Ilustrasi Melakukan Kemusyrikan: (Kiri) Ruwatan dengan sesajen/ foto rmol. (Kanan) Sujud di kubur Blitar./ foto fb (Yang Satu Ruwatan dengan Sesajen, yang Satunya Sujud di Kubur, Posted on 13 Agustus 2018 by Nahimunkar.com)


BAHAGIAN SYIRIK
§ SYIRIK JALI (syirik yang nyata)
Mempercayai adanya sesuatu yang setara dan setanding dengan Allah Ta’ala, kepadanya dimohon doa, kepadanya diadakan upacara penyembahan, dan ditakuti bala’ bencana daripadanya.
§ SYIRIK KHAFI
(syirik yang tersembunyi).
Sesuatu kepercayaan, perkataan atau perbuatan yang menggambarkan wujud kekuasaan atau sebagainya selain Allah Ta’ala.

SENARAI AMALAN SYIRIK YANG TERSEMBUNYI
1. Mempercayai sesuatu yang menjadi sebab baik atau buruk.
2. Menaruh perasaan takut dan gerun kepada kekuatan sesuatu selain daripada Allah.
3. Menumpukan harapan kepada sesuatu yang lain daripada Allah.
4. Melakukan pemujaan
5. Bersumpah dengan sebarang sebutan yang lain daripada Allah.
6. Mengatakan: “Kalau tidak kerana pertolongan Allah dan pertolongan si polan dan si polan, tentulah tidak akan berjaya
7. Melakukan sesuatu ibadat atau daya usaha pengorbanan atau perjuangan bukan kerana perintah Allah semata-mata tetapi juga untuk kepentingan yang lain.

SYIRIK BAHAYA DAN KESANNYA/ Pengaruhnya DALAM
KEHIDUPAN MANUSIA

1. Rosak Akidah
2. Penghinaan Terhadap Kemanusiaan
3. Sarang Tahyul
4. Kezaliman Terhadap Kebenaran Dan Diri Sendiri
5. Sumber Ketakutan
Firman Allah:

فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا  ١١٠ [ الكهف:110]

Barangsiapa Mengharap Perjumpaan Dengan Tuhannya, Maka Hendaklah Ia Mengerjakan Amal Salih, Dan Janganlah Ia Mempersekutukan Seorang Pun Dalam Beribadat Kepada Tuhannya. (Al-Kahfi:110)

Semoga Kita Semua Akan Dilindungi Allah Dari Malapetaka Dan Kenistaan Api Neraka; Memperolehi Keberuntungan Dunia Dan Akhirat Dan Masuk Syurga

BID’AH DAN KHURAFAT DI INDONESIA

Diantara bid’ah dan khurafat yang terjadi di Indonesia adalah sebagai berikut:

Kualat Karena Melanggar Adat

Sebagian orang menganggap bahwa upacara adat lah yang bisa menjaga keamanan dan kesejahteraan mereka. Meninggalkannya berarti, siap menuai petaka. Jika ditanya mengapa adat atau ritual itu diberlakukan, biasanya jawabannya setandar. Kadang dalam rangka tasyakuran atau tolak balak. Tapi kenapa cara seperti itu yang dipilih bukan cara yang ditunjukkan oleh Islam  ? Jawabannya hampir bisa dipastikan, “adatnya sejak dulu ya seperti ini!” persis dengan kaum musyrik tempo dulu. Allah berfirman,

﴿وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يَهۡتَدُونَ  ١٧٠﴾ [ البقرة:170-]

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”. [Al Baqarah:170]

Cegah Bencana Dengan Ritual Tolak Balak

Ritual yang dimaksud adalah sesaji untuk taqarrub kepada jin yang mereka anggap berkuasa di tempat itu. Seakan jin-jin itu mampu mengendalikan alam, mampu mendatangkan banjir, mampu menjadikan gempa bumi dan tanah longsor. Ini adalah keyakinan syirik paling berat yang bahkan tidak dilakukan oleh orang-orang musyrik. Orang-orang musyrik dahulu menyekutukan Allah dalam beribadah, tapi mereka tetap meyakini, bahwa yang mengendalikan semua urusan adalah Allah. Firman Allah Qs. Yunus 31

﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ  ٣١﴾ [ يونس:31-31]

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” [Yunus:31]

Hilangkan Mimpi Buruk Dengan Membalik Bantal

Mereka meyakini dengan membalik bantalnya, maka arah mimpi menjadi berubah atau ‘epesode’nya berganti. Ada pula yang berkeyakinan, dengan membalik bantal, maka apa yang dialami dalam mimpi tidak menjelma di alam nyata. Bagaimana Islam   menjelaskan kejadian seperti ini, lalu bagaimana solusinya?

