penjajah kafir Belanda telah berhasil menanamkan ke dada2 Umat Islam hingga banyak yang takut bicara masalah politik. Seakan politik itu bukan urusan Islam. Atau Islam itu tidak boleh ada politiknya. Padahal Islam itu sempurna, mencakup segala urusan, maka politik pun diatur pula dalam Islam. Dalam ilmu disebut siyasah syar’iiyah (politik Islam). Menjauhkan Islam dari politik agar umat Islam buta politik dan tidak punya kekuatan politik (kepemimpinan) Itulah tujuan utama penjajah kafir Belanda (dan juga antek-antek serta pewarisnya sampai kini dan mungkin yang akan datang), agar umat Islam tidak ada kekuatan apa-apa, karena buta politik, hingga dapat ditipu sejadi-jadinya. Maka sangat disayangkan bila seseorang jadi panutan umat Islam karena keilmuannya atau ketokohannya, namun terjerembab dalam kubangan jebakan penjajah kafir itu, hingga mempengaruhi jamaahnya bahkan umat Islam ke jurang mengenaskan itu, namun merasa diri mereka paling benar atau paling selamat dan semacamnya, dan mengecam pihak-pihak yang tidak sejalan dengannya, tanpa landasan yang benar.

2. Faham sekuler dari Nasrani sekuler telah berhasil menancapkan faham kufurnya bahwa politik harus dipisah benar2 dari agama. Itu jelas bertentangan dengan Islam. Karena Islam adalah agama sempurna, mengatur seluruh kehidupan, termasuk kehidupan berpolitik, tidak boleh terpisahkan dari Islam. Namun sayangnya, bahkan ada tokoh mengaku Islam namun menegas-tegaskan hal itu (agama harus dipisah benar2 dengan politik) tanpa malu2. Hingga segala macam perda yang bernuansa Islami seperti imbauan agar calon pengantin mampu baca Al-Qur’an pun dihapusnya semua. Seakan anti Islamnya mendapatkan argument sebagai tameng ketidak ridhoannya kepada Islam.

( https://www.nahimunkar.org/astaghfirullah-perda…/

Astaghfirullah, Ini Perda Bernafaskan Islam yang Dihapus Presiden Jokowi ).

3. Faham menghalalkan segala cara telah berhasil menancapkan faham bahwa politik itu bebas nilai hingga jangan bawa-bawa agama dalam politik. Seakan faham busuk ini mendapatkan tempat di hati orang yang memandang politik itu kotor, agama itu suci, maka tidak boleh dicampur, hingga agama pun dimasukkan kotak, tidak boleh bicara politik. Akibatnya, politik dianggap bebas nilai. Kalau toh mereka takut, hanya takut pada rambu2 apa yang mereka sebut sebagai undang2. Tapi kalau sedang pegang kendali kekuasaan, maka belum tentu undang2 itu berlaku pada diri mereka, walau sangat dibidikkan kepada lawannya. Itulah pada hakekatnya politik menghalalkan segala cara. Ini tidak kalah buruknya menurut Islam, karena hanya akan menimbulkan kezaliman dengan aneka macam rekayasa busuknya. Sedangkan Allah Ta’ala sangat tidak ridho kepada kezaliman, bahkan sampai-sampai para pendukung penguasa zalim dan dusta pun diancam tidak termasuk golongan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat  Pendukung Pemimpin Bohong Lagi Zalim Bukan Golongannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam https://www.nahimunkar.org/pendukung-pemimpin-bohong-lagi-zalim-bukan-golongannya-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/?).

4. Umat Islam terombang-ambing di pusaran tidak ‘nggenah’ (tidak keruan) itu. Hingga orang yang bicara untuk meluruskan perpolitikan secara Islami dihantam dari segala penjuru, termasuk dicela oleh orang2 yang telah tercekoki faham dari penjajah kafir dan aneka macamnya namun tidak faham. Sebaliknya justru kebanyakan umat Islam menjadi obyek sasaran belaka, tidak mudah diberi kefahaman, dan tidak mudah untuk mengakui kekurang fahamannya. Dari sisi lain, umat Islam yang ikut berpolitik atau bicara politik pun kebanyakan bukan berlandaskan Islamnya dan belum tentu untuk kepentingan Islam dan Umat Islam. Juga hanya sibuk dalam hidupnya untuk berpolitik atau bicara politik, hingga lalai dari Islamnya. Na’udzubillahi min dzalik (kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari hal yang demikian)

5. Lantas bagaimana?

Ya kalau tidak faham, maka bertanya kepada ahlinya yang terpercaya. Atau diam tidak berkomentar apa-apa. Sibukkanlah untuk menjaga diri agar tidak terseret arus yang menjauhan dari  ingat Allah Ta’ala.

Kalau tidak faham, ya diam, walau ahli dalam keislaman. Karena Islam sendiri melarang untuk menjelaskan sesuatu yang dirinya saja tidak faham soal sesuatu itu. Apalagi mencela orang dan mengajak orang lain untuk mencela, tanpa landasan yang syar’i. Tidak boleh.

Yang faham dan mampu untuk memberikan pencerahan secara syar’i, ya jangan diam. Agar tidak jadi setan bisu. Walaupun resikonya akan dimacem-macemi oleh kawan sendiri. Tapi jangan sampai menimbulkan fitnah macam2. Karena timbulnya fitnah itu berbahaya.

Tinggal anda termasuk yang mana. Silakan memosisikan diri sebaik-baiknya, sambil minta pertolongan kepada Allah agar ditunjuki jalanNya yang lurus.

(Maaf kalau tulisan ini sepertinya sok tau atau sok tua).

Semoga ini bermanfaat.

Wallaahu a’lam bisshawaab

Oleh Hartono Ahmad Jaiz

(nahimunkar.org)

(Dibaca 484 kali, 1 untuk hari ini)