New York Times Sebut Anggaran Polri Membengkak Tapi Minim Akuntabilitas Jutaan Dolar Habis Untuk Gas Air Mata

New York Times Sebut Polisi Indonesia Lebih Kejam Usai Reformasi 98′ Tapi Minim Tanggung Jawab Sebab Impunitas (tidak dapat dipidana)


Tangkapan Layar Laporan New York Time Dalam Tragedi Kanjuruhan (Sui-Lee Wee)

 

Artikel New York Times yang menyoroti brutalitas penanganan massa dalam tragedi Kanjuruhan yang terbit pada 3 Oktober 2022 berjudul ‘Deadly Soccer Clash in Indonesia Puts Police Tactics, and Impunity, in Spotlight’ langsung memancing perhatian publik Indonesia.

Artikel New York Times ini ditulis oleh Kepala Biro Asia Tenggara Sui-Lee-Wee”>Sui Lee Wee bakal bikin mata Polisi Indonesia pedas membacanya, Sui sendiri adalah seorang jurnalis yang pernah menerima penghargaan Pulitzer pada 2021 untuk kategori pelayanan publik.

Dalam artikel tersebut Sui menulis pengalaman masyarakat Indonesia yang kerap berbenturan dengan pihak kepolisian Indonesia yang Korup dan brutal dalam menggunakan kekerasan untuk menekan massa dan tak pernah bertanggung jawab atas aksi kekerasan tersebut.

“For years, tens of thousands of Indonesians have faced off against a police force that many say is corrupt, uses brute force to suppress crowds and is accountable to no one – Selama bertahun-tahun, puluhan ribu orang Indonesia telah berhadapan dengan kepolisian yang banyak dikatakan korup, menggunakan kekerasan untuk menekan massa dan tidak bertanggung jawab kepada siapa pun” ungkap Sui sebagaimana dikutip fajarnusa.com dari New York Time pada 4 Oktober 2022.

Dalam tulisannya Sui langsung menyoroti metode polisi menggunakan gas air mata yang memicu penyerbuan dan berujung hilannya nyawa lebih dari 127 orang dalam penanganan kerusuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan usai laga Arema vs Persebaya berakhir 2:3.

Hal tersebut menjadikan tragedi Kanjuruhan sebagai satu dari sekian banyak bencana terburuk dalam sejarah bencana olahraga di dunia.

“Without warning, Sprayed tear gas at tens of thousends of spectators crowded in a stadium – Tanpa peringatan, menyemprotkan gas air mata ke puluhan ribu penonton yang memadati sebuah stadion” ungkap Sui.

Sui juga menuliskan bahwa kematian supporter di stadion Kanjuruhan bukan kali ini saja terjadi, sebelumnya di 2018 polisi anti huru hara menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan Malang ketika terjadi kerusuhan dalam pertandingan Arema.

Dilaporkan Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun meninggal beberapa hari kemudian. Tidak ada laporan apakah ada penyelidikan atas kematiannya atau bagaimana polisi menangani kerusuhan itu.

“There were no reports of whether there was an investigation into his death or how the police had handled the riots” beber Sui.***

Editor: Hanung

Sumber: New York Times

fajarnusa.com, Hanung – Selasa, 4 Oktober 2022 | 11:57 WIB

***

New York Times Sebut Anggaran Polri Membengkak Tapi Minim Akuntabilitas Jutaan Dolar Habis Untuk Gas Air Mata

 
 

Kapolda Jawa Timur Minta Maaf Atas Tragedi Kanjuruhan (Polda Jatim)

 

Masih soal Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orangg, media arus utama di Amerika New York Times turut menyinggung besarnya anggaran Polisi namun masih minim akuntabilitas.

Masih dalam artikelnya yang berjudul ‘Deadly Soccer Clash in Indonesia Puts Police Tactics, and Impunity, in Spotlight’yang terbit pada 3 Oktober 2022.

New York Times mencatat usai kerusuhan yang terjadi di stadion Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang, banyak orang Indonesia mencuit di Twitter menuntut agar Kapolri dipecat.

Lalu pada Senin malam, hampir 16.000 orang telah menandatangani petisi yang meminta polisi untuk berhenti menggunakan gas air mata.

Atas kondisi tersebut pemerintah pusat di jakart langsung merespon dengan cepat tuntutan publik dengan menskors Kapolres Malang dan akan mengumumkan nama-nama tersangka yang bertanggung jawab atas tragedi di stadion Kanjuruhan.

Saat ini tren kepercayaan publik terhadap citra polisi sedang mengalami penurunan yang signifikan, apalagi sebelumnya sempat heboh kasus Ferdy Sambo.

Seorang jenderal polisi bintang dua yang telah membunuh bawahannya dan menginstruksikan petugas lain untuk menutupi kejahatannya.

 

“Jajak pendapat menunjukkan penurunan tajam dalam kepercayaan publik terhadap polisi – turun menjadi 54,2 persen pada Agustus 2022 dari 71,6 persen pada April” catat New York Times.

Hal ini menurut New York Times merupakan ekses yang muncul berkat kurangnya akuntabilitas didalam institusi Polri ditengah bengkaknya anggran Kepolisian Republik Indonesia.