Nabi telah menjelaskan bahwa mimpi baik itu adalah dari Allah, sedang mimpi buruk itu dari setan.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ:

سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ “اَلرُّؤْيَا مِنَ اللهِ. وَالْحُلْمُ مِنَ الشَّيْطَانِ. فَإِذَا حَلَمَ أَحَدُكُمْ حُلْمًا يَكْرَهُهُ فَلْيَنْفُثْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلاَثًا. وَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ شَرِّهَا. فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ”.1- (2261)

Hadits riwayat Abu Qatadah  Radhiyallahu’anhu, ia berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Mimpi baik (rukya) itu datang dari Allah dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia menyemburkan ludahnya ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya.

(Shahih Muslim 2261:1)

Menanam Kepala Kerbau

Mereka meyakini bahwa tradisi menanam kepala kerbau seolah suatu keharusan yang mengiringi momen-momen penting. Seperti peletakan batu pertama suatu bangunan, pembangunan jembatan, ritual sedekah bumi maupun tradisi larung untuk sedekah laut, kepala kerbau hampir menjadi inti dari sesaji. Dalam hal ini Rasulullah bersabda,

وَلَعَنَ الله مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ الله

“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih (binatang) untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Sial Karena Terkena Hukum Karma

Dalam bahasa sansekerta, karma berarti perbuatan. Dalam arti umum, meliputi semua kehendak (baik dan buruk, lahir dan batin, pikiran, kata-kata atau tindakan). Karma dikenal juga dengan hukum sebab-akibat. Mereka yang percaya karma yakin bahwa di masa yang akan datang orang akan memperoleh konsekuensi dari apa yang telah diperbuat di masa lalu.

Sepintas ajaran ini mirip dengan Islam  , yang mengenal istilah ‘al-jaza’ min jinsil amal’, bahwa hasil itu sepadan dengan usaha yang dilakukan. Padahal ada perbedaan menyolok antara karma dan kaidah Islam   tersebut. Karma adalah bagian dari kepercayaan Hindu-Budha. Karma tidak terpisahkan dengan ajaran reinkarnasi, yang menyatakan bahwa setelah seseorang meninggal akan kembali ke bumi dalam tubuh yang berbeda. Jadi, mereka meyakini hidup berulang kali di dunia, mesklipun dengan wujud yang berbeda. Tentang nasib, tergantung karma yang diperbuatnya di kehidupan sebelumnya.

Dalam Islam   musibah yang menimpa, memang kadang bisa diartikan dengan balasan, tapi kadang pula berarti pembersih dosa dan terkadang berarti ujian. Orang yang terlanjur berbuat dosapun tidak menutup kemungkinan untuk bertaubat, sehingga efek dosa bisa tercegah, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam

Musibah Karena Mendahului Kakaknya Menikah

Mereka meyakini bahwa hal ini akan menjadikan kakaknya tidak laku, dan sang adik juga akan menerima akibatnya karena lancang melangkahi kakaknya menikah. Sebagian yang merasa terpaksa ‘melanggar’ adat itu mengharuskan sang adik untuk mengadakan ritual plangkahan. Adapun Islam   mengajarkan untuk menyegerakan jika dirasa sudah mampu. Tidak menjadi soal apakah ketika menikah kakaknya telah menikah atau belum.

Selamatan  Tujuh Bulan Dalam Kandungan

Orang Jawa menyebutnya dengan mitoni. Menurut para pelakunya, ritual ini merupakan bentuk syukur kepada sang Pencipta yang telah menyelamatkan ibu dan calon bayi hingga berumur tujuh bulan. Harinya pun dipilih hari ‘baik’ bukan sembarang hari. Bentuk ritualnya bermacam-macam, dari ritual siraman, calon ibu berganti pakaian dengan 7 motif, lalu para tamu diminta untuk memilih motif mana yang paling cocok.

Tujuan untuk bersyukur tidaklah menjadikan ritual itu layak diikuti. Karena tujuan yang benar harus ditempuh dengan cara yang benar pula. Lalu bagaimana cara mensyukuri yang benar? Tak ada ritual khusus, waktu khusus atau tempat khusus. Hendaknya memperbanyak tahmid (bersyukur, baca alhamdulillah) dalam segala kondisi, dan jika suatu kali mendapatkan suatu perkara yang tidak disukai hendaknya membaca Alhamdulillah ‘ala kulli haal, segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.

Kokok Ayam Ditengah Malam, Isyarat Wanita Hamil Di Luar Nikah

Kepercayaan seperti ini biasanya terjadi karena hasil utak-atik orang terhadap perkara yang dianggap ganjil. Misalnya secara kebetulan ada kejadian yang berbarengan. Keyakinan seperti ini tidaklah dibenarkan karena tidak berlandaskan dalil.

Sesaji Untuk Bersyukur

Diantaranya adalah sesaji sebagian para nelayan untuk “Dewi Roro Kidul”, penguasa pantai selatan dan juga sesajinya para petani untuk “Dewi Sri”, yang diyakini telah menguningkan padi mereka. Sesajian ini adalah termasuk dari kesyirikan (kemusyrikan).

Nyadran Dan Padusan-Jawa/Balimau-Minang  Di Penghujung Sya’ban

NYadran – Jawa

Balimau atau Padusan

Sebagian warga di Magelang misalnya, mereka melakukan ritual sadranan di puncak Gunung Tidar. Konon di sana terdapat petilasan Syekh Subakir.

Selain nyadran ada juga ritual yang disebut dengan “padusan” / mandi sebelum memasuki bulan Ramadhan.  Di Sumatra Barat hal ini dikenal dengan Balimau, padahal ritual ini tidak pernah diajarkan Islam .

Sial Karena Kejatuhan Cicak

Mereka meyakini, ketika kejatuhan cicak, maka pertanda mereka akan mendapatkan musibah. Sebagai penangkal mereka segera memburu cicak tersebut dan menyobek mulutnya, supaya musibah tidak jadi menimpanya.* Hal ini (menganggap sesuatu sebagai pertanda akan mendapatkan musibah) itu dalam Islam  disebut juga dengan tathayyur yang dilarang dalam Islam  .

Nabi bersabda barang siapa mengurungkan keperluannya karena thiyarah (tathoyyur, menganggap sesuatu sebagai pertanda akan mendapatkan musibah) maka dia telah berbuat kesyirikan,” lalu para sahabat bertanya. “lalu apa tebusannya wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “hendaknya engkau membaca,

اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ، وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

“Ya Allah, tiada nasib baik kecuali nasib baik (dari)Mu, tiada thiyarah (menganggap akan adanya nasib sial karena ada suara burung dan sebagainya, red NM) kecuali thiyarah-Mu dan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Ahmad dan Thabrani, berderajat hasan)**

Bintang Beralih Dianggap Tanda Kematian

Keyakinan seperti ini telah ada sejak zaman jahiliyah terdahulu.

Ketika Nabi bersama para sahabatnya sedang duduk-duduk, tiba-tiba terlihat di langit ada bintang beralih, maka beliau bersabda, “Apa yang kalian katakana di masa jahiliyah dahulu ketika melihat yang demikian?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui, dahulu kami mengatakan bahwa pada pada malam itu telah lahir seorang pria agung dan telah wafat laki-laki yang agung pula.”