“Kurangnya akuntabilitas polisi bertepatan dengan anggaran yang membengkak. Tahun ini, anggaran kepolisian nasional mencapai $7,2 miliar, lebih dari dua kali lipat dari tahun 2013”. lapor New York Times.

New York Time juga menyinggung angaran Polri saat ini lebih besar dari anggran Kementrian Pendidikan.

“Secara pangsa, anggarannya adalah yang terbesar ketiga di antara semua kementerian pemerintah di negara ini, melebihi jumlah yang diberikan kepada kementerian pendidikan dan kesehatan”. masih dicatat New York Times.

Lebih lanjut New York Times juga mencatat besarnya anggaran Polri dihabiskan untuk gas air mata, pentungan, dan masker gas.

“Sebagian besar uang itu telah dihabiskan untuk gas air mata, pentungan, dan masker gas” sebagaimana dikutip fajarnusa.com dari New Yor Times Selasa, 4 oktober 2022.

masih melansir New York Times, Andri Prasetiyo, seorang peneliti keuangan dan kebijakan yang telah menganalisis data pengadaan pemerintah selama bertahun-tahun, mengatakan bahwa dalam satu dekade terakhir, Polri telah menghabiskan sekitar $217,3 juta untuk membeli helm, tameng, kendaraan taktis, dan peralatan lain yang dikerahkan selama protes.***

Editor: Hanung

Sumber: New York Times

Hanung

fajarnusa.com- Selasa, 4 Oktober 2022 | 18:30 WIB

***

New York Times Sebut Polisi Indonesia Lebih Kejam Usai Reformasi 98′ Tapi Minim Tanggung Jawab Sebab Impunitas

 

Deretan Video di Kanjuruhan Perlihatkan Supporter Sempat Minta Polisi Tak Gunakan Gas Air Mata (Ayoindonesia.com)

Soroti Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang supporter, New York Time mengkritik Kepolisian Republik Indonesia yang sangat berkuasa dan kejam usai reformasi 98′ namun minim tanggung jawab karena imunitas.

Hal ini dilaporkan New York Times dalam artikelnya berjudul ‘Deadly Soccer Clash in Indonesia Puts Police Tactics, and Impunity, in Spotlight’yang terbit pada 3 Oktober 2022.

Dilansir fajarnusa.com dar New York Times, artikel yang dibuat oleh Sui Lee Wee itu mengungkapan pengalaman ribuan orang Indonesia ketika behadapan dengan Polisi yang kerap menggunakan metode kekerasan dalam menangani massa baik ketika menangani kerusuhan massa maupun demontrasi massa namun minim tanggung jawab dari efek negatif yang disebabkan metode tersebut.

New York Time mencatat beberapa kasus kekerasan dan brutalitas polisi dalam menangani massa di Indonesia.

Diantaranya saat polisi membunuh 10 orang pengunjuk rasa yang menentang pemilihan kembali Presiden Jokowi dodo pada 2019.

“Di ibu kota, Jakarta, polisi menembak dan membunuh 10 orang saat pengunjuk rasa berkampanye menentang pemilihan kembali Presiden Joko Widodo pada 2019” catat New York Times.

Kemudian di tahun 2018 saat Seorang remaja berusia 16 tahun meninggal saat kerusuhan terjadi usai pertandingan Arema Malang di Kanjuruhan.

“Polisi anti huru hara menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan di Malang ketika terjadi kekerasan dalam pertandingan yang melibatkan tim tuan rumah, Arema. Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun meninggal beberapa hari kemudian. Tidak ada laporan apakah ada penyelidikan atas kematiannya atau bagaimana polisi menangani kerusuhan itu” beber New York Times.

Marakanya aksi kekerasan Polisi dan minimnya tanggung jawab yang menyertainya dinilai pengamat sebagai kegagalan reformasi institusi kepolisian Indonesia.

“Bagi saya, ini benar-benar fungsi dari kegagalan reformasi kepolisian di Indonesia,” kata Jacqui Baker, ekonom politik di Murdoch University di Perth, Australia, yang mempelajari kepolisian di Indonesia.

Selama lebih dari dua dekade, aktivis HAM telah melakukan penyelidikan atas tindak kekerasan polisi Indonesia. Laporan-laporan ini, menurut Baker, sering sampai ke kepala polisi, tetapi tidak banyak atau tidak berpengaruh sama sekali.

“Mengapa kita terus dihadapkan dengan impunitas?” tanyanya. “Karena tidak ada kepentingan politik untuk benar-benar mewujudkan kepolisian yang profesional.” tandas Baker.

New York Times kemudian mencatat, Polisi di Indonesia tidak pernah seberkuasa saat ini Selama tiga dasawarsa pemerintahan diktator Suharto.

“Polisi di Indonesia tidak pernah sehebat atau sekejam ini. Selama tiga dasawarsa pemerintahan diktator Suharto, militerlah yang dipandang sangat berkuasa. Tetapi setelah kejatuhannya pada tahun 1998, sebagai bagian dari serangkaian reformasi, pemerintah menyerahkan tanggung jawab keamanan internal kepada polisi, memberikan kekuatan yang sangat besar kepada kepolisian” catat New York Times.***

Editor: Hanung

Sumber: New York Times

Hanung

fajarnusa.com/- Selasa, 4 Oktober 2022 | 13:23 WIB

(nahimunkar.org)