Sebagai koreksi dari keyakinan jahiliyah tersebut, Nabi bersabda, “Bintang itu dilempar bukan karena seseorang yang mati ataupun lahir, akan tetapi Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala ketika memutuskan perkara maka bertasbihlah para malaikat penyangga Arsy, kemudian bertasbihlah para penduduk langit di bawah mereka, hingga suara tasbih tersebut sampai penduduk langit dunia ini. Kemudian para malaikat yang berada di bawah penyangga Arsy bertanya kepada para penyangga Arsy, “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Lalu merekapun mengabarkan tentang apa yang telah Dia firmankan. Maka sebagian penduduk langit mengabarkan kepada sebagian yang lain sehingga kabar tersebut sampai ke langit dunia, ketika itu jin mencuri dengar tentangnya untuk dibisikkan kepada walinya (dukun), lalu dia dilempar dengan bintang tersebut. Maka jika mereka (berhasil mendengar) kemudian mengabarkan sesuai yang didengar maka beritanya benar, akan tetapi mereka suka membuat-buat dan menambahnya.” (HR.Muslim)

Hadits itu selengkapnya sebagai berikut:

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَنْصَارِ أَنَّهُمْ بَيْنَمَا هُمْ جُلُوسٌ لَيْلَةً مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رُمِيَ بِنَجْمٍ فَاسْتَنَارَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاذَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا رُمِيَ بِمِثْلِ هَذَا قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ كُنَّا نَقُولُ وُلِدَ اللَّيْلَةَ رَجُلٌ عَظِيمٌ وَمَاتَ رَجُلٌ عَظِيمٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنَّهَا لَا يُرْمَى بِهَا لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى اسْمُهُ إِذَا قَضَى أَمْرًا سَبَّحَ حَمَلَةُ الْعَرْشِ ثُمَّ سَبَّحَ أَهْلُ السَّمَاءِ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ حَتَّى يَبْلُغَ التَّسْبِيحُ أَهْلَ هَذِهِ السَّمَاءِ الدُّنْيَا ثُمَّ قَالَ الَّذِينَ يَلُونَ حَمَلَةَ الْعَرْشِ لِحَمَلَةِ الْعَرْشِ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ فَيُخْبِرُونَهُمْ مَاذَا قَالَ قَالَ فَيَسْتَخْبِرُ بَعْضُ أَهْلِ السَّمَاوَاتِ بَعْضًا حَتَّى يَبْلُغَ الْخَبَرُ هَذِهِ السَّمَاءَ الدُّنْيَا فَتَخْطَفُ الْجِنُّ السَّمْعَ فَيَقْذِفُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ وَيُرْمَوْنَ بِهِ فَمَا جَاءُوا بِهِ عَلَى وَجْهِهِ فَهُوَ حَقٌّ وَلَكِنَّهُمْ يَقْرِفُونَ فِيهِ وَيَزِيدُونَ

Dari Abdullah bin Abbas, dia berkata: “Seorang laki-laki dari sahabat Nabi dari kalangan Anshar memberitakan kepadaku: “Bahwa pada suatu malam ketika mereka sedang duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada satu bintang yang dilemparkan sehingga bintang itu bersinar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka, ‘Pada zaman jahiliyah, apakah yang kamu katakan apabila ada ada bintang yang dilemparkan seperti ini?’ Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Kami dahulu mengatakan, ‘Pada malam ini telah dilahirkan seorang yang agung, dan telah wafat seorang yang agung.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya bintang itu tidaklah dilemparkan karena kematian seseorang, dan bukan karena hidupnya seseorang. Tetapi Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala ismuhu apabila telah memutuskan satu urusan, para malaikat pemikul ‘Arsy bertasbih, kemudian (para malaikat) penghuni langit yang mengiringinya juga bertasbih. Sehingga tasbih itu sampai kepada penghuni langit dunia ini. Kemudian para malaikat yang dekat dengan para pemikul ‘Arsy bertanya kepada para pemikul ‘Arsy, ‘Apakah yang telah dikatakan oleh Rabb kamu?’ Maka mereka memberitakan kepada para malaikat itu tentang apa yang Allah katakan. Kemudian sebagian penghuni langit meminta kabar kepada sebagian yang lain. Sehingga kabar itu sampai ke langit dunia ini. Kemudian jin mencopet pendengaran, lalu memberikan kepada wali-wali (kekasih) mereka. Dan mereka dilempar dengan bintang itu. Maka apa yang mereka bawa sesuai dengan aslinya itu haq, tetapi mereka berdusta padanya dan menambahi.’” (HR. Muslim, no. 2229; Ahmad, juz 1/hlm. 218)

Tukar Cincin Pernikahan

Upacara tukar cincin menjadi tradisi wajib bagi banyak kalangan, termasuk kaum muslimin. cincin pernikahan pun sebagai barang bertuah yang memiliki arti sakral. Berbagai mitos tentang cincin inipun berkembang di masyarakat. Konon, cincin pernikahan itu bisa menjadi sebab kelanggengan bahtera rumah tangga. Bila ini yang diyakini maka mereka telah terjebak kepada ksyirikan karena menganggap cincin bisa mendatangkan manfaat ataupun madharat.

Tukar cincin meskipun telah berkembang di kalangan kaum muslimin, bukanlah berasal dari aturan Islam   atau teladan Nabi. Bahkan merupakan ritual yang memiliki nilai religius dikalangan umat Nasrani. Maka melakukannya berarti menyerupai mereka, padahal Nabi bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud, hasan)

Sakit-Sakitan Karena Tak Kuat Menyandang Nama

Sebagian orang Jawa meyakini, tidak semua nama baik itu cocok untuk disematkan setiap anak. Ketika mereka melihat anaknya sakit-sakitan berkepanjangan, sesegera mungkin mereka mengubah nama anaknya. Karena mereka meyakini tidak adanya kecocokan nama anaknya dengan aura pemiliknya.

Di dalam Islam  , tidak  dipungkiri bahwa nama memiliki pengaruh bagi pemiliknya. Seringkali ada kesesuaian antara nama dan yang diberi nama. Tetapi pengaruh tersebut lebih kepada makna yang dikandung didalmnya. Islam   melarang nama-nama yang berkonotasi buruk.

Tabur Bunga Di Atas Pusara

Sebagian orang Islam   melakukan hal ini dengan berkeyakinan supaya penghuni kubur diringankan siksaanya. Beralasan dengan perbuatan Rasulullah ketika melewati dua kuburan yang sedang disiksa, kemudian beliau megambi pelepah kurma dan membelahnya menjadi dua bagian dan menancapkan kepada masing-masing kuburan. Para sahabat bertanya wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan itu?” beliau bersabda, “Agar keduanya diringankan siksanya selagi pelepah kurma itu masih basah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika dengan landasan hadits itu seseorang menaburkan bunga di atas kuburan, berarti dia telah berprasangka buruk kepada mayat. Seakan dia memvonis bahwa si penghuni kubur tengah menghadapi siksa. Sedangkan Nabi melakukan hal demikian atas dasar pengetahuan beliau bahwa kedua penghuni kubur telah disiksa.

Reinkarnasi

Reinkarnasi adalah keyakinan tentang regulasi ruh, yakni ruh orang yang telah mati akan menitis kepada makhluk lain. Bisa berwujud manusia, bisa pula hewan maupun batu. Ajaran ini dikenal dalam agama Hindu. Dalam agama Budha dikenal dengan istilah tumimbal lahir (rebirth). Dalam dunia kejawen juga banyak beredar dongeng tentang reinkarnasi dengan sebutan ‘titisan’. Tentu karena masih mewarisi budaya Hindu. (Red NM, silakan baca: Reinkarnasi, Faham Kemusyrikan yang Diusung Syiah https://www.nahimunkar.org/reinkarnasi-faham-kemusyrikan-diusung-syiah/ ).

Kembali Suci Setelah Idul Suci

Definisi ‘kembali suci’ hanya masyhur di kalangan masyarakat Indonesia. Kitab-kitab para ulama’ tak ada yang menampilkan definisi idul fithri sebagai hari kembali suci. Kesalahan terjadi karena kata fithri dianggap sama dengan fithrah, padahal berbeda. Setidaknya hal ini dapat dilihat dalam kamus Arab-Indonesia Al-Munawwir halaman 1142, disebutkan bahwa makna al-fithru adalah berbuka sedangkan al-fithrah adalah bermakna sifat pembawaan (yang ada sejak lahir), fithrah. Berarti makna makna idul fithri adalah kembali berbuka setelah satu bulan shaum, dan bukan kembali suci. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah,

أَمَّا يَوْمُ الْفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صَوْمِكُمْ وَعِيدٌ لِلْمُسْلِمِينَ

“Adapun hari fithri adalah fithr (berbuka)mu dari shaum dan ied bagi kaum muslimin.” (HR. Tirmidzi)

Sumber: ocipt.wordpress.com dengan diberi teks hadits dan penjelasan singkat serta sebagian ilustrasi oleh nahimunkar.org)

==============

  • Dalam Islam ada anjuran untuk membunuh cicak, tapi tetap melarang tathoyyur yaitu menganggap akan ada sial karena suara burung, kejatuhan cicak dan sebagainya. Kepercayaan itu dilarang, dan termasuk kemusyrikan.

Pahala Membunuh Cicak

Cicak termasuk hewan fasik. Siapa yang membunuh cicak ternyata bisa raih pahala.

Hewan yang digolongkan hewan fasik dan juga diperintahkan untuk dibunuh adalah cicak atau tokek. Hal ini berdasarkan hadits Sa’ad bin Abi Waqqosh, beliau mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَسَمَّاهُ فُوَيْسِقًا.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan yang fasik” (HR. Muslim, no. 2238). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Shahih Muslim dengan judul Bab “Dianjurkannya membunuh cicak.”

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ وَزَغًا فِى أَوَّلِ ضَرْبَةٍ كُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَفِى الثَّانِيَةِ دُونَ ذَلِكَ وَفِى الثَّالِثَةِ دُونَ ذَلِكَ

“Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim, no. 2240)

Dari Ummu Syarik –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata,

عَنْ أُمِّ شَرِيكٍ – رضى الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَ بِقَتْلِ الْوَزَغِ وَقَالَ « كَانَ يَنْفُخُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ »

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cicak. Beliau bersabda, “Dahulu cicak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari, no. 3359)

Kata Imam Nawawi, dalam satu riwayat disebutkan bahwa membunuh cicak akan mendapatkan 100 kebaikan. Dalam riwayat lain disebutkan 70 kebaikan. Kesimpulan dari Imam Nawawi, semakin besar kebaikan atau pahala dilihat dari niat dan keikhlasan, juga dilihat dari makin sempurna atau kurang keadaannya. Seratus kebaikan yang disebut adalah jika sempurna, tujuh puluh jika niatannya untuk selain Allah. Wallahu a’lam.  (Syarh Shahih Muslim, 14: 210-211)

Semoga bermanfaat.

23 Rajab 1437 H, @ Darush Sholihin Panggang, Gunungkidul.

Muhammad Abduh Tuasikal, MSc April 27, 2016

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : https://rumaysho.com/13360-pahala-membunuh-cicak.html

** KAFFARAT (PELEBUR) DOSA THIYARAH

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Dari Abdullah bin ‘Amr ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang ditahan keperluannya karena thiyarah (merasa sial dengan sesuatu), maka ia telah berbuat syirk.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa kaffaratnya?” Beliau menjawab, “Yaitu salah seorang di antara mereka mengucapkan, “Allahumma…dst. (artinya: Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada nasib sial kecuali yang Engkau tentukan dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.” (HR. Ahmad, Al Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani, namun di sana terdapat Ibnu Lahii’ah, dan haditsnya hasan namun padanya  terdapat kelemahan, sedangkan para perawi yang lain adalah tsiqah.” Syaikh Al Albani mengomentari perkataan Al Haitsami dalam Silsilah Ash Shahiihah, “Kelemahan yang ada pada hadits Ibnu Lahii’ah, yaitu pada selain riwayat para ‘Abaadilah (yang bernama Abdullah) darinya, karena jika tidak begitu, hadits mereka semua (para ‘abaadilah) adalah shahih sebagaimana telah ditahqiq oleh para Ahli ilmu dalam (membicarakan) biografinya, dan di antaranya adalah Abdullah bin Wahb, dimana ia telah meriwayatkan darinya sebagaimana yang telah anda lihat…dst.” (lihat Ash Shahiihah (1065))./ Marwan bin Musa , http://wawasankeislaman.blogspot.com

(Bersambung ke bagian 4, insyaAllah)

(nahimunkar.org)

(Dibaca 469 kali, 2 untuk hari ini)